Mira berjalan pelan di koridor yang sepi, menyeimbangkan gelas berisi teh di tangannya yang gemetar. Bayangan Bu Rima yang berlalu meninggalkannya dengan kata-kata yang penuh misteri, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuhnya.
Di luar, suara tawa anak-anak terdengar menggelegar, menciptakan kontras dengan keheningan batin Mira. Ia menemukan Raffa di bawah pohon rindang, dikelilingi oleh anak-anak yang mendengarkan cerita dengan mata berbinar.
"Dokter Raffa," panggil Mira dengan suara lembut.
Raffa menoleh, tersenyum hangat saat melihat Mira mendekat. "Hei, Mira. Terima kasih sudah membuatkan teh."
Mira menyerahkan gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Sama-sama. Tadi Bu Rima memanggilku. Sepertinya ada sesuatu yang penting."
Raffa mengangguk, lalu berbisik, "Kamu baik-baik saja, Mira?"
Mira hanya mengangguk lemah, lalu berbalik meninggalkan Raffa. Langkahnya terasa berat saat ia menuju kamar Bu Rima, setiap detik terasa seperti abad. Pikirannya dipenuhi pertanyaan dan spekulasi. Apa yang ingin disampaikan Bu Rima? Apa yang selama ini ia sembunyikan dari Mira?
Sesampainya di depan pintu kamar Bu Rima, Mira menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
"Masuk," terdengar suara Bu Rima dari dalam.
Mira membuka pintu perlahan, melihat Bu Rima duduk di tepi tempat tidurnya. Tatapan mata Bu Rima begitu serius, mengirimkan gelombang kecemasan ke hati Mira.
"Duduklah, Nak," kata Bu Rima, menunjuk ke kursi di dekatnya.
Mira menuruti perintah itu, duduk dengan punggung tegang dan tangan yang bergetar di pangkuannya. "Ada apa, Bu?"
Bu Rima menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara pelan, "Mira, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui tentang dirimu... dan keluargamu."
Deg! Jantung Mira berdetak kencang. "Maksud Ibu?"
"Selama ini, kamu selalu melihat dirimu sebagai bagian dari kami, dari panti ini. Tapi ada rahasia yang selama ini kami simpan demi kebaikanmu," Bu Rima berhenti sejenak, menatap dalam-dalam ke mata Mira yang kini dipenuhi ketakutan.
"Rahasia apa, Bu?" tanya Mira dengan suara bergetar.
Bu Rima menggenggam tangan Mira erat-erat. "Kamu... kamu bukan anak yatim seperti yang selama ini kamu kira. Mungkin Orang tuamu masih hidup, Nak. Ibu rasa mereka meninggalkanmu di sini karena alasan yang sangat sulit untuk dijelaskan."
Mira terdiam, merasa dunianya terbalik. Kata-kata Bu Rima berputar-putar di kepalanya. "Orang tuaku... masih hidup?"
Bu Rima mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya. "Iya, Nak. Mungkin mereka akan datang menjemputmu segera. Kamu harus tahu semuanya sebelum itu terjadi."
Mira merasa seolah-olah lantai di bawahnya runtuh. Segala sesuatu yang dia percayai tentang hidupnya berubah seketika. Tatapan Bu Rima yang penuh kasih dan air mata, serta bayangan masa lalu yang tiba-tiba hadir, membuatnya merasa kecil dan rapuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu? Kenapa mereka meninggalkanku?" Suara Mira terdengar serak dan penuh luka.
Bu Rima menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. Cerita yang akan mengubah hidup Mira selamanya, mengungkapkan rahasia yang telah lama terkubur, dan membuka pintu menuju masa depan yang penuh ketidakpastian.
"Ibu tidak tahu apa alasan orang tua kamu meninggalkan kamu di panti ini," Bu Rima memulai ceritanya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Perlahan, ia berjalan menuju lemari besar di pojok ruangan. Bunyi engsel yang berderit ketika lemari itu dibuka seolah menambah ketegangan. Di dalamnya, berbagai kotak tersusun rapi, misteri yang tak pernah terungkap oleh Mira sebelumnya.
Dengan hati-hati, Bu Rima mengeluarkan sebuah kotak besar dan membukanya. Di dalam kotak itu terdapat kotak yang lebih kecil. Tanpa banyak bicara, Bu Rima menyerahkan kotak tersebut kepada Mira. "Ini surat yang ditinggalkan oleh orang tuamu ketika mereka menempatkanmu di kursi taman panti ini," katanya, suaranya gemetar. Mira menerima surat itu dengan tangan bergetar, membuka kertas yang sudah usang dengan tulisan tangan yang acak-acakan.
'Tolong jaga dan rawat bayi ini. Dia tidak berdosa. Suatu hari akan ada yang menjemputnya!' Kira-kira seperti itu tulisan dalam kertas yang Mira pegang. Kata-kata itu menusuk hatinya seperti pisau tajam. Air mata tak bisa lagi ia bendung, mengalir deras menghujani kertas tua tersebut. Hatinya hancur berkeping-keping.
"Ibu terus menunggu orang tua kamu datang menjemput, tapi sampai sekarang..." Suara Bu Rima terputus oleh isak tangis yang tertahan.
"Mereka melupakan aku dan tidak ingin aku ada di hidup mereka!" sela Mira, suaranya penuh dengan kepedihan dan kemarahan. Bu Rima hanya bisa menatapnya dengan pandangan sendu.
"Ini," Bu Rima kembali menyerahkan selimut dan satu set pakaian bayi kepada Mira. "Kamu ditinggalkan di sini menggunakan selimut dan pakaian itu, bahkan dengan perhiasan ini!" Mira membuka kotak kecil yang diberikan oleh Bu Rima dan mengeluarkan perhiasan di dalamnya.
Perhiasan itu berupa kalung dan gelang dengan permata berwarna merah muda, yang masih berkilau meski usianya sudah lebih dari dua puluh tahun. Cahaya permata seolah menari di antara air mata Mira, menambah keindahan yang menyakitkan.
"Mungkin dari barang-barang ini kamu bisa bertemu dengan keluarga kandung kamu," ucap Bu Rima penuh harap.
"Tidak, Bu. Untuk apa aku bertemu dengan orang tua yang sengaja membuang anaknya ke panti asuhan!" lirih Mira, hatinya benar-benar hancur. Kata-katanya menggema di ruangan yang sunyi, seolah membekukan waktu sejenak.
Mira terduduk menundukkan kepalanya, tangisnya tertahan, namun sesekali isaknya terdengar lirih. Bu Rima menghampirinya dengan langkah pelan, mencoba mengurangi beban di hati gadis itu.
"Dengarkan Ibu, Nak," suara Bu Rima lembut namun penuh keyakinan. "Tidak baik kamu berburuk sangka seperti ini. Mungkin ada alasan lain yang membuat orang tua kamu meninggalkan kamu di sini. Atau mungkin, sampai saat ini, mereka masih terus mencari kamu."
Mira hanya terdiam, air mata mengalir perlahan di pipinya. Kata-kata Bu Rima menusuk hatinya, menggugah harapan yang telah lama terkubur.
"Tidak ada salahnya kamu memakai perhiasan ini dan menyimpan semua barang ini," lanjut Bu Rima sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berisi perhiasan. "Ibu yakin, suatu saat nanti orang tua kamu akan datang menjemput kamu."
Mata Mira penuh keraguan. "Ini sudah dua puluh tahun lebih, Bu. Tidak mungkin mereka masih mengingat aku," suaranya terdengar lemah, nyaris putus asa.
Bu Rima menghela napas panjang, merasakan kepedihan yang dirasakan Mira. "Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil, Nak. Semuanya pasti terjadi. Percayalah pada Ibu, mereka pasti menunggu kamu untuk pulang dan masih mencari kamu."
Mira mengangguk pelan, mencoba meyakinkan dirinya. "Iya, Bu," jawabnya lirih.
Bu Rima tersenyum lembut, menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik Mira. "Semoga apa yang Ibu katakan menjadi kenyataan," pikir Mira dalam hati, "tapi aku tidak ingin terlalu berharap."
Keduanya terdiam, terhanyut dalam harapan dan doa, sementara di luar sana, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.