"Apalagi ini, Tuhan?" Maya memegang ponsel dengan tangan bergetar.
Matanya memanas membaca bait demi bait kalimat pada laman portal berita online yang tengah menampilkan berita yang tengah viral. Di sana menampilkan jelas pemberitaan mengenai dirinya yang terlibat dalam kasus perbuatan illegal sebagai dokter.
Semua tuduhan yang ada di dalam berita itu adalah fitnah. Sejak dulu, ia tak pernah mengambil jalan pintas atau melakukan praktik yang melanggar prosedur. Namun, siapa pun yang merencanakan pemberitaan ini sangatlah cerdik, hingga mampu membuat semuanya tampak nyata jika dia memang terlibat dalam perbuatan illegal tersebut.
Notifikasi pesan masuk berhasil mengalihkan perhatian wanita itu, yang ternyata dari Handika. Pria itu mengirimkan file rekaman video yang diambil secara diam-diam di sebuah ruang rapat.
Maya tak kalah terkejut kala direktur rumah sakit tengah mengumumkan pemecatan dirinya dari rumah sakit tempatnya bekerja.
"Kenapa Dokter Haryanto malah memecatku? Bukannya aku minta pengumuman pengunduran diri?" gumam wanita itu dengan tatapan tak lepas dari layar di depannya.
Ia menggeram kesal. "Argh, pasti karena berita itu."
Semua terasa masuk akal karena pemberitaan itu menyebar sangat cepat dalam kurun waktu kurang dari 1x24 jam. Pastilah pihak pihak rumah sakit mendapat tekanan dari berbagai pihak untuk memecatnya.
"Kenapa jadi begini, sih?" Maya segera meletakkan ponsel di atas meja, terus-menerus memerhatikan benda pipih itu hanya akan membuatnya semakin frustasi sampai ia tak sanggup membalas pesan dari Handika.
Dia memilih menyandarkan tubuh di sebuah sofa, pandangannya menatap langit-langit rumah yang dia tempati saat ini, tepatnya rumah peninggalan nenek dari pihak ibunya. Ya, Maya telah menepati janjinya untuk pergi dari kota tempat tinggal sebelumnya.
Setelah menyelesaikan konferensi medis, Maya segera merealisasikan niatnya. Sekarang, ia menetap di sebuah desa yang tidak ada siapa pun yang mengenalinya.
Hubungannya dengan Arya, entahlah? Dia tidak peduli lagi. Dia cukup muak untuk terus berpura-pura tidak tahu mengenai pengkhianatan itu. Toh, semuanya sudah terbongkar dan Arya tahu itu.
Dalam kesendirian, Maya tampak menerka-nerka mengenai siapa dalang di balik pemberitaan ini, "Mungkinkah orang yang sama?" pikirnya.
Tak ingin larut dalam keraguan, Maya meraih kembali ponselnya, lalu mengetikkan pesan pada nomor asing yang sempat menerornya.
[Apa maumu sebenarnya? Kenapa membuat berita miring tentangku?] Tulisnya to the point.
Dengan kesal, Maya menekan kuat tombol kirim, lalu meletakkan kasar ponselnya ke sofa.
Ting! Tanpa menunggu lama nomor asing itu membalas.
[Jangan asal tuduh kalau gak punya bukti!]
Maya mengetatkan rahang, menggenggam erat ponsel di tangan seolah ingin menghancurkan benda itu.
[Bohong! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa begitu berambisi menghancurkanku?]
[Kamu tidak perlu tahu siapa aku! Urusan kita sudah selesai! Yang jelas aku tidak ada sangkut pautnya mengenai pemberitaan itu.]
Maya tidak lagi membalas pesan itu. Mungkin memang bukan orang itu pelakunya.
Maya mencoba mengingat apakah dia pernah mempunyai musuh di tempat kerja atau mungkin di masa lalu. Namun, tak ada satu nama pun yang terlintas dalam pikiran.
"Siapa yang tega memporak-porandakan hidupku seperti ini? Kalau bukan dia lalu siapa? Apa mungkin Arya dan Karina?" gumamnya masih menerka-nerka. Namun, ia segera mengenyahkan dugaan itu.
"Gak mungkin! Itu pasti bukan mereka, lagian dari mana mereka bisa mendapat semua itu?"
Wanita itu kembali menyandarkan kepala pada sandaran sofa serta memijat pelipis yang terasa berdenyut. Semua pemberitaan ini benar-benar menguras energinya. Sepertinya memang ada seseorang yang ingin menghancurkannya, dan ia harus mencari tahu orang itu.
***
Sementara itu, Arya dan Karina tengah mengadakan pesta kecil-kecilan di sebuah unit apartemen mewah yang baru dibeli Arya, dalam rangka merayakan kesuksesan misi yang diberikan Robert. Wajah Karina bersinar saat melihat tumpukan uang yang telah mereka terima sebagai imbalan, sementara Arya berusaha menyembunyikan rasa bersalah yang terus menghantui.
"Ar, ini baru namanya hidup!" Karina bersorak riang tampak puas.
"Kita bisa menggunakan uang ini untuk memulai hidup baru. Siapa yang peduli lagi dengan Maya? Biarkan dia menanggung akibatnya," sambung wanita itu tanpa rasa bersalah diiringi tawa menggema.
Akan tetapi, raut berbeda ditunjukkan Arya. Pria itu tampak resah seiring dengan rasa bersalah yang membelenggu diri. Hanya karena tawaran uang bernilai fantastis, ia tega menghancurkan hidup wanita yang selama sepuluh tahun ini menjadi istrinya.
"Karin, apa kita gak keterlaluan? Hanya demi uang kita rela menghancurkan wanita sebaik Maya. Padahal dia gak sejahat itu."
Senyum yang sejak tadi tersemat di wajah Karina perlahan memudar. Raut ketidaksukaan tergambar jelas di wajah wanita itu.
Ia mendengus kesal seraya mencibir. "Ar, ini bukan waktunya untuk merasa bersalah. Sudah terlambat kalau kamu merasakan itu. Toh, kamu juga menikmati uangnya. Sekarang, lebih baik kita senang-senang dan lupakan Maya."
Arya terdiam dengan hati berat sebelah. Satu sisi dia merasa bersalah, tetapi di sisi lain dia turut merasa bahagia mendapat uang sebanyak itu.
Karina benar, sudah terlambat jika ingin merasa bersalah. Keputusan telah diambil dan semua sudah terjadi. Demi meresmikan hubungan gelapnya bersama Karina dan janji-janji untuk masa depan, ia menekan rasa bersalah itu dalam-dalam.
"Cheers untuk keberhasilan kita!" Suara riang Karina membuyarkan lamunan Arya, dilihatnya wanita itu tengah mengangkat tinggi gelas berisi cairan berwarna keemasan meminta bersulang, Arya segera menyambutnya. Suara dentingan pelan pada gelas turut mewarnai pesta kecil mereka, sebelum menenggak minuman tersebut.
"Lagi, kita bersulang untuk keberhasilan kita dan kehancuran Maya," teriak Karina lagi yang meminta bersulang untuk yang kesekian kali, Arya dengan senang hati menyambutnya, lalu menenggak minuman kembali.
Keduanya terus menikmati pesta hingga larut malam, yang diakhiri dengan kegiatan panas keduanya.
***
Suara ketukan pintu menggema di kesunyian malam. Maya yang saat itu tengah bersiap ke kamar untuk tidur seketika mengurungkan niat, lalu menoleh ke arah pintu dengan perasaan waspada.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" batinnya.
Ia berjalan pelan ke arah pintu. Sebelum memutuskan untuk membuka, ia tampak menyibak sedikit tirai depan untuk melihat siapa yang datang. Ia tidak bisa menerima tamu sembarangan, mengingat saat ini ia tinggal sendiri di sebuah desa.
Jalan pikiran masyarakat desa tidaklah sama dengan masyarakat kota yang cenderung acuh. Salah bertindak saja, ia bisa dihakimi warga, bahkan diusir paksa. Ia hanya tidak ingin menambah masalah.
Akan tetapi, Maya tak bisa melihat tamunya dengan jelas. Ia hanya bisa melihat jika postur tubuhnya seorang pria.
Dengan hati-hati, akhirnya Maya berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit, di depannya telah berdiri seorang pria asing berjas hitam.
"Maaf Anda siapa?" tanya Maya seraya memindai penampilan pria itu yang tampak mencurigakan. Ia bahkan tidak berani mempersilahkan pria itu masuk.
"Maaf mengganggu di jam larut seperti ini, Dokter Maya," ucap pria itu dengan suara dalam disertai tatapan penuh arti
"Siapa Anda?" Maya mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada lebih tegas disertai perasaan waspada. Sesekali kali, ia juga tampak melongok ke arah luar berharap ada warga yang tengah meronda malam, yang sewaktu-waktu bisa dimintai bantuan jika pria itu berbuat jahat.
Pria itu hanya tersenyum kecil seraya mengeluarkan sebuah kartu nama, lalu menyerahkannya pada Maya. Maya menerima kartu nama itu dengan perasaan bingung.
Di sana tertera nama Rian Prayoga yang merupakan seorang jurnalis, tertera pula alamat serta kontak yang bisa dihubungi.
"Saya yang akan membantu dokter untuk bebas dari pemberitaan miring yang menjerat dokter," kata Rian tanpa basa-basi, bahkan mengabaikan pertanyaan Maya.
"Kamu ingin membantuku? Tapi kenapa? Perasaan sebelumnya kita gak pernah saling mengenal."
"Saya tahu ada yang janggal dan tidak beres dari pemberitaan itu. Dokter tenang saja, saya tidak berniat jahat sama sekali. Saya ingin mengajak Anda kerjasama."
"Saya tidak akan menawarkan bantuan tanpa alasan, Dokter Maya. Saya punya informasi tentang siapa saja terlibat, bahkan dalang di balik permasalahan ini. Jika Anda bersedia, saya akan membantu Anda mengungkap kebenarannya."
Sejenak Maya terdiam, mempertimbangkan tawaran itu. Meskipun ada sedikit keraguan, intuisi berkata bahwa ini adalah sebuah peluang, sebab pria itu datang diwaktu yang tepat.
"Oke, saya akan mempertimbangkannya," jawab Maya singkat.
Rian tersenyum tipis. "Bagus, saya akan menunggu kabar dari Anda."
Tanpa banyak basa-basi, pria itu berbalik dan melangkah pergi.
Maya kembali menutup pintu masih memegang kartu nama di tangannya. Dalam hati bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya pria itu, mengapa datang secara tiba-tiba, haruskah ia menerima tawaran kerjasama itu.