"Arvan, ya kamu Arvan. Ibu masih ingat wajah kamu, ya ampun kamu sudah dewasa dan semakin tampan!" seru Bu Rima dengan mata berbinar-binar, suaranya bergetar dengan campuran kebahagiaan dan nostalgia.
Raffa, yang sejak tadi merasa asing dengan panggilan itu, sontak terkejut. Tubuhnya seolah membeku sejenak sebelum ia memutar tubuhnya, menatap wanita yang mengingatkannya pada masa lalu yang sudah lama ia tinggalkan.
"Ya ampun, Nak. Kamu apa kabar? Kalau Mira tau kamu ada di sini, dia pasti senang sekali," lanjut Bu Rima dengan antusiasme yang tak bisa disembunyikan. Namun, Raffa tetap terdiam, matanya menelusuri setiap garis wajah wanita itu yang tak berubah banyak sejak terakhir kali mereka bertemu.
"Oh ya, Mira mau ke sini, dia kangen banget sama kamu. Kamu jangan dulu pulang ya biar..."
"Mira sudah di dalam, Bu. Dia datang sama saya," sela Raffa, suaranya dingin dan tegas, memotong kalimat Bu Rima dengan ketepatan yang hampir menyakitkan.
"Jadi Mira...." Bu Rima mulai, namun lagi-lagi Raffa memotongnya.
"Ibu, bisa kita bicara berdua dulu?" tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.
"Baiklah, ayo kita bicara di dalam. Beberapa hari ini Ibu belum bertemu sama Mira," jawab Bu Rima, mencoba untuk tetap tenang meski rasa penasaran dan kekhawatiran mulai merayap dalam hatinya.
"Saya ingin bicara di tempat lain, Bu," tolak Raffa dengan tegas, memutuskan bahwa tempat ini terlalu banyak kenangan untuk pembicaraan yang akan mereka lakukan.
"Baiklah, kita bicara di mana?" tanya Bu Rima akhirnya setuju, mengikuti Raffa keluar dari panti.
Raffa memasang kembali masker medisnya dengan gerakan yang terlihat begitu alami, seolah benda itu telah menjadi bagian dari dirinya. Ia kemudian membuka pintu mobilnya, memberikan isyarat kepada Bu Rima untuk masuk. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua meluncur pergi, meninggalkan panti asuhan dan menuju tempat yang lebih tenang, di mana mereka bisa berbicara tanpa gangguan.
Hampir satu jam Raffa dan Bu Rima berbincang panjang lebar, membahas berbagai topik yang menghampiri hati dan pikiran mereka. Ketika akhirnya mereka kembali ke panti, mata mereka langsung tertuju pada Mira yang gelisah, duduk di teras dengan wajah penuh keresahan menunggu Bu Rima yang tak kunjung datang dan Raffa yang pergi tanpa penjelasan.
"Bu, tolonglah," pinta Raffa dengan nada memohon sebelum mereka turun dari mobil, suaranya penuh dengan harapan dan kekhawatiran.
"Iya, Nak. Maaf, tadi Ibu salah mengira," jawab Bu Rima, tatapannya mengandung kesedihan yang dalam, seolah mengerti beban yang ditanggung Raffa.
"Tak apa, Bu. Ini hanya sementara sampai saya bisa membantu Mira menyelesaikan masalahnya," lanjut Raffa, nadanya tegas namun penuh rasa iba.
"Ibu dukung apapun yang kamu lakukan, selama itu demi kebaikan kalian," sahut Bu Rima, memberikan dukungan yang tulus.
"Terima kasih, Bu!" kata Raffa, matanya berkilau dengan rasa terima kasih yang mendalam. Mereka kemudian turun dari mobil, menghampiri Mira yang wajahnya sudah memerah menahan kekhawatiran.
"Ya ampun, Ibu! Kenapa perginya lama banget?" seru Mira dengan nada setengah putus asa, matanya menatap tajam pada Bu Rima.
"Ibu tadi ketemu sama teman kamu. Teman kamu malah ajak Ibu pergi sebentar katanya mau cari-cari barang buat keperluan anak-anak," jawab Bu Rima dengan tenang, melirik sekilas pada Raffa yang selalu menggunakan masker medis berdiri di sampingnya.
Memang benar, Raffa sempat mengajak Bu Rima membeli beberapa barang keperluan panti. Semua barang belanjaan mereka akan diantarkan oleh karyawan toko.
"Dokter Raffa, kenapa gak kasih tau saya kalau pergi sama Ibu?" gerutu Mira, suaranya sarat dengan kekecewaan.
"Maaf, aku lupa," sahut Raffa singkat, merasa sedikit bersalah.
"Sudahlah, jangan marah-marah sama Nak Raffa. Anak baik kok dimarahin," tegur Bu Rima lembut, sebelum melangkah masuk ke panti.
"Ibu!" rengek Mira, tatapan matanya mengiba. Namun Bu Rima tidak menghiraukannya, membuat Raffa tertawa pelan.
"Dokter, kenapa ketawa?" tanya Mira, matanya menyipit curiga.
"Kamu lucu," jawab Raffa, senyum masih menghiasi wajahnya. Mira semakin kesal mendengar jawabannya dan langsung bergegas masuk menyusul Bu Rima.
"Ya ampun, kamu ini malah semakin lucu," gumam Raffa, menatap Mira dengan penuh kekaguman.
"Raffa mana?" tanya Bu Rima, matanya menyapu ruangan mencari sosok yang tak terlihat.
"Di depan, Bu. Kayaknya main sama anak-anak," jawab Mira, suaranya sedikit ragu.
"Pergi buatkan minuman dulu untuk teman kamu sana," ujar Bu Rima, nada suaranya tegas namun lembut.
"Iya, Bu." Mira mengambil gelas, tangannya sedikit gemetar saat mengisi minuman untuk Raffa yang sedang menemani anak-anak panti belajar di luar.
"Mira!" panggil Bu Rima lagi, suaranya seperti cambuk yang menghentak pikiran Mira.
"Iya, Bu?" Mira menoleh cepat, hatinya berdegup kencang.
"Kamu tidak mau cerita apa-apa ke Ibu, Nak?" Mata Bu Rima menyelidik, menembus pertahanan Mira.
"Cerita soal apa maksud Ibu?" Mira mengerutkan kening, kebingungan.
"Entahlah, mungkin saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Ibu!"
Deg! Jantung Mira seakan terhenti, tuduhan itu menghantam hatinya. Haruskah ia membuka rahasia yang telah lama ia simpan rapat dan luka yang ia pendam sendiri?
"Malah melamun!" seru Bu Rima, mengembalikan Mira ke kenyataan.
"Aku tidak melamun, Bu. Hanya sedang memikirkan apa yang mungkin aku sembunyikan dari Ibu," jawab Mira, berusaha mengendalikan emosinya.
"Lalu?" tanya Bu Rima, alisnya terangkat, menanti kebenaran.
"Tidak ada apa-apa, Bu!" Mira tersenyum kaku.
"Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari Ibu?" Bu Rima terus mendesak, ingin menggali lebih dalam.
"Yakin, Bu. Lagipula, masalah apa yang harus aku sembunyikan? Paling hanya satu masalah yang terus mengganggu pikiranku," kata Mira, mencoba terdengar santai.
"Masalah apa?" tanya Bu Rima dengan tatapan serius, seolah bisa membaca hati Mira.
"Masalah berat badan aku yang nggak turun-turun!" Mira tertawa, dia hanya mencoba mengusir ketegangan.
"Kamu ini, Ibu tanya serius malah jawab bercanda," tegur Bu Rima, kecewa dengan gurauan Mira.
"Apapun masalah yang aku hadapi, insya Allah aku bisa menyelesaikannya. Ibu tidak perlu khawatir!" kata Mira, mencoba meyakinkan Bu Rima. Bu Rima menghela napas panjang, menatap wajah Mira yang tampak sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Aku antar minuman ini dulu buat Dokter Raffa ya, Bu!" Mira berusaha mengalihkan perhatian.
"Iya, Nak. Tapi, setelah itu temui Ibu di kamar ya. Ada hal yang ingin Ibu bicarakan sama kamu, sudah saatnya kamu tahu semuanya!" Ucapan Bu Rima membuat hati Mira berdebar.
"Soal apa, Bu?" tanya Mira, penuh penasaran.
"Sebentar lagi kamu akan tahu!" jawab Bu Rima, lalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan Mira dengan sejuta pertanyaan di benaknya.