Chapter 47

1070 Kata
Ah, ada hal yang lebih menarik dibanding memikirkan hal sebelumnya, batin Tuan Spider tersenyum jahil dalam wujud seekor laba-laba berkaki delapan. Dia bergerak turun dari sarang laba-labanya sendiri, kemudian merayap di dinding menuju ke lantai. Dia berjalan melewati pintu jendela yang tak terlalu rapat. Tuan Spider berjalan melewati lorong bangunan tempat tinggal para pelayan. Suasana gelap dan remang-remang hanya ada beberapa lampu yang digantung di tiang. Dia mengintip di jendela yang tak ditutup dengan rapat, mencari sosok gadis yang bernama Amira. Setelah menemukan sosok gadis yang dia cari, dia bergerak turun dan merayap ke lantai. Di dalam kamar tersebut, ada tiga orang pelayan yang sedang tertidur lelap di atas ranjang kayu. Tuan Spider mengubah wujudnya menjadi lebih besar dari ukuran yang sebelumnya. Tanpa menimbulkan suara dia menyingkirkan selimut yang menyelimuti tubuh Amira. Ini hukuman kecil karena kau telah berlaku jahat dengan Vaiva, batin Tuan Spider tersenyum smirk. Cairan lengket keluar dari mulutnya bergerak menggulung tubuh Amira. Setelah itu membuat selimut menyelimuti tubuh gadis itu, seolah tak terjadi apa-apa. Setelah itu laba-laba berkaki delapan pergi dari sana, kembali ke ruang kamar Eisha dan Ayu Diana. Lihat saja kau besok Amira, ucap Tuan Spider tersenyum puas. *** Keesokan harinya terjadi kehebohan di dalam kamar nomor satu. Saat Amira membuka mata dan terbangun dari tidur lelapnya, dia sangat terkejut. Tubuhnya dibalut cairan super lengket dan menjijikkan. "Cepat singkirkan cairan ini!" Amira memerintahkan dua pelayan yang satu kamar dengannya. Kebetulan dua orang pelayan tersebut sudah terbangun dari tidurnya. "Iya, kak," jawab keduanya kompak dan patuh. Kedua pelayan itu mengeluarkan kekuatan sihir mereka yang berbentuk api. Butuh waktu tiga jam bagi mereka untuk membakar habis benang putih karena benang putih itu sangat tebal menggulung tubuh Amira. "Sialan! Siapa yang berani melakukannya padaku," desis Amira kesal dan marah. Dia membersihkan sisa cairan lengket yang melekat di tangan dan lehernya. "Kami tak tahu, Kak," jawab kedua pelayan yang lebih muda. Mereka memang tak melihat ada orang yang baru saja keluar dari ruangan kamar nomor satu. Amira mengambil handuk dan pakaian baru untuk membersihkan dirinya ke kamar mandi. Sangat tidak lucu, kalau dia keluar dalam keadaan kotor dan lengket. Itu sama sekali bukan seorang Amira! Selama di dalam kamar mandi, Amira berendam di dalam air yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar sambil berpikir siapa orang yang berani melakukan hal ini padanya. Amira mengingat kejadian hari kemaren saat dia sedikit lagi berhasil melukai tubuh Vaiva. Seekor laba-laba putih tiba-tiba muncul dan menggagalkan semua rencana yang telah dia susun. Tak salah lagi pasti laba-laba sialan itu yang melakukannya padaku! Amira memukul air di dalam bak sampai membuat airnya bergelombang. Siapa lagi yang punya senjata benang putih selain laba-laba itu? Pasti pelayan rendahan itu yang memerintahkannya, ucap Amira dengan yakin. *** Sementara itu di dalam kamar nomor sepuluh, yaitu kamar Eisha dan Ayu Diana. Terlihat Ayu sedang menguncir rambut Eisha menjadi satu ke atas dan tidak lupa memakaikan tusuk rambut perunggu di rambutnya. "Nah sudah selesai, bagaimana rapi ngga?" tanya Ayu setelah selesai. Eisha duduk di depan cermin berwarna putih yang memantulkan wajahnya dan penampilannya. "Sudah rapi, terima kasih Ayu atas bantuannya," sahut Eisha. Ayu Diana mengangguk. "Iya, sama-sama. Tumben hari ini rambutnya mau dikuncir ke atas, biasanya kuncir di bawah?" tanyanya. Eisha segera menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya bosan setiap hari dikuncir di bawah. Sesekali kuncir ke atas, dan ini lebih enak rupanya." Sedangkan Ayu Diana mengepang rambutnya menjadi dua kepangan. Tusuk rambutnya tetap dibawanya ke dalam saku pakaiannya. "Vaiva, aku berangkat duluan ya! Ada tugas yang belum aku selesaikan kemaren," pamit Ayu, sebelum berjalan keluar kamar. "Iya, hati-hati!" pesan Eisha. Pasti dia sudah terbangun dari tidurnya, dan menjerit ketakutan, batin Tuan Spider tertawa puas. Pintu kamar nomor sepuluh dibuka dengan kasar. Eisha segera menoleh ke sumber suara. Di sana seorang gadis berjalan dengan wajah merah padam. Kenapa dia pagi-pagi ke sini? Apa tak cukup dia membuat sekujur tubuhku sakit karena harus berlari mengelilingi taman? batin Eisha menatap Amira. "Kau pasti yang telah menyuruh hewan magis sialan itu melakukan sesuatu padaku 'kan!" Amira membentak Eisha. Eisha sudah beberapa kali mendengar gadis yang lebih tua darinya itu marah-marah. "Apa maksudmu? Jangan menuduh orang sembarangan!" sahut Eisha tak terima. Dia paling tidak mau dituduh sembarangan, padahal dia sama sekali tak melakukannya. Amira mengeluarkan kekuatan sihirnya dan hendak mengarahkan pada Eisha. Eisha segera membuat semacam perisai untuk melindungi dirinya. Kemaren dia sempat belajar cara membuat perisai dari Tuan Spider, dan rupanya berguna di saat seperti ini. Kekuatan sihir Amira bertabrakan dengan perisai merah muda Eisha sehingga menimbulkan gelombang yang sedikit menggetarkan ruangan kamar. Eisha berusaha mempertahankan perisai yang telah dibuatnya dengan menyalurkan kekuatan sihirnya ke dalam perisai. "Siapa lagi kalau bukan kau yang menyuruhnya? Dasar pelayan rendahan, tak tahu diri!" jawab Amira masih dalam kemarahan. Laba-laba putih pun merangkak turun dari atas atap kamar dan berjalan turun ke bawah. Dia mengubah tubuhnya menjadi ukuran sedang. "Aku yang telah melakukannya, bukan Vaiva yang menyuruhku!" Tuan Spider menyela pembicaraan Amira. Amira mengalihkan pandangan ke arah sosok laba-laba putih yang berdiri di dekatnya. Karena tak tahan lagi dan lelah, Eisha melepaskan perisai merah muda. Vaiva, pergilah aku yang akan mengurusnya. Aku yang telah memberinya pelajaran, dan itu pantas dia lakukan, laba-laba putih berbicara melalui pikiran. Iya, itu memang pantas dia dapatkan. Tuan Spider, kau harus hati-hati, jawab Eisha di dalam hati. Eisha dengan gerakan perlahan keluar dari kamarnya yang kini berantakan. Oke, baiklah setelah pulang bekerja dia akan merapikannya lagi. Dia berjalan melewati lorong dan menuju ke ruangan paviliun bunga anggrek. Di dalam ruangan, terlihat Selir Linda sedang duduk si kursi sembari menunggu kedatangan Vaiva. Seperti biasa gadis itu memberikan hormat terlebih dahulu. Setelah diperintahkan berdiri, barulah dia berdiri kembali. "Bagaimana dengan hasil latihanmu kemaren?" tanya Selir Linda menatap wajah gadis muda yang berdiri di hadapannya itu. Eisha mengangguk pelan. "Iya, hasil latihanku lumayan baik, Selir Linda," lapornya. Selir Linda meminta agar pelayan luar membawakan beberapa pot tanaman dan meletakkan di atas meja sesuai dengan permintaannya. "Di depanmu ada enam pot tanaman bunga, lakukan seperti yang aku ajarkan kemaren. Dan aku akan menilainya apakah sudah sesuai atau belum." Selir Linda berkata sambil menunjuk deretan pot bunga keramik. Eisha berkonsentrasi, dia melakukan langkah demi langkah. Cahaya merah muda berpendar di atas telapak tangannya. Dan Eisha menggerakkan tangannya, kekuatan sihir melingkupi enam pot bunga. Bunga layu dan bunga kuncup berubah menjadi mekar dan segar kembali. Bertambah banyak bunga dan ukuran bunganya menjadi lebih besar. Selir Linda memberikan tepuk tangan. "Bagus sekali! Tidak hanya berhasil, tapi sangat berhasil!" pujinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN