Pukul 13.00, Rena terbangun dari pingsannya. Ia merasakan sakit di kepalanya, entah apa yang terjadi padanya ia tak ingat. Melihat ke sekeliling dan ternyata ia masih berada di dalam kamar, dengan posisi tergeletak di lantai.
"Apa yang terjadi padaku?" kenapa aku bisa tidur di sini? bukankah aku harus berangkat kuliah, jam berapa sekarang?" tengoknya pada jam di dinding.
"Astaga, udah jam 1 siang. Aduh gimana ini auto kena marah ini mah"
Saat Rena hendak bangkit menuju kamar mandi, kepalanya terasa sakit lagi. Gadis itu akhirnya memilih naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sana.
Tak butuh waktu lama Gadis itu pun kembali memejamkan mata. Waktu terus berjalan, hari sudah mulai sore.
Pintu terbuka, dan menampilkan seorang gadis berpipi tembem. Gadis itu langsung masuk sambil membawa berbagai cemilan, "Mbak Rena, aku masuk ya..." Ia terkejut saat melihat wajah pucat Rena.
Gadis itu menaruh semua cemilannya di atas meja, lalu menghampiri Rena "Ya ampun, Mbak Rena kenapa? Sakit?" Gadis itu memberikan punggung tangannya ke dahi Rena, mengecek suhu badan Rena.
"Astagfirullah, Panas. Mbk udah minum obat belum?" Rena menggeleng.
"Bentar ya Mbak, aku ambilin kompres dulu"
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Tata lalu kembali dan mengompres kening Rena. Tata keluar kamar bergegas ke dapur umum untuk membuatkan bubur ayam.
"Bentar ya Mbak, aku buatin bubur dulu" Ijin pamitnya, Rena menganggukkan kepala.
30 menit kemudian....
Bubur yang Tata masak kini sudah matang. semangkok bubur ayam versi Tata siap di sajikan. Aromanya harum banget sehingga mengundang seseorang datang.
"Masak apa kamu, Ta? hmmmm.. wanginya enak banget jadi lapar saya," gumamnya sambil mengintip apa yang Gadis itu masak.
"Ini Bubur buat Mbak Rena, Buk" jawab Tata sambil menoleh kearah lawan bicaranya.
"Rena? Rena kenapa? Sakit?" terdengar begitu panik.
"Iyah, Badannya panas" jelas Tata lalu pamit pergi ke kamar Rena dan di susul Anik dari belakang.
Mereka berdua masuk ke kamar Rena, Anik langsung menempelkan pungung tangannya di atas kening Gadis itu.
"Kamu kenapa sayang, kok badannya panas gini. Bulek antar ke Dokter ya.."
"Enggak usah Bulek, paling nanti juga panasnya turun"
"Ini aku buatkan bubur, Mbak makan dulu ya.." Rena mengangguk.
Suap demi sesuap pun telah masuk kedalam mulutnya hingga buburnya tersisa setengah.
"Udah, Ta" Rena menghentikan Tata yang hendak menyuapinya lagi.
"Yaudah ya kalau gitu Bulek keluar dulu, kalau ada apa-apa kabarin Ibuk ya Ta." Pandangannya terfokus pada satu tujuan, ia melihat ada bercak darah di ranjang.
Sesampainya di luar kamar, Anik berhenti di depan pintu tenah memikirkan sesuatu. "Apa yang telah terjadi pada Gadis itu? jangan-jangan..."
Wanita itu pun memutuskan untuk pergi dari sana.
**
Kringggggg!!!
Bunyi alarm berdengung kencang, membuat seorang Gadis terbangun dari tidurnya. Rena mengambil benda yang berbentuk bulat itu lalu membuangnya asal. membuatnya berhenti berbunyi.
"Biarkan aku tidur 5 Menit lagi" gumamnya dengan suara serak khas baru bangun tidur.
Gadis itu pun kembali memejamkan mata, akibat semalam tidur sampai larut malam membuatnya masih merasakan ngantuk. Waktu terus berlalu, sudah lebih dari 5 Menit namun Rena tak kunjung bangun.
Sinar Matahari menyeruak masuk melalui celah-celah jendela, Rena pun akhirnya bangun. Mengoptimalkan pandagan lalu melihat ke sekitar.
"Jam berapa sekarang" tanyanya.
Gadis itu lalu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, dan tersentak saat melihat jam. Buru-buru ia turun dari ranjang lalu bergegas ke kamar mandi, 5 Menit kemudian Gadis itu sudah rapih dengan pakaiannya tak lupa menyambar tas dan beberapa buku yang harus ia bawa. Segera ia keluar kamar dan memesan ojek online, berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa sehingga tak menghiraukan beberapa orang yang menyapanya.
Gadis itu berdiri di depan pagar, menunggu Grab . Beruntung, nasib masih baik padanya, tak butuh waktu lama Grab itu datang.
"Ngebut ya, Bang. Saya udah telat soalnya" pinta Rena.
"Baik Mbak"
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai, segera Rena turun dan berlari memasuki Kampus.
Di telusurinya koridor Kampus, mencari ruangan yang akan menjadi kelasnya. Langkahnya terhenti di depan ruangan yang akan menjadi kelasnya.
Dengan nafas terengah-engah dan keringat yang bercucuran, Rena berusaha memberanikan diri untuk masuk.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk" sapa dari dalam, Rena lalu masuk dan menghadap sang Dosen, yang bernama Danuarta. Sering di sapa Pak Danu.
Suasana kelas yang tadinya sunyi kini mendadak ramai saat Rena masuk, Danu memandang Rena begitu dalam seakan seperti binatang buas yang hendak menikam. Salahkan saja penampilan Rena saat ini, dengan Nafas terengah-engah dan keringat yang bercucuran, meninggalkan kesan seksi nan b*******h di mata Danu.
"Diam!" teriak sang Dosen. Mendadak semua orang yang ada di dalam kelas terdiam.
"Permisi Pak, Maaf saya telat"
"Anda Mahasiswi baru kan? di hari pertama saja sudah telat, saya paling tidak suka orang yang telat"
"Maafkan saya Pak, saya janji gk akan ngulangi lagi"
"Perkenalkan diri anda, lalu duduk di banggu yang kosong" setelah memperkenalkan diri, Rena pun duduk di bangku yang kosong di barisan kedua.
Selama mengajar Danu tak henti-hentinya menatap kearah Rena, membuatnya kurang konsen dalam mengajar. Berulang kali ia menggelengkan kepala, berusaha menepis pikirannya itu namun tak bisa hingga akhirnya bel pun berbunyi.
"Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini cukup sampai di sini dulu. Sampai ketemu minggu depan" ujar Danu setelah barang-barang miliknya di masukkan kedalam Tas.
"Baik Pak" jawab serentak para Murid.
"Untuk Mahasiswi baru, temui saya di ruangan usai istirahat." perintahnya, Rena mengangguk.
Usai ke kantin Rena bergegas keruangan Pak Danu, sesampainya di sana Rena lalu mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
"Permisi Pak, ada perlu apa Bapak panggil saya?"
"Duduklah" Rena pun menarik kursi yang ada di hadapannya lalu duduk disana.
"Apa benar Anda Mahasiswi yang mendapat Beasiswa itu yang datang dari Jawa Tengah?"
"Iyah Pak"
"Nama?
"Rena, Pak" jawab Gadis itu.
"Nama yang manis seperti orangnya" gumam Danu keceplosan, walau pelan namun masih bisa di dengar oleh Rena.
"Bapak bilang apa?" tanya Rena memastikan.
"Enggak, saya gk ngomong apa-apa kamu salah denger" Rena beroh ria.
"Anda disini tinggal dimana? rumah anda dimana?"
"Rumah saya ya diam di rumah lah Pak, Gak mungkin saya bawa kemana-mana"
"Saya serius"
"Saya duarius malah"
"Catat nomer Anda disini" ujar Danu lalu menyodorkan Hpnya.
Rena mengerutkan kening, "Nomor apa ya Pak?"
"Nomer Hp lah massa nomer togel"
"Untuk apa ya Pak?" tanya Rena.
"Anda ini banyak tanya ya," Rena pun akhirnya mengambil ponsek itu lalu memasukkan deretan nomer di sana.
Usai menyimpannya, Danu lalu memberikan setumpuk soal pada Rena.
"Saya mau kamu kerjakan tugas ini dan harus selesai hari ini juga"
"Tapi Pak, ini banyak banget. yang bener aja massa harus selesai hari ini juga, kasih saya waktu 3 hari ya Pak"
"Gk bisa!" tegas si Dosen.
"2 hari deh"
"Kamu kira pasar, bisa di tawar" jengah Pria itu.
"Ayolah Pak, kasih saya waktu sehari deh" gumam Rena memelas, menampilkan pupil eye nya.
"Sekali lagi kamu ngomong saya cium kamu!" mendengar itu Rena langsung terdiam.
"Baiklah kalau gitu saya permisi dulu Pak" pasrah Gadis itu.
"Siapa yang mengijinkan kamu pergi? saya mau kamu kerjakan disini sekarang juga"
"Tapi Pak, saya masih ada 1 Mapel lagi"
"Sudah kerjakan saja."
"Baik Pak"
Sumpah, entah kenapa pikiranku tak berjalan dengan semestinya, yang jelas aku tak bisa mikir. Ini Dosen merhatiin aku mulu, kan Adek jadi gerogi Bang. Aku berharap itu Dosen segera pergi dari hadapanku.
Melihat Gadis yang ada di hadapannya itu terdiam, membuat Danu bertanya-tanya.
"Apa ada masalah?"
"Tentu, saya jadi tidak bisa mikir karena Anda terus memerhatikanku" lagi-lagi Rena membatin.
"Tidak, Pak"
"Yaudah kerjakan, jika ada yang gk di mengerti bisa tanyakan pada Saya"
Aku harus segera menyelesaikan tugas ini, agar aku bisa cepet pulang dan terbebas darinya. Baru beberapa soal yang ku isi, mataku sudah tak kuat lagi bergelut dengan huruf-huruf sehingga aku pun terlelap. Enta apa yang terjadi selanjutnya..
Mengetahui Gadis itu tertidur, Danu bukanlah marah tapi malah senang. Pria itu menampilkan senyum manisnya, Fenomena sangat langka bagi seorang Danu yang jarang dan bahkan bisa di katakan tak pernah tersenyum.
Danu bangkit dari duduknya, ia perlahan mendekat kearah Gadis itu. Memandang wajah cantik Gadis yang tengah terlelap itu, bukannya marah Danu malah tersenyum. Jarinya menyentuh bibir ranum Gadis itu dengan amat lembut.
"Bibir ini sangat menggoda, membuatku kehilangan akal karena ingin menyelam disana" gumam Danu pelan.
Danu duduk di samping Gadis itu, menjatuhkan kepalanya di atas meja berpangku kedua tangan. Dunia terasa milik berdua, perlahan Pria itu memejamkan mata.
Jam menunjukkan pukul 18.00
Aku mengerjapkan mata, ya ampun aku sampai ketiduran. Pandangan pertamaku di suguhkan dengan ketampanan sang Dosen. Aku terkejut karena wajahnya begitu dekat dengan wajahku sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang bau Mint, benar-benar tak ada jarak di antara kami.
Aku memandangi Wajahnya, Pria itu memejamkan matanya dengan posisi kepala berpangku kedua tangan di atas meja. betapa sempurnanya dia. Pria dengan kharismatik yang begitu kuat memancar di wajahnya, Wanita mana yang tak tertarik kepadanya.
Saat tengah asik memandanginya, Rena terkejut saat melihat Pria di depannya itu membuka matanya. Cepat-cepat Rena memejamkan matanya, berharap Pria itu tak menyadari jika Rena terus memandanginya.
"Tidak usah berpura-pura" gumam Danu dengan suara serak-serak basah. Hembusan nafas segar menerpa wajah Rena, membuatnya merasakan kegelian.
Mati aku! apakah dia sebenarnya tadi itu tidak tidur dan tahu kalau aku memandanginya. Batin Gadis itu.
"Sudahlah, saya tahu kamu pasti terpesona kan akan ketampanan saya" ujar Danu begitu percaya diri.
Rena membuka kedua matanya dengan pelan-pelan, "Jadi tadi itu Bapak sebenarnya tidak tidur?" tanyanya dengan perasaan malu.
"Mata saya memang terpejam tapi jiwa dan pikiran saya terjaga, saya harus berjaga-jaga takut kamu ada niatan jahat ke saya"
"Jangan sembarangan menuduh ya, Pak. Saya ini anak baik-baik" jawab Rena tak terima.
Saat Rena hendak bangkit dari posisinya, Danu mencegahnya. tanpa basa-basi Danu langsung mengecup bibirnya lalu memandangi wajah lugu Gadis itu.
Jantungku berdetak begitu kencang, mungkin sekarang pipiku memerah seperti tomat busuk. Oh Tuhan, selamatkan aku.
Kualihkan pandangan namun hanya sesaat, karena Pria yang ada di hadapanku ini menarik tekukku membuat pandangan kami bertemu. Perlahan ia mendekat dan menciumku lagi, aku terkejut dan membulatkan mata. Ya Tuhan, Pria ini telah merebut First Kissku.
Lidahnya mencoba masuk ke dalam bibirku, aku mencoba memberontak namun dia malah menggigit bibirku. Aku merintih kesakitan dan akhirnya membuka mulut.
Kesempatan ini pun tidak di sia-siakannya.
Lidahnya dengan mudahnya masuk melilit lidahku dan mengapsen setiap gigiku. Entah apa yang merasukiku sehingga aku terlarut dalam kenikmatan. Kukaitkan kedua tanganku di lehernya, katakanlah aku tenggelam dalam permainannya. Dirasa kekurangan pasokan oksigen, Pria itu pun melepas panggutannya. Kami saling menarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan.
Danu memandangi wajah Rena, sepertinya ia telah jatuh cinta kepada Gadis itu.
"Maaf, gara-garaku Bibirmu terluka" ujarnya lalu mengusap bibirku yang terluka akibat ulahnya dengan jempolnya.
"Manis" ujar Pria itu.
Kutampar wajahnya, karena telah lancang merebut ciuman pertamaku. ku sambar tasku lalu pergi dari sana,, kuhiraukan Pria itu yang terus memanggil-manggil namaku. Ia bahkan berusaha mengejarku namun dengan cepat aku menyetop taxi dan pergi dari sana. Selama perjalanan pikiranku terus terbayang dengan kejadian tadi sehingga aku tak menyadari mobil yanh ku tumpangi telah sampai di depan Kostan.
Setelah membayar, aku lalu turun dan masuk ke dalam Rumah. Aku di kejutkan dengan munculnya Bulek Anik di hadapanku. Entah sejak kapan dia di sana sehingga aku tak menyadari keberadaannya karena melamun.
"Bulek, ngagetin aja."
"Dari mana? Jam segini kok baru pulang"
"Habis dari Kampus, Bulek. Maklum namanya juga baru pertama masuk kuliah jadi tugas numpuk, maaf tadi pagi Rena gk pamit karena buru-buru"
"Owh gitu, yaudah siap-siap gih sana nanti kita makan malam bareng-bareng. Bulek udah masak makanan kesukaanmu"
"Enggak usah Bulek, Aku udah makan diluar kok"
baru saja aku bilang seperti itu, eh.. perutku malah bunyi, kan enggak etis banget. Malu gk karuan.
"Itu apa?? lagi-lagi kau bohong ya sama Bulek, Bulek gk suka. Kalau kamu sakit siapa yang repot, Bulek juga yang repot. udah buruan mandi habis itu temui Bulek kita makan sama-sama" terangnya, aku mengangguk mengiyakan.