Davika menepuk dadanya beberapa kali, berusaha menetralkan detak jantungnya yang menjadi – jadi. Dia tak menghiraukan suara Emily yang terus – terusan memanggil namanya dan mengira Davika kerasukan. Dia menatap layar ponselnya yang menyala. Panggilan telepon mereka masih tersambung. Tanpa pikir panjang, Davika segera memutuskan panggilan itu. Dia melempar pelan ponselnya dan menatap benda itu dengan ngeri. “Are you okay, Dav? [Are you okay, Dav?]” tanya Emily khawatir melihat wajah Davika yang tiba – tiba pucat sejak menerima panggilan telepon tak dikenal itu. “Dav?” ulang Emily sembari mengguncang bahu gadis itu. Davika menoleh pada Emily dengan mata berkedip seperti orang yang baru saja tersadar. Dia mengambil napas dengan rakus dan memegang bahu Emily. “Wait, Emi. My breath fe

