Dewi menghirup udara segar pagi, langit yang cerah memancarkan semangat baru. Namun, kejutan menyambutnya ketika ia melangkah keluar. Mobil Reza sudah berada di depan rumahnya, tapi yang membuatnya terkejut adalah Reza tertidur pulas di jok depan mobil.
"Duh, Reza! Ngapain kamu di sini?" tanya Dewi, mencoba membangunkannya dengan lembut.
Reza terbangun dengan kantuk di matanya, "Hmm, pagi, Dew. Aku datang menyusul kamu, tapi sepertinya aku tertidur."
Dewi tertawa, "Kamu nekat juga ya,Jam berapa kamu sampai?"
Reza mengucek matanya, "Jam empat tadi Dew,aku berusaha beri kamu kejutan."
"Kenapa kamu gak terkejut Dew?" lanjut Reza bercanda.Jok mobilnya masih dengan posisi setengah berdiri.
"Hah,tadi aku udah terkejut Rez." sahut Dewi dengan senyum kegi.
"Mana,aku belum lihatt.." Reza masih malas beranjak.
"Hhiiihhh,udah ayo turun!" Dewi menarik tangan Reza.
"Cepetan,kalau di lihat tetangga gak enak." sergah Dewi.
Mereka berdua tertawa bersama, memulai pagi dengan ceria dan kejutan yang tak terduga. Dewi menyambutnya dengan senyuman, tak menyangka bahwa pagi ini akan menjadi awal dari petualangan yang penuh kejutan.
Reza akhirnya bangkit dari jok mobilnya, menggosok-gosok matanya yang masih setengah terpejam. Dewi memandu Reza masuk ke dalam rumahnya yang memiliki fasad sederhana namun terkesan sejuk, dengan halaman yang dikelilingi oleh pepohonan hijau.
Mereka melangkah masuk ke ruang tamu yang dihiasi dengan nuansa hangat. Orang tua Dewi, Ibu Rahma dan Pak Samsul, menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Selamat pagi,Pak,ibu.Saya Reza teman Dewi," sapa Reza sambil memgulurkan jabat tangan hangat.
"Selamat pagi,Mas," jawab bu Rahma.
Pak Samsul menyambut Reza dengan bersalaman, "Mari mas,silahkan,ya begini rumah Dewi di kampung."
Dewi menuntun Reza ke ruang tengah, di mana kakaknya, Ardi, sedang duduk santai. Ardi menyambut Reza dengan senyuman ramah,
"Eh, ada tamu nih. Reza, kan? Dewi cerita banyak tentang kamu."
"Kenalkan Rez,ini kakakku satu-satunya." ujar Dewi.
"Ardian." kakak kandung Dewi menjabat tangan Reza.
Reza menerima salam hangat dari kakak kandung Dewi,lebih hangat terasa di dadanya,ia sedikit terkejut mendengar nama kakak Dewi."Ardian" sebab dalam kehidupan gandanya,Reza adalah "Adrian" sang Putra Mahkota.
Reza tersenyum, merasa diterima dengan baik oleh keluarga Dewi. Mereka kemudian duduk bersama di ruang keluarga,
"Ayo siapa yang mau mandi duluan?" tanya Dewi pada semua orang di ruang itu.
"Ayah duluan ya,Ayah ada tugas pagi." sahut pak Samsul.
"Rez,kopi ya?" Tanya Dewi sambil menatap Reza.
"Kak Ardi mau Kopi juga?" Dewi memamdang ke arah kakaknya.
"Tumben mau bikin kopi buat kaka?'' jawab Ardi.
"Kan sekalian kak...tinggal jawab mau apa enggak." Dewi melangkah ke arah dapur.
"Hahaa,ada pacarmu kok masih sewotan Dew,emang boleh....?" Canda Ardi sambil terkekeh.
"Jam berapa dari rumah mas?" tanya Bu Rahma pada Reza dengan suara santun yang khas lembut Jawa Tengah.
"Oh tadi malam saya dari kontrakan Dewi jam 11 malam bu,santai kok bu perjalananannya."
"Owh dari kontrakan Dewi..." suara pelan bu Rahma seperti lantunan lagu.
"Iya bu,saya kira Dewi di kontrakan,eh ternyata sudah sampai di sini.Lalu saya menyusul." ucap Reza menjelaskan.
"Wah,jadi tahu Dewi lagi pulang langsung nyusul?" sahut Ardi.
"Iya mas," Reza menjawab.
"Kopi panas kopi panas.... " Suara Dewi dari arah dapur smbil membawa nampan berisi tiga cangkir kopi.
"Hmmmm aromanya...mantap!" Ardi menghirup aroma kopi panas yang menyebar di ruang keluarga.
"Jelas mantap lah.Siapa dulu yang bikin." Deei menyahut.Reza mengamati gerak tubuh dan wajah Dewi yang berjalan menuju ke arahnya.
Reza bergumam,"Tanpa polesan make up dan kondisi belum mandi Dewi terlihat cantik dan anggun."
Reza terkesima dengan apa yang ia lihat,pakaian Dewi yang sederhana pagi ini di rumah,justru membuatnya terkesan sangat luar biasa.Aura Dewi terpancar penuh kelembutan,menampilkan gabungan antara kepolosan dan kecantikan alami yang begitu sempurna.
"Aduh,bahaya,jangan sampai aku jatuh cinta terlalu dalam." ujar Reza dalam hatinya.
"Ibu ke dapur Masak dulu ya." pamit bu Rahma pada Reza.
"Iya bu,"
"Dewi bantuin ya bu."
sahut Dewi hendak bangkit dari duduknya.
"Nggak usah Nak,kamu temani mas Reza aja di sini."
"Hmmm,ibu." Dewi tersenyum ke arah ibunya,bu Rahma membalas senyum anaknya dengan Kerlingan sebelah matanya.
Pagi itu, suasana rumah Dewi dipenuhi kehangatan dan tawa. Reza merasa seperti menjadi bagian dari keluarga itu sendiri, dan Dewi bahagia melihat kedua dunianya bersatu dalam momen yang penuh kejutan dan kebahagiaan.
Reza mendengar derap langkah yang kaku dan berat mendekati pintu. Suara sepatu militer pak Samsul memberikan kesan ketegasan di setiap langkahnya.
"Hah!" Reza menyembunyikan rasa terkejut dalam hatinya,
"Ternyata Ayah Dewi Tentara." gumam Reza.
"Mas Reza,saya tinggal dulu ya,santai saja mas jangan sungkan-sungkan." ucap Pak Samsul di depan pintu.
"Baik pak,terimakasih pak." Reza menjawab sambil berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah pintu,seolah melepas kepergian pak Samsul.
Dewi mengambil tempat duduk di sebelah Reza, sambil menggenggam cangkir kopinya dengan lembut.
"Senang ya bisa kumpul di pagi hari seperti ini," ujarnya, memecah keheningan yang tercipta sesaat.
Reza mengangguk setuju, "Iya, Dew."
"Mas Kopinya." Ardi mengangkat secangkir kopi dan menyesapnya sambil mempersilahkan Reza.
"Ya mas." Reza membalas senyum Ardi dengan ramah kemudian mengangkat cangkirnya.
Suara sepatu dan penampilan pak Samsul dengan seragam militer Pasukan Khusus mengingatkan Reza pada masa lalunya beberapa tahun ke belakang.
Reza mengingat dengan jelas momen ketika usianya baru 25 tahun. Prof. Chipto, membawanya ke sebuah pusat pelatihan militer pasukan khusus di Rusia.
Udara dingin dan tajam menyergap saat mereka tiba di lokasi yang terpencil. Langit terbentang luas dengan salju putih yang bersih, menciptakan lanskap yang kontras dengan misi serius yang akan dihadapi.
Pusat pelatihan itu memiliki bangunan-bangunan kuno yang tersembunyi di tengah hutan lebat, jalanan setapak yang dibuat oleh jejak-jejak tentara yang telah melalui pelatihan berat. Mereka diterima oleh instruktur-instruktur yang terlihat serius dan tegas, dengan seragam mereka yang rapi dan ekspresi wajah yang tegas.
Ingatan Reza dipenuhi dengan suara tembakan, instruksi keras, dan latihan fisik yang ekstrem. Pelatihan di Rusia itu menjadi landasan yang membentuknya menjadi seorang yang terlatih dengan baik. Dia belajar tentang taktik, strategi, dan keberanian di bawah tekanan. Pengalaman ini menciptakan dasar kuat untuk keterampilan militer dan naluri bertahan hidupnya.
Reza menghela nafas panjang,"Hufftttt...."
"Capek ya mas? istirahat dulu aja mas." Ardi berkomentar mendengar dengusan nafas Reza,meski Reza melakukannya dengan suara pelan,masih terdengar di telinga Ardi.
"Hehe,lumayan mas,saya memang suka gak tahan ngantuk kalau perjalanan malam." Reza menyembunyikan penyebab dengusan nafasnya.
"Setelah mandi nanti istirahat aja tidur dulu mas."
ucap Ardi lagi.
"Santai mas,sudah biasa kok."
Reza memjawab.
"Bapak dinas di Kopasus mas?" Reza mencoba menggali pembicaraan.
Ardi menjawab,"Iya mas,"
Ardi tidak menjawab lebih,dan Reza memahami situasi ini.Reza paham bahwa kedinasan di dalam Kopasus memiliki kerahasiaan.Apa lagi dengan pangkat yang menempel pada pakaian militer seperti yang Reza lihat,pasti Ayah Dewi bukan orang sembarangan.
Mereka menikmati kopi dan berbicara dalam obrolan ringan. Reza melihat foto-foto keluarga di dinding, dan matanya terhenti sejenak di sebuah foto lama Ayah Dewi berseragam militer.
Reza melihat Ayah Dewi yang masih muda dengan seragam militernya,berfoto dengan beberapa orang.Ia mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat,masih dari tempat duduknya.Reza menyentuh frame kacamatanya seolah membenarkan letak lensa di depan retinanya.
"Apa tidak salah yang ku lihat?" Reza bermonolog.
Reza menatap wajah dalam foto itu lebih tajam.Ia melihat wajah ayahnya,Hardi Kusumo ada di antara barisan orang yang berfoto di depan sebuah Tank Tempur.