Menyewa Detective

2077 Kata
“Makannya biasa aja, jangan kayak orang kesurupan,” ujar Sam tidak tahan melihat tingkah Lian yang sedang melahap beberapa makanan dalam satu waktu sekaligus. Tidak apa-apa jika masih punya tata karma nah, ini. Lian jelas makan penuh emosi. “Pura-pura gak kenal aja,” ujar Axelle sambil sedikit menggeser dan memberinya sedikit punggung tampak, setengah membelakanginya. “Bukan adik gue,” lanjut Aksa melakukan hal sama seperti Axelle. Kana tertawa geli tetapi, tidak bermaksud menertawakan Lian malah dia merasa sangat kasihan sama saudaranya yang satu ini. “Gapapa, nih, makan lagi! Gak usah dengerin mereka. Lian mengangguk, senang masih ada yang perhatian. Dengan cepat pula dia mengusap matanya yang masih panas dengan lengan bajunya. “Hanya lu, yang ngerti gue ‘Na,” ujarnya lanjut mengambil paha ayam yang baru saja diberikan Kana. “Lu saudara sejati gue, yang lain, bukan.” Tiga orang lain mendelik jijik pada Lian meski, tanpa mengatakan apapun raut wajah mereka seolah berkata, ‘Memangnya kami peduli jadi saudaramu.’ Saat ini kelima bersaudara itu sedang berada di warung pinggir jalan, yang mengusung tempat lesehan. Saat di rumah mereka tidak terlalu peduli dengan tangisan Lian, dia anak laki-laki memangnya apa lagi yang membuatnya sedih. Kehilangan orang tua-lah yang terasa lebih tak tertahankan hingga, tidak peduli seberapa banyak tangis Lian saat itu mereka hanya bisa memaksanya untuk ikut pergi keluar. Lian yang pasrah saja ikut, akhirnya tidak tahan untuk mengeluarkan keluh kesahnya di dalam mobil dan hasilnya bukan mengundang rasa perihatin semua saudara-saudaranya malah menertawakannya, senang dengan kemalangannya dan yang paling parah Axelle, kakak sulungnya sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Mawar padanya. Dia bilang. ‘dirinya pantas mendapat tamparan itu.’ Sakit hati Lian mendengarnya. Mawar di dalam mobil saat itu. Tidak hanya menamparnya satu kali terakhir setelah dia mengajaknya berpacaran, tamparan kedua melayang dilanjut ketiga dan keempat. Lalu, berlanjut dengan sesi curahan hati Mawar, yang hanya membuat Lian terpaku diam belum puas sampai di sana Mawar akhirnya menendangnya keluar dari mobil. Dan, yang paling sial! Wanita itu tidak sekalian membuang tas-nya juga tidak membuang minumannya. Padahal saat ini dia sangat kehausan. Dompet dan ponselnya Lian berada di dalam tas-nya, dia tidak bisa meminta pertolongan siapapun. Menerima nasib Lian harus berjalan mencari kendaraan umun tetapi, siapa yang mau memberinya tumpangan jika dihutangi. Dia tidak punya uang sepeser pun di sakunya tetapi, Tuhan masih berbaik hati mengirimkan orang baik memberinya tumpangan meski, harus duduk di belakang bak kosong bekas pengiriman sayuran. Yah, masih beruntung bukan bak’ bekas sampah atau kambing, yang akan menimbulkan bau parah. Mobil bak itu tidak bisa mengirimnya sampai ke rumahnya meski begitu, Lian bersyukur dia tidak harus berjalan kaki. Tidak terbayang jika, dia harus jalan kaki dan akhirnya setelah cukup lama menunggu Lian bisa mendapatkan taksi untuk sampai depan rumah dan ongkosnya dibayarkan oleh penjaga keamanannya. “Ukh, sialan!” umpat Lian mengingat apa yang terjadi padanya hari ini. Dengan penuh kekesalan dia meraup sesuap nasi dari piringnya, memenuhi mulutnya yang kosong. “Udah-udah jangan dibayangin lagi kalo nyeri.” Kana masih dengan baik hatinya mengurus saudaranya, memberinya segelas air takut-takut Lian akan tersedak. “Pulang dari sini, langsung mandi kembang tujuh rupa sana. Jangan ampe terus-terusan ke bawa sial ampe nanti! Masa baru aja nembak cewek lu langsung digampar, gimana pas ngelamar kagak ditembak lu.” “Na, lu, nyumpahin gue?” “Ngga, cuman asal ngomong doank. Gak usah lu pikirin.” Lian mengangguk setuju, focus kembali pada makanannya tidak tahu yang lain sudah menahan tawa. “Ternyata otak pinternya gak nyampe kalo urusan cewek,” celetuk Aksa yang dianggukin yang lain. “Udah malem. Ayo, balik,” ujar Axelle seraya berdiri dan yang lain mengikuti. “Siapa yang bayar?” Keempat adiknya menatap si penanya. “Tentu saja Kakak yang bayar,” sahut Aksa yang paling dekat. “Tapi, gak pa pa kalau Kalau Kakak gak punya malu. Aku aja yang bayar.” “Ya, udah bayar sana,” jawab Axelle tidak ambil pusing. Aksa merengutkan keningnya, akhirnya dia sendiri yang harus bayar. Kakaknya memang tak punya malu. Mendesah, Aksa melihat bukan empat atau lima piring yang harus dia bayar. Beberapa piring lebih banyak diam-diam orang yang sedang galau makan sangat banyak ditambah adik bontotnya, yang masih berpikir jika dia dalam masa pertumbuhan, dua kali tambah. “Untungnya, kita gak makan di restoran. Dasar monster makanan semua,” cibir Aksa sambil membuka dompetnya. Di luar warung. Sam melihat sepanjang jalan diisi warung-warung makanan dari hal makanan ringan sampai makanan berat. Sebelumnya mereka hanya ingin membeli cemilan malam tetapi, berhubung Lian yang merengek kelaparan akhirnya mereka masuk warung makan. Tergoda juga oleh baunya, perut semua orang kembali berderak yang membuat semuanya makan malam lagi. Perut Sam sebenarnya sudah sangat penuh. Baru saja, dia makan sepiring nasi dan dua kali menambah lauk dari ayam goring, panggang sampai lele goreng juga dia habiskan. Meski, begitu mulutnya itu masih saja asam. Masih Ingin mengunyah sesuatu, tergoda melihat hal-hal lain di depannya jelas dia lapar mata. “Kak, jangan dulu pulang! Kita jalan-jalan dulu sambil nurunin makanan. Ayo, ke sana! Kali aja ada yang enak.” “Makanan aja yang diomongin.” Axelle menjewer telinga Sam tetapi, dia tetap mengikuti keinginannya karena masih ada alasan yang baik diucapkan Sam barusan. Sedikit berjalan untuk menurunkan karbo di dalam tubuh. Mereka berlima berjalan bersama sedikit aneh ketika empat yang lain pergi dengan pakaian kasual sedangkan, Lian yang masih dengan pakaian kantornya. Hampir di tengah malam baru semuanya kembali ke rumah. * Di tengah malam Axelle masih melakukan panggilan. Dia sedang berbincang dengan rekanan seorang polisi yang beberapa waktu dia temui. Masih beruntung Haris adalah teman smp-nya dulu, yang kini sedang bertugas di kantor kepolisian. Sebelumnya Ingatan Axelle sedikit buntu ketika, tahu kedua orang tuanya benar-benar karena sebuah kecelakaan. ‘Sebenarnya ini terlihat murni kecelakaan tapi, yang sedikit janggal adalah gesekkan mobil dijalanan meninggalkan bekas menyeret menjauh ke sebelah kanan seolah menghindari sesuatu. Padahal, sudah jelas jika, mobil dari depanlah yang datang menyebabkan terjadi tabrakkan,’ terang Haris dari balik teleponnya. ‘Gimana, Xel? Kamu bisa jelas, hanya ini saja yang aku temuin beberapa hari ini.’ “Apa gak ada yang lain?” ‘Kayak apa?’ tanya Haris sabar. ‘Tkp udah kuperiksa ulang. Tidak ada kejanggalan, betapa disayangkannya gak ada CCTV di tempat kejadian. Padahal jika ada satu saja… mungkin kita bisa melihat situasi seperti apa yang terjadi.’ Kening Axelle mengerenyit. “Benar-benar tidak ada CCTV sepanjang pelintasan itu?” Haris diam sejenak, sebenarnya dia sedikit ragu. ‘Kalaupun memang ada butuh banyak waktu untuk mengidentifikasinya apalagi dengan rentang waktu satu bulan ini … tidak bisa dikatakan cukup terlambat tetapi, semua bisa saja terjadi. Sayang sekali kita tidak sedang dalam sebuah drama korea yang sering aku tonton, kalau saja penyelidikan kepolisian kita bisa sesigap itu banyak kasus akan terungkap.’ Sudut bibir Axelle sedikit terangkat mendengar keluhan temannya ini. Merasa lucu, sesuai sedang membicarakan tentang sebuah drama yang Axelle tahu saja tidak. “Drama dan kenyataan itu tidak bisa dibandingkan, Ris. Terima kasih buat kerja kerasnya.” ‘Aku senang bisa bantu, Xel. Gak perlu sungkan.’ “Oke, sudah sangat larut. Maaf, udah ganggu. Kita ketemu lain waktu.” ‘Siap! Hubungin kapan aja.’ Sambunga telepon terhenti. Axelle mendesah, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur merasa sangat lelah juga penat. Kecurigaan tentang kecelakaan orang tuanya seperti omong kosong, dia tidak menemukan petunjuk kecuali ingatannya yang samar-samar saat malam terjadi kecelakaan. “Gak mungkin salah, itu suara tembakan … tapi, tak ada petunjuk tentang itu. hah!” Lama Axelle merenung, berulang kembali mendesah terakhir kali dia bangkit perlahan. “Hanya CCTV,” ucapnya jika, memungkinkan kamera kecil itu yang bisa menolongnya. “Aku harus mencari orang untuk memeriksa hal ini lagi! Lalu siapa? Ahh… aku lelah!” Malam itu akhirnya Axelle tertidur cukup lelap meski, beban pikirannya bertambah berat. Dia bisa melupakan semuanya di alam tidur hanya seperkian detik setelah kepalanya menyentuh bantal. ** Di pagi hari keributan terjadi di kediaman rumah Evano. Tidak disangka wanita yang jadi penyebab kesialan Lian kemarin ada di rumah mereka dengan senyum sumringah, Axelle melihatnya dan menyebutnya senyum tak tahu malu. Kenapa tidak? Karena yang dia dengar dari Lian semalam bukannya dia menolak Lian bahkan, menamparnya bolak-balik. Sebenarnya, saat mendengarnya Axelle benar-benar kagum pada seorang Mawar ini. Bertahun-tahun mengejar pria lalu, hanya dijadikan kekasih dari belas kasihan saja itu sangat menyedihkan. Lian memang pantas ditampar jika, dia tak pernah tulus untuk mencintai seseorang. Axelle tidak akan membela Lian jika, dia bersalah sekalipun dia adalah adiknya. Tetapi, melihat Mawar saat ini Axelle hanya ingin melayangkan tangannya ke kepalanya yang cantik. ‘Apa yang dilakukan wanita bodoh ini di sini!?’ Pagi buta Mawar bersiap sangat extra! Hari ini akan dijadikannya hari bersejarah baginya, untuk itu persiapannya pun tidak tanggung-tanggung. Senyum secerah mentari pagi hari ia tunjukan pada tujuh bersaudara Evano terkhusus untuk Lian, dia menatapnya begitu lama. Sebelumnya Mawar sudah dipersilahkan masuk oleh Mbak Anik. Berdiri di depan tujuh anak Evano, yang berdatangan dari berbagai arah karena mereka mendengar keributan di depan rumah belum lagi terdengar suara Mbak Anik yang berseru riang. Penasaran semuanya berkumpul di depan dan bertemu dengan mata seorang wanita. Mawar. Di bawah rombongan Mawar. Wanita itu menyiapkan sederet makanan sebagai menu sarapannya beberapa orang sedang menghantar makanan ke meja makan dibantu Mbak Anik. Tidak cukup, dia juga meletakkan beberapa pot bunga. Di luar ada sebuah kontrainer merk coklat. ‘SilverVoice’ . “Selamat pagi semuanya, maaf, ya, aku datang pagi-pagi! Aku udah gak sabar rayain ini bareng sama kalian jadi, aku persiapin semuanya sendiri,” ucap Mawar riang dan ringan. Matanya pun tidak berhenti melirik Lian. “Apa-apaan ini Mawar?” jelas nada Lian bukan orang yang senang diberi kejutan seperti ini. “Kamu udah gak waras, yah? Bawa semuanya balik!” “Siapa yang gak waras! Semua udah aku beli, gak mungkin dibalikin. Aku pesan buat kita semua. Ini cuma sarapan doang.” Melihat Lian benar-benar terdiam akhirnya, membuat Mawar benar-benar memerhatikan jika ada sesuatu di wajah tampannya. Merasa sedih Mawar harus sampai mendekat lalu, pelan-pelan menyentuh pipi Lian, yang jelas tampak merah membengkak bekas tamparannya kemarin. “Pipi kamu gak papa? Maaf, kemarin aku kelepasan tapi, … janji aku bakal nebus hal itu hari ini.” Lian menyentak tangan Mawar, mengerenyit jijik. “Ini gak usah kamu pikirin, aku gak papa. Tapi, cukup kamu bisa pergi.” “Hey, Sayang, jangan marah!” “Sayang? Aku gak pernah jadi sayang kamu.” “Ada apa? Kemarin, kan kamu bilang kalau kita udah bisa pacaran. Aku pacar kamu sekarang dan terserah aku manggil kamu pake sebutan apa.” Napas Lian hampir saja tercekat mendengar penuturan Mawar. Emosinya langsung saja meluap,“Kemarin, kamu udah nolak, kan? Belum lagi kamu tampar-tampar aku. Paling parah, malah ninggalin aku dijalanan gak mikir apa? Aku harus pulang pakai apa… semua tas dan teleponku ada di mobil kamu.” “I-itu, aku gak nolak kamu tapi, kamu emang pantes ditampar!” Awalnya Mawar gugup tetapi, sedetik kemudian kepercayaan dirinya kembali bangkit. “Kamu seenaknya aja mempermainkan perasaanku. Awalnya kamu nyuruh aku pergi lalu, dengan gampangnya terus nembak aku.” Sekarang giliran Lian, yang bingung. “Y-yah, kan, kemarin … aku gak tega,” ucapnya lirih diakhir kalimat. Mendengar hal itu Mawar ingin benar-benar marah, giginya sudah bergemeletuk kesal tetapi, dia tidak ingin menyerah kalah. ‘Peduli setan! Yang terpenting Lian udah mau jadi pacar gue dulu. Perasaanya bakal gue pupuk sampai dia bener-bener cinta nanti.’ “Aku gak mau tahu. Pokoknya, karena kamu udah nembak aku kemarin dari sejak itu kita pacaran.” “Jelas-jelas kemarin kamu gak setuju.” “Kemarin aku gak bilang apa-apa hanya, nampar kamu.” “Kamu pikir ditampar itu gak sakit?” Axelle tiba-tiba menyela pembicaraan dua orang itu. Tatapannya tajam dan dingin memindai Mawar, yang iya atau tidak membuat bulu kuduknya meremang. “Setelah melakukan hal itu lalu, kamu sekarang bicara omong kosong. Apa itu tidak keterlaluan? Atau, kamu memang wanita yang bodoh?” Mawar menghentakkan kakinya sangat kesal, tangannya pun terkepal kuat sudah terangkat pula. Bersiap ingin memukul meski, tak dilakukannya sampai akhir. “Kak Axelle jangan ikut campur. Ini urusanku sama Lian, yang lain gak boleh ganggu!” bidiknya menatap satu persatu saudara Evano, yang terakhir jatuh di depan Axelle. Melebihi niatanya Mawar cukup lama mendelik padanya. “Terserah,” jawab Axelle lalu berbalik pergi menaiki tangga sepertinya dia kembali ke kamarnya. Melihat Kakak sulung mereka yang pergi, yang lain pun melakukan hal sama hanya menyisakan Lian dan Mawar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN