Mata Mira berkedip gugup, tangannya tak henti meremas ujung selimut. “Do-dokter, kenapa liatin saya terus? Ada yang salah di wajah saya?” tanyanya, suaranya bergetar.
Raffa tersentak dari lamunannya, wajahnya memerah. "Ah, tidak apa-apa. Wajah kamu sangat cantik dan... mengingatkan aku pada seseorang," katanya, berusaha mengendalikan debaran jantung yang berdetak liar.
Mira tertawa kecil, seolah menepis pujian itu. "Dokter yang benar saja. Masa istri dokter disamakan dengan saya yang badannya seperti gajah ini?"
"Masa perempuan secantik kamu disamakan dengan gajah? Kamu ada-ada saja, Mira!" seru Raffa, tak suka mendengar Mira merendahkan dirinya.
Mira terperangah. "Dokter tahu nama saya?"
"Tentu tahu. Masa dokter tidak tahu nama pasiennya," jawab Raffa sambil tersenyum.
"Iya juga sih," gumam Mira pelan.
"Nama saya Raffa," lanjut Raffa, melihat kebingungan di wajah Mira.
Mira mengerutkan kening. "FYI saja, biar kamu tidak salah sebut lagi nama aku," tambah Raffa dengan nada bercanda.
"Aah, iya maaf, Dokter. Saya beberapa kali salah mengira," ujar Mira, tersipu malu.
"Tak masalah," sahut Raffa, duduk di kursi samping ranjang Mira. "Kamu sendirian dari tadi?"
"Iya, satu jam yang lalu Amanda sama Kak Kean pulang. Mereka ditelepon papi mereka," jawab Mira.
"Kean itu pacar kamu?" tanya Raffa, mata penuh tanya.
Mira tertawa. "Ngawur, Dokter ini. Mana mungkin saya pacaran sama laki-laki sekeren Kak Kean."
"Kamu jangan terlalu polos. Dari gelagatnya, saya tahu dia suka sama kamu," kata Raffa, mengamati reaksi Mira.
Mira menarik napas panjang, senyumnya pahit. "Kak Kean memang suka sama saya, Dokter. Tapi, saya sadar siapa saya dan siapa dia. Apalagi, saya masih terbelenggu dengan seseorang dari masa lalu."
"Kata Amanda, kamu sudah menikah?" tanya Raffa, mengejutkan Mira.
"Amanda bilang apa saja sama dokter?" tanyanya dengan nada curiga.
"Dia cuma bilang kamu suka dipaksa jadi pendonor oleh pria bernama Arvan, suami kamu," jawab Raffa, hati-hati.
"Amanda benar-benar tidak bisa jaga rahasia," gerutu Mira.
"Bukan dia yang tidak bisa jaga rahasia, tapi saya yang minta dia menceritakan agar saya tahu bagaimana kondisi kamu," jelas Raffa.
"Tapi, tidak perlu juga dia menjelaskan bahwa dia suami saya," sungut Mira, mulai kesal.
"Tapi, kenapa suami kamu tidak ada di sini? Seharusnya dia temani kamu yang sedang sakit," Raffa berusaha memancing Mira agar membuka diri.
"Dia tidak peduli sama saya, Dokter," lirih Mira, air mata mulai membasahi pipinya.
"Eh, ma-maaf Dokter. Tidak seharusnya saya cerita masalah saya pada orang yang baru saya kenal," lanjut Mira, berusaha menahan tangis.
"Tidak apa-apa. Saya nyaman kok mendengarkan cerita kamu. Mungkin kita bisa mulai berteman," ujar Raffa sambil mengulurkan tangannya.
"Dokter yakin mau temenan sama cewek gendut kayak saya?" tanya Mira, mencoba tertawa.
"Kenapa tidak? Kamu bukan gendut, tapi gemoy," ucapan Raffa membuat Mira tertawa kecil.
"Jadi gimana, mau tidak berteman sama saya?" tanya Raffa lagi.
"Boleh deh. Kebetulan aku belum punya teman seorang dokter. Lumayan kan bisa berobat gratis kalau temenan sama dokter," jawab Mira sambil tertawa, menerima jabatan tangan Raffa.
"Saya bercanda, Dokter. Saya tahu kok cari uang itu tidak gampang, makanya saya tidak pernah minta gratisan kecuali benar-benar ditraktir," lanjut Mira yang kembali tertawa.
"Kamu ini lucu," gumam Raffa, ikut tersenyum melihat Mira tertawa.
Raffa menatap Mira yang berusaha bangkit dari ranjang dengan tatapan khawatir. "Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan nada cemas.
Mira menarik napas dalam, berusaha menyusun kata-kata. "Saya mau ke bagian administrasi, Dokter. Saya penasaran siapa yang sudah melunasi biaya perawatan saya. Setidaknya saya bisa mengucapkan terima kasih sama dia."
Raffa mengangguk pelan, namun kemudian menggeleng. "Biar saya yang tanya ke bagian administrasi," katanya tegas.
Mira menggoyangkan kepalanya, menolak halus. "Gak usah, Dokter. Saya gak mau merepotkan dokter."
Raffa tersenyum, menenangkan. "Enggak, Mira. Kita kan teman. Kamu istirahat aja."
Dengan berat hati, Mira mengalah. "Baiklah, terima kasih banyak, Dokter," jawabnya, tersenyum tipis.
"Sama-sama, tapi ini gak gratis!" Raffa menyeringai, matanya bersinar jahil.
Mira mengerutkan kening, kebingungan. "Maksudnya saya harus ganti uang itu? Tenang aja..."
"Bukan, Mira," Raffa memotong cepat, "Saya gak butuh uang kamu."
Mira menatapnya dengan rasa ingin tahu yang kian membara. "Lalu?"
"Saya cuma mau nomer HP kamu!" Raffa berkata sambil tersenyum lebar.
"Nomor HP?" Mira tergagap, merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
"Iya, masa teman gak saling punya nomor HP," jawab Raffa dengan nada santai, namun matanya berbicara lebih dari itu.
Mira ragu sejenak, lalu akhirnya menyebutkan nomor HP-nya. Raffa mencatat cepat, lalu langsung menelepon Mira untuk memastikan nomor itu benar.
Ponsel Mira berdering, dan dia segera menyimpan kontak Raffa. "Terima kasih, Mira," ucap Raffa tulus.
"Sama-sama, Dokter," balas Mira, tersenyum malu.
"Oh iya, satu lagi yang harus kamu tau," Raffa berkata sambil melangkah ke pintu, "Aku belum menikah dan gak punya pacar."
Mira terdiam, terkejut oleh pengakuan itu. Setelah Raffa keluar dari ruangan, senyumnya perlahan muncul kembali. "Ya ampun, kok aku seneng ya denger Dokter Raffa bilang kayak gitu," gumamnya, lalu menepuk pipinya pelan. "Sadar, Mira, sadar. Kamu harus sadar diri. Kamu siapa dan dia siapa!" Tapi dalam hatinya, Mira tahu, ada perasaan yang tak bisa ia abaikan.
Senyuman Raffa terus terukir di wajah tampannya setelah dia mendapatkan nomer ponsel Mira. Andai dia tidak memakai masker medisnya, para perawat dan rekan orang yang melihatnya berjalan sambil tersenyum pasti menatapnya dengan heran. Sesampainya di ruangan pribadinya, Raffa membuka maskernya dan kembali tersenyum menatap nomer HP Mira yang baru saja dia dapatkan, namun senyumannya memudar ketika Raffa mengingat keadaan Mira karena perbuatan Arvan dan wanita bernama Eve itu.
Raffa berdiri di jendela ruangannya dan membukanya membiarkan angin dingin menerpa wajahnya yang keras. Matahari telah lama tenggelam, namun kobaran api dendam di dalam dadanya kembali menyala terang. Bayangan Mira yang tergeletak tak berdaya menghantui pikirannya, menyulut tekad yang tak tergoyahkan dalam hatinya.
"Arvan dan Eve," gumamnya, nama-nama itu keluar dari bibirnya dengan penuh kebencian, seolah-olah menyebut mereka saja sudah mencemari udara. "Lihat saja, kalian tidak akan lolos begitu saja," lanjutnya, nada suaranya mengeras seperti baja. Tangan Raffa terkepal kuat, urat-urat di lengannya menegang, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.
Dengan langkah tegas, Raffa mulai bergerak keluar dari ruangannya, setiap langkahnya menggema dalam keheningan malam. Bayangan pepohonan tampak melambai seakan mencoba menghentikannya, namun Raffa tak tergoyahkan. Dalam benaknya, hanya ada satu tujuan: menuntut keadilan untuk Mira, apapun risikonya.
Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh, namun Raffa hanya melihat kegelapan yang menunggu untuk diterobos. "Dua manusia sialan itu," pikirnya, penuh determinasi. "Kalian akan membayar atas apa yang telah kalian lakukan."
Setiap langkah yang diambil Raffa adalah janji, janji bahwa ia tidak akan berhenti sampai Arvan dan Eve merasakan penderitaan yang sama seperti yang mereka timbulkan. Malam itu, dunia menjadi saksi kebangkitan seorang lelaki yang tak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan dan dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan gadis yang selama ini dia cintai.