Bab 9: Dilema

1083 Kata
"Bagaimana keadaan Mama, Pa?" tanya Zayn dengan cemas saat ayahnya, Ihsan Atmaja, keluar dari kamar. Ihsan hanya menghela napas berat, bayang-bayang duka tergurat di wajahnya. Sejak bertahun-tahun, kesehatan istrinya semakin rapuh, terutama setelah kehilangan anak mereka yang diculik oleh keluarga iri yang tak menyukai kesuksesan mereka. "Mama baru saja tidur setelah meminum obat," jawab Ihsan dengan suara serak, menyembunyikan kepedihan yang mendalam. Setelah tragedi itu, Ihsan membawa istrinya ke Australia, berusaha mengalihkan kesedihannya. Mereka baru saja kembali ke Indonesia, namun upaya pencarian anak bungsunya belum membuahkan hasil, meski uang tak terhitung jumlahnya telah dikeluarkan. "Papa, sekarang biar aku yang turun tangan mencari adikku," ucap Zayn dengan tekad bulat, matanya bersinar dengan harapan yang tak pernah pudar. Ihsan mengangguk lemah, "Petunjuk kita hanya berlian langka dari almarhumah nenekmu." "Itu sudah cukup, Pa. Aku pasti menemukannya," jawab Zayn dengan keyakinan. "Di mana kedua adikmu?" tanya Ihsan. "Zhian masih di kantor, Zeil mungkin..." "Aku di sini, Pa. Baru sehari pergi, Papa sudah kangen?" sahut Zeil sambil masuk ke ruang tamu yang mewah, menyalami ayah dan kakaknya sebelum duduk di sofa. "Dari mana saja kamu?" tanya Zayn dengan nada penuh curiga. "Tenanglah, Pak CEO. Aku baru saja..." jawab Zeil dengan senyum nakal. "Ngerjain anak orang lagi?" tuding Ihsan dengan nada tajam, mengetahui tabiat Zeil yang suka berganti-ganti pacar. "Kita sekarang di Indonesia, jangan samakan dengan di luar negeri," tegur Ihsan. "Aku tau, Pa. Lagian aku cuma putusin dia, salah sendiri dia jalan sama cowok lain." Ihsan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra ketiganya itu. "Bagaimana kuliahmu di sana?" lanjut Ihsan. "Beres, Pa. Aku mau masuk agensi buat jadi..." "Jangan macam-macam. Urus cabang showroom kita di sini, aku sudah pusing mengurus perusahaan!" seru Zayn dengan tegas. "Pa..." "Papa sependapat dengan kakakmu. Keluarga kita tidak ada yang berkarir di dunia hiburan. Kalau Opa tahu, Opa akan lebih keras melarang kamu," sela Ihsan, membuat Zeil menghela napas berat. "Tapi Kak Zhian Papa izinkan jadi pengacara!" protes Zeil. "Itu beda. Perusahaan kita butuh pengacara, kamu pikir jadi pengacara gampang?" sahut Zayn. "Oke, fine. Aku turuti kemauan Kakak sama Papa," ujar Zeil dengan terpaksa. "Kamu tidak berniat lanjut S2?" tanya Ihsan. "Ya ampun, Pa. Gelar sarjana saja tidak cukup?" gerutu Zeil, muak dengan dunia akademis. "Papa hanya ingin anak-anak Papa punya pendidikan yang bagus. Harta kita ini tidak akan selamanya milik kita. Papa hanya ingin memberikan kalian kehidupan yang terbaik, bukan hanya dengan harta tapi juga dengan ilmu dunia dan akhirat," jelas Ihsan dengan lembut namun tegas. Zeil tak bisa membantah lagi. "Oke, tapi aku terima beres!" katanya sambil bangkit dari sofa. "Mau ke mana kamu?" tanya Zayn. "Aku belum ketemu Mama!" jawab Zeil. "Mama baru saja tidur, jangan diganggu!" seru Ihsan. "Iya!" Zeil tak memedulikan, segera menuju lantai dua di mana kamarnya berada. "Kamu bantu urus daftar kuliah Zeil ya," pinta Ihsan. "Iya, Pa," sahut Zayn. Dia berencana mendaftarkan Zeil di salah satu universitas terbaik di Jakarta, dia juga berharap dapat menemukan petunjuk tentang adik mereka yang hilang. *** "Sejak kapan, Jeff?" Suara Raffa penuh dengan ketegangan, menembus udara di ruangan kantor yang senyap. Jeff berdiri tegak, berusaha menenangkan diri di bawah tatapan tajam atasannya yang kini tampak begitu mengintimidasi. Jeff merasa seakan di hadapan singa yang siap menerkam mangsanya. "Saya belum tau sejak kapan. Saya juga baru tahu kemarin bahwa gadis yang Anda maksud menikah dengan Tuan Arvan!" jawab Jeff, suaranya bergetar sedikit. "Kenapa kau tidak langsung memberitahuku?" Bentakan Raffa menggema, memecahkan keheningan dengan kekuatan yang membuat Jeff merinding. "Maaf, Tuan. Saya menunggu waktu yang tepat," jawab Jeff, suaranya rendah, nyaris tersedak oleh ketakutan yang mencekam. "Persetan dengan alasanmu! Aku ingin informasi yang tepat dan cepat!" Maki Raffa, nadanya seperti cambuk yang mencabik-cabik keberanian Jeff. "Maaf, Tuan!" Jeff menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata atasannya yang membara. Raffa yang biasanya tenang kini seperti dirasuki amarah. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan seluruh tubuhnya bergetar dengan kemarahan yang membara. "Cari tahu semuanya sekarang juga tentang pernikahan Mira dan Arvan, serta wanita yang memaksa Mira mendonorkan darahnya!" perintahnya, lebih seperti ledakan emosi daripada instruksi. "Baik, Tuan!" Jeff segera bergegas keluar dari ruangan, napasnya masih tertahan oleh ketegangan yang baru saja dialaminya. Raffa duduk di kursinya, menatap kosong ke depan. "Maafkan aku, Mira. Aku tidak pernah bermaksud mengabaikanmu." Kata-kata itu lirih keluar dari bibirnya, penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dia teringat cerita dari Amanda, membuat hatinya mencelos menyadari penderitaan gadis yang dicintainya. "Pasien Mira sudah sadar, Dok!" Suster Fina tiba-tiba masuk, memutus lamunan Raffa. Dia langsung berdiri, mengenakan masker medisnya dan mengambil stetoskop, berlari menuju ruangan Mira. Di ruangan itu, Raffa terdiam sejenak melihat Mira yang terbaring lemah. Wajah gadis yang selalu menghiasi mimpinya kini tampak pucat, namun tetap cantik di matanya. Amanda yang melihat kedatangan Raffa segera meninggalkan ruangan. Mata mereka bertemu, saling mengunci. Raffa menatap Mira begitu dalam, seakan ingin menyelami seluruh perasaannya. Mira juga tidak bisa mengalihkan pandangannya, hatinya berdesir dengan perasaan yang sulit dijelaskan. 'Ya ampun, kenapa aku kenal dengan tatapan matanya?' batin Mira, mencoba mencari jawaban di hatinya yang bingung. "Dokter!" Suara Suster Fina mengejutkan Raffa, membuatnya tersadar dan kembali fokus pada tugasnya. Dia mulai memeriksa kondisi Mira, dengan canggung yang masih tersisa. "Denyut nadinya masih lemah, jadi…" ucapan Raffa terhenti ketika Mira menyebut nama itu. "Kak Arvan!" Suaranya penuh harap dan rasa cemas. "Oh... ma-maaf, Dokter. Suara dokter mirip sekali dengan seseorang," ucap Mira, menyadari tatapan intens Raffa. "Tidak masalah," jawab Raffa, walaupun hatinya menolak keras mendengar nama pria lain disebut oleh gadis yang dicintainya. "Untuk beberapa hari ini, kamu harus dirawat. Kondisi kamu sangat lemah," jelas Raffa dengan nada profesional yang berusaha dia pertahankan. "Baik, Dokter," jawab Mira lirih. "Suster, sudah diperiksa tekanan darahnya?" tanya Raffa. "Sudah, Dok. Ada sedikit peningkatan," jawab Suster Fina. "Bagus," sahut Raffa, matanya kembali menatap Mira, seakan tidak ingin melewatkan setiap detil wajahnya. "Ada apa ya, Dok?" tanya Mira, merasa canggung dengan tatapan yang terus mengarah padanya, meski hatinya berdebar hebat. "Suster, boleh tinggalkan saya berdua dengan pasien? Ada hal yang harus saya bicarakan," pinta Raffa. "Tentu, Dok!" Suster Fina keluar dari ruangan, meninggalkan mereka berdua. "Sahabat saya sudah memberi tahu keadaan saya, Dok," lirih Mira, mencoba memulai percakapan. "Sebelum kamu benar-benar pulih, kamu tidak boleh mendonorkan darah lagi," jelas Raffa tegas. "Tapi, Kak Arvan dan…" "Kenapa kamu terus menyebut namanya? Apakah dia orang yang spesial untukmu?" Raffa memotong dengan nada yang lebih dari sekadar penasaran, namun Mira hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Hati Mira kini penuh keraguan. Apakah Arvan yang sekarang masih sama dengan pria yang dia kenal dulu? Perasaan itu membingungkan, membuatnya terjebak dalam dilema yang tak berujung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN