Davika tengah sibuk berkutat di dapur. Rambutnya dicepol ke atas agar tak mengganggu kegiatannya saat ini. Dia sedang menyiapkan bahan – bahan untuk memasak sarapannya ketika bunyi bel terdengar. Gadis itu menatap pintu apartemennya lalu segera membasuh tangannya di wastafel. Bunyi bel yang terdengar sampai berkali – kali membuatnya berdecak pelan. Dia sudah tahu siapa yang berdiri di luar pintu apartemennya. Siapa lagi kalau bukan Emily. Tidak ada yang membunyikan bel sampai berkali – kali bagai kesetanan seperti cewek itu. “Sebentar!” teriak Davika sembari berjalan menuju pintu. “Apa, sih? Pagi – pagi sudah ngerecokin?” tanyanya kesal sembari membuka pintu. Walaupun tak tahu artinya, Emily tahu itu merupakan ungkapan kesal dari Davika. Bagaimana tidak tahu, hampir setiap pagi dia

