Penolakan dan Keterkejutan Sang Nenek

1045 Kata
"Pak ... eh, Pak Bos. Ta-tapi kalau aku mandi sekarang, ba-juku gimana?" Malilah mendadak teringat Dimas yang akan mengantar pakaiannya nanti, bahkan bisa saja besok. "Gak usah bingung. Di gudang, banyak baju Almarhumah Nenekku!" sahut Hanan cuek. "Hah?" Langkah Malilah langsung berhenti mendengar jawaban Hanan. Membayangkan dirinya harus memakai baju jaman dulu. Pasti modelnya kuno. Pasti pakai kemben, atau baju dengan renda-renda yang mengelilingi leher. "Ayo cepat masuk! Terus mandi. Kamu enggak boleh pegang anakku kalau belum mandi. Apalagi kalau habis melewati parjalanan jauh. Berdebu, kotor!" tatar Hanan. "I-iya!" Malilah melangkah pelan memasuki rumah Hanan yang membuatnya berdecak kagum. Semua pekakasnya nampak mewah dan yang pasti sangat bersih, membuat Malilah bertanya-tanya dalam hati. Apa pekerjaan Hanan? Kenapa dia membayar begitu mahal? Apa dia seorang CEO seperti profesi tokoh rebutan dalam cerita-cerita fiksi yang pernah ia baca? "Sepertinya iya." Malilah menebak-nebak sendiri dalam hati sambil melangkah. "Ini orangnya, Han?" Tiba-tiba seorang wanita berusia sekitar 55 tahun menghalangi langkah mereka saat melintasi sebuah kamar. "Iya! Aruminya tidur, Ma?" tanya Hanan dengan volume selow. Beda sekali dengan caranya bicara pada Malilah. "Iya, tidur. Kecapekan dia dari tadi nangis terus," jawab wanita tersebut sambil menelisik seluruh bagian tubuh Malilah. "Kamu yakin? Perempuan dengan penampilan kucel begini mau nyusuin Arumi? Kamu yakin, makanan yang dia makan sehat dan bergizi, Han?" Tatapan Bu Ratih benar-benar dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuat Malilah kembali merasa risih. "Dia akan tinggal disini. Jadi kita bisa ngawasin makanan dan minumnya," terang Hanan. "Anaknya gimana? Dibawa kesini juga? Suaminya juga? Mereka mau tinggal di sini serombongan?" cecar wanita yang dipanggil Mama oleh Hanan, seperti khawatir sekaligus tak suka. "Ma, dia ini baru saja melahirkan dua hari yang lalu. Karena itu ASInya melimpah. Bayinya tidak bisa diselamatkan, Ma! Dan suaminya tidak keberatan dia tinggal disini selama menyusui. Emang suaminya sendiri yang nyuruh malahan," terang Hanan membuat tatapan Bu Ratih berpaling, memindai wajah Hanan yang nampak serius. "Ada suami model begitu?" tanya Bu Ratih pelan karena tak percaya. "Ada, ya suami dia," sahut Hanan membuat Malilah menundukkan wajah, agak malu karena memiliki suami seperti Dimas. " Oya, Lila, kenalin ini mamaku. Ma, ini Malilah. Panggil dia Lila." Hanan baru tersadar bahwa mereka belum saling kenal. Malilah menyodorkan tangan pada wanita tersebut, tapi tak mendapat sambutan, hingga Malilah kembali menarik uluran tangannya dengan perasaan tak enak. "Panggil saja saya Bu Ratih. Kamu mandi saja dulu baru menyentuh cucuku!" ucapnya dengan suara sedikit melunak mendengar penjelasan Hanan, sambil berbalik masuk ke kamar menemani cucunya kembali. Hanan pun melanjutkan langkahnya ke dalam. "Bu ... Bu Ra-tih," panggil Malilah ragu-ragu. "Kenapa?" Bu Ratih mengurung langkah, menunggu apa yang ingin dikatakan Malilah tanpa mau membalikkan badan. "Sa-ya ... boleh pinjam ba-ju ibu?" tanya Malilah dengan perasaan ketar-ketir. "Kamu? Mau tinggal di sini tapi enggak bawa baju? Aneh sekali? Enggak! Aku enggak suka bajuku dipakai oleh orang lain," tolak Bu Ratih tegas membuat nyali Malilah langsung menciut. "Sudah kubilang, kamu pakai saja baju Almarhum Nenekku kalau suamimu belum datang! Selesai mandi, kamu langsung saja masuk ke kamar tadi!" ucap Hanan yang kembali berbalik karena Malilah tidak mengikutinya. Malilah mendengkus kesal sambil mengikuti langkah Hanan yang akan menunjukkan letak kamar tidur dan kamar mandi yang akan ia tempati bersama Arumi. "Ini handukmu, kamu mandilah! Aku akan mencari baju untukmu," titah Hanan langsung melangkah keluar. Sepeninggal Hanan, Malilah mengedarkan pandangan ke seluruh bagian kamar. Ini kamar termewah yang pernah Malilah tempati. Sudah pasti kamar ini membuatnya betah. Dari segi ukuran saja, mungkin sekitar seperempat dari ukuran rumahnya sendiri. Dari segi perabot dalamnya biasa saja. Namun, terlihat jelas semua barang-barang yang ada di kamar Arumi adalah barang-barang dengan kualitas tinggi. Malilah tersenyum. Entah mengapa ia merasa yakin akan betah berada di kamar tersebut. Ia pun langsung membersihkan diri ke kamar mandi. *** Hampir dua jam Malilah menunggu,tapi Dimas tak kunjung datang mengantarkan pakaiannya. Ia merasa risih memakai baju kebaya tempo dulu dengan bawahan sarung jarik yang dililitkan ke pinggang. Hanan benar-benar serius memaksanya memakai baju yang mungkin sudah keluar sebelum Malilah keluar dari perut ibunya dulu. Gerakan Malilah menjadi serba susah, menyusui Arumi yang tampak begitu haus di pangkuannya. Sakit yang dirasakan Malilah sedikit berkurang. Ia mengusap wajah Arumi dengan lembut, lalu menyapu air mata yang lolos begitu saja membanjiri pipi. Ada rasa nyeri di lubuk hatinya menatap Arumi yang belum genap berusia dua bulan. Nalurinya sebagai ibu yang kehilangan anak langsung tersentuh. Rasa sayang menyentuh dasar hatinya saat itu juga. Malilah begitu penasaran, kemana ibu dari Arumi? Keberadaannya pun tak nampak sedari tadi. Hanan dan Bu Ratih tak ada berbicara sepatah katapun soal ibu dari bayi yang disusuinya. Tapi ia takut untuk bertanya. Jangan sampai ia terlihat seperti orang yang kepo. "Sudah tidur lagi Aruminya?" tiba-tiba suara Bu Ratih mengagetkan. Malilah mengangguk. Dengan hati-hati sekali, ia menurunkan Arumi dari pangkuan, dan meletakkan kepala bayi mungil tersebut di atas bantal kecil. "Lila! Itu Dimas sudah datang!" Hanan tiba-tiba memanggil dari luar. Malilah langsung bergerak turun dari pembaringan dan melangkah keluar. Di luar, Malilah melihat Dimas yang takjub melihat isi rumah tempat istrinya bekerja. Semua perabotan dan hiasan tertata rapi. Tanpa sadar Dimas langsung berdecak kagum. "Lila! Kamu baik-baik kerja di sini, biar aku bisa nyusul kamu tinggal disini juga," bisik Dimas. Malilah yang masih kesal tak menjawab. Ia langsung menarik kasar tas dari tangan suaminya. "Kamu! Jadi, kamu suaminya Malilah? Hanan! Kenapa kamu enggak bilang, kalau begajul ini suaminya?" Suara Bu Ratih mendadak tinggi. Sementara itu wajah Dimas berubah pucat melihat Bu Ratih. "Hanan, kamu cari Ibu ASI yang lain saja untuk Arumi. Kalian pulang saja! Aku enggak mau berurusan dengan mereka ini!" ucap Bu Ratih mengusir tanpa penjelasan. "Kenapa, Ma? Enggak bisa dibatalkan. Aku sudah bayar dia untuk satu bulan ke depan, lima belas juta, Ma!" ucap Hanan heran. "Lima belas juta? Ya Ampun!" Mata Bu Ratih melotot mendengar ucapan Hanan. "Kembalikan uang anakku, dan bawa istrimu pulang!" Hardik Bu Ratih pada Dimas. "U-uangnya su-dah ha-bis bayar utang, Bu!" jawab Dimas tergagap. "Lima belas juta, astaga Hanaaan!" Pekik Bu Ratih lalu tubuhnya merosot dilantai dengan sebelah tangan meremas d**a. Dimas sendiri langsung mundur teratur mendekat ke arah pintu keluar. Tanpa kata Dimas langsung tancap gas, pulang. Meninggalkan Hanan dan Malilah yang sibuk menyadarkan menenangkan Bu Ratih. Sejenak keduanya saling lirik dengan perasaan yang sama. Sama-sama penasaran. Ada masalah apa sebenarnya antara Bu Ratih dan Dimas?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN