Bab 24

1035 Kata

Aku merasa tubuhku gemetar. Genggaman tangan mungil Arkan yang berusaha menguatkanku sama sekali tidak berpengaruh. Kami sama-sama menangis. Di sini, di depan ruang perawatan Mas Damar kami menunggu dokter melalukan tugasnya. Kami duduk di kursi panjang yang muat untuk diduduki sekitar empat orang. Arkan duduk di tengah, di antara aku dan Mama, sementara Papa berada di ujung sana. Mama dan Papa tampak lebih kacau dariku, Arkan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis dan mencoba menenangkan kami dengan caranya yang ia bisa. Putraku itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, ia tidak tahu bahwa ayahnya tengah meregang nyawa di dalam sana. Aku tidak mengira jika senyum lebar Mas Damar tadi pagi adalah senyum yang ia gunakan sebagai tameng dari rasa sakitnya. Bodohnya aku yang tidak t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN