"A―Mel?" Pekikan setengah terkejut, yang bertepatan setelah pintu apartemen ini kubuka, membuatku ikut terkejut. Terlebih lagi melihat siapa yang kini berdiri di hadapanku. "Eh? Oooommmm!!! Akan aneeeen!" Tiba-tiba saja tubuh mungil Arkan menyembul di balik tubuhku. Om? Sejak kapan putraku mengenal laki-laki ini? "Om, Om au umah Akan ayi na? Akan anen Om, ama ndak emu, oalna Unda Akan da ndak eja di cana," ucap Arkan yang kupahami seperti ini ; Arkan sudah lama tidak bertemu dengan laki-laki itu, karena aku yang sudah tidak bekerja di sana. Dan Arkan juga menanyakan bagaimana laki-laki yang sebenarnya kukenal itu tahu rumahnya. Apartemen ini. Barangkali di sana yang Arkan maksud adalah kantor. Tidak mungkin kalau mini market, karena baru kemarin aku mengundurkan diri dari sana. Dan sel

