Eisha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang menampilkan lesung pipitnya. Matanya menyipit. "Terima kasih, semua ini karena berkat Selir Linda yang sabar mengajari Vaiva."
"Sama-sama.Vaiva ke depannya harus lebih rajin dan giat belajar sihirnya," nasihat Selir Linda.
"Pasti Selir Linda," jawab Eisha mengangguk pasti.
Setelah itu Selir Linda mengajari teknik sihir yang lain yaitu memindahkan barang dengan sihir. Dan Eisha mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
***
Tak terasa hari telah beranjak sore, Eisha merenggang tubuhnya di balkon belakang. Tubuhnya rasa pegal dan juga lelah. Namun dia juga senang karena bertambah ilmu barunya. Selir Linda bahkan membiarkannya untuk beristirahat sehabis latihan sihir. Selir Linda sangat baik padanya, seperti bukan memperlakukan seorang pelayan pada umumnya melainkan memperlakukan seorang keluarga. Entah kenapa?
Kalau aku benar punya hubungan darah dengan Selir Linda pasti aku akan sangat senang. Selir Linda orangnya baik banget dan ramah, batin Eisha berharap.
Tapi bagaimana mungkin Eisha! ujar Eisha menyadarkan dirinya sendiri.
Selir Linda adalah putri pertama dari menteri kerajaan, sedangkan kau adalah anak dari seorang pedagang dari dunia manusia. Jadi, mana mungkin itu terjadi, batin Eisha berpikir. Dia merasa lucu saja dengan khayalanannya itu.
Hm, ngomong-ngomong ada satu hal yang aku bingung. Kenapa saat aku menggengam tangan Pangeran Kedua, kenapa dia tiba-tiba bangun? Itu sangat terlalu kebetulan 'kan?
Dan ekspresi Yang Mulia Permaisuri Celia juga sepertinya senang banget lihat anaknya bangun. Padahal kan harusnya biasa saja, kecuali ada hal yang berbeda.
Lalu satu lagi kenapa Permaisuri Celia memaksa aku untuk menyentuh tangan anaknya? Itu sangatlah aneh? Kenapa ngga nyuruh pelayannya yang bernama Kak Liya itu saja, kenapa harus aku? Bahkan sampai rela menjemputku dari paviliun bunga anggrek.
Eisha kemudian melihat ke arah telapak tangan kanannya yang dia gunakan untuk memegang tangan Pangeran Kedua. "Rasanya tak ada yang berbeda dari tanganku dengan tangan orang lain? Hah, dasar aneh!"
"Siapa yang aneh?" tanya Ayu yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Ayu kau di sini? Bukannya kau harusnya di depan, ya?" tanya Eisha menatap ke arah Ayu yang juga melihatnya.
"Iya, harusnya aku di depan, tapi Selir Linda memerintahkanku untuk melihatmu, rupanya kau di sini," jawabnya. Eisha mengangguk pelan.
***
Sementara itu di tempat yang lain, seorang laki-laki sedang meminum secangkir teh. Pakaian mewah membalut tubuh atletisnya. Rambut hitam panjangnya ditata dengan rapi dan ada hiasan juga. Dua orang pelayan berada di sisi kanan ruangan paviliun teratai emas.
"Kenapa rasa tehnya hambar?" ujar Pangeran Kenzie dengan nada yang heran. Ekspresi wajahnya tetaplah datar dan dingin.
"Kalian lupa memberikannya gula?" tanya Pangeran Kenzie melihat ke arah dua pelayan yang ditugaskannya untuk membuatkannya teh.
Dua orang pelayan menghadap Pangeran Kenzie. "Maaf, Pangeran Kedua, hamba sudah menambahkan gula ke dalam teh. Mely, bisa menjadi saksinya," sahutnya dengan sopan.
Mely yang berdiri di sampingnya mengangguk. "Iya, Pangeran, hamba melihat Dwi sudah memasukkan gula ke dalam teko tehnya."
"Baiklah, kalian bisa berdua keluar saja!" Pangeran Kedua memberi kode, Mely dan Dwi mengangguk dan memberikan hormat sebelum berjalan keluar ruangan paviliun teratai emas. Tak lupa kedua pelayan itu menutup pintu.
Sebelum aku tertidur panjang, indra perasa dan indra peraba aku baik-baik saja, batin Pangeran Kedua.
Dia mengambil pisau berukuran kecil yang tergeletak di dalam mangkuk berisi buah yang belum dikupas dan mencoba menggores jari telunjuknya sampai meneteskan cairan merah.
Ini kenapa aku tak bisa merasakan apapun, bahkan sedikit rasa sakit pun tak ada, batin Pangeran Kenzie yang mulai khawatir. Dia mengeluarkan kekuatan sihirnya dan mengobati lukanya sendiri.
Mungkin saja besok semua indraku sudah kembali pulih, aku harus tenang, batin Pangeran Kenzie melanjutkan kembali membaca buku yang baru dibacanya setengah.
***
Eisha senang sekali karena diperbolehkan oleh Selir Linda untuk berlibur. Wanita itu bilang anggap saja libur selama dua hari itu sebagai hadiah karena Eisha sudah berusaha keras belajar ilmu sihir. Tentu saja dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Oh, ya, sejak Tuan Spider mengalahkan Amira, gadis itu tak lagi mengganggunya. Entah Amira bisa menahan berapa lama, Eisha tak tahu.
Tujuan Eisha saat ini adalah ke paviliun teratai emas, dia ingin melihat bagaimana keadaan Pangeran Kenzie. Kemaren Eisha baru tahu kalau Pangeran Kedua memiliki ramalan takdir yang mengatakan ketika berumur seratus tahun akan tertidur. Eisha merasakan rasa simpati pada Pangeran Kedua yang punya takdir seperti itu, yang membuatnya tak bisa menikmati hari-harinya mungkin sudah bertahun-tahun.
Dan itu artinya saat Yang Mulia Permaisuri memintanya untuk menyentuh tangan sang pangeran, Permaisuri Celia yakin jika aku menyentuhnya maka Pangeran bisa bangun. Itu sungguh konyol sekali! Sekilas seperti cerita princess aurora yang pernah didengarnya waktu kecil dulu, dan bedanya yang tertidur itu adalah seorang pangeran bukan putri.
Sulit untuk diterima akal sehat, tapi jika digabungkan semuanya jadi masuk akal. Dari ekspresi Yang Mulia Permaisuri Celia yang sangat senang, seolah si putra sudah lama tak bangun dan sang pangeran yang terbangun setelah disentuhnya, batin Eisha panjang lebar.
Eisha menyelinap masuk ke dalam paviliun teratai emas, dia bersembunyi di balik pilar tiang saat para prajurit berpatroli. Eisha pun berjalan santai setelah berhasil masuk ke dalam area paviliun teratai emas.
Pangeran Kedua itu apa berada di dalam ruangan paviliunnya atau di mana, ya? batin Eisha menebak-nebak.
Berselang beberapa saat Eisha mendengar suara orang yang sedang bermain suling. Irama suling yang enak didengar mengalun bersama angin yang berembus membawa kedamaian di hati yang mendengarnya.
Eisha berjalan ke arah sumber suara alat musik tiup yang berasal dari arah belakang paviliun. Dan benar saja Pangeran Kedua yang sedang memainkan seruling tersebut.
Wajah Pangeran Kedua tampaknya lebih sehat dan lebih segar dari hari itu, pikir Eisha.
Dia juga kelihatan tampan dengan pakaian serba biru yang membalut tubuhnya, tambahnya. Gadis itu bersembunyi di balik pilar paviliun, dia ingin tahu bagaimana keadaan Pangeran Kedua. Tanpa sadar Eisha terhanyut bersama alunan seruling Pangeran Kenzie, kelopak matanya menutup.
Pangeran Kedua melemparkan kekuatan sihirnya ke arah salah satu pilar karena dia melihat seorang gadis yang diam-diam melihatnya. Eisha terjatuh di atas balkon paviliun, dia mengaduh kesakitan dan mengusap lututnya.
Eisha berusaha untuk bangkit dari posisi jatuhnya, menjadi posisi berdiri. Karena sudah dilihat oleh Pangeran Kedua Kerajaan Harvy, terpaksa Eisha menghampiri sang Pangeran.
"Selamat pagi, Pangeran Kedua!" sapa Eisha sambil memberikan hormat.
"Berdirilah!" jawab laki-laki yang wajahnya tanpa ekspresi dan cenderung datar itu.
"Terima kasih, Pangeran Kedua!" sahut Eisha, lalu menegakkan punggung kembali.
"Hukuman apa yang harus aku berikan untuk orang yang mengintipku?" sindir Pangeran Kenzie sembari menatap pelayan yang berdiri di hadapannya itu.