Chapter 34

1291 Kata

Mata Davika perlahan terbuka. Netra coklatnya menangkap cahaya putih di atasnya. Perlahan, Davika sadar dia sedang berbaring. Butuh waktu lama bagi Davika untuk membiasakan matanya dengan cahaya yang ada di langit-langit. Apa aku sudah mati? Batinnya berharap. Namun, ketika kesadarannya telah pulih seluruhnya, Davika sadar dia belum mati. Suara monitoring jantung, bau obat-obatan serta orang-orang berpakaian hijau yang lalu lalang membuatnya tersadar dia sedang terbaring lemah di rumah sakit. Davika menunduk untuk melihat pergelangan tangan kirinya yang sudah diperban. Ketika dia mencoba menggerakkan tangannya, nyeri langsung menjalar membuatnya meringis pelan. Dia lalu beralih pada tangannya kanannya yang terpasang infus. Davika mengedarkan pandangannya dan tak menemukan wajah fam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN