Part 23

1740 Kata
"Modus bagaimana sih, Di? Bukannya gue sudah bilang buat pegangan? Ck, cewek memang selalu benar, salah sedikit saja nggak mau ngaku. Memang dasarnya cewek seperti itu kali ya," ujar Dafa tidak terima, kecuali kalau memang itu sudah menjadi tujuannya. Namun, tidak sedikitpun ada niat buruk maupun modus yang Dafa lakukan. Semua itu hanya tanpa sengaja saja. Lagian Dafa tidak ingin modus seperti apa yang Diandra pikirkan, dia lebih menghargai perempuan daripada menyakitinya, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. "Iyain saja, gue malas berdebat sama lo!" Ketus Diandra. Mereka berdua pun sama-sama diam. Dafa fokus mengendarai motor, sedangkan Diandra fokus menatap suasana jalan yang ramai dipenuhi beberapa pengendara, khususnya pengendara mobil yang jalannya sangat pelan karena memang kondisi jalannya cukup ramai. Diandra pun menghela napas, dia sangat lelah melakukan aktivitas sekolah di hari pertamanya, meskipun dia tidak ikut masuk kelas. Setidaknya dia masih kenal dengan teman-teman kelasnya dulu karena tidak ada penghuni kelas yang diacak, sehingga dia tidak takut kalau nantinya tidak memiliki teman dan dia yakin kalau tempat duduknya pasti dengan orang yang sama seperti dulu. Namanya juga tempat pendidikan, terkadang ada kalanya pertemanan dalam geng. Bukan geng yang suka bullying sih, tapi hanya dalam persoalan pertemanan yang kemana-mana ataupun ketika jalan sama siapa saja. Lagi-lagi Diandra menghela napas, dia tidak tahu mengapa dirinya harus menanggung ini semua, padahal sebelumnya yang berkaitan dengan hal ghaib adalah Ana. Posisinya serba salah, jika tidak menolong Ana maka dia tidak tega, sedangkan jika menolong maka dirinyalah yang menjadi sasaran makhluk tersebut. Untung saja Diandra masih sedikit kuat, andai saja tidak maka dia tidak tahu akan harus bagaimana nanti nasibnya. Tiba-tiba kepala Diandra kembali pusing, rasanya seperti ditusuk-tusuk menggunakan jarum. Dia tidak menyangka kalau rasa sakit tersebut tiba-tiba kembali menyerang dirinya. Dia memejamkan mata untuk menetralkan pandangannya agar tidak kembali pingsan seperti tadi. Saat ini yang ini Diandra rasakan adalah pandangan kabur dan sering berubah warna putih. Sesekali dia mengucek kedua matanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Dafa yang melihat tingkah aneh Diandra di balik kaca spion pun langsung mengernyitkan kedua alisnya. Dia bingung dan tidak tahu apa yang sedang Diandra rasakan, tapi jika dilihat dari tingkahnya sih dia takut kalau nanti terjadi sesuatu padanya, apalagi posisinya sekarang sedang naik motor di jalan raya. Resiko bahaya pun pasti ada. Oleh karena itu, Dafa pun melambatkan laju motornya untuk menghindari hal bahaya tersebut, dia juga menepikan laju motornya agar lebih leluasa untuk bertanya. "Di, apakah lo baik-baik saja?" Tanya Dafa agak khawatir. Diandra pun mendekat. "Hah?" "Keadaan lo gimana?" Tanya Dafa sedikit menaikkan tinggi nada bicaranya. Dia lakukan hal tersebut karena suara bising yang dihasilkan dari beberapa kendaraan dan angin membuat telinganya seperti orang tuli, dia tidak mempermasalahkan hal tersebut karena memang hal itu seringkali terjadi dan bahkan oleh setiap orang yang sedang melakukan perjalanan. Setidaknya bukan hanya dirinya saja yang menduduki posisi tersebut. Tidak terlalu memikirkan hal tersebut, dia lebih fokus terhadap keselamatan Diandra. Mau bagaimanapun keadaan Diandra maka Dafa harus bisa tanggung jawab, apalagi Dafa itu seorang laki-laki yang sedang mengantar Diandra untuk pulang menuju rumah. Cit! Suara motor direm. Akhirnya Dafa pun memutuskan untuk langsung berhenti karena tak kunjung mendapat respon. Dia juga ada sedikit rasa penasarannya saja, terutama rasa bingung atas apa yang telah dirinya lakukan. Ya memang tujuan utamanya itu mau pergi ke rumah Diandra, tapi setidaknyanya dia sudah berjuang untuk Diandra dan untuk masalah nilai maka dia akan tidak peduli karena yang namanya penilaian itu hak setiap orang, baik itu penilaian yang baik maupun buruk. Semua hal itu pasti ada resikonya dan akan kembali kepada masing-masing orangnya. Mereka berdua tiba di depan sebuah rumah besar yang seperti rumah hantu karena halaman rumah yang telat membuatnya harus bisa menjadi anak baik agar tidak terjadi hal-hal yang tanpa diduga. Sebelumnya di sudah pernah mendaftar, hanya saja sebuah kenangan foto mereka berdua masih kecil yang masih ada. Setidaknya Dafa mau berhenti terlebih dahulu, dia akan memperjuangkan Ana sampai akhir hayat selama dirinya masih mampu. Entahlah apa yang membuat Dafa memiliki dorongan hal tersebut mengingat pertemuan singkatnya dengan Ana. Namun, rasa canggung, malu, dan tidak percaya diri itu memang muncul sendiri tanpa ada dorongan dari orang lain. Dia terlalu sibuk dengan urusan dunianya sendiri, biasanya sih dengan ngeame dari pada harus berurusan dengan hal percintaan. Namun, di jam siang seperti ini membuat beberapa orang khawatir mengenai kesehatan mereka, termasuk Dafa yang saat ini sedang berada di luar rumah. Andai saja tidak terlalu rumit maka dia akan mendekati Ana secara terang-terangan, sehingga kalau ada kabar apa-apa tidak terlalu membuat dirinya penasaran. Hanya saja dirinya terbatasi oleh ruang dan waktu, terutama dalam prinsip hidupnya. "Di, jangan bikin gue khawatir dong!" Pinta Dafa sambil menepuk bahu kanan Diandra. Sedikitpun Diandra tidak memiliki tujuan hidup, apalagi Dafa yang mudah kacau ketika ada banyak orang yang membuat diri sendiri berpikir banyak memiliki salah apa. Terutama hal tersebut sedikit membuat Dafa sedikit merasa aneh saja, apalagi dirinya yang sejak tadi biasa saja. Jika ditanya ada rasa menyesal atau tidak, maka jawabannya iya sangat menyesal. Mau bagaimana lagi jika ketika nasi sudah menjadi bubur. Diandra sedang sibuk jongkok sambil memuntahkan segala isi perutnya. Melihat hal tersebut membuat Dafa merasakan suatu hal yang cukup menyayat hati. Dia tidak bisa membayangkan seberapa banyak apa yang sudah ibunya persiapkan, seperti halnya ketika dulu sedang akan melahirkan dirinya. Dia benar-benar tidak sanggup memikirkan hal tersebut. Apalagi suara dari Diandra yang sedang memutahkan isi perutnya. Oleh karena itu, Dafa memutuskan untuk mendekat sambil sedikit memijit kepala dan leher belakang Diandra agar segala yang ingin dia keluarkan akan cepat tuntas. Diandra semakin membaik, hanya saja kedua air matanya malah sampai keluar dengan ingus beningnya yang keluar dari hidungnya. Dia mengusapnya dengan menggunakan tisu. Jika posisinya sedang berada di rumah maka kemungkinan bahwa Dafa dan Diandra sudah tentu tidak akan bingung untuk menghadapi masalah tersebut. Mereka berdua juga merasa risih ketika banyak pasangan mata yang menatapnya penasaran. Tubuh Diandra masih sangat lemas. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk bersandar di sebuah pintu gerbang rumah tersebut. "Mau dipijitin gue lagi, Di?" Tanya Dafa penuh perhatian. Dia memang sengaja ingin membuat Diandra tidak membenci dirinya karena semenjak awal bertemu, dia merasa bahwa ada aura lain dari dalam diri Diandra. Oleh karena itu, dia sangat ingin tahu mengenai hal tersebut. Asam ataupun manis akan dirinya lalui karena yang terpenting semuanya terungkap. Hal lain yang membuat Dafa memiliki rasa ingin tahu besar karena dia tidak ingin memiliki musuh baru, khususnya kepada Diandra. Lebih baik dirinya diam dan mengalah saja daripada harus berurusan dengan perempuan seperti Diandra, lagi pula mengalah bukan berarti kalah. "Nggak usah modus!" Ketus Diandra lalu menghela napas. Dia menatap Dafa seperti tatapan sengit, tapi Dafa tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena yang terpenting bahwa dirinya tidak melakukan seperti apa yang Dafa inginkan. "Siapa yang modus sih? Gue nggak gitu kalau sama cewek. Gue tanya karena gue memang khawatir." "Alah alasan diri lo saja." Diandra masih kekeh terhadap pendapat dirinya saja, seakan dia tidak mau mendengar apa kata orang lain, termasuk kepada Dafa. Lebih tepatnya sih karena dia cukup jengah menghadapi orang-orang yang hanya modus saja. Cukup lelah menghadapi hal-hal yang menurut Diandra sangat membuang waktu, seperti halnya laki-laki yang hanya gombal saja tanpa ada pembuktian. "Hidup lo bawaannya negatif mulu, pantas saja horor," ujar Dafa lalu tersenyum getir. Dia memang suka heran kepada orang yang suka berpikir buruk, meksipun berpikir positif masih banyak. Apalagi tipikal orang yang orang yang suka berpikir ribet, sudah beberapa kali juga Dafa bertemu dengan orang tersebut. Bisa dikatakan cukup aneh, akan tetapi pada hal itulah yang sudah menjadi kenyataan yang ada. Dafa termasuk orang yang suka bersikap dan berpikir simpel, dia memang suka menghindari hal-hal yang bersikap ribet. Apalagi jika sudah berkaitan dengan hal sesuatu yang memang harus dilakukan dengan waktu cepat. Namun, dia juga paling malas jika bertemu dengan tim yang memang suka berpikir ribet karena dia hanya menganggap bahwa hal tersebut pasti akan menghambat suatu pekerjaan. Terkadang karena hal itulah dia memilih untuk mengalah saja daripada berisik dan bertengkar yang pada akhirnya pasti dirinya kalah. "Daripada lo bawaannya dingin mulu macam es batu," ujar Diandra tidak mau kalah. "Masih mending es batu masih bisa mencair dan juga bisa dipecah, daripada lo seperti air yang sulit untuk dipecahkan atau bisa dikatakan sebagai orang yang keras kepala banget. Gue terkadang memang suka bingung saja sama jalan pikiran orang yang benar-benar keras kepala. Seperti orang yang tidak punya hati karena selalu menganggap bahwa dirinya paling benar." "Siapa yang bilang gitu coba?" "Itu berdasarkan pengalaman yang pernah gue alami dari beberapa orang yang pernah gue temui memiliki perilaku seperti hal tersebut." "Oh seperti itu, tapi kalau gue sih masa bodoh saja karena yang terpenting diri gue nggak masuk ke dalam golongan yang tadi disebutkan sama lo." Dafa hanya bisa tersenyum getir sambil sedikit menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka saja kalau Diandra akan mengatakan hal tersebut. Padahal kesannya itu memang tidak enak didengar karena seperti orang yang memang butuh pengakuan dari orang lain. Sebab, pada umumnya seseorang itu diakui bukan malah mengakui. Jika dipikir-pikir memang lama-lama membuat perut terasa mual saja ketika menghadapi orang-orang yang memang sulit untuk diajak kompromi. Biasanya sih mau menang sendiri saja dengan segala pujian dari orang lain. Haus akan pujian memang sudah sering terjadi di dunia ini, bukan hanya sekali maupun dua kali saja, bahkan bisa berkali-kali. "Terserah lo saja deh, intinya kali ini gue khawatir kalau terjadi sesuatu pada diri lo, apalagi posisi lo saat ini sedang bersama gue. Kalau nanti terjadi sesuatu pada diri lo, pasti gue juga yang kena imbasnya. Nggak ngotak banget emang, huft!" Dafa menghembuskan napas kasar guna menetralkan kesabarannya. "Gue nggak apa-apa, nggak usah khawatir sama gue, dan gue mau mengucapkan terima kasih buat lo yang sudah mau nolongin gue." "Oh jelas banget kalau itu karena gue nggak mau berurusan dengan polisi kalau terjadi sama diri lo, bikin nama baik gue tercemar saja." Kedua alis Diandra mengkerut dengan gelombang-gelombang kecil di dahinya. "Gue merasa ada yang aneh deh." "Aneh bagaimana?" Tanya Dafa lalu menatap dirinya sendiri. "Biasanya kan lo dingin banget," jawab Diandra. "Gue kan sudah bilang kalau es batu masih bisa mencair. Sudahlah lebih baik kita lanjutkan perjalanan, keburu sore nanti malah jalanan macet karena banyak pengendara dari beberapa tenaga kerja yang mau pulang ke rumahnya masing-masing." "Sok tahu, macam dukun," ucap Diandra ketika sedang naik untuk duduk di belakang Dafa. "Kalau gue dukun, maka gue akan membunuh lo," kata Dafa lalu tersenyum sinis. "Lo mau dipenjara?" "Gue bisa membunuh tanpa menyentuh atau bahkan gue juga bisa membuat diri lo cinta sama gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN