'Sejak kapan Kakak peduli sama aku?' Kalimat itu menggema di benak Arvan, setiap kata menusuk tajam seperti duri ketika dia menghubungi Mira tadi.
Arvan duduk di sofa, kepalanya bersandar lemah. Pikirannya melayang-layang di antara bayangan-bayangan masa lalu yang kabur. Setiap sudut apartemen terasa kosong tanpa kehadiran Amira yang biasanya menyambutnya dengan senyum lembut. Meskipun seringkali Arvan bersikap kasar, wanita itu selalu penuh kasih, seperti seorang istri yang mengabdikan diri sepenuhnya pada suami.
"Siapa sebenarnya yang kamu maksud, Mira? Aku benar-benar lupa kalau kita pernah bertemu!" Arvan bergumam, matanya tertutup rapat mencoba merangkai ingatan yang hilang tentang Mira. Namun, bayangan itu tetap kabur, seakan menghilang dalam kabut tebal.
Ting.
Arvan meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Sebuah pesan masuk, membuat keningnya berkerut. Pesan dari saudaranya, yang selalu mengusik ketenangan.
"Mengganggu saja!" gerutu Arvan, melempar ponselnya kembali ke meja. Hatinya enggan berurusan dengan saudaranya yang perfeksionis dalam pekerjaan, menyebabkan mereka sering bersitegang. Perasaan frustrasi itu semakin mengakar dalam diri Arvan, ketika ponselnya kembali berdering. Saudaranya itu benar-benar tidak melepaskan dia begitu saja.
***
Di perjalanan pulang, Raffa terus mengumpat di dalam hatinya. Pikirannya bergemuruh seperti badai yang tak kunjung reda, setiap panggilan dan pesan yang diabaikan oleh saudaranya menambah bara amarah di dadanya.
"Lihat saja kau, aku akan balas semua yang kau lakukan kepada Mira!" seru Raffa, suaranya penuh dendam, mencengkram erat kemudi mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Kecepatan mobilnya semakin tinggi, melaju menuju apartemen mewah tempat dia dan adiknya biasa tinggal. Sesampainya di sana, Raffa tak membuang waktu. Dengan kasar, dia membuka kunci dan menendang pintu hingga terbuka lebar.
Namun, apartemen itu sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan lampu ruang tengah pun mati, menambah kesan suram yang merayap di setiap sudut ruangan.
"Sial, di mana dia!" maki Raffa, penuh frustrasi. Dia menyalakan semua lampu, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjawab pertanyaannya.
Dengan tekad bulat, Raffa mulai mencari. Dia tahu adiknya, Arvan, mungkin menyembunyikan sesuatu yang bisa dijadikan bukti untuk membalas perbuatan mereka kepada Mira. Memiliki kunci cadangan semua ruangan di apartemen itu, Raffa dengan mudah masuk ke kamar utama.
Di dalam kamar, dia membuka lemari dan semua laci dengan gerakan cepat namun penuh perhitungan. Matanya yang tajam akhirnya menangkap sesuatu – foto Arvan dengan perempuan bernama Eve dan berkas medis yang tersembunyi di laci meja.
Raffa, seorang dokter, segera mengenali catatan medis itu. Keningnya berkerut, matanya membara dengan kemarahan yang kian membesar.
"Sialan kalian!" teriaknya sambil meremas kertas medis itu. Raffa sangat marah kepada Eve, perempuan yang berani-beraninya membuat wanita yang ia cintai menderita.
"Baiklah, aku akan membalas kalian perlahan-lahan," bisiknya dengan nada yang dingin, hampir seperti ancaman yang menakutkan. Dia merapikan ruangan yang berantakan agar tak ada jejak yang tertinggal, lalu mematikan semua lampu dan kembali ke apartemennya yang terletak di sebelah.
Dalam gelap, Raffa menyusun rencana. Setiap langkah dan setiap detail sudah ada dalam pikirannya. Pembalasan itu akan datang, dan dia akan pastikan mereka merasakan setiap tetes penderitaan yang telah mereka berikan kepada Mira.
***
Beberapa hari telah berlalu dan keadaan Mira mulai membaik. Lebih dari itu, kedekatannya dengan Raffa semakin terasa nyata sejak mereka bertukar nomor HP. Pagi itu, matahari memancarkan sinarnya yang lembut saat Mira bersiap pergi ke panti, menepati janjinya pada Bu Rima.
Ting! Suara notifikasi mengisi keheningan kamar. Mira mengambil ponselnya dari atas ranjang dan melihat layar yang bersinar terang.
"Dokter Raffa!" bisiknya, matanya berbinar. Pesan itu begitu singkat namun mengejutkan.
"Saya sudah di parkiran apartemen kamu!"
Jantung Mira berdegup kencang. "Bagaimana Dokter Raffa tahu alamat apartemen ini?" tanyanya dalam hati, penuh rasa penasaran. Dengan cepat, dia menyambar tasnya dan melangkah keluar dari kamar.
Di lorong, Mira berpapasan dengan Arvan yang baru saja keluar dari kamarnya. "Amira, ayo—" ucap Arvan, tapi Mira tak memberinya kesempatan untuk melanjutkan.
"Aku duluan!" potong Mira, melesat pergi tanpa mempedulikan Arvan yang masih menatapnya dengan wajah terkejut. Langkah-langkah kakinya menggema di lorong apartemen, penuh semangat dan keingintahuan.
Arvan, yang diliputi rasa penasaran, mengikuti Mira hingga ke lobi. Di sana, dia melihat Mira masuk ke dalam mobil sedan mewah berwarna hitam. Sosok seorang pria di kursi pengemudi terlihat samar dari kejauhan.
"Siapa dia?" gumam Arvan, matanya menyipit. Pertanyaan itu membara di dadanya. "Apa peduliku!" seru Arvan, mencoba menenangkan diri. Namun, hatinya bergolak, tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada pria lain yang menjemput istrinya.
“Bagaimana Dokter tahu saya tinggal di sini?” tanya Mira ketika mereka sudah melaju menjauh dari area apartemen. Raffa, dengan tenang mengendalikan mobilnya, menatap jalan di depan.
“Dari Amanda,” jawabnya santai, membuat Mira mendesah kesal.
“Waktu itu aku tidak sengaja bertemu Amanda di kafe dekat rumah sakit. Ternyata, itu kafe miliknya. Dia bilang mau menjemputmu, jadi aku ikuti saja dia sampai sini,” jelas Raffa, seolah tidak ada yang aneh dari tindakannya.
“Selain jadi dokter, ternyata Anda juga bisa jadi penguntit,” sindir Mira, matanya memancarkan ketidakpuasan.
“Enak saja! Aku bukan penguntit. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu,” sahut Raffa, menoleh sejenak, senyumnya penuh arti.
Mira tertawa, tawa yang menyejukkan sekaligus menyiratkan kelelahan. “Dokter ini ngawur!”
“Kok ngawur?” tanya Raffa, keningnya berkerut, berusaha memahami.
“Ngapain dokter ingin lebih dekat dengan saya? Bukankah masih banyak perempuan lain di luar sana? Lagipula, saya ini istri orang,” Mira menjawab, suaranya lirih namun tegas.
“Apakah kamu merasa diperlakukan sebagai seorang istri yang sesungguhnya?” Pertanyaan Raffa meluncur tajam, membuat Mira terdiam, bibirnya gemetar seolah hendak menjawab, namun tak kuasa.
“Aku tahu semuanya, Mira. Jadi jangan...”
“Dokter, berhenti di depan saja!” potong Mira cepat.
“Itu halte, kamu mau ke mana?” tanya Raffa, bingung.
“Saya mau ke panti. Sudah beberapa hari saya tidak bertemu Ibu,” jawab Mira.
“Biar aku antar,” ujar Raffa, tatapannya serius.
“Gak usah, Dok!” tolak Mira, tangannya mengibas seolah mengusir keraguan.
“Aku antar, Mira. Pantinya di mana?” tanya Raffa lagi, kali ini lebih lembut namun tegas.
“Dokter pasti sibuk, kan harus ke rumah sakit!” Mira tetap menolak, namun suaranya mulai goyah.
“Enggak! Kalau kamu tidak bilang, nanti aku culik kamu!” ancam Raffa dengan nada setengah bercanda.
“Dokter ini!” Mira kesal, tapi akhirnya menyerah, menyebutkan alamat panti dengan nada enggan.
“Aku tahu. Aku sering ke panti itu,” ujar Raffa sambil tersenyum kecil.
“Benarkah, Dokter?” tanya Mira, matanya mulai berbinar.
“Iya, nama ibu pantinya Ibu Rima, kan?” tebak Raffa.
“Bener banget, Dokter!” seru Mira, antusias.
“Nanti kalau kamu mau ke panti lagi, kasih tahu aku. Biar aku yang antar. Aku suka main dengan anak-anak di sana,” ujar Raffa.
“Oke, Dokter!” Mira tersenyum, wajahnya cerah.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di panti asuhan tempat Mira dibesarkan. Begitu Mira turun dari mobil, beberapa anak panti langsung berlari memeluknya, membawa kakak mereka ke dalam dengan riang.
Raffa, yang baru saja turun dari mobil, menatap bangunan itu. Tidak banyak berubah, pikirnya. Masih sama seperti dulu, ketika ia pertama kali datang ke panti ini. Ia menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuka masker yang selalu ia gunakan setiap kali bertemu Mira.
“Arvan!” Sebuah suara wanita yang amat dikenalinya memanggil. Raffa sedikit terperanjat, menoleh.