Bab 4. Permainan Awal

1304 Kata
“Jadi, apa langkah pertama yang akan kamu ambil?” tanya Handika setelah sekian menit terjadi keheningan di antara mereka. Nada bicaranya terdengar tegang, tetapi ada semangat yang tersirat di balik nada itu. Sebuah semangat yang lama terkubur oleh rasa sakit. Beberapa hari berselang setelah malam itu, Maya meminta bertemu dengan Handika di sebuah kafe selepas pulang bekerja. Maya memandang suami sahabatnya lekat-lekat. Keduanya sama-sama terluka oleh pengkhianatan pasangan. Kini, mereka berdua akan merencanakan permainan penuh intrik yang tak hanya akan membalas sakit hati, tetapi juga menghancurkan segalanya, termasuk Arya maupun Karina. Maya tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab, “Kita mainkan permainan mereka. Tapi kali ini, kita yang memegang kendali.” Wanita itu menyeruput sedikit orange jus pesanannya, sebelum menjelaskan idenya lebih lanjut. “Kita biarkan mereka berpikir bahwa semuanya masih baik-baik saja. Mereka tidak boleh tahu kalau kita sudah mengetahui perbuatan dan rencana mereka. Tapi, di balik layar, kita akan mengumpulkan bukti-bukti yang lebih kuat untuk membangun jebakan yang sempurna. Ketika waktunya tiba, kita akan memukul mereka dengan sangat keras.” Handika menatap penuh kagum wanita di hadapannya. Maya bukan wanita biasa. Selama ini, Maya terkenal sebagai sosok cerdas, lemah lembut, ambisius, dan tangguh. Tapi sekarang, dia bisa melihat sisi lain dari wanita itu—sisi yang dipenuhi amarah dan tekad sekuat baja. “Caranya?” tanya Handika yang merasa penasaran dengan rencana wanita itu. “Kita mulai dari Arya dulu,” jawab Maya cepat. “Dia fokus pada penelitianku dan berencana menjual patennya, bukan? Itu kartu mereka, dan aku tahu betul bagaimana melindungi diriku. Aku akan menempatkan beberapa informasi palsu di dalam penelitian. Informasi yang tampaknya sangat penting, tapi sebenarnya tidak berharga. Kita biarkan mereka mencuri itu, sementara dokumen asli aku simpan di tempat yang aman." Handika mengangguk, memahami rencana licik wanita itu. “Jadi, kau ingin menjebak mereka dengan informasi yang salah?” “Benar! Sementara itu, kita juga akan mencari cara untuk memotong semua akses mereka terhadap paten yang asli. Itu mungkin memakan waktu, tapi aku punya beberapa koneksi di dalam industri farmasi yang bisa membantu.” Handika termenung mendengarkan dengan seksama. “Kalau begitu, aku akan mengawasi Karina. Dia pasti akan terus berhubungan dengan Arya. Aku bisa memanfaatkan momen-momen itu untuk menggali lebih dalam tentang rencana mereka.” “Bagus!” Maya mengangguk setuju dengan tatapan penuh keyakinan. “Dengan dua sisi ini, kita bisa memastikan bahwa mereka tak punya jalan keluar. Tapi, kita harus berhati-hati. Mereka tidak hanya cerdik, tapi juga licik, terutama Arya. Dia tahu caraku bekerja.” Handika menghela napas panjang, merasa beban yang ditanggung semakin berat. Namun, di sisi lain, dia juga merasa ini adalah kesempatan untuk membebaskan diri dari cengkeraman Karina yang sudah terlalu lama mempermainkannya. “Aku siap,” ucap Handika dengan nada penuh tekad. “Kita lakukan ini.” Maya tersenyum puas, lalu berdiri. “Bagus. Sebaiknya, kita akhiri pertemuan kali ini, sebelum ada yang melihat dan mengenali kita. Aku masih harus mengerjakan beberapa data yang harus disiapkan untuk mereka.” Keduanya meninggalkan tempat itu setelah membayar pesanan. Mereka keluar dengan langkah mantap. Hari itu menjadi saksi awal mula permainan yang akan mengubah segalanya. Bukan hanya bagi Maya dan Handika, tetapi juga bagi Arya dan Karina yang tak tahu karma apa yang tengah menunggu mereka. ***** Hari berikutnya, Maya dan Handika memainkan peran dengan sangat sempurna. Ketika di rumah sakit, Maya bertindak seolah-olah tak ada yang berubah. Dia masih bercengkerama dengan Arya seperti biasa, membicarakan hal-hal remeh, bahkan membicarakan penelitiannya dengan penuh antusias. Sementara di sisi lain, Arya semakin percaya bahwa Maya masih belum mengetahui perihal hubungan terlarang yang tengah dia jalani dengan Karina. Handika secara diam-diam mulai mengamati gerak-gerik Karina. Dia memasang perangkat pelacak di ponsel istrinya, memastikan setiap langkah dan pesan yang dikirimkan Karina ke Arya dapat dia pantau. Dengan informasi ini, akan memudahkan Handika dan Maya untuk menyusun rencana yang lebih besar. Suatu malam, ketika baru menyelesaikan pekerjaannya, Handika mendapati satu notifikasi masuk ke ponselnya yang ternyata berisi pesan singkat dari Arya untuk Karina. [Besok pagi, Maya akan sibuk di rumah sakit. Datanglah ke apartemenku! Aku merindukanmu, kita habiskan waktu bersama selama seharian penuh dan membicarakan lebih banyak tentang rencana kita.] Handika membaca serentetan pesan itu dengan seksama. Ada rasa panas yang menjalar dalam d**a. Dia merasa jijik membaca sederet pesan itu. Ini hanya sebagian kecil, untuk esok hari mungkin dia akan menemui pesan yang lebih menjijikkan dari ini. Mengesampingkan emosi yang menjalar, Handika segera memberi tahu Maya mengenai isi pesan tersebut, sebab dia yakin semua itu pasti bagian dari rencana Maya. ***** Malam harinya, sebelum pertemuan dua pengkhianat itu, Maya dan Handika telah berada di apartemen milik Arya. Bukan hal sulit bagi Maya untuk masuk ke unit tersebut, karena dia memiliki akses penuh ke sana. Kamera tersembunyi sengaja dipasang ke setiap sudut ruangan, yang siap merekam pertemuan antara dua pengkhianat itu. Maya memang sengaja meminta ijin pada Arya kalau dia akan sibuk di rumah sakit hingga mengharuskan untuk lembur. Padahal pada kenyataannya tidaklah demikian, hari itu dia tidak memiliki jadwal yang padat. Maka dari itu, dia segera memanfaatkan kesempatan dengan menyusun rencana untuk mengulik lebih dalam Informasi mengenai rencana Arya dan Karina. Sebab dia tahu, Arya pasti akan memanfaatkan kesibukannya untuk bertemu dengan kekasih gelapnya. Mereka yang terlalu terlena tidak tahu bahwa kali ini, setiap kata dan gerakan akan direkam. Hari pertemuan tiba, Maya dan Handika telah standby di ruangan Maya. Keduanya tampak fokus mengamati layar lipat di depannya yang menampilkan rekaman CCTV yang telah mereka pasang di apartemen Arya. Dalam pertemuan itu, mereka bisa melihat dengan jelas apa saja yang dilakukan Karina dan Arya di dalam unit tersebut. Sama seperti sebelumnya, dua orang itu melakukan percintaan panas di beberapa tempat, tidak hanya kamar, melainkan ruang tamu, dapur dan kamar mandi menjadi sasaran tepat pelampiasan hasrat mereka. Maya sekuat tenaga menyaksikan pemandangan menyakitkan itu demi keberhasilan sebuah tujuan. Setiap kali melihat percintaan panas mereka, dendam dalam dirinya berkobar semakin hebat layak api yang sengaja disiram bensin. Bahkan berulang kali wanita itu tampak memalingkan muka saat tak kuasa melihat bagaimana liarnya Arya dalam menggauli Karina. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan saat bercinta dengannya. "Kuatkan dirimu, May! Inilah resiko dari rencana yang kau susun. Ingat tujuan awal kamu melakukan ini!" kata Handika saat melihat wanita di sampingnya hendak beranjak. Rahang yang mengeras dan mata memerah menandakan jika Maya telah dikuasai amarah. Pada akhirnya saat yang ditunggu telah tiba. Arya dan Karina terlibat sebuah pembicaraan serius di ruang makan. Mereka membicarakan rencana untuk mencuri paten penelitian Maya dalam waktu dekat, serta meremehkan wanita yang mereka pikir tidak tahu apa-apa. Dalam keantusiasan mereka dalam menyusun rencana. Keduanya tidak menyadari, kalau Maya telah bergerak beberapa langkah lebih maju. Maya merasa puas dengan hasil yang diperoleh hari itu. Setelah selesai merekam semuanya, dia memiliki semua bukti yang dibutuhkan untuk kelak melaporkan mereka ke pihak berwajib. Bukan hanya untuk perselingkuhan, tetapi juga untuk pencurian intelektual. “Aku akan simpan semua bukti ini,” kata Maya kepada Handika setelah berhasil meninjau rekaman tersebut. “Apa kau yakin masih ingin mengulur waktu? Padahal kita bisa mengakhiri semuanya sekarang," kata Handika. Maya menggeleng. “Tidak, ini baru permulaan. Aku ingin mereka merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Mereka pernah membunuhku dalam kecelakaan tragis, dan meninggalkanku begitu saja." Sepasang manik yang biasanya menatap penuh kelembutan, kini menatap penuh kemarahan pada flashdisk yang berisi rekaman yang ada di tangannya. Bayangan abu-abu malam tragis itu kembali berkelebat dalam ingatan, bayangan bagaimana Arya hanya melihat keadaannya untuk memastikan apa dia sudah mati atau belum, bayangan wajah bahagia mereka di tengah kesakitannya, berhasil merajut dendam dalam dirinya. "Membunuh? Kecelakaan tragis? Kapan itu, May?" Maya terkesiap saat menyadari jika dirinya telah kelepasan bicara. Wanita itu seketika tergagap dan meralat ucapannya. "Ma-maksudku ... rencana mereka, ya, rencana mereka seperti membunuhku dalam kecelakaan tragis yang merenggut nyawa, lalu mereka meninggalkanku begitu saja saat sekarat." Handika hanya manggut-manggut mendengarnya, meski sebenarnya merasa aneh ucapan wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN