Malam itu Rena bergegas ke kamar lalu mandi, usai mandi lalu menemui Bulek Anik di Rumahnya untuk makan malam bersama. Setelah mengisi perutnya, Rena lalu kembali ke Kostan.
Saat berada di tangga, Ponsel Rena berbunyi. terdapat panggilan masuk dari Nomer tak di kenal.
"Nomer siapa ini?" tanyanya.
Merasa tak mengenal Nomer tersebut, Rena pun tak menanggapi panggilan tersebut.
"Ah, palingan juga salah sambung" gumamnya.
Gadis itu mempercepat langkahnya, karena takut dengan suasana Kostan yang begitu sepi seperti tak berpenghuni. Setiap kamar tertutup rapat, tak ada orang yang berkeliaran padahal ini baru jam 8 malam.
Langkahnya terhenti saat melihat Kamar No011, pintunya sedikit terbuka. Karena penasaran Rena mencoba mendekat, terlihat kamar itu begitu gelap tanpa penerangan apapun.
"Sedang apa kamu disini?" seru seseorang.
Deg,...
Rena menoleh kebelakang.
Rena terkejut saat melihat Wanita yang ada di hadapannya ini.
"Hmmm... anu Bulek, kamar ini udah ada penghuninya ya? kulihat pintunya kebuka.
"Mana ada, kamu ngaco nih.. jelas-jelas pintunya di gembok gitu kok"
"Di gembok?" tanyanya.
Gadis itu lalu membalikkan badan, untuk memastikan apa yang ia lihat tadi itu memang benar. Rena membulatkan kedua mata saat melihat pintu kamar yang di gembok, itu artinya ia salah lihat.
"Perasaan kamu aja kali, udah sana masuk kamar!" Rena pun menganggukkan kepala.
Anik memandangi punggung Gadis itu hingga tak terlihat, memastikan Keponakannya itu masuk kamar. Di rasa Gadis itu sudah masuk kamar, Anik pun memutuskan untuk turun kebawah.
Sementara itu, di dalam kamar Rena di luputi rasa ingin tau, entah mengapa Kamar No011 begitu menarik perhatiannya. Ada apa sebenarnya dengan kamar itu? dan apakah ada hubungannya dengan mimpi yang ia alami. Setelah bergelut dengan batinnya Rena memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memeluk guling dan menyimuti tubuhnya. Tak lupa juga menganti lampu utama dengan lampu tidur.
**
[Temui saya di ruangan, kita harus bicara] berikut pesan singkat yang Rena baca di layar gawainya lalu memasukkan benda pipih tersebut kedalam saku celananya tanpa berniat membalas pesan. Ia lalu melanjutkan makan siangnya itu seorang diri.
Seorang cowok datang menghampiri Rena, dengan membawa nampan berisi seporsi bakso dan es teh.
"Boleh gue duduk di sini?" tanya seorang cowok yang ada di hadapannya.
Rena menengadah keatas, melihat cowok yang ada di hadapannya, "Silahkan"
Cowok itu pun menarik kursi yang ada di hadapannya, lalu mendaratkan bokongnya disana.
Cowok itu menampilkan senyum manisnya, "Makasih, boleh kenalan enggak? nama gue Dani, nama loe?"
"Dani! ngapain kamu di sini? Saya ingkatkan sama kamu ya, jangan pernah kamu dekatin Murid saya yang satu ini! dia ini Gadis setengah gila, saya tidak ingin kamu terkena racunnya yang sangat mematikan" gumam Danu.
Rena di kejutkan dengan kemunculan Dosen Danu di sampingnya. Tanpa banyak bicara Pria itu lalu menarik tangan Rena dan pergi dari sana, meninggalkan Dani seorang diri.
"Lepasin, saya mau di bawa kemana Pak" teriak Rena, Danu tak menggubris. Ia terus berjalan sambil menarik tangan Mahasiswinya itu tanpa menghiraukan tatapan Mahasiswa dan Mahasiswi yang lainnya, ada juga yang mengabadikannya di ponsel mereka. Danu terus menarik tangan Rena, membawanya masuk kedalam ruangannya lalu mengunci pintu tersebut.
"Beraninya kamu tak membalas pesan, dari saya!" Murka Danu.
"Disitu tidak tertulis jika saya harus membalas pesan dari Bapak, jadi untuk apa saya balas. Lagian gk ada yang harus di bicarakan" sahut Rena.
"Enggak ada yang harus di bicarakan katamu?sudah jelas ada. Saya sudah nungguin kamu dari tadi, kamu malah enak-enakkan berdua-duaan sama si tikus got" cemoohnya.
"Ini Dosen buta atau gimana, sudah jelas-jelas bukan hanya gue dan cowok tadi itu aja yang di sana. eh tunggu, tadi apa katanya? tikus got? gila, saraf nih orang. Anak orang di katain tikus got!" batin Rena.
"Bapak kan liat sendiri, di kantin tadi bukan hanya saya dan Dani yang ada di sana."
"Sudah salah pakai ngelak, mulai sekarang jauhin si tikus got itu!"
"Apa hak Bapak buat larang saya deket sama Da-" ucapan Rena terhenti saat Pria yang ada di hadapannya mengecup bibirnya.
Duarrrrr...
Keduanya terdiam, pandangan mereka berpacu satu sama lain. Mata indah Rena mampu memikat Danu, sehingga membuatnya hilang kendali.
Saat Danu hendak menciumnya lagi namun Rena langsung tersadar, di dorongnya Dosennya itu hingga terjatuh ke atas sofa panjang.
Danu yang terjatuh atas di sofa lalu bangkit dan mengambil posisi duduk. Ia melipat lengan kemeja panjangnya hingga ke siku, melepaskan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menaruhnya di atas meja.
Rena mulai kesal ketika melihat Pria itu berlagak biasa saja seolah tak terjadi apa-apa, setelah apa yang Pria itu barusan lakukan.
Danu menoleh ke arah Gadis itu. "Maaf ya, habis kamu ini nyerocos enggak ada berhenti-berhentinya, persis kayak bebek kejepit. wekwekwek..." ujar Danu sambil menirukan suara Bebek.
Apa-apaan ini, mencoba minta maaf tapi dia tetep mengejekku! batin Rena.
"Dia itu Adik saya, saya tidak mau dia di apa-apain sama kamu!"
"Kok gitu! yang harusnya di takutin itu, ya Bapak ini... saya kan anak perempuan, di mana-mana laki-laki lah yang ngapa-ngapain anak perempuan. Buktinya saja firs kiss saya di renggut oleh Bapak!" ujarnya pasang wajah marah.
"Haha, wah bernahkah? apa itu artinya saya adalah Pria yang beruntung mendapatkan firskiss mu, Nona. Jangan salahkan saya karena telah menciummu, salahkan pada dirimu sendiri kenapa punya bibir kok enggak bisa diam, nyerocos terus." Danu membuka satu kancing kemeja teratas, menarik dasi yang melilit di lehernya yang acak-acak'an. Sedikit terlihat d**a bidang putih mulusnya.
Gleg!
Rena bersusah payah menelan ludah.
Ingin rasanya aku mengelusnya.
Melihat Rena terdiam, Danu mencoba melambaikan tangannya di depan wajahnya. Rena pun mulai tersadar.
"Heh ngelamun ya.... mikirin apa hayo!" goda Danu.
"Bukan apa-apa, siapa juga yang ngelamun" Rena mencoba mengelak.
"lah itu tadi? sedang menimpatin pemandangan heh!"
"Kalau dibilangin bukan ya bukan" pekik Rena.
"Its' okay, kalau gitu tolong dong pakein dasi saya" pintanya sambil menyodorkan dasi yang ada di tangannya ke Rena.
"Ogah! Pakai saja sendiri, punya tangan kan.."
"Ini kan bakal jadi tugas kamu nanti, jadi mulai sekarang belajar pasangin dasi biar nanti kalau nikah udah pinter"
"Ih apaan sihhh... ngaco," jawabnya, Gadis itu memutar bola matanya malas.
Danu langsung memberikan dasinya kepada Rena, "Udah buruan pasangin, anggap ini sebagai hukuman karena kamu udah dorong saya barusan!"
Rena memalingkan wajah dengan kedua tangan melipat di d**a. "Huh.. dikit-dikit beraninya main hukum," gumam Rena dengan suara pelan.
"Apa kamu bilang?" tanya Danu.
"Iyah-iyah saya pasangin" jawabnya dengan terpaksa.
"Nah gitu dong,"
Rena perlahan melangkahkan kakinya, mendekati Danu, lalu mulai membenarkan kacing kerah baju yang Pria itu kenakan. Lalu mulai memakaikan dasi dengan hati-hati.
Posisi Rena yang berdiri sedikit membungkuk menghadap Danu, sementara Danu masih dalam posisinya yaitu duduk diatas sofa dengan kepala sedikit menengadah keatas.
Di lain tempat, tepatnya di kantin Dani membuang asal mangkok yang ada di hadapannya hingga pecah, semua orang yang berada di sana langsung menoleh ke arahnya. Mengetahui orang tersebut adalah Devan, mereka lalu memalingkan wajah dan memilih diam.
Dani mengacak rambutnya, "Sialan! kenapa gue harus suka juga sih sama cewek yang di sukain Abang gue. Tapi gapapa kan kalau gue perjuangin ini, sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan buat gue untuk dapetin tuh cewek" serunya.
Tekatnya sudah bulat, Dani akan perjuangin cintanya sekalipun harus tikung-menikung Abangnya sendiri.
Dani berjalan sambil melihat ke sekeliling, berharap bisa bertemu kembali dengan Gadis yang ia temui beberapa waktu lalu di kantin. Sayang Dani tak menemukan sosok itu, jam istirahat telah berakhir. waktunya kembali ke kelas.
"Eh anak baru!" saat Dani hendak kembali ke kelas seseorang memanggilnya.
Dani menoleh kearah tersebut sambil menunjuk dirinya sendiri "Gue?"
"Iyah elo, siapa lagi kalau bukan elo"
Dani lalu menghampiri Cowok tersebut, "Ada apa ya?"
"Tolong, berikan ini ke Dosen. Ke ruangan yang paling pojok sana" di berikannya tumpukan buku-buku kepada Danu lalu jarinya menunjuk pada ruangan yang paling ujung.
Setelah mengatakan itu, Cowok tersebut pergi meninggalkan Dani begitu saja. Dani menatap sinis ke arah Cowok tersebut.
"Baru pertama masuk, udah sial aja gue. Di kiranya gue babu apa ya.. enak aja main suruh-suruh. eh itu bukannya ruangan si Bujang lapuk, males banget kalau mesti ketemu tuh orang tapi mau gimana lagi"
Dengan terpaksa Dani berjalan ke arah ruangan itu. Setelah melewati lorong-lorong, kini Dani sudah berada tepat di depan ruangan yang di maksud.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara pintu di ketuk.
Keduanya menoleh kearah pintu. Rena menghentikan aksinya, namun Danu menyuruhnya untuk melanjutkannya.
"Tapi Pak, itu diluar ada yang ketuk pintu"
"Udah biarin, selesain dulu aja pasang dasinya"
Sial! ganggu orang aja. batin Danu.
Ritual memasangkan dasi sudah selesai, kini Danu bergegas untuk membukakan pintu. Hendak melangkah namun terhenti karena Rena menggenggam tangannya, Danu pun menoleh kearah gadis itu.
"Ada apa?"
"Pak, bagaimana jika orang itu berpikiran yang bukan-bukan terhadap kita. Sebab kita berada dalam satu ruangan yang Bapak kunci"
Rena takut dan cemas, takut orang akan berpikiran yang bukan-bukan.
"Udah kamu tenang aja, sekarang duduklah"
Danu menuntun Gadis itu untuk duduk lalu melangkah kearah pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Pak Danu.. apa Bapak ada di dalam?" seru seorang dari luar.
Danu sepertinya mengenal suara itu.
"Siapapun itu tolong bukakan pintunya, Saya terkunci di dalam. Tolong ambilkan kunci cadangan di ke Pak Mamat " teriaknya.
Siapa itu Pak Mamat, kelamaan, mending gua dobrak aja nih pintu.
"Yang ada di dalam sebaiknya menjauhlah dari pintu"
tanpa berkata-kata Dani langsung menendang pintu itu kuat-kuat.
Brakkk.....
Dengan sekali tendangan, pintu itu pun berhasil terbuka.
Dani langsung masuk dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Abangnya berada dalam satu ruangan bersama Rena.
"Apa yang kalian-" dengan cepat Rena memotong pembicaraan Dani.
"Jangan berpikiran yang bukan-bukan, kami disini tidak melakukan apapun. saya di sini cuma untuk mengumpulkan tugas" jelasnya.
"Kuharap kamu tidak sedang berbohong" balas Dani lalu menaruh tumpukan buku ke atas meja.
"Mau dia berbohong atau tidak, itu bukan urusanmu. Saya harap kamu mengganti semua biaya kerusakan pintu ruangan saya"
"Bukannya berterima kasih sudah saya tolongin, pintu kayak gini paling juga berapa sih" Dani menaruh Black card miliknya di atas meja lalu melenggang pergi, tak lama Rena menyusul.