"Kami kelihatan capek, Nak," kata Ibu sambil menyentuh lembut pipi Dewi.
"Ada apa, cerita aja Nak."
"Bu,maaf,Dewi Jatuh Cinta."
"Lho,ya bagus to nak,artinya kamu sudah dewasa." sahut bu Rahma.
"Tapi bu..." Dewi terbata,
Dewi, dengan mata berkaca-kaca, menceritakan perjalanan hidupnya belakangan ini. Ia membuka hatinya tentang kebingungan dan ketidakpastian dalam hubungannya dengan Reza. Ibu dan Ayah mendengarkan dengan penuh perhatian, senyum, dan tangisan bergantian menghiasi wajah mereka.
Langit pagi yang cerah menyambut Dewi saat dia tiba di desa kecil yang dihuni kenangan masa kecilnya. Rumah keluarganya, berdiri kokoh di antara pepohonan hijau, tampak menjadi pelukan lembut yang ia butuhkan.
Dalam suasana damai rumah tua yang penuh kenangan, Dewi bertemu dengan kedua orang tuanya. Ibu, dengan senyum hangatnya, menyambut Dewi dengan pelukan erat yang memberikan kehangatan seperti matahari di musim dingin. Ayah, pria bijaksana dengan wajah bersahaja, menatap Dewi dengan rasa bangga di matanya.
Pak Samsul dengan bijaknya, berkata, "Hidup itu penuh warna, Dewi. Terkadang kita harus menjalani perjalanan yang sulit untuk menemukan makna sejati. Cinta tidak selalu lurus dan mudah, tapi itulah yang membuatnya berharga."
Bu Rahma menambahkan, "Dan terkadang, kembali ke rumah adalah cara terbaik untuk menemukan jawaban. Kamu akan selalu memiliki dukungan dan cinta di sini, di rumah."
Percakapan ringan di teras rumah, di bawah sinar matahari yang memancar hangat, membawa kehidupan baru ke dalam hati Dewi. Ia merasakan kehadiran keluarga, memberinya kekuatan dan kejernihan pikiran.
"Begitu banyak warna dalam hidup, Nak," ujar Ayah Dewi sambil menunjuk ke kebun bunga di halaman.
"Dan kamu, bagian dari lukisan besar itu. Temukan yang membuatmu bahagia."
Malam harinya, keluarga Dewi berkumpul di sekitar meja makan untuk makan malam. Suasana penuh tawa dan cerita, menggambarkan keluarga sebagai tempat kembali yang selalu hangat. Dewi, di tengah kebersamaan itu, merasa bahwa kampung halamannya adalah penyeimbang yang diperlukannya.
Dalam kehangatan rumah dan cinta keluarganya, Dewi menemukan kedamaian dan kekuatan untuk menghadapi perubahan yang menanti di kehidupannya.
Percakapan berlanjut dengan tawa dan canda di antara anggota keluarga. Kak Ardi bercerita tentang pekerjaannya dan Ayah Dewi membagikan pelajaran hidupnya. Ibu Rahma, dengan penuh kebijaksanaan, memberikan nasihat tentang cinta dan kehidupan.Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di teras rumah, ditemani oleh suara riuh angin malam dan gemerisik daun pepohonan. Suasana penuh kedamaian, memberikan kesan bahwa rumah itu bukan hanya tempat fisik, tetapi juga pelukan jiwa.
"Kak,tadi belum selesai ceritanya.Gimana awal ketemunya sama cewek baru kak Ardi itu?" Dewi busa tersenyum lebar kembali setelah bertemu kembali dengan keluargnmanya.
"Haha,pengen tahu aja."
"Ah kak,kan tadi aku juga udah cerita tentang cowokku yang rumit itu."
"Yang jelas cewekku gak serumit pacarmu Dew."
"Hehee,enggak rumit mas," sahut Ayah mereka.
"Lalu apa yah?" respon Ardi.
"itu bagian dari proses."
"Walah,ayah ini sama rumitnya."
"Hahaaa..."
"Ayo kak Ardi,jangan ketawa aja.Suruh cerita kok."
"Ehmmmm,gini Dew,pas kak Ardi ke kafe malam-malam sendirian,lagi gabut tuh waktu itu."
"Trus ada cewek juga sendirian di kafe?" Dewi memotong.
"Ntar dulu,Jadi pas Kak Ardi pesen Nasi Goreng,Karena pesenan gak sesuai Kak Ardi protes tuh."
Ardi bercerita penuh ekspresi.
"Trus trus kak ." Dewi semakin penasaran.
"Kakak kan pesan seperti di buku menu,tulisannya Nasi Goreng Spesial Nanas Kebul Kebul."
"Waktu si pelayan cewek itu nganter Nasi Goreng,Kak Ardi gak liat ada Nanas di Nasgornya,kirain ada Toping Nanas atau di buat gimana gitu."
"Trus kak?" Dewi mencondongkan wajahnya ke depan.
"Nah Kak Ardi marah sama tuh cewek,udah harga mahal ga sesuai lagi."
"Trus cewek itu takut Kak Ardi marah?"
"Enggak lah Dew,Dia nalah ketawa kenceng banget ngakak gitu."
"Lah kok bisa kak?"
"Nah dia jawab gini Dew,Mas... Masnya lihat nama kafe kita kan?"
"Dia malah tanya gitu kak?"
"Iya,Trus kakak baca ulang lagi,di buku menu juga memang ada nama kafe itu,namanya kafe "Canda Tawa.Nah Nanas kebul-kebul itu kata dia kalau kita langsung makan tuh nasi goreng kan panas banget apa lagi pakai Hot Plate gitu,nah kalau kita kepanasan lidahnya sambil ngomong kan jadi ....Huftt.. nanas nanas... alias mau ngomong panas panas tapi ga jelas karena kepanasan."
"Hahaa." Dewi tertawa lebar,Ayah ibu Dewi pun tersenyum mendengar cerita Ardi.
"Gak lucu kali kak." ucap Dewi.
"Lah kamu barusan ngetawain apa?"
"Dewi barusan ngetawain ekspresi kakak pas bilang nanas nanas gitu.Hahaa." Dewi tertawa lagi.
"Jadi cewek itu yang akhirnya jadi pacar kakak?"
Dewi seperti sudah menemukan Jawaban.
"Bukan Dew!" jawab Ardi.
"Loh trus maksud kakak apa kalau bukan dia kom di ceritain?" Dewi nampak kesal.
"Kan kakak belum selesai ceritanya....." ucap Ardi dengan Nada bercanda.
"Tuh Dew,kamu emang gak sabaran kan sama proses..." Pak Samsul menyela.
"Hahaha." Tawa Ardi meledak.
"Hmmmm.Ayah nih bisa aja dihubung-hubungkan."
"Trus hubungan cewek itu kak?"
"Nah kakak tetep marah,tanya sama dia,atasannya mana?"
"Lalu dia panggil atasannya itu,datanglah ke meja kakak Dew."
"Trus kakak Marahin dia juga" sergah Dewi.
"Ya enggak lah Dew!"
"Kok gak marah?"
"Gimana kakak bisa marah,pas dia samperin kakak.Dari jauh tuh udah kelihatan bodinya,wajahnya...hmmmm.. cantik banget,seksi banget,pakai rok hitam pres bodi gitu."
"Hahaaa," Dewi terbahak-bahak.
"Jadi tahu deh.Kak Ardi kalau marah langsung luluh lantak kalau lihat cewek cantik dan seksi.Hahaa...."lanjut Dewi.
"Kampret nih anak.minta di ceritain.malah sekarang menghujat!"
"Hahahaa..."
"Tulilut...tulilut...tulilut..." suara ponsel Dewi memecah suasana.
Dewi melihat panggilan telepon,Nama "Reza" muncul di layarnya.
"Cuit cuit... belum sehari pergi sudah di cari..." Canda Ardi sambil menyinyirkan bibirnya pada Dewi.
"Hmmm." Dewi hanya menggumam.
Ayah Dewi,Ibu dan kakaknya langsung bubar dan menuju ke dalam rumah ketika Dewi hendak menerima telepon.
"Halo,Reza."
"Dew,kamu dimana? aku ke rumah kok kosong?" ucap Reza yang berada di depan rumah kontrakan Dewi.
"Aku pulang," ucap Dewi singkat,Reza paham artinya bahwa Dewi pulang ke rumah orang tuanya di Jawa Tengah.
"Tanpa Berita ya Dew!" ucap Reza,menyindir Dewi tidak berpamitan padanya.
"Sory Reza,aku pengen menenangkan diri sebentar." Dewi berujar sambil memandang langit.
"Baiklah Dew,lain kali info aja kalau pergi jauh.Jadi gak bikin khawatir."
Ucap Reza merendahkan nada bicaranya.
"Ya Reza,maaf.Sudah selesai semua urusanm?"
"Sementar sudah Dew.Minggu depan aku keluar kota lagi."
"Bagus lah.Sering-sering keluar kota aja."
suara Dewi terdengat sewot.
"Tapi minggu depan aku keluar kota mau ajak kamu." ucap Reza di seberang telepon.
Dewi terkejut,"Jangan Php,kemarin juga pernah mau ajak keluar kota tapi gak jadi."
Reza menyahut,"Kan acara di luar kota itu juga batal Dew," Reza berusaha menjelaskan.
"Emang gak bisa ya kalau acaramu batal tapi acara kita keluar kota tetep jalan." Dewi terdengat masih ngambek.
"Haha,Dew,kok kamu beda sekarang ya.Kok jadi manja gitu?" Reza terkekeh di seberang sana.
"Biarin!" tungkas Dewi.
"Apa kalau lagi jauh gini ya Dew,tapi kalau dekat kamu ga brani sewot dan marah gini kan?"
"Kalau lagi sewot ya sewot aja,gak ngaruh jauh sama deket!" Dewi makin meninggi.
"Beneran....?" Reza yang lebih dewasa tidak marah dengan reaksi Dewi,tapi justru mengajaknya bercanda.
"Iya bener lah!" jawab Dewi.
"Ya udah kalau emang bener buktikan ya...Sekarang Share Lock.Aku susul kamu sekarang." Reza memutuskan malam ini akan melakukan perjalanan menyusul Dewi.Dia merasa Rindu ketika mendengar suara Dewi dengan lagak manja.
"Oke,siapa takut."
"Tut tut tut..." Dewi menutup Telepon.
Kemudian Dewi membuak aplikasi pesan dan mengirim Titik Lokasinya pada Reza.
"Mana mungkin juga dia dari Jawa Timur mau nyusul jauh-jauh kesini malam ini,lalu pagi-pagi sampai di sini." Dewi bergumam tentang kemustahilan.
Reza menerima pesan masuk dari Dewi yang membagi Lokasinya.