"Ibu,Reza pamit kembali ke Jawa Timur ya." ucap Reza pada bu Rahma dengan menganggukkan kepala dan memberi salam hangat.
"Hati-hati di jalan mas Reza." ucap bu Rahma seraya menepuk-nepuk punggung tangan Reza.
"Mari pak,Reza pamit dulu ya." Reza menyalami pa Samsul,dan ayah Dewi itu menggenggam tangan Reza dengan mantap.
"Semangat terus ya mas!" ucap pak ayah Dewi menyemangati Reza,keduanya terlihat lebih akrab setelah dua malam Reza menginap di rumah Dewi dan setiap malam berbicara hangat dengan ayah Dewi.
"Mas Ardi,saya pamit ya." Reza mendekat ke arah kakak kandung Dewi.
"Siap mas,kalau senggang main-main lagi ke sini lah ya." respon Ardi.
"Oke mas,siappp!" Reza tersenyum ramah.
"Hati-hati Dew,mas Reza di ajak ngobrol biar enggak ngantuk di jalan." pesan bu Rahma pada anak perempuannya sambil memeluknya.
"Iya bu,Reza ga di ajak ngobrol juga bakalan ngajak ngomong terus." ujar Dewi sambil tersenyum.
"Mas minta tolong cucikan mobilku,jangan lupa." Dewi menatap Ardi kakaknya.
"Iya iya bawel!" sahut Ardi.
Reza tersenyum mendengar candaan mereka,
"Mari pak,bu..." ucap Reza lagi sambil membungkukkan badan.
Dewi dan Reza berjalan bersama menuju mobil.Setelah berada dalam mobil Reza melambaikan tangan pada keluarga Dewi yang berdiri di teras rumah, merasakan kehangatan dan keramahan yang telah diterimanya.
Mobil bergerak pelan meninggalkan rumah keluarga Dewi. Mereka berdua masih melanjutkan cerita sepanjang perjalanan,mereka membicarakan dan mengingat momen penuh kehangatan yang mereka lewati bersama keluarga Dewi. Sesekali, Reza melirik Dewi yang duduk di sampingnya dengan senyum bahagia.
Dewi menatap Reza, "Terima kasih ya Reza. Aku bahagia bisa memperkenalkan kamu pada keluargaku."
Reza tersenyum dan menggenggam tangan Dewi, "Aku juga berterima kasih, Dewi. Semoga kita bisa mengulangi momen indah seperti ini lagi di masa depan."
Perjalanan mereka menuju Jawa Timur diisi dengan obrolan hangat dan tawa. Meskipun fisik mereka dan keluarga Dewi berpisah, namun hubungan mereka semakin menguat, diperkaya dengan kenangan indah bersama keluarga Dewi.
Kedekatan Reza dengan keluarga Dewi menciptakan ikatan yang semakin erat di antara mereka. Reza merasa diterima dengan hangat, bahkan oleh ayah Dewi yang awalnya terlihat cukup tegas. Momen-momen mengobrol dengan pak Samsul ayah Dewi memberikan pemahaman lebih dalam tentang nilai-nilai dan harapan keluarga Dewi.
Reza teringat ketika ayah Dewi mengatakan,
"Tidak masalah mas,perbedaan umur kalian 10 tahun itu bukan penghalang dalam berumah tangga."
Reza justru takut dengan kalimat itu,seolah keluarga Dewi benar-benar mengharapkannya menjadi pendamping hidup Dewi.
Saat Reza dan Dewi melanjutkan perjalanan menuju Jawa Timur, keduanya terus mengenang momen-momen kebersamaan itu. Setiap tawa dan cerita membentuk fondasi kuat bagi hubungan mereka. Dewi melihat Reza bukan hanya sebagai pasangan hidup, tetapi juga sebagai orang yang bisa bersatu dengan keluarganya.
"Beneran aku senang banget kamu bisa kumpul sama keluargaku, Reza. Aku senang bisa berbagi itu denganmu," ujar Dewi sambil menatap langit yang mulai gelap.
Reza membalas senyumnya, "Aku juga merasa beruntung bisa diterima keluargamu. Mereka luar biasa."
Perjalanan yang awalnya diisi dengan obrolan hangat berdua, kini juga melibatkan harapan dan impian masa depan yang mereka bangun bersama.Terutama dalam benak Dewi. Dewi tahu bahwa perjalanan ini bukan hanya menuju Jawa Timur, tetapi juga menuju suatu ikatan yang lebih kuat di antara mereka berdua.
"Reza,kapan aku dikenalkan sama keluargamu?" suara Dewi membuat Reza tercekat.
"Aduh." dalam hati Reza.
Lalu Reza tersenyum ke arah Dewi,
"Kapan ya Dew?"
Dewi memiringkan bibirnya.
"Hmmmm,malah balik tanya."
Dewi merubah ekspresi wajahnya yang semula tampak bahagia kini mulai memasang kerutan di keningnya.
Reza terdiam,memandang jalanan di depannya.Ia terlihat fokus mengendarai mobilnya.Reza berpikir bagaiamana cara menghindari pembahasan tentang keluarganya dari pertanyaan-pertanyaan Dewi.
Reza mencoba mencari kata-kata yang tepat, berusaha menjawab pertanyaan Dewi dengan hati-hati.
"Dew, sejujurnya, aku belum pernah membawa pasangan ke keluargaku. Itu bukan berarti aku nggak mau, tapi... ada beberapa hal yang perlu aku pikirkan dengan hati-hati."
Dewi mengangguk mengerti, namun rasa keingintahuannya masih terpancar di wajahnya. "Apa itu, Reza? Ada sesuatu yang aku nggak tahu?"
Reza memberikan senyuman lembut.
"Bukan, Dew. Aku cuma mau pastikan semuanya berjalan baik, dan aku mau kamu merasa nyaman nanti."
Dewi membalas senyuman Reza, tetapi ada keraguan di matanya.
"Aku ngerti, Reza. Tapi, kita kan sudah serius kan.Aku ingin tahu lebih banyak tentang hidupmu, tentang keluargamu."
Reza mengangguk mengerti,
"Iya, Dew. Kita akan mencarikan waktu yang tepat untuk itu. Aku nggak mau terburu-buru, tapi aku juga nggak mau menyembunyikan apapun dari kamu."
Dewi merasakan kejujuran dan perhatian dari ucapan Reza.
"Aku percaya sama kamu, Reza. Dan aku siap menghadapi apapun bersama-sama."
Reza tersenyum lega. "Terima kasih, Dew. Kita akan mengatasi semuanya bersama-sama."
Dewi menyentuh tangan kiri Reza,mengelus-elus dengan mesra,dinginnya AC di dalam mobil menambah hangat suasana.
"Emuach." kecupan Dewi mendarap di pipi kiri Reza,senyuman Resa terlihat bahagia saat ia menoleh ke kiri dan melihat wajah Dewi.
"Rez,gak usah ke kontrakanku.Aku mau tidur di rumahmu aja malam ini." ucap Dewi sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Reza.
"Degh!"Reza terkejut dengan permintaan Dewi.
"Nginap di rumah Dinas Dew?"tanya Reza sedikit membelokkan keinginan Dewi.
"Enggak lah Rez,aku pengen tidur di rumahmu." suara manja Dewi bergelayut merajuk Reza.
Reza berpikir keras,tidak mungkin ia membawa Dewi ke rumah keluarganya.Otak Reza bekerja dengan cepat.Setelah melewati jembatan Ngujang Tulungagung ia terus melajukan mobilnya di atas jalan raya Kras,kemudian memasuki perbatasan Tulungagung Kediri.
Reza memutuskan membawa Dewi ke salah satu Property yang ia miliki yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang dalam Organisasinya.Peran Ganda Reza sebagai Adrian Putra Hardi Kusumo sang pemimpin Organisasi Mafia memiliki kekayaan dan Property yang banyak tersembunyi.
Mobil Reza telah memasuki wilayah Kediri.Lalu ia membawa Dewi melewati keramaian Kota.
"Dew,sebelum pulang,mau cari makan dulu nggak?" tanya Reza pada Dewi dengan tenang.
"Kamu lapar?" Dewi justru bertanya.
"Enggak sih Dew." jawab Reza.
"Ya udah langsung ke rumahmu aja Rez,aku juga belum lapar." jawab Dewi.
"Oh ya udah." respon Reza.
Dewi melihat jalanan kota yang terlihat ramai dengan lampu kendaraan saling menyorot.Lalu menyandarkan kembali kepalanya ke bahu kiri Reza.
Reza mengambil jalan yang mengarah ke pinggiran Kota Kediri.Setelah beberapa saat melalui jalanan gelap,mereka tiba di sebuah pintu Gerbang Rumah.
Setelah memasuki halaman,Reza memarkirkan mobilnya di sisi kanan bangunan Rumah di area garasi Outdor.
Dewi membuka pintu mobil dan melangkah mengikuti Reza,ia terpana dengan Rumah itu.Rumah besar bergaya klasik itu memberikan kesan megah begitu lampu-lampu malam mulai bersinar. Pintu gerbang berwarna tua memberikan sentuhan elegan, membuka akses menuju taman yang indah dengan jalan setapak teratur.
Ruang tamu yang luas dihiasi dengan perabotan yang mewah, sofa berwarna krem yang empuk dipadu dengan hiasan dinding bergaya klasik. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit ruangan memberikan kilauan indah.
Tata ruangnya terorganisir rapi, ruang makan yang terpisah dengan meja makan besar dan kursi-kursi yang nyaman. Dapur yang luas dilengkapi dengan peralatan modern, memberikan kenyamanan untuk memasak.
Kamar tidur utama yang besar menampilkan tempat tidur king-size dengan baldaquin, ditemani dengan furnitur kayu yang elegan. Lampu tidur di kedua sisi tempat tidur memberikan nuansa hangat dan romantis.
"Reza,kamu romantis banget,pakai Baldaquin segala." ucap Dewi setelah masuk ke kamar utama.
"Hhhmmm biar kita romantis terus Dew.Hehe." resa memberi senyum menawannya pada Dewi.
Dewi merasakan aura romantis di kamar itu.Ia mendekati Reza,
"Reza,Emuach....hmmpphh hpmmmpphh..." Dewi mengecup bibir Reza dan mengulumnya dengan kelembutan bersama pelukan hangatnya.