Chapter 50

1227 Kata
"Eisha kau bisa pulang ke paviliunmu. Dan besok pagi jangan lupa untuk datang ke paviliun teratai emas," pesan Pangeran Kenzie yang dijawab anggukan Eisha. "Iya, tenang saja, aku akan datang," jawab Eisha sebelum berjalan gontai keluar ruangan paviliun teratai emas. "Tunggu sebentar! Kembali! Dengan terpaksa Eisha berjalan kembali dan menghadap Pangeran Kenzie. "Ada apa?" tanya Eisha menatap wajah Pangeran Kenzie yang masih dalam posisi duduk di kursi. Di atas mejanya ada beberapa buku, kuas, alat penggiling tinta, dan beberapa lembar kertas yang kosong. "Kau bawa dulu token ini jika tidak pasti tak akan bisa masuk ke paviliun teratai emas," ujar Pangeran Kenzie mengambil sebuah token dari dalam laci dan menyodorkannya pada Eisha. "Baiklah, aku akan menyimpannya," sahut Eisha mengangguk sambil menyimpan token pemberian sang Pangeran. Dia berjalan keluar dari ruangan Pangeran Kenzie. *** Eisha berjalan menuju ke bangunan yang merupakan kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya, dan berjalan naik ke atas ranjang. Ayu Diana belum selesai dari pekerjaannya. "Waktu liburku besok malah digunakan untuk melayani Pangeran Kedua?" keluh Eisha. "Aku menyesal mengunjungi dia untuk melihat keadaannya. Eh, malah aku nyebur ke kolam ikan, malu-maluin banget. Tapi kan lagian dia sih ngapain kagetin aku," celoteh Eisha. Dia mengingat beberapa saat yang lalu kejadian di kolam ikan, Pangeran Kenzie rela melompat masuk ke dalam kolam ikan demi menyelamatkannya. "Kalau aku ngga dikagetin, pasti tak akan jatuh." Eisha berkata percaya dirinya. "Dia sebenarnya masih punya rasa kasihan dengan orang lain, walaupun pada akhirnya jasanya minta dibayar. Ah, dasar Pangeran Kedua! Dia itu baiknya setengah-setengah ibarat kata semangkuk panas dan semangkuk dingin otaknya itu." "Iya, kalau aku saat itu ngga diselamatkan bisa saja mati tenggelam," pikir Eisha lagi. "Ah, terserah deh, yang penting aku mau istirahat tidur siang dulu." Eisha menarik selimut sebatas d**a, dia mencari posisi tidur yang paling nyaman menurutnya. Dan tak lama kemudian dia pun tertidur. *** Pangeran Kenzie mencoba meminum kembali air teh yang dituangkan oleh pelayan. Dia tak bisa mencium aroma teh dan bagaimana rasa tehnya. Pangeran Kedua juga tak bisa merasakan beberapa tangkai bunga yang baru saja dipetik Mely. Kedua orang pelayan memberikan hormat pada Yang Mulia Permaisuri ketika wanita berstatus tinggi berjalan masuk ke dalam ruangan belajar Pangeran kedua. Pakaian mewah membalut tubuhnya. Jangan lupakan tubuhnya dihiasi perhiasan mahal dan berkelas yang menandakan kedudukannya di Kerajaan Harvy. Pangeran Kenzie memberikan penghormatan seperti biasanya pada sang ibunda. Sebagai Pangeran dia wajib memberikan salam hormat pada Kaisar, Permaisuri, Selir, Pangeran yang lebih tua, dan Putri yang lebih tua. Setelah diperintahkan untuk berdiri, baru Pangeran Kenzie berdiri kembali. Pangeran Kenzie mempersilakan pada wanita yang telah melahirkannya itu untuk duduk di kursi yang lebih tinggi di dalam paviliun teratai emas. Dan senang hati Permaisuri duduk di kursi yang telah disediakan. "Bagaimana kabarmu, Pangeran Kenzie?" tanya Yang Mulia Permaisuri. Seorang pelayan wanita bergerak menuangkan air teh ke dalam cawan milik Permaisuri Celia dan Pangeran Kenzie. "Kabarku baik, Ibunda. Bagaimana kabar Ibunda sendiri? Karena aku dengar Ayah banyak sekali tugas yang harus diurus." Pangeran Kedua balik bertanya pada wanita paling nomor satu di Kerajaan Harvy, bisa disebut juga sebagai Ibu Negara. Permaisuri Celia menyesap teh dengan gerakan yang anggun ala keluarga kerajaan, lalu meletakkan cawan berisi air teh yang tersisa setengah di atas meja. "Kabar Ibunda baik-baik saja. Iya, benar Ayahmu sedang banyak hal yang harus dia urusi, tapi Pangeran Kenzie tenang saja, ayahmu bisa mengatasi semuanya," jawabnya. "Baguslah," sahut Pangeran Kenzie yang bernapas lega. Menjadi seorang Kaisar yang memimpin banyak wilayah, bukanlah suatu hal yang mudah dan tidak bisa dianggap sebagai permainan bola kaki. Jika salah dalam bertindak dan mengambil keputusan maka rakyat yang tak bersalah bisa menjadi korbannya. Seperti ratusan tahun yang lalu, terjadi perang antara suku elf dengan suku manusia. Perang tersebut banyak merugikan kedua belah pihak, baik dari pihak klan manusia dan pihak klan elf. Banyak anak-anak yang kehilangan keluarga dan orang tua mereka. Bukan hanya itu saja banyak yang mati kelaparan dan tak sedikit yang kehilangan harta benda mereka. "Katakan ada masalah apa?" ujar Yang Mulia Permaisuri Celia, dia tahu ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh putra kesayangannya itu. "Ibunda, semenjak aku bangun dari tidur panjangku. Aku merasakan indra perasa, indra peraba, dan indra penciumanku tak berfungsi dengan normal." Pangeran Kenzie mengambil napas sebelum melanjutkan kalimat yang selanjutnya. "Aku sama sekali tak bisa merasakan apapun, bahkan aku tak bisa mencium aroma teh dan rasa teh yang minum." Dia mengambil secawan teh dan meminum untuk mengaliri tenggorokannya yang terasa kering. "Aku bahkan pernah melukai jari tanganku sampai mengeluarkan darah, aku tak merasakan rasa sakit." "Lalu aku pagi ini tak sengaja bertemu dengan seorang pelayan yang sama aku lihat saat aku terbangun. Saat bersamanya aku bisa merasakan semua indra perasa, indra penciuman, dan indra peraba." Yang Mulia Permaisuri mendengarkan dengan baik penjelasan dari satu-satunya putra kandungnya itu. "Gadis yang sama? Maksudmu gadis yang bernama Vaiva?" tanyanya untuk memastikan lagi. Pangeran Kenzie pun mengangguk. "Iya, benar, Ibunda, namanya Vaiva." "Kalau begitu jadikan saja gadis pelayan dari paviliun bunga anggrek sebagai pelayan pribadimu. Putraku kau tenang saja, aku akan mengurusnya dengan mudah," jawab Yang Mulia Permaisuri dengan nada tenang dan santai. Dia merasa di dalam hati, dengan statusnya yang tinggi apa yang dia inginkan akan mudah dia dapatkan termasuk seorang pelayan, itu sangatlah mudah, semudah membalik telapak tangan. "Jangan sekarang Ibunda. Biarkan aku saja dulu yang mencobanya, jika dia tak mau baru aku akan meminta Ibunda yang melakukannya," tolak Pangeran Kenzie. Doa ingin berusaha terlebih dahulu, setelah tak bisa baru meminta bantuan dengan sang Ibunda. Sang Permaisuri Kerajaan Harvy pun mengangguk. "Baiklah, Ibunda akan menuruti keinginan putraku," jawabnya sambil tersenyum, tangannya bergerak mengusap rambut hitam panjang milik sang putra kesayangannya. Apapun keinginan dari Pangeran Kenzie, pasti akan dia lakukan, sekalipun merupakan permintaan yang sangatlah sulit. *** Eisha di dalam kamarnya sedang berlatih membuat sebuah sulaman berbentuk bunga peony. Setelah berusaha keras, tetap saja hasil sulamannya malah menjadi kacau dan berantakan. Antara mau tertawa dengan mau nangis melihat hasil kerja kerasnya itu. Gadis itu karena melihat ada seorang pelayan yang sedang menyulam dan hasil sulamannya itu sangat bagus membuat Eisha ingin mencoba. Eh, malah jadi seperti ini. "Daripada dilihat orang malu-maluin lebih baik aku simpan saja," ujarnya sambil mengambil kain sulamannya dan menyimpannya di dalam lemari yang paling bawah. Berselang beberapa saat kemudian Ayu berjalan masuk ke dalam kamar. Gadis itu berdiri di dekat ranjang sambil merenggangkan tubuhnya yang rasanya sangat capek dan pegal. Dia habis membersihkan ruangan paviliun bunga anggrek bersama pelayan yang lain juga. Aku harus memberi tahu Ayu soal hari besok, nanti malah dia terkejut, batin Eisha berencana. "Ayu, aku mau bilang sesuatu," ujar Eisha memulai obrolannya. Ayu berhenti menggerakkan tubuh dan menatapnya Eisha dengan wajah yang serius, tampak wajah Ayu yang lelah dan letih. "Katakan saja Vaiva, aku pasti siap mendengarkannya," sahut Ayu mempersilakan Eisha membicarakan apapun. "Jadi, begini intinya, besok aku akan melayani Pangeran Kenzie selama satu hari." Perkataan itu jelas membuat Ayu kebingungan. "Kenapa harus melayani Pangeran Kenzie? Kan di sana sudah ada pelayan," ucap Ayu yang mengernyitkan dahi. "Iya, karena Pangeran Kenzie sendiri yang meminta aku tak mungkin menolaknya 'kan?" tanya Eisha pada Ayu. Ayu tak langsung menjawab dia tampak sedang berpikir, kemudian dia mengangguk. "Benar, kau tak mungkin menolak. Apalagi statusnya adalah Pangeran Kedua Kerajaan ini." "Nah itulah, aku juga sempat menolak, tapi Pangeran Kenzie tak ingin dibantah," jelas Eisha dengan jujur. "Ya udah, tidak apa-apa, Vaiva. Yang penting kau selama di sana hati-hati saja, ya," pesan Ayu. "Aku akan hati-hati," jawab Eisha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN