Mengingat Viko dan Kasya membuat hati Davika agak mendung. Walaupun dia telah menerima semuanya, Davika juga tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa hatinya masih terasa sesak mengingat masalah mereka. Dia mengamati gambar Viko. Kelompok anak – anak yang didampinginya kembali tenggelam dalam kesibukan menggambar mereka. Davika menatap kursi besi di sudut taman yang sepi. Dia menyuruh anak – anak itu tetap melanjutkan kegiatan mereka dan beranjak ke sana dengan membawa buku gambar utu beserta tasnya. Davika duduk di sana dan membiarkan buku gambarnya terbuka di pangkuannya, menampakkan gambar wajah Viko. Matanya menatap pepohonan yang masih saja menggugurkan daun – daunnya. Satu daun terbang perlahan ke arahnya dan Davika langsung meraihnya. Gadis itu mengambil pulpen dari tasnya dan menu

