Setelah kejadian di pantry, Kinan bingung harus berbuat apa. Tiap kali matanya bertemu dengan Pak Rangga, Kinan menunduk. Menahan ketakutannya juga rasa marah di d**a. Sedang Pak Rangga membalasnya dengan tatapan sinis. Seolah berkata jika Kinan berani macam-macam dan melaporkan kejadian tadi, maka akan tamatlah riwayatnya. Kinan tak menyangka jika hari pertamanya dimulai dengan sesuatu yang tak menyenangkan seperti ini. Kinan bahkan tak berselera ke kafetaria untuk mengisi perut. Padahal jam makan siang akan selesai lima belas menit lagi. Kinan benar-benar tak tahu harus berbuat apa kini. Jika melaporkannya pada Damian, jelas taruhannya adalah dia dan Pak Rangga terancam dipecat. Apa mungkin dia harus pura-pura kejadian di pantry tadi tak pernah terjadi? Fokus bekerja dan tak perlu

