Bab 3. Sekutu

1530 Kata
Tanpa terasa lima tahun telah berlalu, selama itu pula tak ada pergerakan mencurigakan antara Arya dan Karina, sehingga ia bisa menyelesaikan pendidikannya dengan tenang. Pada saat itu, Maya telah resmi menyandang gelar sebagai dokter bedah selama setahun terakhir. Ia juga mulai mengambil tawaran penelitian dari salah satu perusahaan farmasi ternama untuk mengembangkan produk obat terbaru mereka. Pada suatu malam, Maya berjalan dengan langkah cepat menuju ruangannya yang ada di lantai tiga rumah sakit. Malam itu, dia baru saja selesai dengan operasi darurat yang melelahkan. Koridor lumayan sepi, hanya terdengar suara langkah kakinya yang menggema. Maya berhenti sejenak saat melintasi ruang kerja suaminya. Ia melihat seberkas cahaya menyala dari celah pintu. "Siapa yang ada di dalam? Bukannya Arya sudah pulang?" gumamnya dengan alis berkerut. Sebelum melakukan operasi tadi, ia memang sempat membaca pesan yang dikirimkan suaminya, bahwa ia telah pulang lebih dulu. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat. Perlahan, Maya memutar kenop pintu tanpa suara, berusaha menyelinap masuk. Langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu, detak jantungnya mendadak berhenti ketika melihat pemandangan yang ada di depan sana. Arya—suaminya dan Karina—sahabat yang sudah ia kenal selama lebih dari satu dekade, sedang berhadap-hadapan. Tepatnya Karina tengah duduk di pangkuan Arya dengan posisi membelakangi pintu. Tubuh bagian atas wanita itu tak tertutup sehelai benang pun, hingga menampilkan punggung putihnya. Suara-suara khas surga dunia memenuhi ruangan itu. Sementara Arya memegang pinggul Karina guna mempercepat gerakan wanita itu. Keduanya tengah tenggelam dalam kubangan hasrat, hingga tidak menyadari ada seseorang yang memergoki aksinya di depan pintu. Maya menahan napas, mencoba meredam gejolak emosi yang tiba-tiba meluap. "Kapan kamu akan meninggalkannya, Arya? Kamu sudah janji, kalau ini semua tidak akan lama lagi." Karina berbisik dengan suara lembut disela gerakannya yang kian intens. Arya menghela napas panjang, fokusnya terbagi antara menikmati permainan Karina atau menjawab pertanyaannya. "Aku perlu waktu, Karin. Saat ini, Maya disibukkan dengan penelitiannya. Kalau aku bertindak sekarang, itu bisa merusak rencana kita." Karina menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap Arya dengan tatapan kecewa. "Rencana? Kamu bilang ingin segera meresmikan hubungan kita. Tapi yang aku lihat, kamu masih terjebak bersamanya," ucapnya disertai wajah yang masam. Hasrat yang sejak tadi melambung tinggi, kini menguap entah kemana. Wanita itu berniat bangkit, tetapi dengan segera Arya mencegahnya. Dia tidak rela Karina menyelesaikan permainannya disaat belum mencapai klimaks. Dia tidak ingin berakhir di kamar mandi untuk menuntaskan hasrat, jika tidak ingin kepalanya berdenyut. Arya menatap kekasih gelapnya dengan intens, lalu memangkas jarak untuk mendekatkan wajahnya. "Percayalah padaku, Karina. Begitu aku mendapatkan akses penuh ke penelitian Maya, semuanya akan selesai. Hanya tunggu sebentar lagi." Jantung Maya serasa dihantam palu. Mata dan telinganya seolah menolak mempercayai apa yang baru saja dilihat dan didengar. Mereka mengincar penelitian yang tengah ia jalani saat ini. Ingin rasanya, ia merangsek masuk, berteriak, dan menampar keduanya. Akan tetapi, dia menahan diri. Akal sehatnya mengatakan sekarang bukan saatnya. Wanita itu berusaha meredam emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya, berusaha berpikir logis mendorong untuk tetap tenang. Perlahan, Maya mundur, lalu bersembunyi di balik pintu dan meraih ponsel di saku mantelnya. "Aku butuh bukti lebih. Jika aku menghadapi mereka sekarang, mereka bisa menyangkal dengan berbagai alasan," bisiknya pada diri sendiri. Dengan tangan gemetar, Maya menyalakan aplikasi rekaman video pada ponselnya. Dengan menahan napas, dia mulai merekam kegiatan mereka. Kegiatan panas yang kembali berlanjut. Dia bisa mendengar jelas suara Karina yang memakinya penuh kebencian disela desahannya, dan suara Arya yang penuh manipulasi yang membandingkan bahwa Karina lebih hebat daripada Maya dalam memuaskannya. Semua itu terdengar sangat menyayat hati. Akan tetapi, Maya menahan semua rasa sakit itu karena kali ini, dia akan melawan dengan cerdas. "Aku muak berpura-pura menjadi sahabatnya, Arya. Apa dia benar-benar tidak menyadari hubungan kita? Atau dia terlalu bodoh untuk mengerti?" Karina berucap manja. "Maya terlalu fokus pada penelitiannya. Dia bahkan tidak sadar apa yang terjadi di sekitarnya. Dan itu menguntungkan kita." Arya menimpali dengan tawa pelan. Karina tidak lagi menjawab karena dia fokus mengejar pelepasan untuk yang kedua kali. Begitu pun dengan Arya. Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka selain desahan dan erangan penuh kenikmatan. Sampai beberapa menit kemudian, keduanya mencapai puncak nirwana secara bersamaan. Karina yang kelelahan tampak menyandar lemas pada pundak kokoh milik Arya. Nafas keduanya tampak memburu disertai keringat yang mengucur deras. "Kamu benar, Arya. Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah penelitian itu jatuh ke tanganmu?" tanya Karina setelah berhasil menguasai diri kembali. Arya mengangkat kepala, menatap lekat wanita di depannya. Tatapan matanya bersinar licik. "Kita jual patennya pada perusahaan farmasi lain. Mereka sudah menyiapkan kontrak. Keuntungan otomatis akan masuk ke kantong kita, dan Maya yang menanggung akibatnya. Dan setelah itu ...." "Setelah itu, kau akan meninggalkannya dan menikah denganku, 'kan?" Karina dengan cepat menimpali disertai tawa sumbangnya. Suara tawa keduanya berhasil mengiris hati Maya. Darahnya serasa mendidih. Dengan segenap kekuatan, dia mematikan ponselnya dan mundur. Dia lantas bergegas pergi. Mereka tidak boleh tahu bahwa dia sudah mengetahui semuanya. Maya berbalik, berlari menjauh dari pintu itu, meninggalkan dua pengkhianat itu yang masih terjebak dalam kebahagiaan semu mereka. Selama melintasi koridor, air mata yang sejak tadi berusaha ditahan luruh begitu saja membasahi pipi mulus wanita itu, hingga membuat pandangannya memburam. Maya berhenti sejenak, menyandarkan tubuh pada dinding, lalu memukul dadanya berulang kali saat sesak menghimpit. Sampai detik ini, dia tidak habis pikir. Apa kesalahannya sampai orang yang dia sayangi tega berkhianat dan berencana menjebaknya. "Tumpahkan semua sakitmu dalam tangisan selagi bisa menangis." Maya seketika menoleh saat mendengar suara pria yang ada di belakangnya. Handika–suami Karina tampak berjalan pelan dengan tenang mendekatinya. "Menangis memang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bisa meringankan beban," ucap pria itu lagi dengan senyum lembutnya. Handika mengangsurkan sapu tangan hitam miliknya, tetapi Maya tak kunjung menerima. Mata yang masih bersimbah air mata menatap kehadiran pria itu dengan penuh tanya. "Lap air matamu itu! Kamu jelek kalau nangis." Handika meletakkan sapu tangan miliknya ke tangan Maya. Maya menyambut dengan bibir mengerucut. Namun, tak urung menuruti perintah pria itu. Air mata yang semula membingkai wajah cantiknya kini telah bersih, menyisakan sembab dan rona kemerahan pada hidung. "Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya dengan nada sengau. "Sejak tadi, yang jelas aku lebih dulu ada di sini sebelum kamu datang," jawab Handika santai. Maya seketika terperangah mendengarnya, bagaimana bisa dia tidak menyadari hal itu. "Ja-jadi, kamu–" "Sebaiknya, kita segera pergi dari sini sebelum dua k*****t itu mengetahui keberadaan kita." Pria yang biasa dipanggil Dokter Dika itu pun segera memotong cepat ucapannya. Maya mengangguk menyetujui. Keduanya melangkah beriringan menuju lift yang akan membawanya ke lobby. Taman pusat kota menjadi tujuan mereka. Mereka sengaja memilih lokasi di luar rumah sakit agar bisa lebih leluasa untuk mengobrol. "Sejak kapan kamu mengetahui perselingkuhan mereka?" tanya Maya dengan tatapan lurus ke depan. "Dari sebelum menikah," jawab Dika disertai helaan nafas kasar yang terdengar dari bibirnya. Maya seketika beralih menatap pria yang ada di sampingnya. Itu artinya hubungan mereka telah terjalin sejak lama. Handika dan Karina telah menikah dua tahun silam, bahkan sebelum menikah mereka sudah menjalin hubungan asmara selama satu tahun. Bagaimana bisa dia tidak menyadari hal ini? Pantas jika dirinya tidak sadar akan pengkhianatan mereka, setelah melewati masa pengalaman kerja sebagai dokter umum, dia disibukkan dengan study-nya untuk mendapat gelar sebagai dokter spesialis bedah. Waktunya banyak tersita untuk pendidikan dan penelitian, hingga jarang menikmati kebersamaan bersama suaminya. "Lantas, kenapa kamu masih mau menikahi Karina? Padahal jelas-jelas dia sudah mengkhianatimu." Handika tersenyum getir. Seandainya, bisa menolak. Dia akan menolak. Dia sendiri tidak sudi menikahi wanita yang tidak nisa menjaga martabatnya. Selama menikahi Karina belum pernah sekali pun dia menjamah, bahkan menyentuh tubuh istrinya barang sekali pun. "Hutang budi. Pernikahan ini terjadi atas dasar hutang budi." Handika menjawab dengan tatapan menerawang jauh ke depan. "Ayah Karina rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan ayahku karena kecelakaan kerja. Oleh sebab itu, keluargaku memaksaku untuk menikahi Karina agar bisa menjaga wanita itu." Maya semakin terperangah mengetahui kenyataan itu. Namun, dia salut pada pria itu, yang mampu bertahan menjalani hubungan toxic selama bertahun-tahun lamanya. "Nasib kita miris, bukan? Sama-sama dikhianati dan dibodohi pasangan kita." Wanita itu tersenyum kecut. "Tapi, aku gak mau seperti kamu, Dika ... yang hanya diam dan bertahan dalam hubungan yang gak sehat." "Kamu akan bercerai dari Arya?" Maya menggeleng pelan yang memunculkan kerutan di kening Handika. "Terus?" "Aku akan bersikap seperti sebelumnya, pura-pura tidak mengetahui hubungan mereka. Tapi, di belakang mereka aku akan menyusun rencana untuk membalas para pengkhianat itu." Handika hanya termenung mendengarkan penuturan wanita di sampingnya, hingga beberapa saat setelahnya ucapan Maya berhasil membuat dirinya terkejut. "Tapi untuk membalas mereka ... aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh bantuanmu. Kita kerjasama." Maya menatap lekat pria di sampingnya. Handika terdiam tidak langsung menjawab. "Bagaimana? Apa kamu mau?" Maya mengulang perkataannya saat tak kunjung mendapat jawaban. "Sebagai lelaki, kamu harus bersikap tegas. Jangan mau harga dirimu diinjak-injak oleh wanita seperti Karina. Dia sudah terlalu lama mempermainkanmu. Sampai kapan kamu akan menjadi tameng dari perbuatannya?" Maya memiringkan senyum saat melihat tangan Handika terkepal kuat, hingga otot-otot biru keunguan tercetak jelas di tangannya. Dari raut wajahnya, dia bisa menyimpulkan jika pria itu tengah menahan gejolak amarah. "Jadi, bagaimana?" "Baiklah, aku bersedia." Senyum dingin tercetak di wajah cantik Maya. Rencana baru mulai terbentuk dalam pikirannya. Ini bukan sekadar soal penelitian lagi. Ini tentang menghancurkan mereka, persis seperti mereka menghancurkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN