Reza terdiam sejenak, mencoba memproses informasi yang baru saja dia temui di foto tersebut. Tangannya masih menyentuh frame kacamata, dan matanya fokus pada wajah sang Ayah Dewi dan ayahnya sendiri di masa lalu.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" gumam Reza dalam hati, mencoba menyusun puzzle yang belum sepenuhnya jelas.
Dewi, yang duduk di sebelahnya, menyadari keheningan Reza.
"Ada apa, Reza?serius banget lihat fotonya." tanyanya sambil mengamati ekspresi wajah Reza yang kini tampak serius.
Reza memutuskan untuk berbagi temuannya, "Dewi, ini Ayahmu, kan?" ucapnya sambil menunjuk foto tersebut.
"Itu waktu dinas dimana Dew?"
Dewi mengernyit, mencoba mengingat momen itu. "Oh,iya itu foto Ayah dulu waktu masih muda lah... Tapi aku nggak tahu juga itu dimana."
Reza merenung sejenak, lalu bertanya,
"Ayahmu pernah cerita tentang masa dinasnya?"
Dewi menggeleng,
"Ngga pernah, Rez. Ayah jarang membuka cerita tentang masa lalunya di militer."
Ardi seolah tak mendengar percakapan Reza dan Dewi karena sibuk dengan ponselnya.
Reza mengangguk, tapi rasa ingin tahunya semakin besar. Dia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik cerita kedinasan Ayah Dewi. Dalam Organisasi yang didirikan ayahnya memang memiliki banyak sisi gelap bisnis,bahkan masuk ke ranah politik dan militer,membangun konspirasi di banyak sisi.
Reza tidak mungkin mengatakan pada Dewi bahwa foto ayahnya ada dalam jajaran bersama ayah Dewi.Sebab jika ia mengatakan itu sama dengan membuka jati dirinya yang adalah Adrian seorang anak pemimpin mafia.
"Kelihatan keren ya Dew di depan tank gitu." rasanya kalimat Reza tidak penting,itu hanya sekedar basa basinya.
Dewi berpikir sejenak, lalu menggeleng, "Ahhh biasa aja kali Rez."
"Eh Reza,kamu mau mandi dulu gak? trus istirahat aja dulu di kamarku.pasti capek kan habis perjalanan jauh." ujar Dewi sambil menggandeng Reza ke kamarnya.
"Mas Ardi,Maaf,saya mandi dulu ya." Reza berpamitan santun pada kakak Dewi.
"Oya mas,silahkan,lanjut istirahat aja dulu."
sahut Ardi.
Reza mengekor di belakang Dewi menuju kamar Dewi.Kamar Dewi terasa hangat dengan nuansa warna pastel dan dekorasi yang sederhana namun menyenangkan. Dinding putihnya dihiasi dengan lukisan-lukisan kecil dan foto-foto keluarga. Sebuah karpet empuk berada di tengah ruangan, memberikan sentuhan kenyamanan.
Kasur berukuran sedang di sisi kiri.Pintu kamar mandi terletak di sisi sebelah kanan kamar. Kamar mandi tersebut memiliki desain modern dengan ubin keramik bersih dan cermin lebar di atas wastafel. Sebuah pancuran terpisah dengan tirai yang transparan menambah kesan elegan dalam kamar mandi yang tidak terlalu besar.
Dewi membuka pintu lemari di sisi lain kamar, mengungkapkan deretan pakaian yang rapi tersusun. Dewi mengambil sebuah handuk putih.
"Pakai Handuk ini Reza." ucap Dewi sambil mengulurkan tangannya yang memegang handuk.
Reza menerima handuk dengan tangan kanan,sekaligus memegang tangan Dewi yang masih memegang Handuk.Menarik Dewi mendekat ke tubuhnya.
"Emuach!" Kecupan lembut Reza mendarat di kening Dewi.Dewi tersipu.
Di samping almari,Sebuah meja kecil dengan cermin di atasnya berfungsi sebagai tempat untuk Dewi merapikan rambut dan dandan.Tetapi saat ini memantulkan bayangan mereka berdua sedang saling berpelukan.Reza memeluk Dewi dengan hangat dan mengulum bibirnya.
"Rez,katanya mau mandi...." ucap Dewi ramah sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Reza mengangguk sambil tersenyum,
"Terima kasih, Dew." Ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan diri setelah perjalanan antar propinsi semalaman.
"Reza,pakai air hangat biar enak badannya." ucap Dewi dari depan pintu kamar mandi.Dewi masih memandangi Reza sebab Reza tidak menutup pintu kamar mandi.Setelah semua pakaian di tubuh Reza terlepas,ia menyalakan kran shower.Gemercik air mulai terdengar,Dewi masih mengamati Reza sambil tersenyum.
Dewi melihat guyuran air shower membasahi tubuh atletis Reza,perut sixpack Reza membuat Dewi menggigit ringan bibir bawahnya sendiri.Reza melihat ke arah Dewi yang memperhatikannya sejak tadi.
Reza menganggukan kepalanya memberi tanda pada Dewi agar menyusul dirinya ke kamar mandi,Dewi menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum menggoda.
Setelah selesai mandi, Reza merasa lebih segar. Dia keluar dari kamar mandi dan menemukan Dewi sudah menyiapkan segelas air hangat di atas meja kecil.
"Minum dulu, Rez. Lalu, kalau kamu mau, bisa tidur sebentar di kasur itu. Aku udah siapkan semuanya," ajak Dewi dengan perhatian.
Reza mengangguk,
"Terima kasih, Dew. Kamu baik sekali."
Ia duduk di tepi kasur, meminum air hangat, sambil mencoba merenungkan langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil dalam menyusun puzzle masa lalu yang semakin kompleks.
Reza menepuk-nepuk kasur di sebelah pahanya,memberi tanda pada Dewi agar duduk di dekatnya.Dewi melangkah mantap dan menempelkan tubuhnya pada Reza.Keduanya reflek berpelukan,Reza menggerakkan tangannya menelusup ke dalam baju Dewi.
"Eitz,masih pagi aja udah mau hot-hot an." cegah Dewi sambil menahan tangan Reza.
"Hehe," Reza hanya tersenyum.
"Bentar Rez,aku mandi dulu bentar." ucap Dewi seraya meninggalkan Reza.Tetapi bukam menuju ke kamar mandi Dewi terlihat di mata Reza tampak keluar kamar dan meninggalkanya.
Dewi melihat ruang keluarga tempat mereka berkumpul tadi.Ardin juga sudah tidak nampak di ruang itu.Dewi menuju Dapur,
"Buas Ardi kemana?" tanya Dewi menyelidik.
"Ehm,katanya mau ke rumah Lek No Dew,mau lihat ayam gitu." jawab ibu Dewi yang masih menyiapkan masakan.
"Ohhhh." mata Dewi mengamati bahan-bahan makanan di meja racik yang telah disiapkan ibunya,Dewi melihat kemungkinan ibu masih agak lama menyelesaikan semua masakannya.
Dewi kembali ke kamarnya,menutup pintu dan menguncinya.Dia melihat Reza masih belum tertidur.
"Lho kok belum tidur?" tanya Dewi pada Reza.
"Lho kamu juga katanya mau mandi Dew?" Reza bertanya-tanya mengapa Dewi keluar beberapa saat sebelum mandi tapi tidak mengambil atau membawa barang apapun.Reza tidak tahu jika Dewi ingin memastikan keadaan di luar.
"Iya memang mau mandi kok." sahut Dewi.
"Kamu bobok gih?" lanjut Dewi sambil menuju kamar mandi.
"He em,* Reza mengangguk.
Saat berjalan ke kamar mandi Dewi sengaja menggerakkan pinggulnya.Reza mengamati Dewi dengan seksama, menikmati setiap gerakan tubuh kekasihnya itu.Sebelumnya Dewi sengaja melewati Reza dengan jarak yang cukup dekat, memberikan sedikit sentuhan di pundak Reza dengan tangannya yang lembut.
Reza tersenyum kecil, menyadari keusilan Dewi. Dia merasa ada kehangatan yang tumbuh di antara mereka. Setelah Dewi masuk ke kamar mandi, Reza memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur pikiran dan perasaannya yang sedang berkecamuk.
Gemercik air terdengar samar di telinga Reza.
Beberapa saat kemudian, Dewi keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melilit di sekitar tubuhnya. Wajahnya masih terlihat segar dan ceria.
"Sudah bobok, Rez?" tanya Dewi dengan senyum manisnya.
"Belum, Dew. Masih ada hal yang kupikirkan," jawab Reza sambil duduk tegak di kasur.Wajahnya tampak serius.
Dewi mendekati Reza, duduk di sebelahnya. "Apa yang membuat kamu gelisah, Rez? Ceritakan dong sayang."
Reza menghela nafas, memutuskan untuk membuka hatinya kepada Dewi. "Ada sesuatu.... yang lebih besar dari yang kubayangkan."
Dewi menatap Reza dengan serius, "Ada Apa Reza? Aku ada di sini lho."
"Hmmmm." Reza bergumam.
"Ayo cerita,apa yang kamu maksud tadi?sesuatu yang lebih besar dari yang kamu bayangkan apa Rez....?" Dewi memaksa Reza bercerita.
Reza terpejam dan terdiam di samping Dewi.
"Rez,kok malah diam?" Dewi memegang kedua pundak Reza.
"Reza!" Dewi mengulang memanggil Reza.
Tiba-tiba Reza membuka matanya dan dengan cepat melepas handuk putih Dewi.Lalu berkata dengan cepat,
"Ini!"