Seketika Handuk Putih teronggok di lantai,tangan Reza yang dengan cepat menarik ujung gulungan handuk kini telah mendarat dan mencengkeram daging kenyal coklat langsat yang berwarna lebih cerah dari kulit tangan Dewi.
"Ahhhh Reza kamu nakal,aku kira apa? aku udah nanggepin serius tau?"
"Aku juga serius Dew,tadi aku kan bilang,sesuatu yang lebih besar dari yang aku bayangkan."
"Hihihi hihi.." mereka berdua terkekeh dengan ulah Reza.Pikiran Dewi telah kalut mengira perkataan Reza sesuatu yang sangat serius.Ternyata,Reza telah melihat utuh kedua d**a Dewi ketika ia sedang mandi.
Tubuh mereka terasa segar,setelah sebelumnya Reza selesai mandi kemudian Dewi juga mandi bergantian.Kini mereka melanjutkan keasyikan dari canda mereka.Dewi pagi ini benar-benar merasa tersanjung,dia tidak mengira Reza akan serius menyusul ke kampung halamannya.
Reza seolah membuktikan kesungguhan cintanya dan keseriusan hubungan dengan Dewi.Dengan hati yang terbawa suasana gembira,rasa tersanjung dan ditambah lagi Dewi melihat Reza pagi ini membersihkan diri di kamar mandinya tanpa menutup pintu,Dewi melihat sosok Reza sebagai pria matang yang sempurna.Meski Dewi tahu bahwa usianya terpaut sepuluh tahun lebih muda,ia melihat Reza seperti sosok idaman bagi banyak wanita.
Tampilan tampan dan perfectionist Reza,kemapanan sebagai Dosen pengajar Fakultas Psikologi,pendapatan yang lebih dari cukup dan karakter Reza yang menarik menjadi daya tarik yang mampu membuat Dewi terbang tinggi.Bahkan pagi ini Dewi siap untuk dibawa terbang lebih tinggi oleh Reza.
Dewi sebelumnya telah memastikan kondisi seisi rumah,lalu menutup kamar dan menguncinya kini Dewi masuk ke dalam penyerahan diri untuk menabur benih-benih asmara di pagi yang penuh kejutan.
Reza dengan ketampanan yang menawan membuat Dewi mabuk,bibir Reza yang tadi hanya melumat bibir Dewi telah beranjak pergi melakukan gerilya ke tempat lain yang lebih indah.Lekukan tubuh Dewi yang biasanya tertutup dengan pakaian casual dan nuansa profesional pagi ini terlihat jelas di kedua mata Reza.
Tangan Adrian tak ingin kalah oleh gerakan gerilya bibirnya,tangan kanan Reza lincah melahap setiap tempat yang belum pernah ia datangi,sedangkan tangan kiri Reza menggenggam tangan kanan Dewi yang berada di atas kepala Dewi.kedua tangan mereka saling menggenggam seolah tak ingin berpisah,Dewi sesekali menggigit bibir bawahnya saat bibir Reza semakin ganas bergerilya di sekitar kedua pahanya.
Kedua tubuh mereka masih saling memberi hawa dingin efek air yang baru saja mengguyur tubuh mereka setelah mandi.Dingin di luar,tetapi hangat di dalam ketika lidah Reza masuk menyibak diantara selangka Dewi.
"Aahhhh,Rez kamu nakal." Dewi merasa bergidik dan bulu kuduknya berdiri saat lidah Reza berputar-putar di area terlarang.
Pagi penuh semangat membawa dua insan ini saling tersenyum bahagia.Dewi dengan sengaja membuka kedua pahanya lebih lebar dan mengangkat sedikit pinggulnya,ia telah siap menerima sentuhan tajam cinta Reza.
"Basah banget ya Rez?" bisik Dewi di telinga Reza ketika kepala Reza kini berada di leher Dewi dan masih menuntun lidahnya bergerilya.
"He em..."
Reza mulai menggerakkan secara teratur tubuhnya dan meramu pengalamannya untuk membuat Dewi bahagia pagi ini.Dewi yang masih lugu hanya mengikuti irama yang 7n mainkan.
"Rez,kalau nempel gini kelihatan banget kulitku lebih gelap ya?" Dewi mengamati tubuh Reza yang berkulit putih dan melihat kontras dengan warna kulitnya.
Reza hanya tersenyum dan terus melakukan pergerakan yang memiliki irama teratur.Mereka berdua melalukan dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan.Dewi mulai meremas rambut panjang Reza.
"Aduh Rez,aku mau pipis."
"Eemmm,gak apa-apa sayang,itu bukan pipis kok,jangan di tahan."
Tubuh Dewi bergetar hebat,
"Ahhhhh,kamu nakal Rez...."
Dewi memegangi tepian kasur dengan tangannya,seolah dia sedang menahan sesuatu.
"Hhmmmphhhh...." bibir Reza mendarat di bibir Dewi dan menahan agar Dewi tidak bersuara terlalu keras,Reza khawatir jika sebentar lagi ia akan menambah kecepatan ritme gerakannya membuat Dewi berteriak.
Dan benar ketika Reza mulai berakselerasi dengan pinggulnya Dewi seperti akan berteriak,tetapi karena bibir Reza telah menutup bibir Dewi maka hanya muncul suara seperti seorang sedang terhimpit sesuatu.
Di akhir gerakan Reza mengejang dan melengkungkan tubuhnya kemudian berusaha menarik tubuh bagian bawahnya,tetapi gerakan Reza kalah oleh gerakan kedua tangan Dewi yang lebih cepat menahan tubuh Reza dan menjerembabkan ke arah d**a Dewi.
"Eh Dew kok malah di tahan,jadi keluar di dalam tuh."
"Hah! aku kan gak tau Rez,kirain mau kamu lepas.Aku lagi enak banget.... jadi ya ku tarik badanmu.Pelukan gini enak Rez."
"Tapi Dew,ini di dalam Lho.ntar kalau jadi gimana?"
"Gak apa-apa Rez,aku siap kok jadi istrimu."
"Degh!" Reza terhenyak.
Reza tidak pernah terpikir akan menikah secepat itu.Masih banyak hal yang harus ia lakukan sendiri tanpa seorang istri.Kehidupan gandanya di lain sisi membutuhkan kehadirannya tanpa pasangan kekasih atau istri.Sisi kehidupan yang gelap dan sangat beresiko tinggi.Reza segera melepaskan diri dari pelukan Dewi.Ia berusaha dengan bahasa tubuh yang lembut agar tidak menyinggung perasaan Dewi.
Reza duduk di pinggir kasur dan membelai rambut Dewi yang masih terbaring dan menunjukkan seluruh tubuhnya di hadapan Reza.
"Udah gak malu lagi Dew?" tanya Reza sambil tersenyum lembut menatap Dewi.
"Enggak Rez.Aku cinta banget sama kamu." jawab Dewi sambil beringsut manja menempelkan tubuhnya ke arah Reza.
Reza menggerakkan lehernya ke arah depan saat Dewi mengatakan tentang Cinta.Ia tidak ingin terlalu jauh dalam cinta dan pernikahan.Reza menghembuskan nafas perlahan dari bibirnya.Ada kekhawatiran dalam dirinya.
Dewi pun terdiam sejenak, matanya memancarkan kegembiraan campur menahan rasa malu. "Reza, tadi aku benar-benar kaget lho pas pertama, rasanya aneh gitu,hihi...., seperti kita terhubung lebih dalam gitu ya?"
Reza tersenyum, mencoba merangkul makna di balik momen itu. "Aku juga merasakan, Dew.kita semakin dekat, bukan hanya secara fisik, tapi juga di hati."
Dewi mengangguk, "Tapi, Reza, ada apa sebenarnya? Kamu tadi kelihatan serius, lalu mencoba menghindar."
Reza mengambil nafas dalam,
"Aku hanya khawatir, Dew. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kuputuskan dengan gegabah. Aku ingin memberikan yang terbaik buat kamu, dan aku masih merasa ada tanggung jawab besar di pundakku."
Dewi menggenggam tangannya erat. "Reza, kita bisa melewatinya bareng-bareng. Aku tahu kamu pria yang bertanggung jawab, dan aku siap untuk semua perjuangan itu."
Reza mendengarkan kata-kata Dewi dengan mata yang berkilat, merasakan dukungan tulus dari wanita yang ada bersamanya pagi ini. Dalam keheningan yang hangat, dia merenung, mencerna perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya.
Sejenak, dia tersenyum pahit.
"Dewi, kamu tahu, aku belum pernah membayangkan pernikahan sebelumnya. Bagiku, ini bukan hanya tentang kita, tapi juga tentang bagaimana aku bisa menjadi suami yang baik, bisa memberikan kebahagiaan buat kamu."
Namun kalimat ini Reza kemas untuk tujuan lain.
Dewi mengangguk memahami, menyentuh pipi Reza dengan lembut.
"Reza,gak perlu sempurna. Aku bukan mencari sosok sempurna, tapi seseorang yang mau berjuang bersama-sama. Semua gak akan mulus, tapi kita bisa melewatinya."
Reza menatap mata Dewi, membiarkan ketulusan dan kehangatan meresap. "Dew.Emuach."
Reza mengecup kening Dewi.
Tidak ada jawaban pasti dari Reza mengenai pernikahan dan kelanjutan hubungan yang serius,tetapi Dewi melihat harapan masa depan cerah dari sosok Reza.