Seekor laba-laba putih ukuran sedang tiba-tiba muncul di hadapan Eisha. Rupanya jarum-jarum hijau tersebut ditangkap oleh jaring lengket milik laba-laba putih. Oleh karena itulah jarum-jarum hijau tak mengenai tubuh Eisha.
Amira di tempatnya berdiri menatap marah dan lagi-lagi harus mendesah kecewa karena nasib pelayan sialan itu sangatlah beruntung, ada seekor hewan magis yang bahkan bersedia untuk menolongnya.
Amira menunjuk wajah Eisha. "Hari ini kau bisa selamat, anggap saja aku sedang berbelas kasihan padamu! Lain kali aku tak akan melepaskanmu dengan mudah!" Amira berjalan meninggalkan Eisha berdua dengan seekor laba-laba putih.
Eisha mengembuskan napas lega dan mengusap dadanya. Telah selamat dari jarum-jarum hijau runcing. Gadis itu kemudian menatap seekor laba-laba putih berukuran sedang yang berdiri di hadapannya. "Terima kasih karena telah menyelamatkanku laba-laba putih!" ujarnya dengan tulus.
Laba-laba putih pun mengangguk. "Iya, sama-sama. Aku kebetulan sedang lewat dan melihatmu dalam keadaan susah, jadi datang untuk membantu."
"Sekalian mampir dulu laba-laba putih," ajak Eisha dengan ramah.
"Baiklah, kalau begitu," jawab laba-laba putih mengangguk setuju. Dia mengubah wujudnya menjadi lebih kecil sebesar kelereng dan melompat ke atas tangan kanan Eisha.
Eisha meletakkan laba-laba putih di atas kursi yang kosong. Dan hewan berkaki delapan itu mengubah wujudnya menjadi wujud seperti elf dalam hitungan detik.
Eisha menuangkan teh ke dalam cawan yang bersih dan mempersilakan laba-laba putih. Tanpa canggung laba-laba putih mengambil cawan dan meminumnya sampai habis. "Aku minta tehnya lagi, aku masih haus setelah perjalanan jauh," pintanya.
"Baiklah, tunggu sebentar," jawab Eisha, kemudian menuangkan untuk yang kedua kalinya teh.
"Oh, ya, makanlah juga camilan kuenya. Kue-kue buatan koki istana enak banget lho, sayang kalau ngga dicoba," ucap Eisha, lalu mengambil kue warna merah.
"Benar yang kau katakan, pasti tambah enak kalau makan dengan kue juga." Laba-laba putih mengambil dua potong kue secara sekaligus, di tangan kiri dan tangan kanan. Dan mengunyahnya secara bergantian.
Tuan Spider mencelupkan potongan kue ke dalam cawan teh dan memakannya. "Enak sekali," ujarnya. Laki-laki itu tampak sangat menikmatinya.
Eisha tersenyum senang karena laba-laba putih suka dengan kue camilannya. Tiba-tiba dia teringat tentang sesuatu. "Laba-laba putih, aku tahu kalau kau bukan hanya sekedar lewat."
Tuan Spider pun melihat ke arah gadis kecil yang juga tengah menatapnya. "Baiklah, aku tak bisa menyembunyikannya darimu, aku memang sengaja datang ke sini untuk menjengukmu. Aku bahkan melewati berhari-hari baru bisa datang menemuimu."
"Oh, ya, panggil aku Tuan Spider saja, itu kelihatan lebih keren dan simpel," pinta laba-laba putih.
Eisha pun mengangguk. "Baiklah, Tuan Spider. Kenapa kau bisa tahu kalau aku ada di paviliun bunga anggrek?" tanyanya yang penasaran. Dia tak pernah bertemu lagi dengan laba-laba putih setelah beberapa minggu yang lalu, dan tiba-tiba hewan berkaki delapan itu bisa muncul.
"Aku hafal bagaimana aroma tubuhmu, jadi aku mengikuti saja aroma tersebut yang ada di sekitar sehingga akhirnya aku bisa sampai ke sini."
Eisha yang mendengar kemampuan Tuan Spider menjadi kagum. "Tuan Spider, kemampuan dalam mencium aroma tubuh itu, kemampuan bawaan lahir atau kemampuan ada karena dilatih?" Eisha sendiri baru pertama kali mendengar tentang kemampuan tersebut.
"Kemampuan itu sudah ada sejak aku lahir. Tapi tak semua klan laba-laba putih memilikinya," jelasnya membuat Eisha mengangguk.
"Namun aku tak menyangka saat aku datang, malah melihat suasana yang menegangkan. Untung saja aku datang tepat waktu menghadang jarum-jarum runcing itu. Aku bisa dikatakan pahlawan 'kan?" Tuan Spider bertanya dengan nada yang percaya diri dan menunjuk dirinya.
"Tuan Spider memang seorang pahlawan," jawab Eisha tambah membuat laba-laba putih menjadi semakin percaya diri.
"Oh, ya, katakan padaku, ada masalah apa kau dengan gadis yang tadi menyerangmu itu? Kenapa dia kelihatannya punya dendam kesumat padamu?" tanya laba-laba putih yang ikut penasaran. Ya, dia tahu kalau dia tak boleh ikut campur terhadap masalah orang lain, namun ini termasuk pengecualian ya 'kan?
Eisha pun menggeleng. Dia mendesah. "Entahlah, gadis yang bernama Amira itu akhir-akhir ini tak suka denganku, karena aku dekat dengan Selir Linda."
"Tunggu sebentar, Selir Linda yang kau sebut itu siapa?" Tuan Spider berambut putih seluruhnya itu memasang wajah berpikir.
"Itu majikanku di paviliun bunga anggrek ini. Dia adalah salah satu istri dari Kaisar Carney," ujar Eisha.
"Oh, istri Kaisar Carney. Lanjutkanlah lagi ceritamu itu," sahut Tuan Spider mempersilakan.
"Dia memintaku agar tak dekat dengan Selir Linda. Ya, jelas aku tak mau mematuhinya. Lagipula kedudukan aku dengan dia sama saja alias sama-sama pelayan, kenapa aku harus mematuhi perintahnya? Benar ngga?" tanya Eisha menatap pria yang sedang mendengarkannya dengan serius.
"Benar sekali, aku pun setuju. Oh, itu dasar mulanya, ah kalau begitu memang gadis yang bernama siapa tadi itu?"
"Namanya Amira."
"Iya, Amira, dia memang yang tidak waras," sahut Tuan Laba-laba Putih.
"Lagipula aku tak merasa punya salah dia, kenapa dia yang sewot," tambah Eisha dengan raut wajahnya yang polos.
***
Bulan di langit berbentuk bulat sempurna dan para bintang selalu setia menemaninya. Tanaman bunga dan pohon yang ada di dedaunan bergerak mengikuti angin yang berembus.
Eisha sedang berada di dalam kamarnya menyisir rambut hitam panjangnya yang baru saja kering. Entah kenapa ketika melihat wajah datar dan tampan milik Pangeran Kedua membuatnya ingat pada suatu hal. Di dalam bayangan di ingatannya, seorang gadis berkuncir kuda sedang dimarahi oleh seorang guru wanita karena melamun. Dan ada seorang perempuan yang berani membelanya mengatakan kalau dia sedang sakit sehingga guru tak marah lagi. Gadis yang membelanya itu memakai pakaian yang sama dan duduk di sampingnya.
Apa dia teman sekolahku? batin Eisha bertanya-tanya. Yang sebenarnya tebakannya itu sudah benar.
Eisha menutup kelopak matanya dan lebih berkonsentrasi untuk mengingat kenangan tersebut. Dia melihat dirinya menulis di secarik kertas yang berisi "Terima kasih, Sava, telah membantuku."
Eisha pun membuka matanya. "Jadi, nama gadis itu Sava. Oke, mungkin suatu saat nanti aku bisa melihat wajah gadis itu."
Eisha mengambil selembar kertas dari dalam laci di dalam kamar dan mengambil kuas, dia mencatat hal yang telah dia ingat mengenai masa lalunya. Tak lupa menyimpannya di tempat yang aman.
Gadis penyuka sup biji teratai itu meletakkan kembali kuas ke tempatnya yang semula. Dia naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan letih. Sementara itu laba-laba putih memilih untuk bermalam di dalam kamar Eisha dan Ayu dengan membuat sarang yang hangat.
Apakah Vaiva melupakan ingatannya? Atau mungkin sedang mengingat kenangan yang sudah berlalu, ya? batin Tuan Spider yang berpikir. Dia memang belum bisa tidur.