Tangan Renjiro mengepal seketika di atas meja. Ingin rasanya ia menyingkirkan pria tua gendut itu. Namun, Renjiro sadar diri bahwa ia bukan siapa-siapa Miyuki, hanya bisa mengeratkan gigi menahan kekesalan.
Sambil berjalan, Chris melayangkan kecupannya di pucuk kepala Miyuki. Tak lupa satu matanya mengedip genit.
Terpejam mata Miyuki karena tak tahan dengan perlakuan Chris. Tubuhnya pun bergidik geli sekaligus ngeri.
Sorot tajam mata Renjiro tak lepas menatap Chris sampai tubuh gendut itu menghilang naik ke lantai atas.
“Jiro?” panggil Miyuki.
“Ya?” Jawab Renjiro cepat karena terkejut. Pandangan matanya langsung beralih ke arah gadis di depannya. Lantas, ia berusaha membuat suasana seperti semula. “Sampai di mana tadi?”
“Aku gak perlu menjelaskan lagi, kan, orang seperti apa Pak Chris itu? Kamu udah liat sendiri tadi.”
Renjiro menghela napas. “Ya ... Miyuki. Emm ... apa aku masih boleh membantumu?”
Miyuki menipiskan bibirnya. Ia menimbang-nimbang tawaran Renjiro.
“Aku gak yakin kamu bisa.” Miyuki menjawab dengan putus asa. Ia seperti kehilangan harapan untuk masa depannya.
“Aku akan mencobanya kalau kamu memberiku kesempatan, Miyuki.”
“Silakan.”
“Boleh aku mulai?” tanya Renjiro dengan tatapan lekat.
Sepasang mata Miyuki meliriknya. Ia tak berharap banyak kepada Renjiro. Namun dengan pertanyaan itu dirinya sedikit menaruh harapan.
‘Dia mau mulai seperti apa?’ batinnya.
Situasi mulai canggung. Miyuki mengangguk pelan. Hatinya serasa terketuk dan suasana berubah kaku. Sampai beberapa saat kemudian, datang seorang pelayan pria.
“Silakan, Mbak, Mas.” Ia meletakkan pesanan satu demi satu di atas meja, mengucapkan selamat makan, lalu kembali melayani tamu lain.
Selama makan, Miyuki sesekali melirik Renjiro. Pemilik bibir seksi di depannya sedang memakan pasta dengan lahap.
Setengah piring tersisa, Renjiro menyeruput setengah gelas es jeruk dari sedotan. Indra pengecapnya sedikit menjulur, menyapu bibir dengan manis, membuat tepian mulutnya itu tampak basah dan menggoda.
Glek!
Miyuki terkejut ketika Renjiro juga balik menatapnya. Ia mereguk liur dengan berat. Miyuki langsung menunduk dan menghabiskan nasi goreng pedas kesukaannya.
Renjiro pun tersenyum manis, memandangnya sedikit lebih lama saat gadis tanpa polesan wajah di hadapannya tampak salah tingkah.
“Kamu kerja di mana?” tanyanya mencairkan suasana.
“Oh, aku ... kerja di toko kue ... yang di pasar bawah.” Miyuki tersenyum tipis, sedetik menatapnya, kemudian menunduk lagi. Ada sedikit rasa yang mengetuk hati ketika ia menatap Jiro.
“Ooh ... toko kue yang paling depan itu? Yang pemiliknya Pak Singgih?”
“Iya. Kamu kenal Pak Singgih?” Tanpa sadar, Miyuki dengan berani memandang pria yang memakai kaos polo hitam di seberang mejanya.
“Iya, aku sering beli kue di sana.”
“Oh, ya? Kapan? Kok, kita gak pernah ketemu?” tanyanya antusias.
“Kamu berharap ketemu aku?”
“Aah, itu ... enggak. Ma-maksudnya ....” Rona merah terkuras di kedua pipinya.
“Baiklah, kapan-kapan aku ke sana cari kamu.”
Miyuki tersedak. Es teh manis yang diminumnya tak tertahan hingga akhirnya menyembur.
Tingkah laku Miyuki yang sejak tadi terlihat jelas salah tingkah, membuat Renjiro tersenyum girang. Kilat di matanya tak bisa disembunyikan kalau ia mulai mengagumi gadis itu.
“Udah selesai?”
Miyuki mengangguk mengiakannya.
“Ayo, aku antar pulang.” Bangkit dari kursi, Renjiro melihat jam di tangannya yang hampir memasuki waktu Magrib.
“Tapi—
“Gak usah khawatirkan aku, Miyuki. Aku akan berusaha meyakinkan bapakmu.” Ia sangat memahami apa yang dimaksud Miyuki sebelum sempat diucapkan. “Silakan ....” Jiro dengan sopan mempersilakan Miyuki berjalan di depannya.
Miyuki memaksakan tersenyum di hadapannya. Di depan langkah Renjiro, ia terus mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Malu, canggung, tetapi merasa dimuliakan.
Menarik napas dalam-dalam, ia mencoba menenangkan hatinya yang belingsatan. Namun, sudut bibirnya tak bisa menahan rasa yang belum pernah dialaminya itu.
***
Di dalam mobil, pandangan Miyuki sesekali mengambil kesempatan. Lelaki di balik kemudi menatap fokus jalanan, mencengkeram ujung kemudi hanya dengan satu tangan. Ia tampak keren dengan gayanya.
Padahal, saat itu Renjiro tidak sedang menatapnya, tetapi hatinya berteriak-teriak tidak mau diam. Demi menyembunyikan situasi rahasianya itu, Miyuki memandang jendela di sampingnya. Namun, tetap saja bayangan Renjiro sebelumnya terus terpaku di ingatannya.
“Yuki, ngomong-ngomong kamu berapa bersaudara?” Renjiro memulai percakapan di tengah kemacetan.
“Aku ... tiga bersaudara. Satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan.
“Oke ....” Sebenarnya, Renjiro ingin menanyakan penyebab ayahnya duduk di kursi roda. Namun, sepertinya hal itu belum pantas ditanyakan, hanya ingin lebih menjaga perasaannya saja. Mungkin lain kali, kalau hubungan mereka bisa ke tahap lebih serius Jiro akan menanyakannya.
“Oh, ya. Waktu itu, gimana kamu bisa menemukan aku?” Miyuki mengutarakan rasa penasarannya saat itu.
“Kamu gak ingat?”
“Enggak ... aku bangun tau-tau udah di rumah sakit.”
“Dan kamu kira udah mati saat itu sampai kamu berhalusinasi udah di surga.” Renjiro terkekeh. Senyumnya tampak manis di mata Miyuki hingga ia tak berkedip selama tiga detik.
“Ooh, itu ... soalnya ....” Ia tak berani mengungkapkan yang sebenarnya kalau saat itu yang pertama dilihatnya adalah wajah tampan Renjiro, lelaki yang baru ia temui.
“Soalnya ...?” Renjiro menanti lanjutan ucapan Miyuki.
“Gapapa.” Sambil bergeleng cepat, Miyuki memaksakan senyum. Ia tersipu.
***
Mobil hitam berpelat F sampai di depan rumah yang hampir seperti gubuk.
Bangunan rumah dengan cat yang sudah pudar dan kusam pada bagian depan. Sebagian dindingnya masih jelas berdiri batako cokelat tanpa balutan semen, apalagi cat. Bagian atas rumahnya tertutup genting tanah liat, perkiraan usianya sudah tua, dan di beberapa bagian terlihat bertumpuk. Sepertinya, untuk menahan kebocoran.
Orang-orang sedang berkumpul dan bersorak-sorak di depan rumah Miyuki. Mereka tampak beradu pendapat dengan Radi dan Hasna, kedua orang tua Miyuki.
“Cepat bawa dia!”
“Ia benar, cepat penjarakan dia daripada terus membuat masalah!”
“Dasar Sampah Masyarakat!”
Miyuki dan Renjiro keluar dari mobil bersamaan, kemudian menutup pintu perlahan. Sambil melangkah pelan, mereka mengamati situasi yang belum pernah terjadi di rumah itu.
“Saya mohon jangan, Pak? Tolong maafkan anak saya ....” Ibu Miyuki menangis terisak-isak, memohon di hadapan banyak warga.
“Gila kamu, ya, Hasna! Anak gak guna begini dibela!”
“Bu, biar begini dia adalah anak saya.” Hasna bertekuk lutut. Kedua tangannya bertumpu di atas paha.
“Kami gak mau tau! Kami mau dia dihukum sekarang juga!”
Pukulan, hantaman, tendangan, cakaran, dan segala bentuk kekerasan fisik maupun psikis dilayangkan kepada Levi.
Melihat itu, Renjiro segera berlari menyusul Miyuki.
“Heeii, jangaan!” Tak ada yang mendengar teriakan Miyuki.
Akhirnya, mereka menembus kumpulan warga dengan susah payah, dengan berimpit-impitan. “Sudaah hentikaaaan!” Miyuki berteriak lebih keras lagi.
Miyuki langsung merunduk untuk melindungi sang kakak karena tak juga ada yang mendengar. Tak tega melihat pukulan masih terus melayang, Renjiro ikut turun tangan.
Ia berdiri di belakang Miyuki dan Levi sambil berbicara dengan keras dan tegas.
“Tenang, Semuanya, tenang!” Beberapa hantaman sempat mengenai wajah putih Renjiro. Namun, di situasi seperti itu ia tak merasakan sakit sama sekali.
“Minggir! Siapa kamu!”
“Jangan ikut campur urusan kami!”
“Ya, jangan membela anjing ini!”
Warga lain terus berkomentar.
“Astagfirullah, Pak, Bu. Semua bisa diselesaikan dengan baik. Kenapa harus dengan kekerasan?” Jiro berusaha melerai.
“Dengan baik gimana?! Dia udah berulang kali berulah dan membuat gaduh lingkungan. Tapi, kali ini udah keterlaluan.”
“Baik, baik, Pak. Saya belum tau masalahnya di sini. Tapi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu juga gak bisa main hakim sendiri. Asal semuanya tau, kami juga bisa melaporkan balik masalah dengan pasal kekerasan.”
Semua warga sontak bergeming, memikirkan pendapat Renjiro.
“Kalian mau begitu? Di sini banyak saksinya atas pemukulan ini.” Renjiro terus berpendapat.
“Aaaalah, banyak omong lo!”
Bugh!