"Mira!" Suara Raffa menggema di dalam ruangan, membuyarkan lamunannya.
Mira tersentak, wajahnya pucat menoleh, "Ah, ya, maaf, Dokter!" jawabnya canggung, matanya mencari-cari ketenangan di balik pandangan Raffa yang khawatir.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Raffa, nadanya lebih lembut, namun penuh kekhawatiran.
Mira menghela napas, "Saya merasa mual, pusing, dan lemas, Dok," suaranya lemah, seakan tenaga telah terkuras habis.
"Itu wajar," sahut Raffa, mencoba menenangkan. Namun, hening kembali menyelimuti ruangan, hanya detak jarum jam yang terdengar.
Tiba-tiba, pintu terbuka, "Mira!" panggil Amanda dengan nada mendesak, memecah keheningan.
Mira hanya bisa berbisik, "Kenapa?" suaranya hampir tenggelam di antara desiran AC.
"HP kamu dari tadi bunyi terus. Ternyata si lelaki sialan itu lagi," Amanda menyerahkan ponsel kepada Mira, ekspresinya mencerminkan rasa frustasi.
Mira melihat sekilas layar ponselnya, kemudian melemparkannya ke meja di samping ranjangnya. Amanda melirik ke arah Raffa yang masih berdiri di sana, menilai situasi dengan seksama.
"Dokter, Mira sudah baik-baik saja kan?" tanyanya, nada suara sedikit tegang.
"Sudah sedikit membaik, namun masih perlu perawatan," jawab Raffa.
"Bang Ke lagi urus administrasi, abang juga bawa makanan dari kafe. Kamu makan dulu ya!" Amanda menaruh bungkusan makanan di atas meja, mencoba memaksa senyum.
"Nanti aja, mulut aku masih pahit banget, Manda," Mira menolak dengan suara serak.
"Mira..." Amanda menghentikan kata-katanya ketika ponsel Mira kembali berdering.
"Angkat dulu tuh, berisik banget. Pasti dia mau minta kamu donor darah lagi buat Eve!" Amanda berdecak kesal.
"Biarin aja, aku lagi malas ngomong sama dia," Mira menatap kosong, bibirnya tertutup rapat.
Amanda menghela napas panjang, mengambil ponsel Mira dan mematikannya, "Ya udah, aku matiin aja hp kamu!"
Raffa mengamati, hatinya dipenuhi tanya. Pernikahan macam apa yang membuat seorang istri mengabaikan telepon suaminya?
"Tadi, kamu bilang kamu dipaksa untuk mendonorkan darah lagi?" Raffa mencoba menggali informasi lebih dalam.
"Iya, Dok. Suaminya yang..."
Mira memotong cepat, "Manda!"
Amanda menggeleng, "Kenapa sih, biarin aja orang tau masalah kalian. Mungkin aja orang tuanya dengar dan suruh didik anaknya jadi laki-laki yang bertanggung jawab, jangan jadi pengecut!"
Raffa tersentak, namun tetap tenang. Bukan orang tua mereka yang tidak bisa mendidik, tapi memang Arvan yang selalu bersikap seenaknya.
Mira mengalihkan pandangan ke arah lain, "Jangan bawa-bawa orang tuanya Kak Arvan dalam masalah aku sama dia. Orang tuanya sangat baik, apalagi mamanya yang lembut dan perhatian," ucapnya, membela dengan nada lirih.
"Baik tapi gak bisa ngasih tau anaknya," Amanda masih kesal.
"Sudah kenal lama sama mereka?" Raffa bertanya, ingin tahu lebih dalam.
"Lama, tapi dia..." Mira terhenti.
"Rahasia lagi!" Amanda menggerutu, membuat Raffa semakin penasaran.
"Dek!" Suara Kean membuat mereka menoleh.
"Kenapa sih teriak-teriak segala!" Amanda menggerutu.
"Administrasi atas nama Mira sudah lunas sampai beberapa hari ke depan. Kamu yang lunasin?" Kean bertanya dengan bingung.
"Bukan, kan abang tau dari tadi aku nggak ke mana-mana," jawab Amanda, sama bingungnya.
"Terus siapa yang lunasin biaya perawatan, Mira?" Kean menatap Mira, mencoba mencari jawaban.
"Si Arvan tau kamu di sini?" tanya Amanda, namun Mira hanya menggeleng perlahan.
"Saya permisi," ucap Raffa, memutuskan untuk meninggalkan ruangan.
"Silahkan, Dokter. Terima kasih," Mira mencoba tersenyum tipis, namun Raffa hanya membalas dengan anggukan sebelum keluar. Pintu tertutup, meninggalkan mereka dalam kebingungan yang belum terjawab.
Mira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang berdegup kencang. "Terima kasih sudah menolongku," ucapnya tulus kepada Amanda dan Kean, suaranya bergetar sedikit.
Amanda tertawa ringan, melambaikan tangannya seolah-olah ucapan terima kasih itu tidak berarti. "Apaan sih, Mir. Terima kasih segala. Udah kewajiban kita bantu kamu, apalagi ikatan kita udah kayak saudara," katanya sambil menepuk bahu Mira dengan lembut.
Kean tersenyum hangat, menambahkan, "Kita senang banget bisa nolongin kamu, Mir."
Mira membalas senyuman itu dengan senyum tipisnya, "Kalian emang sahabat terbaik aku."
Namun, senyum di wajah Kean berubah serius. "Aku gak mau dianggap sahabat sama kamu," katanya tegas.
Mira tercengang, "Maaf, aku lancang sama Kak Kean," lirihnya, menundukkan kepala.
Kean menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Enggak, bukan seperti itu. Aku suka sama kamu, Mir. Aku benar-benar berharap kita punya hubungan lebih dan kita bisa menikah suatu hari nanti!"
Mira tertegun, matanya membesar. Amanda juga terdiam, tidak menyangka. Di balik pintu, Raffa yang sedang menguping, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia sebenarnya hanya ingin kembali ke ruangan Mira untuk mengatakan sesuatu yang terlupa, tapi kini dia enggan beranjak, penasaran dengan kelanjutan pembicaraan mereka.
'Gak nyangka Bang Ke berani ungkapin perasaannya sama Mira!' batin Amanda.
Mira mencoba berbicara, "Kak...."
Kean memotongnya, "Gak usah jawab sekarang, Mir. Kamu pasti terkejut. Aku tau semua masalah kamu dari Amanda. Itu gak masalah buat aku, ayo kita selesaikan masalah kamu sama-sama dan kamu lepas dari jerat lelaki sialan itu!"
Mira menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku gak bisa, Kak. Maaf," suaranya hampir tak terdengar.
Kean mendekat, matanya penuh harap. "Kasih aku alasan yang masuk akal untuk penolakan kamu!" serunya.
Mira meneguk ludah susah payah, "Kakak udah tau semuanya dari Amanda, apalagi yang harus aku jelaskan," sahutnya pelan.
"Aku sudah katakan sama kamu, aku akan membantu kamu menyelesaikan semuanya!" Kean bersikeras.
"Enggak, Kak," Mira kembali membuang pandangannya, hatinya kacau.
Amanda maju satu langkah, "Sampai kapan kamu menjalani rumah tangga gak jelas kayak gini, Mir!" serunya.
"Sampai aku punya waktu yang tepat untuk bercerai dengan Kak Arvan," sahut Mira, nadanya tegas meski hatinya rapuh.
"Kamu mencintai dia?" tanya Kean langsung.
Mira terdiam, bibirnya bergetar. Cinta dan kecewa bercampur aduk di dalam hatinya, membuatnya tak mampu menjawab.
Kean menghela napas panjang, "Kamu diam berarti kamu mencintai dia!" tudingnya.
Mira tetap diam, air mata mengalir di pipinya.
Amanda mendesak, "Selama ini kamu gak pernah cerita apapun sama aku soal hubungan kamu dan Arvan. Apa alasan kamu langsung menerima ajakan dia untuk menikah!"
Mira hanya bisa menunduk, menahan isak tangisnya.
Amanda membelai pundak Mira dengan lembut, "Sorry, Mir. Aku kayak gini karena aku benar-benar peduli sama kamu. Aku gak mau lihat kamu menderita terus karena perbuatan mereka."
Mira menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Terima kasih untuk perhatian kamu. Percaya sama aku, aku bisa menyelesaikan semua masalah ini," ucapnya, mencoba meyakinkan sahabatnya. Dia melirik Kean dengan penuh rasa bersalah.
"Untuk Kak Kean, maaf. Aku tidak bisa membalas perasaan Kak Kean, apalagi status aku yang masih istri orang dan aku belum selesai dengan masa laluku," kata Mira, suaranya bergetar.
Kean menatapnya dengan mata penuh harap, "Aku gak peduli, Mir. Aku akan tunggu kamu sampai semuanya selesai!"
Mira menggeleng perlahan, "Jangan korbankan waktu Kakak untuk hal yang belum pasti. Aku gak pantas bersanding sama Kakak. Kakak tau aku hanya anak dari panti asuhan yang tidak jelas asal usulnya. Lalu Kakak lihat penampilan aku. Sangat berbeda dengan para wanita yang mengejar Kakak. Badanku gemuk. Aku selalu dibully sama orang lain karena badan aku ini. Aku benar-benar gak pantas bersama Kakak yang hampir sempurna," ucap Mira dengan suara yang penuh kepedihan.
"Mir...." Kean mencoba menyela, namun Mira menghentikannya.
"Aku sangat tersanjung sama ungkapan Kak Kean, terima kasih banyak!" kata Mira, memotong, tidak ingin lagi mendengar ucapan Kean.
Amanda menatap kakaknya, menggeleng pelan agar Kean tidak mengatakan apa-apa lagi.
Raffa, yang masih menguping di balik pintu, pergi dengan perasaan yang sulit diartikan.