Dua Lelaki Tanpa Perasaan

1145 Kata
"Mas? Kamu menjualku atau ASIku?" ulang Malilah sekali lagi membuat Dimas langsung menatapnya tajam. Sementara itu wajah Hanan tetap datar saja. "Kamu! Kamu sudah enggak waras ya! Atau jangan-jangan kamu memang sengaja berniat membeliku?" Malilah berbalik sambil menunjuk wajah Hanan tepat di depan hidungnya. Seketika Malilah lupa cara menghormati tamu. "Aku? Membelimu? Untuk apa? Dipakai enggak bisa, dijual pun enggak akan laku!" tukas Hanan sambil mengurut dahi. Kepalanya mendadak pusing mendengar tudingan Malilah. Bukankah tadi Malilah sendiri yang mengiyakan? Kenapa jadi menuduh yang bukan-bukan. "Kalian sudah sekongkol makanya dengan mudah dia mengeluarkan uangnya? Lima belas juta, dan langsung setuju?" Malilah masih tak terima merasa diperjual belikan oleh dua manusia yang sama-sama egois di depannya. Ia menunjuk wajah Dimas lalu berpaling menatap Hanan masih dengan sorot curiga. "Sekongkol bagaimana? Jelas-jelas tadi yang bicara sama dia kamu sendiri!" jawab Dimas santai. "Licik kamu, Mas!" d**a Malilah turun naik menahan emosi. Setelah itu ia meringis karena kembali merasakan cekat-cekit di bagian payudaranya. Hanan berbalik dan melangkah keluar menuju mobil sambil geleng-geleng kepala, meninggalkan pasangan suami istri yang menurutnya aneh tersebut. Sepeninggal Hanan, Malilah tiba-tiba menangis sesenggukan. "Tega kamu Mas. Memanfaatkan keadaan!" ucap Malilah di sela isak tangisnya. "Eh, Lila! Ini namanya rejeki! Aku nukang sampai babak belur dari pagi sampe sore cuma dapat seratus lima puluh rebu. Kamu cuma menyusui aja lima belas juta masa enggak mau! b**o itu namanya kalau nolak! Lima belas juta kerjaanmu cuma duduk manis, pegang bayi sambil nenenin, begini." Dimas berbicara sambil memperagakan wanita yang sedang mengeluarkan payudaranya saat ingin menyusui. Malilah terdiam sambil menelan saliva mendengar ucapan suaminya. Tak lama berselang Hanan kembali menghampiri mereka. Cepat-cepat Malilah menyusut air mata. "Ini! Lima belas juta kubayar di depan! Bisa ikut aku sekarang? Arumi sudah menunggu," ucap Hanan sembari meletakkan amplop berwarna cokelat yang lumayan tebal di depan Dimas dan Malilah. Bak mendapat durian runtuh, Dimas langsung tersenyum lebar. Dalam hitungan detik, amplop tersebut sudah berada dalam genggamannya. "Enggak! Aku enggak mau! Kembalikan!" Malilah merebut amplop beris uang dari tangan Dimas. Malilah berusaha merebut agar bisa dikembalikan pada Hanan. "Rejeki enggak baik ditolak, Lila! Jangan belagu kamu jadi orang! Ingat utang! Buatlah dirimu berguna kali ini!" Dimas langsung merebut kembali amplop tersebut dengan kasar, lalu menyimpannya di bawah p****t. Hanan menarik napas kesal melihat ulah Dimas dan Malilah seperti dua orang anak yang sedang rebutan mainan di depannya. "Aku sudah membayar istrimu. Eh, maksudnya membayar ASI dari istrimu dengan harga fantastis. Apa dia boleh kubawa sekarang? Anakku sudah menunggu di rumah!" tukas Hanan dengan nada mulai meninggi. Ia merasa sudah menunggu cukup lama dari tadi. "Bawa aja! Kubebaskan dia untuk sebulan ke depan. Kamu bebas memerintahnya kapan saja. Tapi, aku akan menemui istriku setelah empat puluh hari. Kamu pahamkan, maksudku? Biasalah, Bro! Kita kan sama-sama lelaki sejati." Dimas menjawab sambil tertawa. "Hem!" Hanan hanya bergumam singkat, dan mengisyaratkan dengan mata supaya Malilah segera mengikutinya. Malilah berpura-pura tak melihat. Tentu saja hal itu membuat Hanan menjadi gusar. "Ayo!" Hanan mendekat dan langsung menarik lengan Malilah untuk berdiri. Hanan merasa sudah membayar Malilah untuk bekerja padanya, jadi ia bebas berbuat apa saja. Demi mengurangi rasa sakit, Malilah langsung menurut. Ia menepis tangan Hanan yang menempel di lengannya. "Aku mau ambil baju-bajuku dulu!" Malilah berbicara dengan nada sedikit ketus. "Aku sudah terlalu lama menonton drama rumah tangga kalian yang membosankan sedari tadi. Aku enggak mau menunggu lagi. Sebaiknya nanti, kamu yang antar pakaian istrimu!" tolak Hanan seketika sambil mencengkram lengan Malilah agar tidak menjauh lagi darinya. "Aman! Bawa saja dia. Pergilah Malilah! Dia sudah membayarmu. Gaji pertama ini untuk melunasi utang-utang kita dulu. Aku akan mengantar pakaianmu nanti, atau besok!" Dimas mengusir karena sudah tak sabar ingin membuka amplop yang ia duduki sedari tadi. Ingin Malilah berontak lagi, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Hati, pikiran, dan badannya masih lemah. Malilah juga ingat, bahwa wanita yang baru saja melahirkan, tidak boleh terlalu banyak bergerak. Lagi pula menentang dua orang lelaki yang sama-sama tak punya hati di depannya sangatlah mustahil. Terpaksa ia pasrah mengikuti Hanan. "Di belakang!" Perintah Hanan sambil membuka pintu depan mobil dan menghempas tubuhnya. Tanpa menjawab Malilah pun masuk dan menutup pintu mobil Hanan dengan sedikit membanting, hingga menimbulkan suara yang cukup membuat Hanan terkejut. "Pelan-pelan aja. Setahuku kamu baru habis melahirkan. Kalau pintu mobilku rusak, gajimu berikutnya akan kupotong separo! Dan suamimu yang keras itu pasti akan menyiksamu!" ucap Hanan sambil menyalakan mesin kendaraan mereka. Malilah diam. Tak ingin membuat mulutnya ikutan lelah ia memilih memejamkan mata selama perjalanan menuju rumah Hanan. *** "Sudah sampai!" ucap Hanan sambil memarkirkan mobil. Sepi. Tak ada jawaban. "Ck! Malah tidur! Ngiler pula! Sampe ke baju-baju! Haishh!"Hanan bergidik jijik melihat Malilah tertidur dengan baju bagian depan yang nampak basah. Sambil menghembus napas gusar, Hanan turun dan mengetuk kaca mobil di dekat kepala Malilah bersandar. "Lila! Lila! Hey! Sudah sampai," ucap Hanan dengan perasaan jengkel. "Emmm .... Eh, kita sudah sampai?" Malilah tersentak menyadari ia hanya sendirian di dalam mobil. Matanya yang masih mengantuk berulang kali mengerjap. "Turun!" Perintah Hanan dengan suara keras. Malilah langsung membuka pintu mobil. "Kamu ini ternyata jorok ya! Tidur nganga, ilernya sampai tumpah-tumpah dibaju. Kalau kerja sama aku, harus bersih. Apalagi kalau menyusui anakku. Makanan, minuman, pakaian, semuanya harus bersih dan sehat!" tatar Hanan begitu kedua kaki Malilah sudah memijak tanah. Malilah menunduk sambil meraba baju di bagian depannya. "Ini bukan iler! Semberono kalo ngomong!" Malilah bersungut kesal. "Terus? Apa?" "I-ni ... ini ... anu. Ah, sudahlah. Aku kesini untuk bekerja bukan buat ngobrol, kan?" ujar Malilah risih bila harus menjelaskan bahwa bajunya basah karena ASInya yang melimpah dan merembes sendiri. "Benar! Kamu cukup pintar ternyata. Tapi kamu harus ingat! Sekarang aku bosmu di sini. Aku sudah membayarmu untuk sebulan ke depan. Jadi, kamu harus tunduk pada semua perintahku! Sekarang, kamu masuk dan langsung mandi!" Perintah Hanan dengan suara yang terdengar agak sombong di telinga Malilah. "Oh, i-iya. Iya. Maaf tadi kelupaan. Masih belum terbiasa." Nada suara Malilah merendah, begitu menyadari dirinya tengah berhadapan dengan seorang majikan. "Jangan iya-iya aja. Iya apa?" Hanan nampak belum puas mendengar jawaban Malilah. "Oh, ya!Han ... eh, maksudnya iya, Pak!" Malilah bingung harus memanggil Hanan dengan sebutan apa. Dari segi usia, sepantaran Dimas. Dari segi status, majikan dan pengasuh. "Jangan cuma Pak. Aku enggak suka. Ketuaan! Panggil aku Pak Bos!" Hanan mengusap dagunya yang nampak dipenuhi oleh bulu-bulu pendek. "Pak Bos?" ulang Malilah heran. "Iya! Kenapa? Keberatan? Aku Bosmu kan tadi kubilang?" tegas Hanan masih dengan jari yang masih bermain di area dagunya. Malilah mengangguk. "Iya, siap ... Pak Bos!" "Nah, iya. Begitu! Sekarang ayo kita masuk!" Hanan langsung menarik tangan Malilah dan membawanya menuju pintu rumah yang sudah terbuka. "Bagus! Aku dijual Dimas yang gila harta di rumah untuk mengabdi dengan Hanan yang gila hormat. Dua-duanya tal berperasaan. Kenapa nasibku begini, Tuhaaan ..." Malilah meratapi nasib di dalam hati. Dengan berat hati ia mengikuti langkah Hanan. Entah seperti apa hidup yang akan ia jalani di dalam rumah itu nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN