“Jangaaan!” Lagi, Miyuki berteriak.
Terlambat. Renjiro terhuyung ke belakang. Cairan merah kental menetes dari hidung karena serangan tinju tepat mengenai sasaran.
“Wey, wey, wey, Pak!”
“Yang salah Levi, kenapa pukul dia, Pak?!” Seseorang mengeluh.
“Bisa panjang urusannya kalo gini!”
Seorang Bapak yang tadi menyerang Renjiro mematung sendiri, sedangkan yang lainnya bergerak mundur demi menghindari masalah berkelanjutan.
Miyuki meninggalkan Levi yang tak sadarkan diri. Bergantian Hasna memegang Levi dan mendekap dalam pangkuannya. Entah Levi pingsan atau tertidur ... yang pasti dari mulutnya menguar aroma tidak sedap alkohol.
“Jiro?” Miyuki mencengkeram tangan Renjiro yang hampir terjatuh. Namun, Jiro masih berusaha mempertahankan diri walau dari wajahnya terbaca ekspresi sedang menahan sakit. Ya, ia meringis. Di punggung tangannya berceceran darah yang mengalir dari hidung ketika ia menyekanya.
“Jiro, maaf.” Ingin menyentuh hidungnya, tetapi Miyuki canggung. “Harusnya kamu gak usah ikut-ikutan. Karena masalah kami, kamu jadi kena imbasnya, kan?” ucapnya dengan suara lirih dan ada sedikit penyesalan.
Renjiro menatap Miyuki yang sedang menyentuh lengannya. Bibirnya setengah menutup. Di mata Miyuki, terlihat genangan air yang sesaat lagi akan tumpah.
“Aku baik-baik aja, Miyuki. Gimana dengan kamu?” Renjiro menjawab dengan tetap tenang. Seulas senyum tipis ditunjukkannya untuk membuktikan bahwa ia baik-baik saja.
Begitu juga dengan Miyuki yang mengangguk-angguk cepat. Ingin rasanya Renjiro mencakup wajahnya, menenangkan hatinya.
Sadar urusannya belum selesai, Miyuki melepas Jiro sejenak. Namun, Jiro menahan gadis yang masih syok itu dengan bergerak cepat ke depan Miyuki. Sebelum mulai mengangkat suara, Jiro berdehem memperbaiki pita suaranya.
“Ehm. Siapa yang akan menjadi wakil pembicara dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu di sini? Kita akan musyawarahkan semuanya dan membicarakan masalah yang terjadi.”
Tak ada jawaban dari seorang pun.
“Tolong jangan anarkis. Kita semua di sini manusia yang sama-sama gak lepas dari masalah. Tapi, semua masalah ada penyelesaiannya, Pak, Bu. Apa dengan memukuli orang, lantas semua masalah selesai? Tentu saja enggak. Bapak-bapak dan Ibu-ibu di sini hanya melampiaskan nafsu dan emosi. Tapi, gak berpikir cara menyelesaikannya. Benar?!”
Semua warga masih terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain. Sebagian lain, berbicara dengan orang di sampingnya dan saling menyalahkan. Sebagian lagi hanya diam tertunduk.
“Saya tanya sekali lagi. Siapa yang akan menjadi wakil dari kalian semua atau ... saya akan melaporkan ini!” Jiro menunjuk bekas pukulan di wajahnya. Suara Renjiro pun terdengar lebih tegas.
Sementara itu, Radi tampak tenang di kursi roda dengan seringainya.
“Ayo, maju, Pak.” Seseorang mendorong salah satu pria paruh baya yang sejak tadi banyak bicara. Namun, ia tidak ikut melampiaskan napsunya dengan kekerasan.
“Baiklah. Bapak yang itu tolong ikut juga!” tunjuknya kepada seseorang yang dengan membabi buta menonjoknya.
Si bapak melirik ke kanan dan ke kiri, merasa tak bersalah.
“Yang lainnya silakan pergi karena ini udah masuk waktu Magrib,” lanjut Renjiro.
Kedua orang wakil dari warga duduk di sofa lusuh. Sambil menanti selesai azan Magrib, Jiro menggendong Levi di punggungnya. Miyuki dan Hasna mengantar Jiro untuk menunjukkan jalan.
“Di mana kamarnya?” Renjiro mengutarakan pertanyaan.
Miyuki dan ibunya saling menatap.
“Levi gak punya kamar. Tidurkan dia di sini aja.” Miyuki menunjuk matras hijau yang gambarnya sudah pudar yang busanya sudah sangat tipis—setebal buku tulis dengan jumlah halaman paling sedikit, tipis dan ringan.
Terenyuh seketika melintasi pikiran Renjiro. Ia tak menyangka kalau keluarga Miyuki sesulit itu. Setelahnya, Miyuki dan Hasna membantu menurunkan Levi dari punggung Jiro, lalu membaringkannya di atas matras.
“Tunggu sebentar!” Menahan Renjiro sesaat, Miyuki mengambil tisu dari tasnya, meraih beberapa lembar, kemudian menutupi hidung Jiro yang masih tampak darah yang hampir mengering.
Terkejut hatinya saat merasakan perlakuan spontan Miyuki, lalu melihat gadis itu dari jarak yang lebih dekat. ‘Cantik dan tulus,’ batinnya. Selama lima detik itu matanya bertahan untuk tak berkedip—lama dan lekat.
“Terima kasih.” Renjiro mengambil alih tisunya. Ia tak ingin berlama-lama berhadapan lebih lama lagi, khawatir jika Miyuki mendengar kerasnya detakan jantung Jiro saat itu.
Ia segera pergi keluar menghampiri Radi dan dua orang warga. Sampai di teras, Renjiro mempersilakan Radi untuk mulai berbicara.
“Silakan dimulai, Pak.”
“Siapa kamu berani memerintah saya!” Radi menghardiknya secara tiba-tiba.
Mengerti dengan watak Radi, Renjiro hanya mengangguk sopan dan sedikit memaksakan senyum.
“Di mana Aletta?” Radi menautkan jemari kedua tangannya. Sinis, ia berbicara seraya mendelik.
“Ada di rumah, Pak.” Bapak itu menjawab dengan raut wajah menantang.
“Kenapa ... dia gak dibawa ke sini?” Sebuah pertanyaan dari Radi yang cukup menyelisik.
“Anak saya itu syok, Pak Radi. Dia trauma setelah mendapat pelecehan dari Levi. Dia cuma bisa menangis dan gak berani keluar rumah. Malu .... ”
“Apa yang udah dilakukan Levi ke Arletta? Coba jelaskan!” tanya Radi kembali.
“Aah ... anu ....”
“Anu apa?”
“Saya gak tau, Pak Radi. Yang dilecehkan itu, kan, Arletta. Bukan saya!” Deri mencoba berdalih.
“Kalau Pak Deri gak tahu apa-apa, lalu kenapa berani menuntut anak saya bertanggung jawab?! Pake acara bawa warga dan buat keributan segala di sini, lagi!”
Deri bangkit berdiri untuk melawan Radi, tetapi Renjiro cepat mengadangnya.
“Tenang, Pak, tenang,” ujar Renjiro menengahi.
Radi tak menghiraukan keadaan itu. “Kalau memang Levi melakukan kesalahan, tunjukkan buktinya. Dan seharusnya, korban yang melapor dengan sebuah bukti kepada polisi. Bukannya Pak Deri dan warga yang koar-koar di sini!”
“Kenapa jadi Pak Radi yang marah-marah dan mengatur saya?!”
“Kalau cuma ngomong ... saya juga bisa, Pak Deri. Tolonglah, kalau bodoh jangan diperlihatkan kebodohannya.”
Melihat tangan Pak Deri mengepal, ia pasti sangat geram dengan ucapan Pak Radi. Namun, benar yang dikatakan Radi itu. Jika tidak ada bukti, bisa jatuh fitnah. Apalagi, bukan korban yang meminta pertanggungjawaban langsung di sana.
“Baiklah, Pak Radi. Kami akan melaporkan semuanya langsung ke polisi ... sekaligus membawa bukti-buktinya ke sana. Tunggu sampai polisi datang ke sini menangkap Levi!” Deri berbicara lantang sambil menunjuk-nunjuk Radi, sedangkan Radi masih dengan ketenangan dan seringai meremehkan.
“Mohon maaf saya menyela. Jadi, yang jadi korban di sini adalah anak Bapak. Tapi, kenapa Bapak ini yang antusias memukuli Levi? Saya di sini berbicara sebagai saksi. Bahkan, saya gak lihat Pak Deri menyentuh Levi sedikit pun.” Jiro menunjuk pria yang telah membuat ia merasakan sakitnya ditinju.
“Itu ... tentu saja karena saya membela anak Pak Deri.”
“Membela? Oke, saya terima alasan Bapak. Cuma ... yang saya tidak habis pikir, kenapa Bapak yang paling bersikeras menghajar saya? Lihat ini! Cuma dengan sekali pukulan, hidung saya langsung patah.”
Teror kegelisahan menghiasi wajah Bapak itu. Panik dan cemas berbaur menjadi satu. Tak ada sepenggal kalimat maupun sebuah kata yang keluar dari mulutnya.
“Sudahlah. Percuma berbicara di sini. Tunggu aja sampai polisi ke sini membekuk Levi.” Deri menyembur ludah sebagai bentuk penghinaan. Tanpa berpamitan sama sekali, Deri berjalan meninggalkan rumah Radi, diekori pria yang satunya lagi.
Masalah belum selesai saat itu. Entah akan datang masalah baru atau tidak nantinya. Renjiro hanya bisa menghela napas panjang.
Tanpa berkata-kata lagi, Radi mengayuh kursi rodanya masuk ke dalam, meninggalkan Renjiro di sana.
Di dalam rumah, Miyuki dan Hasna selesai mengurus Levi, menggantikan bajunya yang berbau alkohol. Keduanya langsung menyadari saat Renjiro berjalan masuk.
“Jiro, sekali lagi aku minta maaf.” Miyuki menghampirinya dengan ekspresi terharu.
Renjiro tersenyum walau masih terasa sakit di sekitar wajahnya. “Gak usah minta maaf, Yuki. Bukan salah kamu. Lagi pula, wajahku udah sembuh.”
“Kok, bisa. Aku baru aja mau ambilkan obat.”
“Coba tersenyum!”
Merasa bingung, tetapi akhirnya Miyuki menghiasi wajahnya dengan senyuman.
“Lihat!” Renjiro menunjuk bekas pukulnya. “Aku udah sembuh cuma karena senyuman itu.”
Senyuman Miyuki yang awalnya sedikit terpaksa dan bingung, akhirnya lebih mengembang. Binar mata Renjiro pun bersinar seketika.
“Aku pulang dulu, ya?” Renjiro berkata dengan pelan, khawatir membangunkan Levi.
“Udah Magrib. Kamu gak salat dulu?”
“Nanti aku salat di masjid aja.”
Miyuki mengangguk dan memanggil Hasna. Renjiro merapatkan tangan untuk bersalaman tanpa bersentuhan dengan kedua perempuan itu, lalu pamit dan meninggalkan rumah Miyuki.
Mobil hitam Renjiro berjalan bersimpangan dengan mobil hitam yang elegan. Seiring kepergian Renjiro, mobil mewah itu berhenti di tempat Jiro parkir sebelumnya.
Seorang sopir keluar dari pintu kemudi, membukakan pintu belakang. Seorang pria berusia kepala lima, gendut, berpakaian rapi, dan mewah keluar dari pintu penumpang—pintu majikan lebih tepat baginya.