Kue Pesanan Bu Zoya

2017 Kata
“Yuki ...?” Dari dalam rumah, Hasna memanggilnya. “Di mana Pak Chris?” Begitu menyadari kehadiran ibunya, Yuki cepat mengusap bekas kristal yang terjun bebas di pipinya. “Dia tiba-tiba pergi tadi, Bu.” Melihat gurat kesedihan di wajah putrinya, wanita yang berusia di penghujung empat puluh tahun itu meluruhkan diri di sofa, di samping Miyuki. “Bu ...?” Sedang meluapkan emosi, tetapi tak mau terlihat, tangan Miyuki saling menggenggam dan kedua ibu jarinya saling menekan. “Ya, Yuki ...?” jawab Hasna pelan. “Iiibuuu ...?” Diiringi kelopak mata yang menebal, suara Miyuki makin lirih. Melihat raut wajah sendu Miyuki, Hasna menarik tubuh anak gadisnya ke dalam pelukan. Dengan lembut, tangannya mengusap-usap kepala Miyuki. Ia sangat paham bagaimana perasaan putrinya saat itu. “Aku gak mau menikah sama Pak Chris, Bu. Aku gak mau ....” Suara rengekan sang putri makin terdengar. Diam sejenak, Hasna bingung tentang apa yang harus ia lakukan, menimbang-nimbang ucapan apa yang harus disampaikannya. “Maafkan Ibu, Nak.” “Apa gak ada teman Bapak yang lain, Bu... atau anaknya ... atau saudaranya yang bisa dijodohkan denganku? Jangan yang tua dan jelek seperti Pak Chris begitu, Bu.” “Bapak itu gak punya banyak teman, Yuki. Kebanyakan ... anak teman-temannya Bapak juga sudah menikah.” “Tapi, apa harus dengan Pak Chris? Aku gak mau, Bu. Aku cuma mau hidup bahagia dengan lelaki yang aku cintai, Bu.” Telapak tangannya menyapu air mata. “Apa gak bisa Ibu bujuk Bapak supaya membatalkan semuanya dan mengembalikan semua yang udah diberikan Pak Chris?” “Yuki, kamu tau sendiri, kan, gimana watak Bapakmu? Gimana keras kepalanya Bapak kalau sudah ada kemauan?” “Iya, bu, tapi ... sekali lagi aku mohon. Aku janji akan berusaha menaikkan derajat keluarga kita, Bu. Aku janji, tapi enggak dengan menikahi pria tua itu.” “Ibu paham, Nak. Ibu pahaaam sekali.” Setetes air bergulir dari sudut mata Hasna. Cepat-cepat ia menghapus bukti kesedihannya itu agar tak terlihat Miyuki. Lalu, ia sandarkan kepalanya di atas kepala Yuki yang masih dalam pelukan. “Ibu, aku mohon ....” pinta Yuki. “Baiklah, Nak, tapi ....” Mendengar ungkapan persetujuan Hasna, Yuki sigap menarik diri dan menatap ibunya. “Tapi ...?” “Tapi, Ibu gak janji dengan hasil dan keputusan Bapak nanti, ya? Ibu akan berusaha bujuk Bapak sebelum akhir bulan ini.” “Terima kasih, Bu. Tapi, kenapa sebelum akhir bulan? Memangnya ada apa?” “Karena ... itu karena bapakmu dan Pak Chris memiliki perjanjian kalau kamu ... akan dipinang akhir bulan ini, Yuki.” Yuki sigap bangkit dari tempatnya duduk dan berdiri menghadap Hasna. “Secepat itu, Bu?! Memangnya perjanjian apa yang Bapak dapat sampai setuju menikahkan aku dengan pria tua itu, Bu?” Mata Yuki berubah mencelang. Suara yang lemah berubah lebih tegas dan lugas. Hasna tampak salah tingkah dan menjawab dengan gelagapan. “Itu ... emmh ... Pak Chris memberi kami ... jaminan lima puluh juta setiap bulannya, Yuki. Tapi,— “Haaah! Ya, ampun, Ibu! Ibu sadar gak? Ibu sama Bapak itu udah menjual aku ke pria tua bangka itu, Bu. Ibu tega menjadikan aku sebagai jaminan kebahagiaan kalian?” “Enggak gitu, Yuki. Deng— “Apa yang harus Yuki dengarkan lagi, Bu? Pokoknya Yuki gak mau menikah dengan Pak Chris sampai kapan pun. Titik!” “Yuki, dengar Ibu dulu!” Miyuki berjalan menjauhi ibunya. “Miyuki?!” Derap langkah cepat Miyuki meninggalkan Hasna bersama kekecewaannya, bersama air mata yang bergulir di pipi. Sampai di kamar, ia menghambur ke atas kasur yang sudah menemani malamnya selama bertahun-tahun, bersembunyi di balik bantal dan melampiaskan tangisnya. *** Dua hari kemudian, di ruang kamar dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari kamar Miyuki, Hasna membawakan secangkir kopi. Seisi kamar itu tak jauh berbeda isinya dengan kamar Miyuki. Lemari kayu tiga pintu berwarna cokelat tua yang kacanya sudah retak. Di beberapa sisi kayunya banyak terkoyak dimakan rayap. Lantas, ada meja tempat penyimpanan di samping dipan tua besi berukuran 160 sentimeter. Dipan itu untuk memudahkan Radi berpindah dari kursi roda ke ranjangnya. “Diminum dulu, Pak,” ucap Hasna seraya menyodorkan kopinya. “Ya.” Radi yang sedang melamun di atas ranjangnya mengambil cangkir dan mencecap kopi yang masih panas. Melihat Radi yang sedang tidak dalam keadaan emosi, Hasna berpikir itu waktunya untuk membujuk Radi. Ia memulai dengan pijitan lembut di kaki suaminya. “Pa?” “Hmm?” “Apa enggak sebaiknya Bapak pikirkan lagi rencana menikahkan Yuki dengan Pak Chris. Masih banyak laki-laki lain yang mau menikahi Yuki, kan, Pak?” “Lelaki mana? Lelaki muda yang tadi datang ke sini?” Radi secara langsung menebaknya. Tak berani mengiyakan dengan jelas, Hasna hanya mengangguk-angguk pelan. “Ibu tahu apa tentang dia? Kita gak tahu siapa laki-laki itu, anak siapa, pekerjaannya apa?! Paling juga dia pengangguran yang numpang hidup sama orang tuanya.” “Pak ....” “Kalau Pak Chris, kita sudah tahu dia itu siapa. Dia itu pebisnis hebat, Bu, hartanya gak habis-habis. Gak ada yang bisa menyaingi dia.” “Tapi, kan, gak harus pria yang udah berumur dan jadi istri kelima, Pak. Umurnya aja lebih tua dari Bapak. Andai kata Ibu ditawari juga Ibu pasti menolak.” “Justru karena dia sudah tua, Bu. Umurnya pasti gak lama lagi. Keempat istrinya yang sekarang sudah ada jatah masing-masing harta dan perusahaan. Nah, kalau Yuki jadi istrinya, otomatis semua sisa harta Pak Chris jatuh ke tangan Yuki.” “Ya, ampun, Pak. Bapak bisa berpikir sejauh itu?” “Hebat, kan, ide Bapak?” “Tapi, Pak—“ “Nanti kita juga pasti kecipratan hartanya Pak Chris, Bu. Memangnya Ibu gak mau hidup enak serba ada? Kita belum pernah hidup serba kecukupan. Dan ini waktunya, Bu, waktu yang tepat. Bapak sudah capek hidup susah, bentar-bentar jadi omongan tetangga. Bentar-bentar Ibu ngutang di warung. Memangnya Ibu gak capek?” “Ya, Ibu capek. Tapi, kan, masih banyak cara lain, Pak. Enggak dengan mengorbankan anak kita.” “Udah, Bu, gak usah ganggu keputusan Bapak! Ibu cukup tahu hidup enak aja nanti!” *** Menjalani keseharian seperti biasa di toko kue, tetapi ekspresi sendu tak bisa meninggalkan paras cantik Miyuki. Tangan yang satu memegang nampan berisi kue bolu dan jemari tangan satunya sibuk menata kue-kue sesuai jenisnya di dalam tiap susunan etalase. “Kenapa harus Pak Chris, sih? Emangnya di dunia ini laki-laki cuma ada dia aja?! Andai kata laki-laki cuma tersisa dia, mending aku sendiri seumur hidup,” gerutunya dengan suara parau. Ada yang panas di dalam dadanya—emosi yang dengan susah payah dikendalikan. Sesekali ia memindahkan kue-kue dengan sedikit tekanan. “Gimana caranya supaya aku bisa menghindari pernikahan dengan pria tua bangka itu?! Pakai caranya Jiro aja Bapak gak terpengaruh.” Punggung tangannya menyeka bulir bening yang meluap dari sudut mata. Satu tarikan napas panjang, kemudian ia embuskan sekencang-kencangnya. Ketenangan sedikit membuatnya lebih lega. “Ada apa, Yuki? Kamu kelihatan tidak ceria hari ini?” tanya Singgih ketika melihat sikap Miyuki yang berbeda. “Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma lagi capek saja.” Miyuki beralasan. “Kamu sedang tidak sehat, Yuki? Kalau sakit, kamu boleh pulang. Selama ini, kan, kamu gak pernah ambil hari libur.” “Tidak, Pak. Saya tidak sakit. Saya baik-baik saja.” Yuki kembali berdalih. “Saya izin ke kamar kecil dulu, ya, Pak.” Ia meletakkan nampan kosong di atas tumpukkan nampan lainnya setelah selesai membuat semua jenis kue berbaris rapi. Dengan wajah muram, ekspresi kusut, serta bibir melipat ke dalam, Miyuki berjalan dengan pikiran kacau ke arah toilet. Setelah pintu toilet ditutup, dirinya bersandar di balik pintu. Matanya terpejam dan bahunya mulai bergetar. Hal yang sudah ia tahan sedari tadi, yaitu melepas rasa yang sangat menyesakkan. Sebuah ganjalan besar yang menghimpit di dalam d**a seakan melonggar, digantikan air mata yang mengalir deras. Sedikit menekan suara, ia menggigit bibirnya agar tak terdengar jelas keluar. “A-apa ... hidup aku sesingkat ini ... sampai harus menikahinya? Apa ... aku tidak bisa memilih masa depanku sendiri?” Karena tak kuat menahan rintihan, kedua tangannya menutupi seluruh wajah. Ingin berhenti, tetapi air mata terus saja memenuhi pelupuk matanya. Memuaskan tangisnya di sana, sampai hatinya benar-benar dirasa lega. Sementara itu, Singgih melayani pembeli menggantikan Yuki sementara. Singgih, pria baik hati yang sudah berusia 46 tahun. Ia dan istrinya memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satunya perempuan. Namun, anak perempuannya sudah meninggal dunia di usia sepuluh tahun. Kini, anak lelakinya menjadi seorang anak tunggal dan sedang menjalani pendidikan akhir di Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta. “Assalamu’alaikum, Pak Singgih.” Dari balik etalase, wanita cantik berhijab cokelat tampak memesona pagi itu. “Wa’alaikumussalam, Ibu Zoya. Wah, gimana kabarnya, Bu?” Singgih mendekatinya seraya melempar senyum. “Alhamdulillah, baik, Pak.” “Mau ada acara lagi, ya?” tanya Singgih sembari mengambil sarung tangan plastik. “Iya, Pak. Saya mau pesan untuk pengajian remaja sore ini.” “Boleh. Mau pesan kue apa aja, Bu Zoya?” Singgih mengambil pulpen dan siap mencatatnya pada secarik kertas kecil. “Bolu marmer, sosis solo, pastel, dan kue lumpur, Pak Singgih. Masing-masingnya tiga puluh saja, ya, Pak.” “Baaiik. Ada lagi, Bu Zoya?” tanya Singgih setelah mencatatnya. “Itu saja, Pak. Oh, ya. Yuki gak masuk kerja hari ini, ya?” tanya Zoya yang sejak tadi pandangannya mencari-cari sosok Miyuki. “Ada, Bu. Yuki tadi sedang ke kamar kecil.” “Oh, gitu. Begini, Pak ... karena saya ada urusan dulu sekarang, saya mau minta tolong Yuki untuk antarkan kue-kuenya ke rumah saya nanti sore. Bisa tidak, ya?” “Insyaallah bisa, Bu. Nanti saya beri tahu Yuki. Mau diantar jam berapa kuenya, Bu Zoya?” “Jam empat saja, Pak,” ucap Zoya sebelum pamit pergi. Tak lama kemudian, dengan mata sembab, Miyuki melangkah pelan kembali ke tempatnya bekerja. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas dengan mata menyipit ketika pemilik toko melihatnya. Menyembunyikan kesedihan, ia berpura-pura seakan tak terjadi apa-apa. “Sudah selesai?” “Sudah, Pak. Maaf saya kelamaan. Banyak yang beli, ya?” Dengan gerakan sigap dan senyum yang tak lepas dari wajahnya, Miyuki mengenakan sarung tangan dan siap melayani ramainya pembeli. “Miyuki, tadi Bu Zoya ke sini pesan kue. Dan dia minta kamu yang antarkan kuenya nanti sore, bisa?” “Insyaallah bisa, Pak,” jawab Miyuki dengan santun. “Bukannya kamu lagi kurang sehat, ya? Kalau kamu gak bisa, biar saya saja yang antar.” Singgih menyodorkan secarik kertas pesanan Zoya tadi. “Enggak, Pak. Saya gak sakit, kok. Insyaallah saya aja yang antar, Pak.” Singgih pun mengiakannya, kemudian ia menuliskan alamat lengkap dengan patokan rumah Bu Zoya di sehelai kertas lainnya. *** Miyuki bersiap pergi untuk mengantarkan pesanan Zoya. Sebelum pergi, ia mengecek kembali bawaannya agar tidak ada yang keliru atau kekurangan. Setelah itu, ia pergi dengan angkutan umum karena uangnya pas-pasan hanya untuk ongkos angkot. Jalanan sore itu padat sekali. Arus lalu lintas agak macet sehingga memakan waktu lebih lama untuk sampai di rumah Zoya. Miyuki hanya berharap tidak terlambat sampai di sana. Untung saja Pak Singgih berpesan agar Miyuki segera pulang saja setelah mengantar dan tak perlu lagi kembali ke toko. Beruntung, ia memiliki pemilik toko yang baik dan Miyuki pun sudah dianggap seperti putrinya sendiri. Sampai di depan kompleks perumahan, beberapa pria yang berprofesi tukang ojek menawarkan jasanya. Namun, ia sadar diri karena uangnya tidak cukup. Karena waktu yang sempit dan hampir pukul empat sore, Miyuki memilih berjalan kaki setelah bertanya posisi menuju blok rumah Zoya pada seorang penjaga keamanan. Sesekali ia melihat jam di tangannya. Perjalanan menuju rumah Zoya di blok C lumayan menguras energinya. Tetesan peluh mulai mengalir dari dahi menuju pipi dan hidung. Walaupun sore itu sinar matahari sudah tak begitu terik, tetapi energi dari dalam tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Demi mengejar waktu yang tinggal lima menit lagi, Miyuki terpaksa berlari kecil. Tidak jauh dari lokasinya saat itu, Miyuki melihat rumah Zoya yang sudah digambarkan Singgih secara lisan. Ada yang aneh dengan rumah itu. Ia merasa pernah melihatnya, bahkan mendatanginya. Dari depan, rumah itu terlihat ramai oleh gadis-gadis yang sedang mengejar pahala akhirat. Dan salah satu di antaranya, ia mengenali seorang gadis yang tak asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN