Maya tergagap diiringi keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Pemandangan yang sangat familier menyambutnya, sebuah ruangan bernuansa pastel, yang tidak lain adalah kamar pribadinya.
Jantungnya berdegup kencang. Seketika itu pula, dia sadar tidak berada di rumah sakit.
"Bagaimana aku bisa ada di sini? Apa tadi cuma mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.
Netra yang sejak tadi bergerak gelisah, tanpa sengaja mengarah pada kalender duduk yang ada di atas nakas. Tangannya segera menyambar kalender tersebut untuk memastikan jika yang dilihatnya kali ini adalah kebenaran, angka pada kalender tersebut menunjuk pada tahun 2014. Itu artinya dia telah kembali 10 tahun di masa lalu.
Maya terduduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah.
"Ini ... tidak mungkin," bisiknya dengan suara terdengar serak, hampir patah.
Rasanya sulit memercayai apa yang baru saja dialaminya. Maya tampak memejamkan mata, berharap bisa kembali ke dunia nyata—dunia di mana dia baru saja mati. Namun, ketika mata kembali terbuka, dia masih ada di tempat yang sama.
Wanita itu masih mengingat jelas bagaimana kecelakaan yang menimpa dirinya dan wajah-wajah bahagia para pengkhianat yang menghantar kematiannya.
Perasaan marah tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya. Maya tak pernah menyangka akan menerima pengkhianatan besar dari dua orang terdekat di puncak karirnya.
"Kamu sudah bangun?"
Suara lembut yang sangat dia kenal berhasil mengalihkan perhatian, dilihatnya Arya baru keluar dari kamar mandi masih dengan handuk membalut pinggang.
Maya berusaha keras memutar ingatan 10 tahun lalu. Dalam ingatannya, statusnya telah resmi sebagai istri Arya yang merupakan dokter seniornya di rumah sakit yang sama. Posisinya kala itu masih menjadi dokter umum sebelum melanjutkan pendidikan sebagai dokter bedah.
Rasanya sangat sulit memercayai, berharap ini hanyalah mimpi. Namun, ini bukan mimpi. Maya merasakan setiap detik yang berlalu dan suasana ruangan sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
Tangannya kembali gemetar, tetapi dengan cepat menyadarkan diri, jika ini bukan kebetulan semata. Takdir telah memberinya kesempatan kedua dengan terlahir kembali.
Dia tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang—pengkhianatan Arya dan Karina, penelitian yang dicuri, dan kematiannya yang tragis. Kali ini, dia tak akan tinggal diam. Dia akan membalas perbuatan mereka.
"May, malah bengong! Cepat mandi! Kita harus segera berangkat, hari sudah siang. Kamu gak mau telat 'kan?" Ucapan Arya berhasil membuyarkan lamunan wanita itu.
Maya menarik segaris senyum paksa. Sebisa mungkin memasang raut biasa, berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal debaran dalam d**a masih sangat terasa.
Dia segera bangkit menuju kamar mandi, sebelum terkena omelan untuk kedua kalinya.
Arya yang menyadari sikap aneh sang istri, hanya bisa menatap penuh keheranan. Maya terlihat seperti orang linglung. Namun, pria itu tidak ingin ambil pusing. Mungkin itu bawaan bangun tidur, pikirnya.
Tak butuh waktu lama bagi Maya untuk menyelesaikan ritual mandinya. Kini, keduanya telah bersiap dan sedang menikmati sarapan bersama.
Akan tetapi, ketenangan pagi itu terusik dengan kedatangan Karina yang tiba-tiba.
"Hai, Pengantin Baru, hari ini aku mau nebeng," sapa Karina dengan riang, bahkan suaranya terdengar memenuhi ruang makan minimalis itu.
Arya menyambut kedatangannya dengan senyum terkembang, tetapi lain halnya dengan Maya. Dia seolah menatap tidak suka.
Melihat dua pengkhianat ada di depannya, seketika amarah yang belum sempat redam kembali bangkit. Namun, Maya segera menetralisir segala perasaan itu.
Ingat, dia kembali ke masa lalu di mana dia belum mengetahui kedekatan mereka. Maka dari itu, dia akan bersikap sama seperti masa itu, yang tidak tahu apa-apa.
*****
"Kar, suamimu ke mana? Kok nebeng kita?" tanya Maya tiba-tiba dengan mata memicing, ketidaksukaan tergambar jelas di wajahnya. Saat ini, mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit.
Karina sontak menatap sang sahabat dengan kening berkerut. Dia merasa aneh dengan sikap sahabatnya hari ini.
"Kamu kenapa sih? 'Kan biasanya emang begitu," sahut wanita berambut sebahu bergelombang itu. Perkataan itu turut diangguki oleh Arya yang fokus dengan kemudi.
"Kamu ini ngelindur apa gimana sih? Aku 'kan belum menikah, suami mana yang kamu maksud?"
Maya seketika tersadar dengan pertanyaannya. Di tahun ini, Karina memang belum menikah. Dia yang lebih dulu menikah setelah lulus kuliah karena dijodohkan, sementara Karina beberapa bulan sebelum melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis, dia memilih jurusan spesialis kandungan. Bagaimana bisa dia melupakan hal itu?
Maya memilih untuk diam tidak lagi menjawab. Dia menegakkan kembali tubuhnya dengan menghadap ke depan. Jangan sampai sikapnya kali ini mengundang kecurigaan dua orang itu.
"Dokter Arya, apa Anda terlalu banyak memberi jatah malam pada sahabatku ini? Sampai dia kurang tidur dan ngelindur begini." Suara Karin mendominasi perjalanan mereka.
Arya seketika menyambut dengan tawa sumbang. "Oh, jelas! Kami melakukannya sampai pagi."
"Hmmm, pantes!" Karina dengan getol menggoda sahabatnya.
Jika biasanya Maya akan menanggapi dengan senyum malu-malu, maka tidak untuk kali ini. Raut wajahnya terkesan datar, justru muak dengan semua itu.
Keterdiaman Maya dikejutkan dengan genggaman tangan kekar milik Arya. Dia menatap genggaman tangan itu dengan mata berkaca-kaca, bahkan debaran itu masih dirasakannya, tetapi kenapa kali ini ada rasa sakit yang membersamai, bukan kebahagiaan seperti dulu.
Maya menatap sang suami yang tengah tersenyum ke arahnya. Entah senyuman itu tulus atau keterpaksaan seperti malam itu. Dia tidak tahu, sangat sulit membedakannya.
Perjalanan menuju rumah sakit diramaikan oleh suara Karina yang sejak tadi terus mengoceh, membicarakan hal-hal acak. Tak jarang pula, Arya menanggapi celotehan wanita itu dengan tawa saat mendengar ada yang lucu dari ucapannya.
Biasanya Maya juga ikut nimbrung, tetapi kali ini dia lebih banyak diam memerhatikan dua orang itu. Sehingga timbul sebuah tanya dalam hati, "Sejak kapan mereka mengkhianatinya?"
Hanya sebuah tanya tanpa ada yang bisa memberi jawaban. Dia sendiri-lah yang harus mencari jawaban itu.
Kebungkaman Maya turut disadari oleh Arya. Meski, sangat ingin bertanya, tetapi Arya memilih untuk menahan. Otaknya seketika berpikir keras, ada apa sikap Maya hari ini?
Dia terlihat lebih murung dan pendiam, sangat berbeda dengan Maya yang selalu ceria, ramah dan murah senyum.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Arya telah tiba di parkiran rumah sakit. Setelah mobil berhenti sempurna, Maya bergegas membuka pintu. Namun, pergerakannya berhasil dihentikan sang suami.
"Ada apa?" tanya Maya saat tangan Arya mencekal pergelangan tangannya.
"Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu? Ada apa denganmu, May?"
Maya hanya diam tidak tau harus menjawab apa. Dia memilih memalingkan wajahnya. Kini, hanya tinggal mereka berdua yang ada di dalam mobil, sementara Karina sudah turun sejak tadi.
"Kita harus bicara!" ucap Arya tegas seraya menatap intens
Maya tetap diam dan membalas tatapan itu dengan lekat.
"Waktu masuk sudah tiba, sebaiknya kita bersiap. Banyak pasien yang membutuhkan kita."
Maya melepas cekalan tangan itu. Namun, dengan sigap Arya kembali meraih tangannya.
"Kamu berubah, May! Sikapmu gak kayak biasanya. Di mana Mayaku yang selalu ceria dam murah senyum?"
Hati wanita itu seperti tersayat belati tajam saat mendengar panggilan sayang dari Arya. Rasanya perih tiada terkira. Pengkhianatan malam itu kembali terlintas. Mengenyahkan segala perasaan sakit, Maya segera menarik paksa kedua sudut bibirnya, lalu menatap Arya.
"Aku gak pernah berubah, Arya ... aku masih sama. Wanita yang selalu mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku. Aku berharap kamu juga seperti itu."
"Aku juga sama, May. Perasaanku tak pernah berubah. Sampai kapan pun hati dan jiwaku akan tetap milikmu ...."
Seuntai senyum getir tersemat di bibir wanita itu. Dia sangat hapal dengan ungkapan pria itu yang masih sama seperti dulu, karena selalu terpatri dalam ingatannya. Akan tetapi, pada kenyataannya pria yang telah menguasai hatinya justru menjadi sumber malapetaka untuk dirinya di masa depan.
Jika dulu dia sangat bahagia mendengar ungkapan itu, maka berbeda dengan sekarang. Ucapan cinta Arya tak ubahnya seperti bualan lelaki hidung belang di luaran sana.
"Aku percaya, Arya ... maaf atas sikapku yang membuatmu gak nyaman. Udah ya aku harus bersiap ke UGD dulu. Aku ada tugas di sana."
Pria itu menghela nafas lega ketika mendengar tanggapan istrinya. Meski terkesan dingin, tetapi setidaknya Maya mau berbicara dengannya.
"Oke, selamat bertugas. Kalau ada kendala, kamu sudah tau 'kan harus mencari siapa?"
Setelah itu, Arya bergegas turun tanpa lupa membukakan pintu untuk sang istri. Perlakuan Arya sangatlah manis, perlakuan yang dulu selalu berhasil membuatnya terkesima. Namun, tidak untuk saat ini.
Wanita itu akan fokus mencari tahu dan mengawasi kedekatan Arya dan Karina dan kali ini dia tidak boleh lengah.
"Aku telah kembali ... aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik."