"Srreetttt..."
"Aarrgggg!" Anton mengerang,luka sayatan di pipinya mengucurkan darah segar,merah,membasahi lantai.Menetes perlahan.
"b*****t kau Adrian!" teriakan Antonius menggema di ruang bawah tanah berudara pengap.
"Bugh!" tendangan tepat ke arah perut.
"Uggghhh!"
"Pllaakkk!" Tamparan mengenai luka sayatan di pipi Antonius.
"Ughh!" uhuk uhuk uhuk!"
"Bang....."
"Bugh!" sebelum selesai berkata pukulan mendarat tepat di perut Antonius.
"Aarrgghhh!" Anton mengerang lagi.
"Apa maumu Adrian?" Anton berteriak keras.
Adrian hanya tersenyum tipis,lalu menggelangkan kepalanya.
"Bugh!" Satu tendangan tepat di d**a Anton hingga membuat tubuhnya terpental ke belakang,kembali lagi ke depan dan terayun di di bawah ikatan tali yang kuat mengekang kakinya,dan posisi kepalanya berada di bawah.
"Ssssttttt!" Adrian meletakkan satu jari di depan bibirnya.
"Sreettt!" pisau lipat mengkilat mulai merobek sisi kanan bibir Antonius.
"Aaaaaarrggghhhhhh!" kali ini Anton mengerang lebih kencang. Matanya mulai tertutup sebagian oleh darahnya sendiri yang mengalir dari mulutnya.Posisi tubuhnya yang digantung dengan terbalik membuat darah yang mengucur mulai merembet di kedua matanya.
"Aku tidak banyak bicara." ujar Adrian.
"Mestinya kamu tahu apa yang harus kamu katakan!" lanjut Adrian.Matanya tajam menatap wajah Antonius.Bagai Harimau yang siap mencabik-cabik mangsanya.
"Oke!"
"Aku akan bicara,lepas ikatanku!"
"Bughhh!" tendangan kembali mengayunkan tubuh Antinius.
Adrian menggerakkan kepalanya dan melihat wajah Derek,memberi kode pada Derek untuk melepas ikatan di kaki Antonius.
"Gedhebughh!" tubuh Antonius terjatuh.
Dengan cepat Adrian bergerak menyeret kedua tangan Antonius menuju ke salah satu sudut ruang bawah tanah itu,
"Byuurrr!"
"Blublubblubblubbbb....!" suara gelembung air dari hembusan nafas Antinius terdengar dari sebuah bak air,Adrian menenggelamkan kepala Antonius beberapa Detik,mengangkatnya,kemudian menenggelamkannya lagi,dia ulang beberapa kali hingga Antonius terbatuk-batuk dan lemas.
"Debugh!" Adrian menghempaskan tubuh Antonius yang basah oleh air dan bercampur darah.
"Tuan,sudah.Dia sudah lemas." derek berbisik pelan di telinga Adrian.Adrin membalas dengan anggukan.
-Dua Jam sebelumnya-
Di dalam ruang gym yang penuh semangat, suara besi saling berbenturan menciptakan soundtrak khas latihan kebugaran. Pria dan wanita dengan tekad kuat menahan beban, dan aroma keringat memenuhi udara.
Derek, dengan postur tubuh yang kokoh, mendekati seorang pria muda bertubuh kekar yang tengah fokus pada latihan beban. Dalam atmosfer yang penuh energi ini, mereka berdua menyatu dengan semangat perjuangan dan dedikasi untuk mencapai kekuatan maksimal. Suasana tegang dan penuh semangat memenuhi ruangan, menciptakan aura yang memotivasi bagi setiap orang yang berada di sana.
"Tambah lagi bro!" ucap Derek pada pria itu.Agar menambah lagi beban di barbelnya.
"Wokey,bantu ya bro." ucap pria bertubuh kekar.
"Siapp!" jawab Derek.
Dengan keluwesan,Derek dalam beberapa menit terlihat akrab dengan pria berkaos merah tanpa lengan itu.
"Sekarang ke benchpress bro." mereka berpindah tempat ke suatu sudut ruang.
"Wah kalau segitu sih kuta sendiri kan bro?" tanya Derek,
"Kuat Bro."
"Sip!" Derek membiarkan pria bernama Antonius mengangkat beban sendiri tanpa membantu di sampingnya.
Ketika Antonius mengangkat beban,Derek memasukkan beberapa tetes cairan bening ke dalam botol minuman Antonius tanpa terlihat siapapun.Gerakan Derek sangat cepat.
Saat jeda mengangkat beban,Antonius mengambil botol minumnya dan menenggaknya.
"Glek,glek,glek..ahhhh...." Derek mendengar Antonius telah meminum air dari botol minumnya sendiri.
Tiga puluh menit berjalan,efek cairan bening yang di teteskan Derek mulai menjalar ke seluruh aliran darah Antonius.
"Wah aku mulai lemes nih bro."
"udahan ah." ucap Antonius.
"Oke bro,aku sebentar lagi bro." ujar Derek agar terlihat nirmal dan tak mencurigakan.
Antonius mulai merasa lemas dan mengantuk.Ketika Derek telah selesai dan memperkirakan efek cairan itu,ia bergegas ke lantai bawah dan berjalan cepat menuju tempat parkir.
Derek melihat mobil Antonius masih terparkir di tempatnya,dan benar sesuai perkiraan Derek.Antonius tertidur di jok kemudi,rasa kantuk dan lemas sudah tidak tertahan lagi.
"Hmmm,dosis yang pas." gumam Derek.Ia telah mengamati Antonius beberapa hari sebelumnya,kebiasaan Anton,detail tinggi badan,berat tubuh dan pola makan minumnya.Derek selain ahli dalam perangkat electronic dan peretasan ia juga menguasasi toksikologi.
Derek telah terbiasa dengan misi-misi berbahaya dalam Organisasi Rahasianya.Untuk melumpuhkan Antonius yang orang biasa ia tidak terlalu kesulitan.
Derek menggeser tubuh Antonius ke jok belakang dan merebahkanya,ia membawa Antonius ke suatu tempat rahasia.
Setelah tiba di ruang bawah tanah,Derek mengikat Antonius dengan posisi tubuh terbalik.Dua jam berlalu.Derek melihat arloji di tangannya,
"Sebentar lagi tuan datang." gumam Derek.Dengan cepat Derek mengambil ember berisi air dan menyiram kepala Antonius.
"Byurrr..!"
"Uhuk uhuk uhuk."
Derek mendekat ke telinga Antonius dan berkata,
"Tuan Adrian akan datang dalam beberapa detik lagi.Katakan semua tentang dirimu dan tujuanmu meneror Tuan Adrian.Mengakula!"
Derek langsung bangkit berdiri,ia tahu bahwa Antonius telah sadar.Derek membuka pintu besi ruang bawah tanah itu dan di depannya telah berdiri Adrian.
"Silahkan tuan!" ucap Derek.
"Terimakasih Derek."
Suasana di ruang bawah tanah penuh dengan kekerasan dan ketegangan. Antonius, terluka dan terikat, menghadapi interogasi tanpa ampun dari Adrian dan Derek. Setiap suara pukulan, tendangan, dan erangan menciptakan atmosfer gelap yang memenuhi ruangan bawah tanah itu.
Antonius, dalam keadaan yang sangat lemah, setuju untuk membuka diri. Adrian dan Derek, dengan dingin,siap mendengarkan pengakuan Antonius.
Sambil masih meringkuk di lantai dengan ikatan di tangan dan kaki.Antonius menahan rasa perih luka robek di mulutnya.
"Oke aku akan katakan semua." ucap Anton.
Adrian duduk di kursi di atas tubuh Anton,Derek berdiri tak jauh dari mereka.
"Kalian aydah tahu namaku,aku di kampus yang sama dengan kalian." ujar Anton terbata,ia seorang mahasiswa dimana Adrian memerankan peran gandanya sebagai prof.Reza.
"Aku di jurusan software engineering,semester awal aku sempat dekat dengan Dewi sebelum kau mendekatinya."
"Dewi semakin menjauh dariku di saat aku semakin mencintainya dan ketika itu kami hampir resmi berpacran."
"Aku sakit hati padamu prof.Reza,dan aku mengikutimu secara diam-diam.Kulacak semua profile kehidupanmu.Aku mendapatkan aktivitas ilegal yang kau lakukan,dan menemukan dirimu sesungguhnya bernama Adrian."
"Aku tahu sebagian aktivitasmu sebagai pimpinan Organisasi mafia."
"Plak!" tamparan Adrian mendarat di wajah Antonius.
"Aku bukan mafia!" ujar Adrian.
"Apapun itu Reza,atau kau Adrian,siapapun kamu,aku tahu kamu mafia."
"Plak," tepat di luka yang merbek mulut Antonius.
"Aargghhh." darah mengucur merah membasahi lantai besi ruang bawah tanah.
Tubuh Antoinus kini merasakan semakin dingin.
Meski bertubuh kekar,Antonius telah merasakan siksaan yang luar biasa di lakukan oleh Adrian membuatnya lemah,dengan luka dan air garam serta dinginnya lantai besi.
"Oke oke.Kamu bukan mafia!"
"Plak!"
"Oke,prof.Reza.Anda prof.Reza Raharja,saya mohon maaf.Saya tidak akan mengganggu lagi hubungan anda dengan Dewi."
"Byurrrr!"
"Ugghhhh..." Siraman air garam dari ember membasuh wajah Antonius seolah membersihkan noda darah di wajahnya,tetapi membuatnya merasakan perih yang amat sangat di luka sayatannya.
"Saya mohon maaf Prof."
Adrian tampak menatap tajam ke arah mata Antonius.Adrian tidak banyak mengeluarkan suara.Ia sebagai Prof.Reza di kampus juga di kenal tidak banyak bicara,ia mengatakan apa yang perlu dikatakan dan semua kalimatnya selalu berisi dan mengatakan hal penting.
"Saya mohon lepaskan saya prof."
"Dan tolong jangan ceritakan ini pada Dewi prof."
"To-tolong saya prof."
"Lepaskan saya prof."