Chapter 45

1033 Kata
Selir Linda memberikan waktu agar Eisha belajar sendiri di taman belakang paviliun bunga anggrek. Wanita itu kembali ke ruang kamar, biasanya kalau menurut dirinya dengan mencoba sendiri berulang-ulang maka teknik yang sedang dipelajari bisa dilakukan, mungkin saja itu berlaku untuk Vaiva juga. Bahkan Selir Linda secara khusus meminta pelayan menyiapkan beberapa camilan kesukaan dan minuman di atas meja di tempat Eisha latihan. Perbuatan yang tidak biasa itu membuat para pelayan yang lain merasa iri, cemburu, dan tak suka pada Eisha. Di taman Eisha terus mempraktikkan teknik yang diajarkan oleh Selir Linda tanpa henti. Dan kali ini usahanya pun berhasil, cahaya berwarna merah muda keluar dan melingkupi tanaman bunga tujuannya. Dan bunga di sana berubah menjadi mekar dan bunganya bertambah banyak. "Akhirnya aku bisa juga!" Eisha bersorak dengan riang seperti anak kecil yang habis mendapatkan sebungkus permen. Aku benci suara berisikmu itu! Amira mengumpat dan memaki Eisha. Sebelumnya Amira berpikir Yang Mulia Permaisuri akan memberikan hukuman berat pada Vaiva, ternyata Vaiva bisa lolos dari hukuman, itu membuat Amira merasa sia-sia saja memberikan banyak uang dari hasil kerjanya selama beberapa bulan pada tiga pelayan suruhannya, nyatanya tetap belum bisa mengusir Vaiva dari paviliun bunga Anggrek. Dan rasa benci di dalam hatinya semakin bertambah dan berkobar. Amira mengedarkan pandangan ke sekitar dan kebetulan sekali Selir Linda sudah kembali ke kamarnya. Dan jarak antara taman bunga dengan paviliun bunga anggrek cukup jauh. Selir Linda pasti tak akan tahu jika terjadi apa-apa dengan pelayan ingusannya ini, batin Amira tersenyum jahat. "Aku istirahat dulu sebentar nanti aku baru lanjutkan lagi," ujar Eisha mengambil posisi duduk di kursi yang kosong. "Eh, tadi 'kan ngga ada makanan di atas, sekarang ada banyak? Pasti Selir Linda yang meminta pelayannya untuk mengantarkannya. Selir Linda tahu sekali kalau aku lapar sehabis latihan," celoteh Eisha sambil mengambil salah satu kue warna putih dan mengunyahnya. "Ini pasti kue osmanthus tak salah lagi." Kue osmanthus bahannya tercampur kelopak bunga osmanthus, oleh sebab itu dinamakan kue osmanthus. Kue osmanthus salah satu kue yang enak dan terkenal di Kota Yulan, rasanya yang manis di mulut. Eisha menuangkan air teh ke dalam cawannya dan meminumnya dengan pelan. "Hah, lega juga rasa hausku. Kalau ada Layla di sini pasti dia akan senang juga melihat banyak kue dan pastinya kami bisa bermain bersama." "Dan juga bermain bersama Ayu juga," sambung Eisha di sela-sela makannya. Setelah merasa cukup kenyang, Eisha melanjutkan lagi sesi latihannya yang sempat tertunda. Gadis itu berjalan menghampiri tanaman bunga yang lain yang bunganya masih berbentuk kuncup. Eisha membuat tiga jenis tanaman bunga yang berbeda menjadi mekar dan bunganya bertambah banyak. Dia cukup senang dengan hasil belajarnya hari ini. Sebelumnya dia tak bisa sama sekali, mengeluarkan kekuatannya dan hari ini dia bisa menggunakan kekuatannya. Eisha berpikir dia harus memberikan hadiah kecil untuk dirinya sendiri atas pencapaiannya yang bagus, batinnya. "Kalau aku bertemu dengan Layla, aku akan menunjukkan padanya kalau aku sudah bisa membuat bunga dari kuncup menjadi mekar," ujar Eisha tersenyum. Tanpa disangka sebuah tanaman rambat tiba-tiba menyerang dan ingin mengikat kedua kakinya sama seperti kejadian waktu itu, dengan cepat Eisha bergerak menghindar. Eisha berbalik dan mendapati Amira berdiri di hadapannya yang memasang wajah tak senang. "Amira, rupanya kau lagi yang ingin mencelakaiku!" ujar Eisha yang kesal. Dia tak punya salah apa-apa, kenapa diganggu terus sih? "Iya, aku kenapa? Mau melawanku?" Amira mengangkat dagunya tinggi berlagak sombong membuat Eisha semakin jijik saja. "Sombong banget! Tak takut jatuh ke bawah apa, kalau jatuh pasti sakit sampai ke tulang sum-sum," tegur Eisha dengan niat yang baik. "Jangan sok menasehatiku! Sudah aku katakan untuk menjauh dari Selir Linda, kau malah tidak menghiraukan perkataanku dan malah semakin dekat dengannya!" teriak Amira dalam kemarahan. "Bahkan Selir Linda sampai rela membuang waktunya hanya untuk mengajari seorang pelayan yang bahkan belum sampai satu bulan melayaninya," lanjut Amira. Dengan berani Eisha menunjuk wajah Amira dengan jari telunjuknya. "Amira, kau tak punya hak untuk melarangku untuk dekat dengan Selir Linda. Lagipula kita sama-sama pelayan, harusnya saling menghormati saja. Antara aku dengan kau tak ada yang statusnya lebih tinggi, kedudukan kita sama saja." "Lagipula apa kau tak bosan selalu marah denganku? Seperti tak ada pekerjaan yang lain saja," lanjut Eisha. "Kau benar-benar tak tahu diri, ya!" teriak Amira semakin marah. Wajahnya merah padam, napasnya naik turun, tangannya digenggam kuat, dan tatapan matanya yang menyeramkan. Tanpa berkata apapun lagi Amira menyerang Eisha dengan kekuatan berbentuk tanaman rambat. Di atas tanah berumput hijau, tanaman rambat berduri bergerak dan hendak mengikat kaki Eisha. Eisha berlari menjauh dari tanaman rambat berduri yang mengejarnya. Eisha berhenti sejenak untuk mengambil napas, jantungnya berdetak dengan kencang di dalam kerangka tubuhnya. Tanaman rambat sedikit lagi mencapai tubuhnya. Aku tak mungkin berlari lagi! Aku capek sekali! batin Eisha yang masih kelelahan. Dia sedikit berjongkok memegangi lututnya yang terasa sakit dan pegal. Eisha mencoba mengeluarkan teknik sihir yang baru dipelajarinya. Dia mengarahkan kekuatan sihir berwarna merah muda ke arah tanaman rambat berduri. Tanaman rambat berduri tersebut untuk sejenak tak bisa bergerak dan kaku di tempat. Itu memberikan kesempatan untuk Eisha berlari menjauh dari sana. Tanaman rambat berduri kini bergerak kembali mengejar Eisha. Amira tertawa puas melihat Eisha yang terus berlari menghindar. Amira terus berjalan mendekati Eisha seakan tak membiarkan gadis kecil itu untuk lolos. "Mau pergi ke mana kau?" Perkataan itu diucapkan oleh Amira, saat mendengarnya membuat Eisha sedikit merinding. Pergerakan Eisha terhalang oleh tembok istana yang membatasi taman bunga dengan paviliun yang lain. Sekarang aku harus bagaimana? batin Eisha yang kebingungan. Amira ini memang sudah kehilangan akalnya! teriak Eisha di dalam hati. Amira terus saja mengarahkan kekuatan sihirnya ke arah Eisha. Kini tanaman rambat berduri telah dihilangkannya. Cahaya hijau muncul dari telapak tangannya dan ketika di udara berubah menjadi jarum-jarum ukuran sedang yang ujungnya runcing mengarah pada Eisha. Eisha bergeser ke arah kanan, jarum-jarum tersebut menancap di dinding tembok istana. d**a Eisha naik turun tak beraturan. Amira berdecak kesal dan marah karena jarum-jarumnya tak sedikitpun mengenai tubuh pelayan sialan itu. Eisha terpaksa berlari kembali, dan jarum-jarum hijau terus mengejarnya di belakangnya. Lari Eisha semakin lambat dan jarum-jarum hijau semakin dekat dengannya. Eisha sangat berharap ada orang yang bisa menyelamatkannya saat ini. Eisha refleks menutup matanya saat jarum-jarum sedikit lagi menancap ke tubuhnya. Setelah beberapa saat Eisha tak merasakan apa-apa, dia perlahan membuka kelopak matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN