Ada apa dengan Kamar No011?
Setelah Lulus SMA, Rena Maulida mendapat Beasiswa di Universitas ternama di kota Bandung. Ia memutuskan untuk Kuliah disana dan tinggal di Kostan Bibi nya. Tepatnya hari ini adalah hari keberangkatannya ke Bandung, Rena tengah mempersiapkan barang-barangnya yang akan di bawa.
Seorang Pria paruh baya berdiri di depan pintu kamar Anaknya, berjalan perlahan menghampiri Rena yang tengah melipat pakaian. Sartono, duduk di atas ranjang di samping Anaknya.
"Ren, apa enggak sebaiknya kamu Kuliah saja di sini?" tanya Sartono, Bapak Rena.
Rasanya berat sekali melepaskan Anak Gadisnya, sebagai seorang Bapak. Sartono khawatir takut terjadi sesuatu terhadap Anaknya.
Rena menghentikan aktivitasnya, menggenggam tangan Pria yang ada di hadapannya. Memandang wajahnya yang tak lagi muda.
"Kesempatan itu tidak datang dua kali, Pak. Ini adalah hal yang aku impikan sejak lama, beberapa tahun belakangan aku selalu menghabiskan hari-hariku dengan tumpukan buku agar setelah lulus aku mendapat Beasiswa. Jadi kumohon ijinkan aku untuk Kuliah di sana," jawab Rena.
Sartono mengelus surai panjang Anaknya, "Berat sekali rasanya ngelepasin Anak Gadis Bapak, tapi jika ini yang terbaik untuk kamu Bapak akan ijinkan"
"Makasih Pak, Rena sayang Bapak" balas Rena lalu memeluk Pria yang ada di hadapannya.
"Jadi kamu enggak sayang sama Ibu?" Rena dan Sartono tersentak, mengurai pelukan lalu menoleh ke sumber suara.
Seorang Wanita yang di duga adalah Ibunya Rena, menghampiri Anak dan Suaminya dengan membawa segelas s**u dan sepiring Nasi goreng yang ada di nampan lalu menaruhnya di atas Meja.
"Ibu, kata siapa? Rena sayang kok sama Ibu dan Bapak.Ya kan Pak?"
Sartono mengangguk, "Jelas sayang, kan Ibumu adalah belahan jiwa Bapak"
Mendengar itu, Kartika merasa senang namun hanya sesaat. Matanya menatap tajam ke arah Rena. Rena yang merasa di tatap itu pun nyalinya mulai menciut, aura seketika berubah menjadi mencekam.
"Kamu ini, begitu semangatnya sampai lupa sarapan! sesibuk apapun itu, masalah perut jangan di nomorduakan. Apalagi kamu punya riwayat Maagh, kalau kumat siapa yang repot? sudah pasti Ibu!" omel Kartika.
"Baik, Bu. Sebenarnya setelah ini selesai, Rena mau ke bawah untuk sarapan kok" jawabnya.
"Alesan saja kamu, Ibu itu tau betul sifat kamu. Kamu itu kalau enggak di paksa makan, kagak ada inisiatif-inisiatifnya untuk makan. Giliran sakit, baru kepikiran untuk makan" ketus Kartika.
"Iyah-iyah, Maaf. Rena janji enggak akan ulangi lagi deh, hehehe..."
"Hehehe.. hehehe..," ulang Kartika dengan ekpresi di buat-buat. "Udah sana sarapan dulu, ini biar Ibu yang lanjutin" ujar Kartika.
Rena pun lalu bangkit dari duduknya, menarik kursi lalu duduk dan menyantap makanannya hingga tandas.
Kartika duduk di atas ranjang, lalu mulai memasukkan pakaian-pakaian ke dalam koper.
"Bapak, kenapa ada disini?" tanya Kartika pada Suaminya.
"Kenapa nanyanya begitu? emang salah ya kalau Bapak mau ngobrol sama Anak?" tanya Sartono balik.
"Dari bau-baunya, kayaknya ada yang enggak ikhlas nih jika anaknya pergi" sindir Kartika, membuat Sartono kikuk. Rena, tertawa geli saat melihat ekspresi Bapaknya. Usai sarapan, Rena lalu bersiap untuk berangkat.
"Sudah lengkap semua?" tanya Kartika memastikan, Rena menganguk. "Coba di cek lagi, takutnya nanti ada yang ketinggalan"
"Sudah semua, Bu"
"Yaudah ayo kita berangkat, nanti takut ketinggalan Bus" Ajak Sartono.
Sartono membawa koper yang akan di bawa Rena dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.
Saat Rena membuka pintu mobil hendak masuk, di dalam sudah ada Ratna Adiknya tengah duduk manis di jog penumpang dengan pakaian rapihnya. Ratna tersenyum manis, menampilkan gigi taringnya yang amat runcing.
"Ratna, ngapain kamu di sini? ini udah jam berapa, kamu kok enggak berangkat sekolah?" tanya Rena pada Adiknya.
"Aku bolos hari ini boleh kan, Aku kan mau ikut antar Mbak Rena ke Terminal, boleh kan?"
"Dasar! yaudah ayo Kita berangkat sekarang" balas Rena.
Rena sekeluarga pun pergi menuju Terminal, sepanjang perjalanan Kartika tak henti-hentinya menasihati Putrinya itu. "Kalau di kota orang tolong di jaga sikapnya, Nduk. Kalau suka keluar malam, bahaya anak perempuan keliaran di luar malam-malam. kalau lagi ada perlu ya minta temen perempuan mu untuk anter. Kamu kan jauh dari pengawasan kami, jadi jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung hubungin Ibu dan Bapak"
"Iyah Bu," jawab Rena dengan senyuman, kata-kata mutiara yang keluar dari mulut Ibunya adalah makanannya sehari-sehari.
"Yang di katakan Ibumu itu benar, Nduk" timpal Sartono, Pria yang tak lagi muda.
Sesampainya di Terminal, Bus yang akan di tumpangi Rena sudah menunggu.
Rena pamit kepada Kedua Orangtuanya, begitu juga kepada Adiknya.
"Hati-hati ya, Ren. Jaga diri Baik-baik, kalau sudah sampai sana jangan lupa kabarin Bapak dan Ibu. Sampaikan salam Bapak buat Pakle dan Bulekmu di sana" Sartono memeluk tubuh mungil anak Gadisnya dengan penuh kehangatan, Rena menganggukkan kepala.
Sartono melepaskan rangkulannya, Rena lalu menghampiri Ratna, Adiknya.
Keduanya saling berpelukan, "Eh perasaan waktu itu kamu masih bayi deh, kok sudah gede aja. Berat rasanya harus berpisah sama kamu Dek... Belajar yang pinter ya, nanti nyusul Mbak Kuliah di sana"
"Hati-hati ya Mbak.. kabarin aku kalau sudah sampai sana"
Bus pun mulai melaju dan meninggalkan Area Parkir. Rena melambaikan tangan kearah Kedua Orangtuanya di balik jendela.
Setelah kepergian Bus itu, Sartono pun lalu menancap pedal gas dan lalu bergegas pergi meninggalkan Terminal dan pulang ke Rumah.
"Hari ini adalah keberangkatanku, Sebenarnya aku merasa berat hati harus meninggalkan mereka namun, tekatku sudah bulat" batin Rena.
Singkat cerita Rena pun telah sampai di kota Bandung. Dari Solo ke Bandung butuh waktu Seharian untuk sampai, tidur di dalam Bus membuat seluruh tubuh Rena sakit.
"Akhirnya sampai juga" ujar Rena setelah turun dari Bus.
Drtttt!
Drtttt!
Ponsel Rena bergetar. Ia lalu mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya. Membuka layar dan mendapati sebuah pesan.
[Dimana?]
Rena membaca pesan dari Pakle Heru, lalu membalas pesan tersebut.
[Aku nunggu di depan Warung Bakso Pak Waluyo] balasnya.
[Oke, tunggu sebentar Pakle kesana sekarang] balas Pakle Heru.
Tak lama kemudian sebuah mobil Avanza berhenti tak jauh dari tempat di mana Rena berada.
Seorang Pria turun dari mobil lalu menghampiri Rena. "Rena" Panggil Pria itu.
Rena lalu berdiri dan mencium tangan Pria itu. Pakle Heru membukakan pintu dan mempersilahkan Rena masuk.
"Masuklah, kopernya biar Pakle yang urus" ujarnya, Rena mengangguk mengiyakan.
20menit kemudian mereka pun sampai di kediaman Pakle Heru. Usai memarkirkan mobilnya Pakle Heru membukakan gerbang yang menjulang tinggi itu dan mempersilahkan Rena masuk.
Pandangan Rena di suguhkan dengan suasana Kostan yang begitu ramai akan para penghuni Kostan, kebanyakan dari mereka rata-rata seumuran dengannya. Terdapat Kostan Pria dan Wanita, yang letaknya terpisah.
Tanpa Rena sadari beberapa kumpulan Pria menatap kearahnya, ada yang bersiul, ada yang menatapnya tanpa berkedip. Dari kejauhan, seorang Wanita yang di duga bernama Bulek Anik tengah menatap ke arah perkumpulan Pria. Segera Anik mendekati para Pria itu lalu membubarkan mereka.
Anik lalu menghampiri Rena dan memeluknya, "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya pada Keponakannya itu.
Sementara Heru masuk kedalam rumah dengan barang bawaan Rena, menaruhnya di kamar tamu untuk sementara waktu.
"Alhamdulillah Baik, Bulek. Bulek apa kabar?" sahutnya.
"Baik, Ayo kita kedalam, sarapan bareng. Bulek hari ini masak masakan kesukaanmu" ajaknya.
"Tidak Bulek, aku gk lapar. Aku sudah sarapan tadi di Restoran" jawabnya.
"Owh yaudah ayo kita kedalam. Kamu pasti capek kan?" ujar Bulek Anik, Rena mengangguk.
Anik masuk rumah dan di susul Rena di belakangnya. Anik membukakan sebuah kamar, dan mempersilahkan Rena untuk istirahat.
"Ini Rumah Bulek, sementara kamu istrirahat dulu aja disini karena kamar yang akan kamu tempatin nanti sedang di bersihin. Kalau mau mandi itu kamar mandinya ada di ujung sana" unjuknya.
Rena manggangguk, "Yaudah kalau gitu, Bulek tinggal dulu ya. Kalau ada perlu apa-apa bilang Bulek"
"Iyah Bulek"
Setelah kepergian Anik, Rena pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Perjalanan jauh sangatlah melelahkan, hingga badannya terasa sakit semua. Entah sejak kapan Rena terlelap, ketika ia terbangun sudah sore saja.
***
Aku terbangun dari tidurku, dan terkejut saat hari sudah sore. Saking lelahnya aku sampai tidur seharian. Aku pun bergegas untuk mandi, usai membersihkan diri aku hendak keluar kamar, namun aku terkejut saat lihat Pakle Heru tengah berdiri di depan pintu. Pria itu memaksa masuk dan segera mwngunci pintu. Ia melangkah mendekat ke arahku lalu menghimpitku, aku sama sekali tak bisa bergerak karena ia mengurungku. Kedua tanganku di ikatnya menggunakan dasi, aku mencoba memberontak namun tenagaku tidak sebanding dengannya.
"A-apa yang Pakle lakukan? Ku mohon lepaskan aku," lirihku dengan suara bergetar.
"Diamlah, dan ikuti saja permainanku ini" gumamnya.
Saat ia hendak menciumku, aku memalingkan wajah. Aku berusaha keras menghindar. Air mataku sudah tak bisa di bendung lagi, buliran itu mengalir membasahi pipi. Tak ku sangka Pria yang ku sebut Pakle ini hendak memperkosaku.
Suapa pintu di ketuk.
"Ren, kamu lagi apa? Ada yang mau Bulek omongin, keluarlah dan temui Bulek di ruang keluarga" ujar Bulek Anik di balik pintu.
Beruntung seseorang mengetuk pintu kamar, aku mencoba teriak meminta tolong namun Pria b***t ini membungkam mulutku. Sebelum Pria itu pergi dia sempat mengancamku untuk tidak memberitahukannya pada siapapun termasuk Istrinya. Setelah kepergiannya, tubuhku terjatuh ke lantai, menangisi apa yang baru saja aku alami. Jika tadi Bulek Anik tidak mengetuk pintu, mungkin hidupku akan hancur setelahnya.
Usai menghapus air mata, aku lalu bergegas keluar kamar untuk menemui Bulek Anik, inginku menceritakan padamya namun aku takut jika kejujuranku nanti malah akan membuat rumah tangga mereka hancur. Mulai saat ini, detik ini aku akan menghindari Pria itu.
Usai berbincang-bincang dengannya, Bulek Anik lalu mengajakku untuk ke Kostan. Tak lupa aku kembali ke kamar tamu untuk mengambil barang-barangku, dan membawanya ke Kostan. Sesampainya di Kostan Diperkenalkannya aku dengan para penghuni Kost.
Kami menelusuri Kost lalu berhenti tepat di depan kamar No09, kamar yang akan aku tempati.
"Rena, kamu gapapa kan kalau tinggal di Kost?"
"Gapapa Bulek, aku malah berterima kasih banget karena Bulek memberikan tumpangan tempat tinggal buatku."
"Sudah kewajiban Bulek, karena kamu kan Keponakan Bulek. Ayo Bulek tunjukkan dimana kamar kamu" hanya mengangguk.
"Ini kamar kamu Rena, Kamar mandinya juga ada di dalam jadi kamu gk perlu ngantri bersama penghuni yang lainnya. Karena yang lain kamar mandinya barengan. Sedangkan bangunan yang ujung sana itu Kost khusus Laki-laki" Jelas Bulek Anik, aku hanya manggut-manggut.
"Owh iyah kamu jangan pernah mencoba mendekati apalagi masuk kekamar 011 ya!"
"Emang kenapa Bulek?" tanyaku penasaran.
"Gapapa, pokoknya jangan kesana aja, sebelum 12 malam kamu sudah harus berada di kamar. Jangan pernah berkeliaran di luar, apapun yang terjadi jangan coba-coba keluar dan selalu kunci pintu. Karena di sini daerah rawan, ingat itu pesan Bulek!"
"Iyah Bulek" ujarku.
"Yaudah kalau gitu Bulek tinggal dulu, kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang Bulek."
"Iyah Bulek, terima kasih banyak atas bantuannya Bulek" ujarku lalu hanya dibalas senyuman.
"Aku kok jadi merinding ya denger cerita dari Bulek Anik, emangnya ada apa sih?" batinku bertanya-tanya.