Melakukan perjalanan hampir satu jam dikarenakan jalanan yang mereka tempuh dari tempat di mana Sauna bekerja ke daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan—mulai mengalami kemacetan. Mungkin saja karena hampir jam pulang kerja. Tetapi sekarang, mereka sudah tiba di kediaman keluarga Horizon.
"Ayo turun," ajak Horizon sesaat melepas seatbelt.
Jantung Sauna berdegup sangat kencang. Kedua telapak tangannya mulai berkeringat. Dia benar-benar merasa gugup untuk keluar dari mobil Horizon.
"Aku takut," ujar Sauna jujur.
Kening Horizon mengerut. "Takut? kamu takut sama siapa, Sauna? Di sini tidak ada yang memelihara hewan penggigit apalagi manusia pemakan tubuh manusia. Siapa yang kamu takuti?"
Sauna mendengus. "Ternyata, kamu bisa becanda juga. Tapi ini tidak lucu, Hori. Aku ini baru pertama kali ke sini, apalagi tujuan kita ke sini untuk melihat keluargamu. Aku benar-benar takut. Kita juga baru kenal, bagaimana kamu bisa sesaantai ini?"
Horizon menangkap jelas ketakutan di wajah istrinya. Wajarlah, Sauna memang tidak pernah bertemu dengan keluarganya.
"Ada aku, Sauna."
Sauna meliriknya lirih. "Meskipun ada kamu, aku tetap takut. Aku pikir kedua orang tuamu telah tiada, karena itu kamu tidak mengundang orang tuamu tadi. Nyatanya sekarang? Kamu malah mau kenalin aku ke orang tuamu."
"Dasar cerewet. Kamu berkata sangat banyak tanpa jeda. Pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru. Tidak akan ada orang yang bisa menganggumu, Sauna. Ayo," tidak ingin membuang waktu banyak, Horizon lebih dulu keluar dari mobil.
Pria itu pikir, kalau dia keluar dari mobilnya, Sauna akan ikut keluar. Nyatanya, Horizon salah berpikir. Sauna masih enggan keluar dari dalam mobilnya.
Dia pun berbalik badan dan kembali mendatangi mobil ke arah jok penumpang depan.
"Turunlah," ajak Horizon sekali lagi, sesaat dia membuka pintu.
Raut wajah Sauna semakin tampak resah saja. Dia menggeleng tanpa mau membalas tatapan Horizon yang menghunus tajam di sana.
"Aku takut. Kamu aja, Hori. Aku tunggu kamu di sini."
Kerutan yang tercetak jelas di kening Horizon menandakan pria itu kebingungan melihat tingkah Sauna.
"Aku hitung 1 sampai 3, kalau kamu nggak keluar juga dari situ, aku lempar kamu keluar pagar sana." Dia terpaksa membujuk Sauna dengan ancaman.
"Sadis banget kamu," rengek Sauna.
"Kalau nggak gitu, kamu nggak akan keluar, Sauna," desak Horizon.
Lucu saja melihat tingkah kedua orang asing itu. Yang satu menggemaskan yang satunya mengesalkan. Mereka memang cocok buat bersatu dan saling melengkapi.
"Aku gak bohong. Aku takut lihat keluarga kamu. Kita balik aja yuk," Sauna mencoba menawar ke pria itu.
Bukan diri seorang Horizon Cakrawala bisa menerima penolakan.
"Aku hitung sekarang."
"Satu!"
Sauna tetap berdiam dan masih dengan pendirian yang sama.
"Dua!"
"Aku gak mau. Kalau aku bilang gak mau jangan paksa aku." Sauna malah menangis. Membuat Horizon merasa tidak enakan melihatnya.
"Tiga."
Dia setengah menunduk untuk menggedong Sauna keluar dari mobil.
"Kamu mau apa?"
"Menggendongmu."
"Turunkan aku," kata Sauna masih menangis.
Horizon tetap membawa tubuh Sauna ke dalam gendongannya. Kedua manik mata Sauna yang dibanjiri air mata, menatap wajah pria itu sedari dekat.
Kedua tangan Sauna melingkar di leher Horizon. Itu adalah gerakan refleks, ketika dia diangkat paksa oleh suaminya.
Sampai di luar mobil, Horizon menyentuh kontak mobil lebih dulu dan memastikan pintu terkunci. Lalu, dia membalas tatapan sendu dari manik mata Sauna.
"Percayalah padaku," katanya dan tersenyum samar.
"Kalau aku diusir gimana?" Sauna benar-benar nggak bisa kena sorot mata Horizon.
Sorot manik milik Horizon bagaikan dua kutub magnet yang tidak sejenis dan saling tarik menarik.
"Ada aku. Siapa yang berani mengusirmu. Di sini adalah tempat tinggalku sejak aku dilahirkan dan dibesarkan. Siapapun yang tidak menjamu kedatanganmu, akan kupastikan dia akan menyesalinya. Ayo turun," kata Horizon meyakinkan.
Perlahan Horizon menurunkan tubuh Sauna di atas lantai area carport. Dia ingin sekali menghapus air mata itu, tapi dia urungkan karena merasa tidak enakkan menyentuh Sauna seperti tadi.
Tapi untuk berpegangan tangan seperti keinginannya sekarang tidaklah salah.
"Berikan tanganmu." Horizon mengulurkan telapak tangannya ke arah Sauna.
"Kenapa?"
Benar-benar Sauna selalu sama. Tidak mau mengulang ucapannya tadi, Horizon langsung menarik telapak tangan wanita itu dan menggenggamnya.
Seketika bola mata itu membola sempurna. "Kenapa dingin sekali?"
Paham akan perkataan Horizon. Sauna hendak menarik telapak tangannya. Secepatnya, Horizon mengurungkan niatan Sauna.
"Aku sudah bilang, kalau aku takut."
Butuh waktu berapa lama untuk wanita itu percaya padanya. Mungkin bakalan susah dan memakan waktu yang lama. Mereka adalah dua orang asing yang bersatu dalam waktu sesingkat-singkatnya. Horizon tak mengapa, dia tidak mau meributkan soal itu.
"Ada aku. Ayo ...."
Dengan terpaksa, Sauna mengikuti langkah kaki pria di sampingnya. Saling bergandengan tangan, keduanya melangkah maju. Kehangatan telapak tangan milik Horizon menemani ketakutan dalam diri Sauna.
Dia mencoba berani untuk pria itu, tapi rasanya, Sauna tidak bisa melakukannya.
"Di mana papa, Bu?" tanya Horizon, sesaat keduanya berhasil masuk dan disambut oleh pekerja di rumah.
"Ada di ruang kerjanya, Nak Hori."
"Makasih ya, Bu. Tolong buatkan segelas teh hangat. Letakkan saja di kamarku, Bu."
"Baik, Nak Hori." Bu Susanti tersenyum mendapati Horizon bersama Sauna. Wanita itu sempat menyapa Sauna dan dibalas ramah olehnya.
Berjalan masuk ke dalam ruangan mewah rumah keluarga saat mendiang mamanya masih hidup, Horizon malah mendapati Mama tirinya yang tengah duduk di kursi santai yang ada di ruangan keluarga. Dan satu tatapan saja berhasil menghentikan langkah kaki Horizon dan Sauna.
Wanita itu melirik ke arah keduanya dengan nyalang. Itu tatapan yang paling dibenci oleh Horizon semasa hidup satu rumah dengan wanita itu.
Sialan.
"Siapa yang kau bawa ke sini?"
Namanya Diana. Horizon tidak pernah memanggilnya dengan Mama. Dia selalu memanggil wanita itu Tante ata pun tanpa embel-embel.
"Apa pedulimu?"
Horizon kembali memaju langkah, tanpa tau ketakutan berada dalam benak Sauna mendengar jawaban garang dari Horizon. Pria itu berbeda kini.
"Berhenti kau!"
"Jangan mencampuri urusan pribadiku!" teriak Horizon tak kalah kuat.
"Dasar anak kurang ajar!"
Di situlah kedua kaki Horizon berhenti seketika. Dia melepas pegangan tangan Sauna dan berbalik badan untuk mendatangi Diana.
"Apa yang barusan kau katakan?"
"Anak kurang ajar! Bagaimana ibumu dulu mengajarkanmu sopan santun?"
Merah padam sudah wajah Horizon.
"Jangan pernah bawa-bawa mamaku. Kalau kau berani mengatainya, aku bisa saja membunuhmu!"
"Hori." Sauna datang mendekatinya, ia kembali menggenggam telapak tangan sang suami yang uda kelewat batas menahan amarah dengan kegugupan yang terlihat jelas dalam diri Sauna.
"Aku takut. Tolong jangan begini," bisik Sauna tepat di telinga Horizon. Seketika keberanian Sauna untuk bersentuhan kulit dengan Horizon bisa dialakukan dengan leluasa. Tangan lainnya merangkul pinggang Horizon menahan diri.
Redup sudah amarah Horizon. Dia yang sempat hendak melayangkan cacian ke arah Diana yang mengejeknya dengan senyuman miring itu, tidak bisa berkutik saat tubuhnya dan Sauna saling bersentuhan.
"Ayo, jangan hiraukan wanita gila ini!" Horizon kembali membawa Sauna mengarah ke ruang kerja papanya yang memang kedap suara.
"Apa kau mendapatkan gadis itu dari tempat kumuh? Jangan menghabiskan waktumu untuk mendapati izin dari Papamu. Dia tidak akan merestui perempuan seperti yang kau bawa ke rumah ini!"
Gemertak gigi Horizon menjadi pertanda emosinya kembali menyala. Sauna menahan punggung Horizon saat merasakan telapak tangannya tercengkram erat dalam genggaman pria itu.
Sekilas Horizon melirik ke arah Sauna. Wanita itu menggeleng untuk meminta suaminya mengabaikan perkataan Diana.
"Aku harap kamu menjadi kuat sepertiku, Sauna," gumam Horizon dalam hati.
Respon Horizon baik menyanggupi permintaan Sauna tadi. Kini, keduanya sudah berada di depan pintu ruang kerja milik sang papa.
Tidak ada ketukan atau pun panggilan dari luar. Horizon menarik handle pintu ruangan kerja itu dan masuk ke dalam.
Manik mata sayu dari sang Papa terarah pada kedatangan Horizon. Pria itu langsung mengarah tatapan pada tangan Horizon dan Sauna. Dia yang sedang duduk di kursi kerjaannya, kelihatan bingung akan kedatangan Horizon dengan wanita asing.
"Apa yang kaulakukan di sini? Apa kau mau mengajakku debat seperti di perusahaan tadi?"
"Tidak, Pa. Aku ke sini untuk mengenalkanmu dengan istriku. Dia adalah Sauna. Istri sahku di mata hukum dan agama. Aku sudah menikah dengannya tadi pagi, jadi tolong berikan restumu untuk kami."
Bruggggg ....
Pria itu tampak tua. Area wajahnya ditumbuhi bulu-bulu putih yang halus. Tapi dari caranya menggebrak meja, kekuatannya masih terlihat berisi.
"Jangan main-main, Horizon!"
"Aku tidak main-main, Pa. Sauna adalah istri sahku dan sampai kapanpun, hanya dia yang kusebut seorang istri. Siapapun yang hendak kau jadikan istriku di luaran sana, aku tidak akan menerimanya. Sampai di sini, tolong berikan restumu terhadap menantumu."
"Kau mulai nggak waras? Akulah yang boleh memberikanmu calon istri sesuai tingkatanmu, Horizon. Siapa dia yang kau jadikan istri? Apa keluarganya dari kasta yang sama denganmu? Pemilik apa Ayahnya? Perusahaan yang dipegangnya? Apa semuanya ada di perempuan itu?"
"Aku tidak butuh itu, Pa. Dia adalah satu-satunya yang kucintai. Jadi, jangan berani-berani mengusik hidupku lagi."
"Dasar anak nggak tau diri!" teriak Diana dari belakang. "Apa yang kalian ajarkan pada anakmu ini, Henry?"
"Jangan bawa-bawa mamaku!" teriakan Horizon menggema ke seluruh ruangan.
Sauna semakin tersiksa melihat keluarga Horizon yang ternyata serupa dengan keluarganya sendiri. Tidak jauh berbeda.
"Ayo, Hori, kita keluar dari sini," kata Sauna meminta takut.
"Kamu harus tau Sauna. Orang tua itu adalah papaku. Papa yang ingin menjual anak satu-satunya dalam pernikahan bisnis. Dan dia," Horizon berbalik menunjuk Diana dengan sengit. "Wanita gila itu yang membunuh mamaku!"
"Membunuh mamaku?"
Bersambung.
***
Berikan dukunganya ^^