Babun

1829 Kata
“Selamat malam, Miyuki-ku,” sapa Chris yang berdiri di depan pintu. Ia melihat Miyuki dan istri Radi yang berada di ruang tamu. Serempak, Hasna dan Miyuki berpaling ke sumber suara. Namun, bukan Hasna ataupun Yuki yang pergi menyambutnya, melainkan Radi yang dengan cepat mengayuh kursi rodanya menuju ambang pintu. Tak ingin menemui tamu yang datang tak diundang itu, Miyuki memilih pergi ke kamar mandi untuk bersuci. Dengan sepasang sandal jepitnya, ia melangkah menuju sajadah yang sudah digelar di kamarnya. Di atas kasur, sedang tertidur adik perempuannya, Karima Shafeeya. Kasur kapuk yang sudah lapuk, diselimuti seprai yang sudah usang. Permukaan kainnya sudah berbulu. Bantal dan gulingnya juga sudah kempis. Miyuki dan Shafeeya saling berbagi kasur berukuran sedang, sedangkan Levy hanya tidur beralaskan matras tipis di ruang keluarga yang kadang juga berfungsi sebagai ruang tamu. “Dek, bangun, dek. Udah Magrib. Ayo, salat dulu!” Miyuki pelan menepuk-nepuk pipi Shafeeya. Sesekali juga menggoyang-goyang kaki sang adik supaya cepat bangun. Perlahan-lahan pulupuk mata Shafeeya terbuka. Sesekali menutup, kemudian terbuka lagi. Namun, kelopaknya masih belum sempurna terbuka. “Dek, ayo! Nanti Magribnya keburu habis.” Suaranya sedikit dikeraskan agar Shafeeya segera bangun. Sebenarnya, Miyuki tak tega mengganggu kelelapan tidur adik satu-satunya itu. Namun, karena waktu salat yang pendek, terpaksa ia harus membangunkannya. “Hemmm? Iya, sebentar.” Shafeeya merespon Miyuki dengan suara parau. Kelopak mata Shafeeya yang tampak berat berusaha dibukanya. Sedikit demi sedikit ia berusaha menguraikan rasa kantuknya untuk terjaga, lalu bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka, sekalian mengambil air wudu. Bertahun-tahun hidup dengan status ekonomi menengah ke bawah, Miyuki tak pernah mengeluh. Apalagi, semenjak Radi menarik diri dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan karena kecelakaan yang menimpanya, kehidupan mereka pailit. Bahkan, bisa dikatakan miskin. Miyuki sangat mengerti bagaimana kondisi ekonomi kedua orang tuanya. Selama itu, keluarganya hanya hidup dengan dana asuransi sang ayah yang tak seberapa. Miyuki pun membantu keuangan ala kadarnya ... dan selama dua tahun itu, Hasna yang dengan susah payah mengatur dan menekan pengeluaran. Tiga rakaat selesai dilaksanakan. Beberapa bait doa ia panjatkan kepada Sang Pencipta sambil menengadahkan tangan. Dengan suara setengah serak, Miyuki memohon agar diberikan jodoh yang lain. Siapa pun itu asalkan bukan Chris. Bagaimana pun dia asal tidak seperti Chris. Pokoknya, semua yang jauh dari nama Chris. Terdengar sampai kamar Miyuki, kedua pria yang sudah tak lagi muda itu saling menyapa. “Mau apa dia ke sini?” gumamnya. Sambil membuang napas berat, Miyuki melipat sajadah dan mukenanya. “Emang itu siapa, Kak?” Mendengar gumaman sang kakak, Shafeeya melayangkan pertanyaan. “Oh, itu Babun,” jawab Miyuki tak acuh. “Babun? Kera?” Shafeeya mengerutkan kening. “Enggak. Udah gak usah banyak tanya, Dek, nanti kamu sawan kalo liat orangnya.” “Ish, Kakak ini!” *** Sepanjang perjalanan pulang, nama Miyuki, bayangan senyumannya, dan gurat kesedihan saat kali pertama bertemu selalu menemani pikiran Renjiro. “Aku gak nyangka hidup Miyuki sesulit itu. Hanya karena alasan ekonomi keluarganya, dia harus dijodohkan dengan lelaki yang ... hemmm.” Seraya menipiskan bibir, Renjiro menghela napas dengan kasar. Ia tak tahu kosakata apa yang cocok untuk mengumpakan Chris. “Benar kata Miyuki waktu itu. Lawanku tak sepadan—terlalu berat.” Sekepalan tangannya menghantam keras setir mobil, membuat klakson mobilnya berbunyi keras seketika. Pengemudi di depan, kanan, dan kiri tersentak kaget dan memandang ke arah mobilnya. “Aku mau membantunya. Tapi, gimana caranya? Gak mungkin aku menculik dan membawanya kabur supaya terhindar dari perjodohan itu.” Kepalanya disandarkan ke kursi dengan berat. Tangan kanannya yang memegang setir menyiku di jendela, sedangkan jemari tangan kirinya memijat kening. Di persimpangan jalan utama, ia berbelok arah dengan cepat untuk menjalankan kewajibannya. Sebuah bangunan megah dengan arsitektur yang mewah dan modern menjadi ciri khas masjid di lokasi strategis itu. Masjid yang dibangun oleh seorang arsitek berdarah Maroko itu dibangun dengan menggabungkan beberapa gaya rancangan negara-negara Timur Tengah, Eropa, dan tentu saja Nusantara yang memiliki kekayaan adat istiadatnya. Antrean untuk berwudu cukup panjang di sana. Puluhan orang berbaris di sepanjang deretan keran dengan airnya yang bisa membuat kaku kedinginan. Saat ia memasuki tempat salat dengan lampu-lampu kristal yang bergelantung, imam masjid yang memimpin salat berjamaah sudah selesai. Akhirnya, ia berniat salat sendiri. Namun, baru saja akan memulai, salah satu dari lima orang di belakangnya menepuk pundak agar ia menjadi imam. Dalam rakaat terakhirnya, Renjiro sujud lebih lama—meminta dan memohon dalam posisi serendah-rendahnya di hadapan Allah. Seseorang di belakangnya melemparkan tanya setelah selesai salat dan berzikir. “Sujudnya lama sekali, Nak?” Selesai pria itu mengucap amin, ia menoleh ke sumber suara yang tak asing baginya. “Papa?” Menghampiri papanya, Jiro mencium tangannya dengan santun. “Papa baru pulang? Naik apa?” “Ya. Papa naik bus tadi turun di depan.” Mereka bangkit berdiri bersama-sama. “Yaudah, Papa pulang bareng Jiro, ya?” ajakan Renjiro disanggupi papanya. Mereka pun langsung meluncur pulang menuju kediamannya. Jalanan salah satu kota besar di Jawa Barat masih ramai di jam itu. Walaupun agak sedikit padat, tetapi lalu lintas masih bisa dikatakan lancar. Tak seperti hari-hari saat liburan atau akhir minggu yang mana kebanyakan orang turun memenuhi jalan. “Kamu minta apa tadi sampai lama sekali sujudnya? Kasian orang-orang, lama nungguin kamu bangun,” tanya pria bernama lengkap Lazuardi Manaf itu. “He-heh. Tidak, Pa. Biasalah.” Jiro mencoba menghindari pertanyaan sang ayah. “Kalo laki-laki udah berdoa panjang, pasti urusannya sama cewek.” Manaf menyindir putra pertamanya. “Heheh. Tidak juga, Pa.” “Ngaku kamu? Apa lagi coba yang anak Papa gak punya selain calon istri, kan?” Sindiran terus dilemparkan kepada sang putra yang pipinya merona karena tersipu. “Nanti kalo udah tepat waktunya, Jiro pasti cerita, Pa.” “Nah, kan? Nah, kaan? Siapa? Anak gadis mana yang bisa buat anak Papa sujud sampai berlama-lama begitu?” *** Rumah kecil Radi dipenuhi hadiah yang dibawakan oleh asisten Chris. Baju-baju bermerek; sepatu dan sandal berkelas; tas dengan koleksi terbatas yang diimpor khusus; segala macam makanan; dan banyak aksesoris lainnya. “Ini apa, Pak Chris, banyak sekali?” “Ini untuk keluargamu dan Miyuki.” Radi berdiri sambil melipat silang kedua tangannya. “Tapi, aku belum memberikan jawaban apa pun dari lamaran Pak Chris.” “Tidak apa. Santai saja, Radi. Lagi pula ini ,kan, hanya hadiah kecil, bukan untuk hantaran.” “Tapi, ini terlalu banyak. Harganya pasti mahal-mahal. Saya ....” “Mahal? Hahaha. Radi, buatku ini hanya seujung kuku. Kamu tidak usah berlebihan. Terima saja hadiah yang hanya seperak dari seluruh hartaku ini. Kalau nanti Miyuki menerima lamaranku, aku akan membawakan lima kali lipat—tidak, bahkan sepuluh kali lipatnya.” Ucapan Chris yang sebenarnya bertujuan untuk menyogoknya itu, membuat Radi menelan liur. Ia bisa melihat Radi yang haus akan kekayaan. Ia merasa sudah maju selangkah untuk bisa memiliki Miyuki dalam genggamannya. Sorot mata Radi berbinar melihat barang-barang mewah itu. Juga makanan yang asapnya sudah menari-nari menyapu indra penciumannya, membuat perut kosongnya berteriak-teriak meminta makan. “Boleh aku buka ini?” Matanya menatap lekat box pizza berukuran besar yang belum pernah dibelinya seumur hidup. Ia rasa kedatangan Chris tepat sekali dengan masuknya waktu makan malam. “Silakan. Silakan, Radi. Kamu bisa menghabiskan yang mana pun kamu mau. Kalau kurang, aku akan membelikannya lagi untukmu.” Chris tersenyum licik. Radi tertawa senang. “Terima kasih sekali, Pak Chris atas semuanya. Aku jamin ... Miyuki pasti mau menikah denganmu. Siapa yang berani menolak orang seperti Pak Chris. Andai aku jadi wanita pun, aku pasti memintamu menikahiku.” ‘Gila. Mana mau aku menikahimu!’ pikir Chris. Namun, ia memakluminya demi Miyuki. Seringai miring menghiasi wajah bulat Chris. Menurutnya, cara liciknya itu berhasil memperdaya Radi yang haus akan uang. Dengan begitu, ia berharap agar Radi bisa membujuk Miyuki untuk bisa segera menerima pinangannya. ‘Dasar Gila Uang!’ batinnya mengolok-olok pria di hadapannya yang sedang membuka beberapa kotak makanan lainnya. Terlihat sekali Radi yang haus dan rakus. “Hampir saja lupa. Silakan duduk dulu, Pak Chris. Aku akan panggil Miyuki.” Chris duduk di sofa lusuhnya. Sementara, asistennya berdiri tegak di samping Chris. “Yukiiiiii?” Radi memanggilnya dengan keras. Namun, karena Miyuki tak juga datang, ia menghampiri kamar anak-anak perempuannya. Sampai di sana, Miyuki sedang mengajarkan Shafeeya belajar. “Yukiiii!” pekiknya. “Kamu gak dengar Bapak panggil kamu dari tadi! Malah santai-santai di kamar!” “Bapak panggil aku? Maaf, Pak, aku gak dengar. Aku lagi nga— “Kamu gak dengar! Kuping kamu disimpan di mana sampe gak dengar suara Bapak?!” Miyuki menghampiri ayahnya. “Iya, iya, maaf, Pak. Udah gak usah teriak-teriak, Pak. Feeya lagi belajar, Levi juga lagi istirahat. Malu juga sama tetangga, Pak.” “Bodo amat! Bapak gak peduli!” Miyuki menghela napas berat atas sikap ayahnya yang keras. “Memangnya ada apa, Pak?” “Cepat ke depan sana! Kasian Chris udah nunggu kamu dari tadi, bukannya keluar malah di sini! Gak ada sopan-sopannya kamu!” “Iya, Pak. Aku kan salat dulu tadi.” Miyuki berjalan sambil menunduk, menahan kerasnya suara Radi yang masih terus berbicara. “Salat salat! Salat gak bikin kamu kaya!” “Astagfirullaah al-aziim, Bapak.” Yuki menoleh. “Jangan ngomong kaya gitu, dosa. Nanti Allah murka.” “Udaaah kamu gak usah nasehatin Bapak. Bapak lebih tua, lebih banyak tau dari kamu!” Miyuki tak lagi bicara. Semakin ia banyak bicara, akan semakin panjang urusannya dan semakin melenceng pula ucapan ayahnya. “Assalamu’alaikum,” ucap Miyuki sambil berdiri di ambang pintu. Sementara Radi, tetap di dalam rumah menikmati banyak makanan yang dibawakan Chris. “Halo, Yuki Sayang, kemari.” Bukannya menjawab salam, malah Chris tersenyum menunjukkan gigi. Ia menepuk sofa kosong di sampingnya agar Yuki duduk di sana. “Saya di sini saja, Pak.” Miyuki menjawab dengan sungkan. “Ayo, kemari! Tidak usah takut, Yuki Sayang.” Chris menarik lengan Miyuki dan memaksanya duduk si samping Chris. Dengan terpaksa Miyuki mengikuti karena cengkeraman tangan Chris begitu kuat. Di samping Chris, gadis itu terus menunduk karena takut berhadapan dengan pria tua bergigi emas itu. Chris mengubah posisi sedikit menghadap Miyuki. “Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?” Tangannya memegangi bagian atas paha Miyuki yang tertutup celana panjang berbahan katun, lalu sedikit meremas. Karena risih, Miyuki menggeser kakinya dan duduk agak menjauh. “Ba-baik, Pak.” “Oh, ya. Ngomong-ngomong siapa lelaki tadi?” Kini tangannya berpindah ke atas bahu Miyuki, mengelus-elusnya dengan penuh napsu. Perasaan Miyuki tak karuan. Ia ingin marah, ingin juga menangis. “Dia ... dia lelaki yang saya cintai. Yang akan menikah dengan saya.” Ia memberanikan diri berbicara walau suaranya makin serak karena menahan sesak dan tangis. Gerakan tangan Chris terhenti saat mendengar penuturan Miyuki. Namun, bukan dilepas, ia malah menarik tubuh Miyuki ke dalam dekapannya. “Ooh, begitu. Baiklah tidak apa-apa. Kamu boleh mencintai siapa pun—untuk saat ini, Sayang.” Chris melepas dekapannya. “Ehm.” Setelah berdehem, Chris bangkit dan berdiri, kemudian pergi meninggalkan rumah Miyuki begitu saja dengan mobil hitamnnya. Ada yang aneh di pikiran Miyuki. Kenapa Chris tidak marah? Juga, kenapa ia tidak pamit kepada ayahnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN