Hari Pertama Dengan Berbagai Keanehan

1456 Kata
Ku telusuri ruangan yang akan menjadi kamar ku ini, dengan ranjang yang muat untuk 2 Orang dan terdapat meja rias, lemari 2 pintu dan alhamdulillah ada kamar mandinya juga, cukup luas. Aku pun mulai menata barang-barangku ketempat yang seharusnya. "Mbk, mbk penghuni baru ya disini?" Kulihat seseorang sedang berdiri di depan pintu kamarku, aku pun menghampirinya. Karena kebetulan pintunya tadi tak kututup, aku pun menghampirinya. "Iyah mbk, oh iyah perkenalkan namaku Rena, nama mbk siapa?" ujarku memperkenalkan diri. "Hai, Mbk Rena salam kenal. Namaku Tata, aku salah satu penghuni sini, kamarku di Nomor 012 di paling ujung. Panggil Tata saja, Mbak" ujarnya, aku menganggukkan kepala. "Salam kenal kembali, Tata. ayo mari masuk, tapi maaf masih berantakan hehehe," kupersilahkan ia masuk, gk enak kan ngobrol di depan pintu, ia lalu mengekoriku dari belakang. Karena tak ada kursi jadi kupersilahkan ia duduk di atas ranjang saja, Aku sajikan dia minuman dan snack yang aku beli sewaktu di perjalanan kemari. "Wahhh cukup luas ya kamarnya" gumamnya sambil menekan-nekan kasur yang amat begitu empuk. "Hmmm.. emangnya di kamar yang lain gk luas kah?" tanyaku. "Enggak seluas ini, kamar lain termasuk kamarku tempat tidurnya pun cuma cukup 1 orang aja, terus gk ada meja rias yang ada hanya nakas kecil, terus lemari juga cuma 1pintu, kamar mandi pun di luar. Kalau mau mandi harus antri sama penghuni yang lainnya." aku hanya ber'oh ria. "Dan semenjak aku ngekost disini baru kali ini kamar ini ada penghuninya, berapa biaya sewanya mbk?" Aku mengkerutkan kening. "Hmm.. Aku gk di mintai uang sewa Ta, mungkin karena aku keponakannya kali. Tadinya aku mau ngekost di tempat lain aja tapi Bulek Anik memintaku untuk tinggal di sini" jelasku. "Owh jadi Mbk yang datang dari Solo itu ya?" tanya Tata, aku mengangkat sebelah alisku. "Kok kamu tau?" tanyaku. "Jelas tau lah Mbak, orang tadi pagi di Kost Pria pada heboh ngomongin tentang kedatangan Keponakan Bu Anik. Mereka pada terpesona akan kecantikan Mbk, oh.. andai aku secantik Mbk, betapa beruntungnya aku" gumamnya. "Ah kamu terlalu berlebihan" elakku. "Mbk Kerja apa kuliah?" tanyanya. "Aku kesini karena ingin mengambil beasiswa di Universitas Tiga Darma, kalau kamu?" "Wah.. udah mah cantik pinter lagi, iri aku jadinya hehehe. Kalau Aku SMA kelas 1" "Ah kamu bisa aja," gumamku. "Sepantaran Ratna dong ya" batinku. "Owh iyah mbk, kalau saya sering main kesini gapapa kan. Habis saya gk ada temen Mbk, penghuni lain itu kalau gk sibuk kerja ya kuliah" Jadi teringat tentang Kamar itu, coba kutanyakan pada Tata deh, siapa tau dia tau sesuatu. akhirnya aku tanyakan ke kepoan akud ku. "Tentu boleh, malah aku senang ada temennya. Owh iyah Ta, Mbak mau tanya kamu tau gk tentang kamar 011?" "Hmmm.. Anu.. Hmm.." Tata salah tingkah. "Ehh ada apa dengannya, kok tiba-tiba mukanya langsung pucat?" batinku "Aku pulang dulu ya Mbk" ujarnya lalu pamit pergi. Anak itu kenapa? kok tiba-tiba dia langsung pamit saat aku tanyakan Kamar itu. Ada apa sebenarnya dengan kamar No011? Hari mulai petang, jam menunjukkan pukul 18.00 Wib. Barang-barang sudah tertata rapih, Aku pun bergegas keluar kamar, menelurusi lorong yang terdapat pintu-pintu kamar. Tampak sepi, tak ada orang sama sekali selain diriku. Mendadak suasananya terasa mencekam, bulu kudukku seketika merinding saat aku merasakan ada yang menepuk pundakku. Dengan jatung yang berdetak hebat, ku beranikan untuk memutar badan. Aku menghela nafas lega saat melihat melihat orang di hadapanku. "Bulek, ngagetin aja. Rena pikir siapa," ujarku sambil menenangkan jantung ini. "Kamu mau kemana?" tanyanya. "Mau keluar bentar, Bulek" jawabku. Aku ingin pergi keluar cari makan, karena perutku terasa lapar. Semoga saja di dekat sini ada yang jualan makanan. "Hari sudah gelap, lebih baik kamu ikut Bulek. Kita makan sama-sama ya" "Enggak deh Bulek, Rena masih kenyang" tolakku. Aku merasa gk enak karena sudah merepotkan Bulek Anik. Kruyuk.. kruyuk.. Suara yang begitu jelasnya dari dalam perutku membuatku malu luar biasa. Inginku menghilang saja dari pandangan. "Bulek denger loh tadi" ujarnya lalu berjalan meninggalkanku. Aku masih mematung di tempat, baru beberapa langkah Wanita itu berhenti dan berbalik badan "Ayo, tunggu apa lagi" ajaknya. "I-iyah" Akhirnya aku pun mengikutinya karena perutku sudah amat lapar. *** Usai makan bersama, Rena pun pamit untuk kembali ke Kostan, saat menaiki anak tangga ia berpapasan dengan salah satu penghuni Kost lainnya. "Kamu Keponakannya Bu Anik ya?" tanya seorang Gadis pada Rena. "Iyah Mbak" jawab Rena ramah. "Aku Arini. Namamu siapa?" Gadis cantik berambut panjang itu memperkenalkan diri. "Rena" balasnya. Mereka berdua berjalan beriringan sambil berbincang-bincang, Arini berhenti tepat di depan kamar No05. "Aku duluan ya" Rena mengangguk, Arini pun lalu masuk ke Kamarnya. Mereka pun akhirnya berpisah sampai di situ. Rena terus berjalan melewati setiap kamar lalu berhenti tepat di depan kamarnya, merogoh saku celananya dan membuka pintu lalu bergegas masuk. Setelah masuk dan kembali menutup pintu, tiba-tiba lampu kamar mendadak mati dan membuat Rena panik, ia lalu berjalan dengan tangan meraba sekitar untuk mencari ponselnya. Tak lama kemudian Rena pun berhasil menemukan benda pipih itu, namun saat hendak mengambilnya Gadis itu merasakan keanehan. Tangannya seperti menyentuh sebuah Tangan, tangan yang begitu dingin. Yang jelas itu bukan tangannya, lantas tangan siapa? Karena terkejut Rena pun berjalan mundur dan bersimpuh ke lantai, segera ia menghidupkan senter dan tidak menemukan siapapun di sana. Gadis itu menghela nafas lega setelah lampunya kembali menyala. Rena lalu bangkit dari posisinya berada, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar, masih tidak percaya akan yang ia alami barusan. Mencoba berfikir positif, mungkin karena kecapekan sehingga membuatnya berhalusinasi. Tidak ingin ambil pusing, Rena memilih membuka laptopnya. Memutar Drama Korea yang ia suka, tak lupa mengambil beberapa cemilan. Tak lengkap rasanya jika tak ada cemilan bukan? Tengah asik menonton Drama Korea membuat Rena lupa waktu dan tak menyadari jika sudah larut malam. Suara ketukan pintu membuat Rena tersadar lalu melihat jam di dinding dan ternyata sudah jam 01 malam. "Siapa malam-malam begini," batinnya. Bergegas turun dari atas ranjang lalu berjalan kearah pintu, saat membuka pintu Rena tak mendapati siapapun di sana. Gadis itu menengok ke kanan dam ke kiri untuk memastikan, namun nihil. Tak ada siapapun di sana. Gadis itu pun menjadi takut, segera ia menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Ia sudahi acara menontonnya, bergegas ke kamar mandi lalu memilih untuk tidur. "Aku dimana ini, kok tempat ini gelap banget apa mati lampu ya" Aku mencoba mencari Hp untuk sebagai penerang, namun yang kudapat malah beberapa helai Rambut. Tunggu dulu, Rambut siapa ini? Perasaan tadi di kamarku gk ada rambut deh. Hmm.. baunya amisss sekali. Aku pun mulai meraba-raba mencari saklar lampu, alhamdulillah ketemu. Ceklek! Lampu pun menyala, kunormalkan pandanganku kembali karena efek kegelapan tadi. "Aku dimana? mengapa ruangan ini amat berdebu dan pengap" gumamku dalam hati. Aku sampai terbatuk-batuk karena ruangan ini begitu berdebu dan tak terawat, tak jarang juga aku tersandung karena ruangan ini cukup berantakan. Barang-Barang berserakan dimana-mana. "Akhhh jangan" "Hahahaha" "Kumohon jangan, biarkan saya pergi" "Kau sudah dalam genggamanku, tak akan kubiarkan kau pergi" "Apa salah saya? Mau apa anda?" "Kamu gk memiliki salah apapun, salahkan takdir yang membuatmu masuk ke dalam permainanku, mau ku adalah kau mati!" "Anda sudah gila, Kumohon jangan bunuh saya hiks..hiks..hiks" "Hahahahaha sebutkan pesan terakhirmu, sebelum aku membunuhmu Nona manis" "Tidaakk, kumohon jangan bunuh saya. Siapa pun itu tolooong saya" "Berteriak lah sepuasmu, tak akan ada yang menolongmu!! Kau ditakdirkan mati ditanganku. Rasakan ini" "Akhhhhhhhhh!" begitulah kata terakhir yang terucap dari mulut Gadis itu. Kudengar ada suara percakapan, dan orang minta tolong dibalik pintu itu. Siapa mereka, ingin aku melangkah mendekati tapi kakiku sangat susah di gerakkan, seperti ada yang menahannya. Terdengar suara langkah kaki. "Apakah orang itu akan kemari? bagaimana kalau dia tau aku ada disini. Aku harus apa, kenapa kakiku susah sekali di gerakkan. Ya tuhan tolong hamba, Bapak Ibu tolong Rena, Rena belum mau mati" batinku. Kreeeeek! Deg.. Deg.. Deg.. Nafasku tercekat. "Tidaaak" Aku terbangun dari tidurku, untunglah cuma mimpi. Keringat ku mengucur dengan derasnya, Astagfirullah aku mimpinya serem banget, pasti aku lupa baca doa ini mah. Kulihat jam menunjukan pukul 04.30 pagi. Owh ternyata sudah subuh, dengan kondisi nafas yang masih ngos-ngosan aku bergegas bangun dan mengambil wudhu, usai sholat subuh suasana hatiku sudah lebih tenang. Aku pun bergegas mandi, karena pagi ini aku akan pergi ke Kampus dimana aku akan kuliah nanti, aku mengambil jurusan Fakultas Managemen. Kini aku sudah siap dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans warna hitam yang kupakai. Ku gerai rambut panjangku karena masih basah, usai bersiap aku pun membuka pintu. Deg! Aku terkejut saat melihat Seorang Pria berdiri di depan pintu kamarku. Pria itu adalah Pakle Heru, Suami Bulek Anik. "Ada apa Pakle?" tanyaku. Tanpa bicara sepatah katapun, Pakle Heru langsung mendorongku masuk ke dalam kamar hingga aku terjatuh dan kebentur nakas. Aku merasakan sakit di bagian kepalaku, terakhir kali yang ku lihat Pakle Heru mengunci pintunya lalu pandanganku mulai kabur, entah apa yang terjadi selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN