mendapat perlakuan seperti itu, Syfa hanya mampu menahan seluruh amarahnya. Ia kemudian menghampiri sang suami yang tengah asik dengan pekerjaannya.
"Mas?" Syfa duduk disamping sang suami
"Hm?"
"Aku pengen kita balik lagi ke rumah kita,"
"Kenapa emangnya?"
"Aku gak enak sama keluarga kamu setiap anak kita rewel, terutama sama ibu."
"lho? bukannya kamu sendiri yang setuju untuk pindah kesini, biar ada yang nemenin kamu?" jawab Ivan tanpa menatap ke arah Assyfa
"Ck, iya.. tapi kenyataannya, itu kayaknya cuman basa basi orang tua kamu aja supaya keliatan bertanggungjawab didepan orang tua aku."
Seketika Ivan menatap tajam ke arah Syfa,
"Maksud kamu?"
"Ya mas pikir aja sendiri!" Assyfa pun berlalu pergi
***
Hari pun berganti,
Assyfa yang hendak memandikan putrinya pun syok karena kondisi sang putri yang kembali drop. Assyfa mencoba untuk membangunkan sang suami yang masih terlelap tidur.
"Mas! bangun mas!" ucap panik Assyfa
"hmm? mas masih ngantuk!"
"Alya mas! badannya panas lagi!"
"Ya udah, tinggal kasih obat panas aja!"
Merasa kesal dengan ucapan sang suami, Assyfa pun memutuskan untuk langsung membawa Alya ke rumah sakit.
***
Di rumah sakit,
setelah melalui beberapa pemeriksaan, terlihat raut wajah khawatir sang dokter yang membuat Assyfa semakin cemas,
"Bagaimana putri saya, Dok?"
"Putri anda harus dirawat, karena sudah mulai dehidrasi,"
"I-iya dok, lakukan yang terbaik untuk putri saya!"
***
Assyfa memutuskan untuk menghubungi sang suami,
In call
"Mas?"
"Kamu dimana? di meja gak ada sarapan, aku lapar tau!"
"Mas! bisa-bisanya mas masih mikirin perut mas ketimbang anak mas yang lagi sakit? Alya udah dua hari panasnya gak turun-turun! sekarang dia harus dirawat di rumah sakit!"
"ketimbang panas doang! gak usah berlebihan! bawa pulang! lagian dari mana uang untuk pengobatannya, pulang! kita bisa pakai obat herbal di rumah!"
Assyfa yang merasa kesal pun mulai melawan,
"Aku gak akan pulang! Alya akan tetap dirawat, soal biaya saya yang akan menanggungnya!"
Assyfa pun menutup teleponnya sepihak.
***
Assyfa menggunakan uang tabungannya saat masih bekerja untuk biaya pengobatan Alya, dengan mata berkaca-kaca ia menahan agar buliran bening itu tidak lolos.
Selama beberapa hari di rumah sakit, tidak sekalipun sang suami menengok nya. membuat Assyfa semakin menahan rasa marah dan kecewa.
"Nak, hari ini kita pulang ya." ucap Assyfa seraya menggendong bayi kecilnya yang baru berusia 2 bulan itu.
Sesampainya di rumah,
Ia disambut oleh tatapan sinis sang suami dan keluarganya,
"Masih inget pulang kamu?" ucap Ivan dengan senyuman di sudut bibirnya
tanpa memperdulikan ucapan Ivan, Assyfa terus berjalan menuju kamarnya.
Assyfa membaringkan Alya diatas tempat tidur,
"Kamu itu kalau suami ngomong itu didengerin!" bentak Ivan
"Mas bisa pelanin suara kamu gak!" ucap Assyfa dengan nada datar namun tegas
"Kamu tiga hari gak pulang dan gak ngurusin aku, istri macam apa kamu?"
Assyfa menyunggingkan senyuman tipisnya,
"Terus suami macam apa kamu, ngebiarin istri sendirian ngurus anak yang lagi sakit?!"
"Kamu tuh lebay! panas di anak itu penyakit biasa! tinggal di kompres, dikasihin obat panas, udah kelar!"
"Mas sok tau! Alya kemarin dehidrasi karena panasnya yang gak turun-turun! dan kalau Alya gak aku bawa ke rumah sakit, aku gak tau apa yang bakalan terjadi sama Alya!"
Ivan pun terdiam,
"Apa sih fungsi mas sebagai suami? GAK ADA! Mas cuman asik sama usaha rentalan komputer mas doang! mas cuman peduli sama keluarga mas doang, bukan sama anak istri mas!" dengan uraian airmata Assyfa mencurahkan semua kekesalannya pada Ivan.
"Sekarang, Aku pengen kita balik lagi ke rumah kita!"
"Gak bisa!"
"Kenapa? Mas masih tetep mau maksa buat tinggal disini?"
Ivan terdiam,
"Mas, mas lihat sendiri kan gimana aku diperlakukan disini sama keluarga mas?"
"Aku tetep gak bisa!"
"Mas! kasih aku satu alasan kenapa kita gak bisa pindah kesana?"
"K-karena.." Ivan terlihat gugup
"Kenapa mas? Apa yang terjadi sama rumah kita?"
"Mas sudah menjual rumah itu,"
Kedua mata Assyfa membulat sempurna saat mendengar pengakuan Ivan.
"Mas! Kenapa dijual? Kapan mas jual rumah kita?"
"Mas udah jual sebulan yang lalu, Ayah sama Ibu lagi butuh uang jadi Mas putusin buat jual rumah itu,"
"Apa? ini hal yang besar tapi mas gak ngomong ke aku? Mas, Aku ini istri mas lho!"
"Ya terus kenapa? Toh rumah itu hasil keringat aku, gak ada sangkutannya sama kamu! lagian, wajar kalau seorang anak bantu orang tuanya, apalagi saya anak laki-laki satu-satunya!"
Merasa sangat kecewa dan marah mendengat ucapan Ivan, Assyfa berteriak
"Trus kenapa mas nikahin aku? Kalo cara hidup mas kayak gini, jangan pernah seret aku ke kehidupan kamu!" Assyfa pun langsung menggendong Alya dan melangkah pergi dari rumah.
Ivan hanya menatap Assyfa yang melewatinya begitu saja. karena ia tidak merasa bersalah.
Assyfa menangis di sepanjang jalan menuju rumah orang tuanya,
Setibanya di rumah orang tuanya,
"Fa, kamu kenapa?" tanya sang Ibu
"Mah, Syfa pengen pisah aja sama Ivan!"
"Hah? Apa? Tapi kenapa?"
"Syfa udah gak tahan sama sikap dia!"
"Memangnya apa yang udah Ivan lakuin sama kamu? Apa dia selingkuh?"
Syfa menggelengkan kepalanya,
"Apa dia melakukan kekerasan sama kamu?"
Assyfa kembali menggelengkan kepalanya,
"lantas?"
Assyfa menceritakan semua kejadian yang ia alami.
Sang ibu pun tersenyum lembut seraya mengelus lembut punggung Assyfa,
"Syfa, dalam rumah tangga adalah hal yang wajar jika ada percekcokan diantara suami istri atau mertua dan menantu. Tapi selama itu bukanlah kekerasan dalam rumah tangga ataupun selingkuh, semuanya masih bisa dibicarakan baik-baik. mungkin memang benar orang tua Ivan sedang membutuhkan bantuan," Syfa mendengarkan baik-baik ucapan dari ibunya. "karena Ivan adalah anak laki-laki satu-satunya yang bisa dimintai tolong, maka dari itu mereka meminta bantuan Ivan. Cobalah untuk melihat masalah dari sudut lain syfa."
Ibu syfa pun menyeka airmata syfa yang mengalir,
"Pernikahan itu bukan hanya menyatukan seorang pria dengan seorang wanita saja, tetapi menyatukan dua keluarga, dua karakter, dua adat yang berbeda. jadi sangatlah wajar, jika kedepannya akan banyak perbedaan dalam cara pandang menghadapi masalah. Tapi, jangan pernah berpikir untuk berpisah. karena Alya juga harus kamu pertimbangkan."
Assyfa pun terdiam mendengar nasihat dari sang ibu,
***
Assyfa memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu, dan sang ibu pun memberikannya waktu.
Terdengar suara dering ponsel yang memecah keheningan di malam hari, Ibu pun mengangkat telepon dari menantunya Ivan
In Call
"Halo?"
"Halo Bu, Apa Assyfa ada di rumah ibu?"