Chapter 49

1093 Kata
Dia bukankah gadis yang aku lihat waktu itu? batin Pangeran Kenzie. Ya, dia masih ingat gadis yang memiliki mata hijau cerah yang melihatnya sambil tersenyum seperti orang bodoh. Di hari dia membuka mata kembali untuk yang kedua kalinya. Untuk sementara waktu suasana hening dan tenang, hanya suara embusan angin yang mengisi sampai suara Eisha merobek keheningan. "Jangan dihukum Pangeran Kedua, aku 'kan hanya lihat Pangeran Kedua main seruling," ujar Eisha Vaiva. Dalam hatinya mengeluh kenapa ibu dan anak sama-sama suka memberi orang lain hukuman? Gadis ini cukup berani juga menjawab, kesan pertama Pangeran Kenzie pada gadis yang belum dia ketahui siapa namanya itu. "Siapa nama lengkapmu?" tanya Pangeran Kenzie untuk pertama kalinya. Eisha menatap wajah Pangeran Kenzie dalam jarak yang lebih dekat. Memang wajah laki-laki di hadapannya ini sangat indah untuk dipandang, bahkan wajahnya sangat mulus dibanding Eisha yang notabenenya seorang perempuan. Itu membuat Eisha meringis sedih. "Namaku Eisha Vaiva Nafeda," jawab Eisha menyebutkan nama lengkapnya. "Eisha, kau petik beberapa bunga di taman sebagai hukumanmu," perintah Pangeran Kenzie tanpa ekspresi. "Bunganya berapa banyak dan jenis apa saja, Pangeran Kedua?" tanya Eisha, dia memilih untuk bertanya terlebih dahulu daripada nanti salah. Kalau salah nanti menambah pekerjaannya saja. "Terserah kau, mau berapa banyak bunganya dan jenisnya juga bebas," sahut Pangeran Kenzie cuek. "Baiklah, akan segera dilaksanakan Pangeran Kedua." Eisha berjalan ke arah taman yang ada di dekatnya, di sana ada banyak sekali jenis bunga yang tumbuh. Dan bunga-bunga yang ada di sana tumbuh dengan baik, pasti para pelayan telah bekerja kerja untuk itu. Aroma harum bunga selalu tercium ketika Eisha berada di istana bekerja sebagai pelayan. Di setiap paviliun yang ada pasti ada taman bunga. Eisha mengambil beberapa tangkai bunga yang menurutnya bagus. Eisha mengedarkan pemandangan ke sekitar taman, dia melihat ada sebuah gazebo dan di sampingnya ada sebuah kolam. Dengan semangat Eisha berjalan melewati jembatan yang berada di tengah kolam. Gadis itu dengan perlahan menaiki pembatas jembatan dan duduk di pembatas jembatan. "Ternyata di paviliun teratai emas ada kolam ikan juga," ucap Eisha sambil pandangan matanya fokus melihat para ikan yang berenang dengan riang di dalam kolam membuat gadis itu tersenyum. "Sayang sekali aku tak bawa makanan ikan," sesal Eisha sedikit kecewa. Pasti akan lebih seru jika melihat ikan berebutan makanan. "Lama sekali gadis itu disuruh petik bunga saja," keluh Pangeran Kenzie. Sehingga laki-laki itu bangkit dari posisi duduk nyamannya, dia pun ikut berjalan ke arah taman. Aroma bunga tak tercium di indra penciumannya. "Hey! Kenapa malah melihat ikan? Aku suruh petik bunga malah ke sini, mau hukumannya aku tambah lagi?" teriak Pangeran Kenzie dengan tiba-tiba membuat Eisha yang sedang asyik melihat ikan terkejut. Sehingga gadis itu tanpa sadar terpeleset dari posisi duduknya dan jatuh ke dalam kolam ikan. Tangan Eisha menggapai-gapai ke udara. "Tolong aku!" ucap Eisha berusaha untuk naik ke permukaan air, tapi dia tetap saja tenggelam. "Dasar gadis ceroboh!" umpat Pangeran Kenzie, dia terpaksa melompat masuk ke dalam kolam ikan. Pangeran Kenzie menggendong tubuh Eisha yang tenggelam di dalam kolam ikan. Eisha mengalungkan tangannya ke leher Pangeran Kenzie. Tanpa disadari cahaya biru dan merah muda keluar dan bersatu. Pangeran Kenzie membawanya ke permukaan, lalu meletakkan tubuh Eisha di pinggir jembatan. Tubuh Pangeran Kenzie dan Eisha basah kuyup. "Eisha bangun!" Pangeran Kenzie menggoyangkan tubuh gadis kecil itu. Setelah beberapa saat Eisha terbangun dan memuntahkan air yang tak sengaja tertelan saat di kolam ikan. Eisha bangkit dari posisi terlentang, menjadi duduk. Tubuhnya bergetar kedinginan apalagi angin berhembus dengan kencang. Pandangan matanya tertuju pada tubuh Pangeran Kenzie yang basah, rambutnya meneteskan air. "Pelayan!" panggil Pangeran Kenzie, tak lama kemudian dua orang pelayan menghadap Pangeran Kenzie. Dua pelayan bingung kenapa tubuh majikannya basah kuyup. "Kalian bantu Eisha untuk mandi sampai selesai," ujarnya, yang dijawab anggukan kompak kedua pelayan tersebut. Sesuai dengan perintah dari majikan Eisha dibawa ke kamar tamu yang ada di paviliun teratai emas. Dua orang pelayan wanita yang pastinya lebih tua dari Eisha membantu melepaskan pakaian basah dari tubuh Eisha. Sebenarnya Eisha sudah menolak, tapi kedua pelayan itu tetap memaksa. Akhirnya Eisha terpaksa menurut saja. Kedua pelayan itu membantunya membersihkan diri sampai Eisha berdandan. "Kalian berdua terima kasih! Maaf karena aku jadi repot," ujar Eisha merasa tidak enak. Dia yang tak sengaja tercebur di dalam kolam, malah membuat pelayan kediaman Pangeran Kenzie mengurusnya. "Iya, tak apa-apa. Ini tugas kami melayani Pangeran Kedua," ujar pelayan pertama yang memiliki kulit sawo matang. Eisha menebak pelayan ini umurnya sekitar dua puluh tiga tahunan jika di dunia manusia. "Tak usah merasa sungkan, Nona. Lagipula kami diperintahkan oleh Pangeran Kenzie," tambah pelayan kedua. Dia punya t**i lalat di atas bibir membuatnya tampak manis. Dan kulit badannya berwarna putih. Dengan sepasang mata coklat muda. Tubuhnya lebih kurus dari pelayan pertama. Pangeran Kenzie telah selesai mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang baru. Untuk pertama kalinya dia menyelamatkan seorang gadis ceroboh yang hampir tenggelam di dalam kolam ikan miliknya. Lucu juga, gadis bernama Eisha sampai jatuh. Pangeran Kedua Kerajaan Harvy menuangkan teh ke dalam cawannya, dia cukup terkejut bisa mencium aroma kelopak bunga saat ingin meminumnya. Dia mencoba untuk meminum teh miliknya dan benar saja, rasa segar dan manis teh bisa dirasakannya. Apakah indra penciuman dan indra perasaku sudah kembali? pikir Pangeran Kenzie. Sebelum dia menyelamatkan Eisha dia tak bisa merasakan aroma apapun. Apakah ini memang ada hubungannya dengan gadis itu? Pangeran Kenzie menduga-duga. Dia harus membuktikannya sendiri. Pangeran Kenzie menoleh ke arah pintu masuk saat ada seseorang yang mengetuk pintu. Eisha berjalan masuk ke dalam ruangan setelah diperbolehkan oleh Pangeran Kenzie. Eisha memberikan hormat pada laki-laki yang sedang menikmati secangkir teh hangat. "Terima kasih, Pangeran Kenzie karena sudah menyelamatkanku," ucapnya. Pangeran Kenzie melihat seorang gadis yang berdiri di hadapannya, gadis itu tampak berbeda dengan pakaian kelas atas. Gadis itu seperti bukan seorang pelayan, melainkan seorang nona muda dari salah satu keluarga bangsawan. "Aku menyelamatkanmu tidaklah gratis! Aku bahkan sampai harus mandi sebanyak dua kali dan ganti pakaian baru karena menyelamatkanmu," sahut Pangeran Kenzie yang sedikit kesal. Karena kecerobohan gadis itu malah berimbas padanya. Eisha tidak menjawab, karena memang itu salahnya. "Maaf Pangeran Kenzie," ujarnya dengan raut wajah yang bersalah. "Tak cukup dengan permintaan maaf saja. Besok kau harus datang ke paviliun menjadi pelayanku," putus Pangeran Kenzie. Dia bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk membuktikannya sendiri. "Apa? Pangeran Kenzie apakah tak ada cara yang lain selain menjadi pelayanmu? Apalagi aku ini sudah punya majikan sendiri," tolak Eisha. "Kau hanya perlu menjadi pelayanku selama satu hari. Setelah aku membuktikannya sendiri, aku akan memberikan perintah yang baru." Pangeran Kedua yang lahir dari rahim Yang Mulia Permaisuri Celia berkata dengan nada berwibawa dan tegas. "Baiklah, hanya satu hari saja," jawab Eisha dengan lesuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN