“Lian!” panggil Mawar sambil melambai kecil, melihat pria itu berdiri di depan pintu seolah tengah mencari-cari seseorang. Tentu saja siapa lagi yang dicarinya jika, bukan dirinya.
“Kamu sudah menunggu lama?”
“Ah , tidak terlalu lama. Kemarilah duduk sini!” Mawar menawarkan tepat di sampingnya.
Lian tidak menggubrisnya dan memilih duduk di kursi yang berhadapan dengannya membuat Mawar cemberut. “Tidak nyaman duduk di sana saat kita mengobrol,” ujar Lian mengelak dari tatapan Mawar.
Mendengar alasan tersebut, perasaan Mawar menjadi lebih baik dia tersenyum maklum. “Ok, oh, yah. Aku sudah pesan makanan kesukaanmu tunggu sebentar tidak akan lama lagi.”
Seperti sudah terbiasa, Lian tidak lagi merasa harus komplen. Selalu seperti ini, Mawar mengatur semuanya sendiri. Seolah dia benar-benar tahu apa yang diinginkan Lian, yang sebenarnya sedikit menyebalkan karena yang dipesan memang makanan kesukaannya tetapi, bukan berarti dia terus makan-makanan itu, kan?!. “Kamu pesan apa?” tanyanya akhirnya setelah dia pikir ingin sesuatu yang lain.
“Tramissu cake sama capuccino.”
“Yang itu bungkus saja, aku ingin pesan yang lain.”
“Kenapa? Lihat itu pesanannya sudah datang.”
Dan, yah, Seorang pramuniaga datang membawa nampan berisi pesanan Mawar. Dua makanan dan dua minuman, penuh senyum bersiap menyebarkan di atas meja. Tetapi, lian siap menghalaunya. “Tiramisu cake-nya tolong dibungkus saja dengan empat capucinno untak take away.”
“Ah, iya, Mas. Ditunggu sebentar, ya.” Segera Pramuniaga itu hanya meletakkan satu piring carrot cake dan dua cappuccino di atas meja lalu meninggalkan tamunya mempersiapkan pesanan lainnya.
“Bukannya kamu mau pesan yang lain, kenapa?”
“Itu aku pesan yang lain, kan? Aku gak bisa terlalu lama mengobrol, Mawar. Pekerjaanku masih banyak.”
Raut wajah Mawah gelap dan kecewa, dengan emosi seperti itu Mawar memaku kesal pada cake-nya yang jadi berantakkan. Hilang sudah bentuk awalnya yang cantik. “Kita sudah berapa lama seperti ini?”
“Mawar,” panggil Lian sambil menatap Mawar dengan sungguh-sungguh dan berusaha sangat detil. Rambut hitamnya kini lurus sebahu dan tampak sangat halus, keningnya tidak lagi tertutup poni terakhir kali. Warna alis hitam simetris tampak menegaskan area matanya yang cantik belum lagi dengan bulu mata lentik dan warna bola mata coklatnya yang terang. Hidung lancip, pipi penuh rona merah yang menyegarkan lalu ada dua bibir tipis berlapis lipstick merah yang sudah seperti buah ceri manis, mengkilat dan basah.
Sungguh penampilan fisik tak pernah kekurangan apapun, seharusnya Lian merasa tertarik pada wanita di depannya tetapi, bertahun-tahun ini bergaul dengannya belum ada perasaan seperti itu. Setelah puas, Lian hanya bisa mendesah diam-diam dalam hati dan jika bisa ia ingin memukul dirinya sendiri yang masih saja menyimpan perasaan pada wanita yang belum tentu juga mengingatnya dan dengan jahatnya malah mengabaikan wanita di depannya. ‘Sial, memang! Cinta seperti ini merepotkan saja.’
“Lian.”
“Mawar.” Lian menaikan lagi dagunya ke atas menatap Mawar. “Sudah lama kita seperti ini tidak baik jika, diteruskan. Sedangkan aku juga gak bisa ngasih janji apa-apa sama kamu.”
“Makanya, kita coba pacaran saja,” ungkap Mawar dari dalam hati sebenarnya dia juga lelah berhubungan tanpa status tidak jelas selama ini. “Jangan pura-pura bodoh, kalau kamu gak tahu sama perasaanku. Jangan hanya tahu menghindar. Kamu ini, kan seorang pria.”
“Tapi, kamu juga seorang wanita yang seharusnya tahu kapan harus berhenti mengejar,” ucap Lian meski, pahit di dengar oleh Mawar tetapi dia masih harus jujur dengan perasaanya. Baru saja, ucapan Axelle beberapa waktu berdengung di kepala Lian. Tersenyum miris, jadi mungkin inilah maksudnya. Kembali melihat tatapan Mawar, Lian merasa begitu kasihan. Wanita cantik dan baik di depannya seharusnya tidak perlu terus terikat dengannya, dirinya berhak menemukan pria yang lebih baik.
“Jadi, selama ini kamu benar-benar terganggu dengan kehadiranku.”
“Iya, sepertinya begitu.”
Giliran capucinno-nya yang menjadi korban kekesalan Mawar, mendengar jawaban jujur Lian dia jadi sangat marah. Dia mengaduk cepat isi dalam gelasnya. Melihat tingkah Mawar, Lian pun sama tak nyamannya tetapi, tak mungkin dia terus berkompromi. Tidak akan ada hasil yang baik jika, terus berhubungan seperti ini. “Bertahun-tahun ngejar kamu jadi, hanya ini yang aku dapetin. Gak bisa gini, Lian!”
“Aku udah gak punya waktu lagi, pesananku datang! Aku bayar semuanya,” ujar Lian jauh berbeda dari pernyataan yang dikatakan Mawar.
Trak!
Mawar melempar sendok di tangannya, berdentang tidak jauh dari gelasny membuat bukan hanya Lian yang terkejut tetapi, pramuniaga yang datang dengan gelas pesanan Lian ikut terpaku di tempatnya.
“Maaf, apa ada sesuatu yang salah?”
“Tidak ada! Ini…” Lian segera menyerahkan beberapa lembar uang dan mengambil pesanannya. “Untuk bayar semua.”
“Aku belum mengatakan apapun.” Mawar berdiri merebut uang yang sudah berada ditangan pramuniaga wanita tersebut, menyerahkannya kembali ke tangan Lian. “Ini! Simpan uangmu, aku bukan pengemis. Biar aku yang membayar punyaku sekalian pesananmu.”
“Mawar ….” Lian Speecless melihat Mawar bertingkah marah.
Sesuai ucapannya Mawar melakukan apa yang dikatakannya. Mengeluarkan uang dari dalam tas tanpa ragu dan tanpa melihat tampak bersikap sombong dia juga mengatakan tak perlu kembaliannya dan menyerahkannya pada sang Pramuniaga. “Sisanya, kamu bisa ambil!”
“T-tapi, tapi … ini!”
“Iya, ambil saja,” jawab Mawar pasti. Setelahnya, dia melirik Lian dengan mata tajam dan marah kemudian, berbalik pergi.
Lian bingung sesaat, Mawar tidak mengatakan apapun lagi hanya pergi begitu saja. Merasa resah Lian segera mengejar Mawar, melihatnya sudah akan memasuki mobilnya dia segera menahannya, mencekal tangannya. “Tunggu dulu, jangan marah. Kita bisa bicara baik-baik!”
Mawar menyentak tangan Lian, dia tidak habis pikir dengan pria di depannya bukannya tadi pria ini terganggu dengannya dan untuk apa lagi menahannya pergi. “Gak usah pegang-pegang. Kamu bilang, aku ini ganggu, kan? Oke, mulai sekarang kita gak perlu ketemu atau bahkan lupakan kalau kita saling kenal.”
“Gak gitu juga, Mawar. Aku masih pengen kita berteman tapi, … gak perlu berharap lebih.”
“Kamu itu jahat banget, Ian,” kata Mawar dengan wajah berkerut kemudian, mendorong Lian supaya minggir dia tidak ingin bicara lagi dengannya. Langkahnya adalah memasuki mobil lalu, pergi. Ternyata, memang pengorbanan nya harus berakhir sia-sia, siapa yang bisa menebaknya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar tapi, seharusnya cukup memupuk perasaan namun, akhirnya harus gagal kali ini. Tidak ada yang bisa diharapkan lebih baik membuangnya sekarang meski, awalnya tak rela nantinya juga terbiasa.
Berkelebat begitu banyak kenangan-kenangan juga pikiran-pikiran dalam benak Mawar. Entah itu senang, sedih atau marah saat ini Mawar hanya merasa kepalanya mau pecah. Sakit tetapi, tidak berdarah bahkan, dirinya tak mampu untuk sekadar menangis. Dia terlahir kuat juga sedikit sombong, tidak mudah menangis meski, ingin.
“Mawar.”
“Yah! Ngapain kamu di sini!” pekik Mawar terkejut melihat Lian ternyata ada di dalam mobilnya.
“Aku ngikutin kamu,” jawabnya polos.
“Terus ngapain kamu ngikutin, bukannya gak mau ketemu lagi.”
“Aku gak bisa biarin kamu nyetir sendiri sambil emosi kayak gini. Mending, berhentiin dipinggir jalan biar aku yang gantiin.”
“Bukan, urusan kamu! Lebih baik kamu turun sana!” Mawar benar-benar menghentikan mobilnya di pinggir jalan, menyuruh Lian untuk keluar.
“Kalau kayak gini, aku gak mau turun.”
“Aliando Evano! Sebenernya kamu maunya, apa?”
Menarik napas, Lian tahu seberapa marah wanita di sampingnya setelah dia memanggilnya dengan nama lengkapnya. “Aku gak mau nyakitin kamu sampai kamu marah kayak gini, Mawar. Kamu, tuh, wanita yang baik tetapi, terus ngikutin aku kayak gini tanpa kepastian buat aku juga merasa bersalah.”
Mawar kesal dengan ucapannya yang berbelit-belit, dia memukul keras badan setir tidak dirasakannya lagi nyeri menyentuh tulang keringnya. “Kalau gitu sekarang kamu harus buat keputusan mau jadi pacar aku atau tidak?! Kalau, tidak segera menyingkir dari sini dan aku … janji! Gak akan pernah nemuin kamu lagi atau merasa kenal sama kamu. Lupain semua yang udah aku lakuin buat kamu.”
“Bukan gitu, Mawar. Aku masih ingin jadi teman kamu.”
Plak!
Tangan Mawar melayang begitu saja, rasa sabarnya habis. Dia tidak melakukannya dengan pelan tetapi, penuh dengan tenaga tersisa. Baru kali ini, dia bener-bener kecewa dengan sikap Lian meski, seringkali di abaikan pria di depannya ini dia masih mentoleransinya tetapi, saat ini. Tidak. Mawar tidak butuh dengan rasa kasihannya. “Kamu pikir selama ini aku ngejar kamu cuman buat dijadi temen aja?! Aku gak butuh rasa kasihan kamu dan aku gak butuh sama sekali kamu jadi temanku. Sekarang, pergi dari sini!”
Lian benar-benar terpaku diam, baru kali ini dirinya oleh wanita. Tidak terbayang sebelumnya dia akan diperlakukan seperti ini tetapi, merasa jika memang dirinya pantas mendapatkannya. Mawar tidak lebih terluka oleh perbuatan juga ucapannya. Dia wanita baik-baik dan terhormat juga tetapi, sayang kenapa tidak pernah terpaut pada gadis seperti ini.
“Maafin aku, Mawar. Aku sungguh gak bermaksud apa-apa juga tidak pernah merasa kasihan. Orang yang milikin kamu pasti orang beruntung. Kamu baik dan punya sikap tanggung jawab pula, tangguh dan tidak mudah menyerah seharusnya dari dulu aku sadar. Kamu wanita yang berharga.”
“Pergi! Keluar dari mobil sekarang.” Mawar tidak ingin mendengar omong kosong lagi dari mulut Lian. Dirinya sudah sangat lelah jika, tak tertahan lagi mungkin dia akan menangis dan tak akan bagus sama sekali… jika dia menangis di depan Lian.
“Mawar, ayo, kita coba pacaran?!”
***
“Jadi, makan-makan lagi gak? Apa yah, yang enak?” tanya Sam yang sedang tiduran di pangkuan Axelle.
“Semuanya enak, gak ada yang gak enak. Emangnya tadi kamu gak cukup makan? Memangnya mau makan apa?” Axelle menjawab Sam tanpa melirik ke arahnya, dirinya masih disibukkan dengan tangan yang penuh lembaran kertas. “Suruh Mbak Anik sana, masak yang kamu mau.”
“Hah, bosen! Gak mau masakan Mbak Anik. Kita makan diluar aja, yuu,” ajaknya melirik Sam juga kakaknya yang lain. Di sana ada Aksa dan Kana yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Ctak!.
“Aww!” ringis Sam, mengusap keningnya yang disentil.
“Gak sopan, bilang gitu! Sama orang yang udah bikinin kita makan. Kalau mau makan di luar-bilang aja mau diluar, gak perlu alesan bosen,” ujar Axelle melihat Sam dipangkuannya. Merasa kasihan melihat dahinya memerah akhirnya Axelle lagi, yang mengusap-usapnya terlalu sayang pada adik bungsunya ini. “Maaf, ya. Padahal Kakak rasa sentilnya tanpa tenaga.”
Sam mencebik kesal tapi, tidak menampik usapan tangan kakaknya di kepalanya. Ia hanya berbalik melihat kedua kakaknya yang lain meminta pendapat. “Kak Aksa, Kak Kana. Ayo, makan diluar?!”
“Udah kenyanglah, males keluar,” jawab Aksa.
“Aku, sih, Oke!” Kana mengiyakan. “Kita ke street food-aja, cari cemilan malam. Kayaknya martabak laker enak, deh.”
“Hu-um.” Sam segera bangkit dan mengangguk setuju. “Bagus, pergi sekarang! Kak Axelle, ayo, ikut!”
“Pergi berdua saja sama Kana tapi, jangan lupa bawain buatku juga. Jangan beli cuma makanan manis, Kakak pengen yang panas dan pedes-pedes.”
“Udah gak mau ikut, minta dibawain pula, request lagi!” dumel Sam. “Mending kakak ikut, Ayo! Udah lama kakak gak pernah keliling kota. Sibuk terus sama kerjaan juga, kan?!”
“Ayo, Kak! Bener tuh. Aksa, lu juga ikut! Kita hunting bersama… jarang banget kayak gini.”
Aksa mendesah tapi, mengangguk juga. “Oke, oke! Ayo, pergi!”
“Kak Axelle,”
“Ya, sudah! Kita pergi,” putus Axelle melihat mereka semua ingin pergi. “Coba juga telepon yang lain, kali aja kita ketemuan di jalan. Makan bareng pasti lebih rame,” usulnya ingat dengan ketiga adiknya yang lain, yang masih belum pulang.
“Arvin kayaknya lagi ada latihan teater, Arion anak itu gak tahulah, gak jelas,” sahut Sam yang tahu jadwal kedua kakak kembarnya. “Kalau Kak Lian, harusnya Kak Axelle yang tahu, kan, satu kantor. Masa, dia belum pulang juga.”
“Kakak juga belum liat Lian sesudah makan siang.”
“Ya, udah, gampang itu! Kita hubungin mereka sambil jalan. Ayo, entar keburu malem.” Kana beranjak paling depan mengambil kunci mobil, sudah siap jika dia yang akan menyetir.
“Sam ganti baju kamu dulu! Bisa-bisa nanti masuk angin,” tegur Axelle melihat Sam yang dengan santainya pergi hanya dengan kaos oblong dan celana pendeknya.
“Gak, bakalan!”
“Ganti aja, sana! Cepat.” Giliran Aksa yang mendesak Sam. Sangat tahu mereka akan semakin lama pergi jika, perintah Axelle tidak diikuti. Kadang Kakak sulungnya itu suka jadi diktaktor tetapi, kadang juga bisa menjadi manusia super tak acuh. Sikapnya berubah sesuai mood-nya.
Sam akhirnya kalah, mendengar kedua kakaknya sudah bicara tidak ada tempatnya untuk terus menolak. Secepatnya dia hendak pergi ke kamarnya sebelum orang yang tadi ditanyakan muncul secara tiba-tiba dengan wajah berantakkan. “Kak Lian, kenapa? Wajah kakak merah semua.”
Lian sedikit linglung, melihat semua saudara-saudaranya sedang menatap dia. Kelopak matanya bergetar menahan genangan air mata yang sudah dipelupuk, dia malu sekaligus sedih dan merasa menderita. “Gak kenapa-napa,” ucapnya tertahan tetapi, akhirnya tak kuasa. Lian menjatuhkan dirinya, berjongkok menyembunyikan wajahnya yang tak tahan lagi berurai air mata.