Bab 11: Getaran Aneh

1050 Kata
"Ekhem!" Amanda berdehem, mencoba mengusir ketegangan yang menggantung di antara mereka. "Kita makan dulu yuk, Mir. Aku udah laper banget nih!" ajak Amanda, suaranya ceria namun ada nada cemas yang tersembunyi. "Kamu duluan aja, aku masih belum mau makan, mulut aku rasanya gak karuan," lirih Mira, suaranya selemah napas yang diembuskannya. Ia berbaring dengan wajah pucat, pandangannya kosong menatap langit-langit. "Setidaknya ada makanan yang masuk biar kamu cepat sembuh. Emangnya kamu mau lama di sini?" ujar Kean, matanya menatap Mira dengan cemas, namun gadis itu malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kak Kean makan duluan aja sama Amanda," tolak Mira, suaranya lebih tegas meski lemah. "Kamu gak asik ah, padahal aku nungguin kamu sadar dari pingsan loh biar kita bisa makan sama-sama," gerutu Amanda dengan wajah kesal yang terpampang jelas. "Aku suapin ya biar kamu..." "Heleh, Bang Ke selalu aja cari kesempatan dalam kesempitan!" cibir Amanda sebelum Kean bisa menyelesaikan kalimatnya. "Bukan cari kesempatan, Mira lagi sakit jadi butuh perhatian khusus!" sangkal Kean, suaranya penuh kesungguhan. "Terserah Bang Ke aja!" Amanda mendengus, lalu mengambil kotak makanan yang dibawanya untuk Mira. Dengan hati-hati, ia membantu sahabatnya duduk. "Tiga hari lagi kamu ada bimbingan sama dosen, katanya mau cepat-cepat lulus. Kalau bimbingannya gak jadi, gimana kamu..." "Oke, aku makan!" potong Mira cepat, meraih makanan yang dipegang Amanda dengan tangan gemetar. "Gitu dong," ujar Amanda, tersenyum lega. Ia ikut menikmati makanannya sementara Kean hanya bisa memperhatikan kedua gadis itu dengan perasaan sedikit kecewa karena penolakan Mira. Wajahnya yang biasanya ceria, kini menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. *** "Kean!" seru Raffa, suaranya menggema di ruangan kantor yang sepi, sementara wajahnya memerah oleh amarah yang mendidih. Kedua tangannya terkepal kuat, menekan meja hingga sendi-sendi jarinya memutih. "Tidak bisa dibiarkan! Dia tidak boleh mendekati Mira lagi!" Suaranya menggema kembali, kali ini dengan intensitas yang lebih besar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa beban emosional yang semakin berat, memanasi suasana di ruangan itu. Raffa kembali menggunakan masker medisnya untuk bergegas kembali ke ruangan Mira. "Jeff sialan! Kenapa dia tidak segera memberitahuku?" Raffa terus memaki, langkah kakinya yang tidak teratur menggema di lantai yang dingin. Setiap langkahnya menunjukkan betapa terbakarnya hatinya oleh rasa cemburu dan marah yang berkecamuk. Di tengah kekacauan itu, sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Dengan gerakan cepat dan tegas, Raffa meraih ponselnya. Matanya menelusuri layar, menemukan pesan dari Jeff yang berisi foto Arvan bersama seorang wanita di sebuah restoran mewah. "Kalian berdua, tunggu pembalasanku. Beraninya kalian membuat gadisku menderita!" Raffa berbisik, namun kali ini dengan nada yang menakutkan. Matanya menyipit, penuh dengan tekad dan dendam, sementara tangannya mencengkeram erat ponsel itu seolah ingin menghancurkannya. Setiap urat di tangannya tampak tegang, mencerminkan betapa kuatnya amarah yang mengalir dalam dirinya. Raffa berdiri di depan pintu ruang perawatan Mira, menghirup napas dalam-dalam, berusaha meredam amarah yang mendidih di dadanya. Dengan gerakan pelan, ia membuka pintu, matanya langsung tertuju pada Mira yang sedang duduk memunggunginya, berbicara di telepon. Suara percakapan yang terbuka lebar melalui speaker ponsel membuatnya bisa mendengar setiap kata yang terucap. "Iya, Bu. Mira baik-baik aja. Ibu gak perlu khawatir," suara Mira terdengar berusaha meyakinkan. "Ibu gak bisa kamu bohongi, Nak. Dari suara kamu, Ibu tau kamu gak baik-baik aja!" Suara sang ibu di seberang sana penuh keprihatinan. Mira menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ibunya selalu bisa menebak keadaan hatinya. "Biar Ibu gak khawatir, minggu depan Mira datang ke panti," lanjut Mira, suaranya bergetar sedikit. "Kalau Mira baik-baik aja, kenapa gak besok pulang ke panti?" tanya Bu Rima penuh keinginan. "Besok Mira ada bimbingan sama dosen, Bu. Takutnya Mira gak selesai cepat-cepat. Belum lagi Mira sama Amanda mau launching menu baru di kafe," jawab Mira, berusaha menyembunyikan kerapuhannya di balik alasan-alasan logis. "Baiklah, sepertinya Mira sangat sibuk. Jaga kesehatan ya, Nak. Jangan terlalu capek dan jangan telat makan," pesan Bu Rima, terdengar menyerah. "Iya, Ibu. Ibu juga jaga kesehatan ya, sekarang Ibu istirahat. Ibu tenang aja, Mira baik-baik aja di sini," sahut Mira. "Iya, Nak. Ibu tutup dulu teleponnya!" Percakapan berakhir, dan sebelum Mira bisa menyimpan ponselnya, telepon kembali berdering. Arvan muncul di layar, memanggil dengan nada yang tak bersahabat. "Di mana kamu, kenapa kamu belum pulang?" suaranya terdengar dingin dan menuntut. "Sejak kapan Kakak peduli aku ada di mana dan belum pulang? Bukannya selama ini Kakak hanya peduli kepada Eve?" Mira menjawab tajam, rasa sakit dan kemarahan terselip dalam setiap katanya. "Mira, aku ini ...." "Aku tau, kalau Kakak tanya aku ada di mana kayak gini berarti Kakak lagi butuh aku buat donorin darah lagi buat Eve kan!" sela Mira, emosinya meledak tanpa dia sadari bahwa Raffa masih mendengar pembicaraan di belakangnya. "Mulai hari ini dan seterusnya, aku gak bisa jadi pendonor lagi buat Eve. Silahkan kalian cari pendonor yang lain!" Mira memutus sambungan teleponnya dan melempar ponselnya ke ranjang. Air mata mulai menetes di pipinya. "Aku semakin yakin bahwa Kakak bukanlah Kak Arvan yang aku kenal dulu!" lirih Mira. Raffa, yang menyaksikan semuanya, merasakan amarah membara dalam dirinya. Dia tak bisa terima Mira diperlakukan seperti ini. "Ekhem!" Raffa berdehem, mencoba menguasai diri. "Kak Arvan!" Mira tersentak, mengira itu suara suaminya. Ketika ia berbalik, matanya bertemu dengan Raffa yang berdiri dengan masker medisnya. "Ma-maaf Dokter!" Mira terkejut dan malu. "Tidak masalah, sepertinya kamu sangat memikirkan pria bernama Arvan itu hingga kamu terus memanggil saya, Arvan," ujar Raffa sambil menatap Mira. "Ah ... i-itu Dok, dia itu ....." "Pacar kamu?" tebak Raffa. "Bukan," jawab Mira cepat. "Lalu?" tanya Raffa dengan alis terangkat. "Ada apa, Dokter?" Mira mengalihkan pembicaraan. "Saya hanya ingin memeriksa lagi keadaan kamu," jawab Raffa. "Oh ... tapi, Dokter cuma datang sendiri, di mana susternya?" tanya Mira heran. "Mereka masih sibuk, lagi pula saya periksa pasien tidak harus selalu didampingi oleh suster!" jelas Raffa. "Apa yang kamu rasakan setelah transfusi kedua ini?" tanya Raffa, mendekati ranjang. "Sudah tidak terlalu lemas seperti sebelumnya, tapi tubuh saya gatal-gatal, Dok!" jawab Mira. "Itu hal yang wajar mungkin nanti kamu akan mengalami demam dan menggigil," jelas Raffa. "Sebentar lagi suster akan datang mengecek lagi tekanan darah dan hemoglobin kamu, kita bisa lihat hasilnya nanti apakah besok kamu sudah bisa pulang atau belum," lanjut Raffa. "Baik, Dokter!" ucap Mira sambil tersenyum, membuat Raffa terpaku sejenak menatapnya. 'Dia masih sama seperti dulu, sangat cantik dan menggemaskan!' pikir Raffa. 'Kenapa jantung aku deg-degan kayak gini pas dokter ini terus tatap aku!' pikir Mira, merasakan getaran aneh dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN