Dua hari mengurung diri dalam kamar, menonaktifkan telepon, tak menghiraukan panggilan dari bawah yang memberi tahu ada tamu datang mencarinya, hanya menerima makanan dari Bi Minah saja, siklus bangun-makan-mandi-tidur jadi bagian dari hidup Davika dalam kurun dua hari ini. Gadis itu bangun ketika cahaya matahari yang menerobos celah jendela menerpa mata pandanya. Netra kecoklatan itu perlahan terbuka, tertutup lagi karena belum terbiasa dengan cahaya hangat matahari yang menusuknya. Dia kembali berkedip, berulang kali hingga jemarinya menggosok pelan. Davika bangun dari tidurnya ketika mendengar deru mesin mobil di bawah. Gadis itu beringsut ke bibir ranjang dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh wajah bantalnya. Selepas itu, dia mengambil ponselnya, mengaktifkan benda pipih itu d

