Tama mengangsurkan botol minum yang segelnya sudah dibuka. "Minum dulu." Aku menerima dan untuk menghormatinya, aku meminumnya langsung. "Makasih," ucapku pelan. Kami lantas jalan beriringan menuju lift. "Malam banget baru pulang? Tadi diantar siapa?" tanya Tama. Kami berhenti di depan pintu lift. Hanya sebentar karena pintu besi itu segera terbuka. Kami lantas masuk. "Itu tadi Danar. Kebetulan dia lembur juga." "Jadi kalian satu divisi? Dan Danar pemimpinnya?" Aku mengangguk. Aku melihat ke arah angka digital di atas pintu, menghitung tiap lantai yang sudah kami lewati. "Giko juga, tapi beda divisi, begitu kan?" "Iya, benar." "Pantas kalian itu makin akrab." Ada senyum kecil yang aku lihat samar di sudut bibirnya. Lalu hening menguasai kami. Aku heran pada diri sendiri, y

