Sesuai dengan kesepakatan kemaren Eisha harus pergi ke paviliun teratai emas. Gadis itu tak mungkin mengingkari janjinya bukan? Dia mengetuk pintu ganda berukiran teratai di hadapannya. Setelah diperbolehkan untuk masuk, baru dia membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Eisha tak lupa menutup pintu ganda.
Eisha memberikan penghormatan seperti biasa. Pangeran Kenzie sedang membaca sebuah buku bersampul biru tua. Melihat kedatangan Eisha, Pangeran Kenzie meletakkan bukunya di atas meja.
"Kau sudah datang rupanya?" sapa Pangeran Kenzie tanpa ekspresi menatap gadis yang berdiri di hadapannya dengan pakaian biru muda. Rambut hitam panjang Eisha diikat ke bawah menjadi satu dengan sebuah pita yang senada dengan pakaiannya.
"Iya, aku sudah datang untuk memenuhi janjiku," jawab Eisha. Gadis itu adalah orang yang paling menepati janjinya pada orang lain. Dan tak suka dengan orang yang semena-mena contohnya seperti Permaisuri Celia.
"Bagus!" Ada jeda sebentar, pandangan mata Pangeran Kenzie kini tertuju pada benda yang ada di tangan Eisha.
"Oh, ya, ini aku ingin mengembalikan pakaian yang aku pinjam kemaren, Pangeran Kedua."
"Pakaian itu berikan saja pada Mely," jawab Kenzie dengan ekspresi yang sama. Dia memberi kode kalau Mely yang dimaksud ada di sisi ruangan.
"Baiklah, Pangeran Kenzie," sahut Eisha mengangguk mengerti. Dia memberikan pakaian merah muda pada gadis yang berada di salah satu ruangan kamar.
"Kau pergi saja ke luar," perintah Pangeran Kenzie yang dijawab anggukan Mely.
Kenapa dia menyuruh pelayannya pergi? batin Eisha yang tidak mengerti.
Ah, terserah dia lah, mau melakukan apa? batinnya lagi yang tak terlalu peduli.
Eisha mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan yang tergolong sangat luas baginya. Rak-rak disusun di sisi kanan dan sisi kiri ruangan. Semua rak diisi oleh beragam buku, bahkan aroma buku yang khas bisa Eisha cium. Selain itu, aroma dupa yang harum juga tercium membuat pikiran menjadi lebih tenang.
Ruangan belajar milik Pangeran Kenzie sudah hampir menyamai perpustakaan kecil. Eisha jadi berpikir kapan dia punya ruang belajar sendiri sebesar ini? Seingatnya dulu waktu tinggal di rumahnya yang ada di dunia manusia, kamarnya menyatu dengan ruang belajar yang ukurannya kecil. Buku yang dia miliki juga sangatlah sedikit, itupun buku pelajaran sekolah. Ah, dia jadi ingin sekolah lagi. Tapi nama sekolahnya dulu itu apa, ya? Susah banget kalau sebagian ingatannya menghilang.
Pangeran Kenzie beberapa kali memanggil nama Eisha, namun si pemilik nama masih asyik melamun. Hingga Kenzie melemparkan sedikit kekuatan sihirnya, dia membuat sebuah panci yang dipukul oleh sendok besar sehingga menyadarkan Eisha.
Eisha terkejut karena suara yang tiba-tiba. "Apa sih?" Kalimat itu meluncur saja dari mulut Eisha.
"Dipanggil dari tadi malah tidak nyahut, malah melamun. Kau ke sini bukan hanya untuk memandangi rak-rak buku dan melamun, Eisha!" tegur Pangeran Kenzie dengan nada ketus.
Astaga, ibu dan anak sama aja, sama-sama suka marah-marah, rutuk Eisha di dalam hati. Jika Pangeran Kenzie mendengar isi pikirannya pasti akan menghukumnya.
"Iya, Pangeran Kedua, maaf," jawab Eisha yang mengalah.
"Buatkan aku teh hangat," perintah Pangeran Kenzie.
Eisha pun mengangguk saja. "Di mana letak dapurnya?" tanyanya.
"Ada di sebelah sana, kalau tak tahu tanya saja dengan pelayan lain."
Eisha pun keluar kamar untuk melaksanakan apa yang dipinta oleh Pangeran Kenzie. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari di mana letak dapur. Hingga akhirnya dia menyerah sendiri dan memutuskan untuk bertanya pada pelayan kediaman teratai emas yang kebetulan sedang lewat, Eisha bertanya di mana letak dapur.
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, seteko teh telah jadi. Semua yang dibutuhkan sudah tersedia di dalam dapur ukuran sedang. Dia baru tahu kalau di paviliun teratai emas juga terdapat ruangan dapur. Eisha membawanya dengan hati-hati ke dalam ruangan belajar Pangeran Kenzie.
"Tehnya sudah jadi," ujar Eisha meletakkan nampan kayu di atas meja setelah meletakkan buku-buku yang berserakan di atas meja beserta alat-alat tulis ke meja yang lain.
Eisha menuangkan air teh ke dalam cawan Pangeran Kenzie. Laki-laki itu memerintahkan Eisha untuk duduk di sampingnya membuat Eisha mengernyitkan dahi bingung di tempatnya berdiri. Dengan kekuatannya Eisha dibuat duduk di samping Pangeran Kenzie.
"Pangeran Kenzie, kenapa aku harus duduk di sampingmu?" tanya Eisha yang tak paham.
"Lakukan saja apa perintahku! Jangan membantah!" Pangeran Kenzie berkata dengan nada yang mutlak dan tegas.
Dia sebenarnya mau apa? batin Eisha bertanya-tanya ketika tangan pria itu menggenggam tangan Eisha yang diletakkannya di atas meja. Gadis itu sangat kaget ketika sang pangeran melakukannya.
Dengan tenang dan santai Pangeran Kenzie mengambil cawan dan meminumnya dengan pelan, seolah menikmati tetes demi tetes teh. Kemudian berlanjut makan camilan dan baca buku. Sudah beberapa jam Eisha berada di posisi yang sama, seluruh bagian tubuhnya rasanya kaku dan capek.
Jika terus begini lama-lama aku jadi patung juga, batin Eisha yang semakin lama sebal juga.
Karena tak sanggup menahan untuk tetap berada di posisinya, Eisha berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Pangeran Kenzie.
"Jangan banyak bergerak! Kau mengganggu kegiatan bersantaiku," ucap Pangeran Kenzie menatap gadis cantik yang duduk di sampingnya dengan tatapan yang dingin dan tajam.
"Pangeran Kenzie, kalau Anda mau bersantai, ya silakan saja, kenapa harus sambil megang tanganku? Sekujur tubuhku rasanya kaku semua, sejak tadi aku mau bergerak bebas terhalang olehmu," ungkap Eisha dengan panjang lebar. Persetan perbedaan status antara pelayan dengan seorang Pangeran. Eisha akhirnya berhasil melepaskan genggaman tangan sang pangeran.
"Kau mau ditambah hukumannya?" Itu bukan kalimat pertanyaan, melainkan sebuah kalimat ancaman.
"Terserah aku tidak peduli!" ucap Eisha seakan tak peduli lagi, kemudian gadis itu hendak berjalan pergi. Pangeran Kenzie yang masih berada di tempatnya mengeluarkan kekuatannya untuk menahan langkah kaki Eisha.
Eisha melihat ke arah kakinya yang tak bisa bergerak. Hanya berjalan di tempat. Apa maksud dan tujuan pangeran kedua menahannya agar tak pergi dari paviliun teratai emas. "Pangeran Kenzie, lepaskan aku!"
"Aku tak akan melepaskanmu sebelum kau setuju menjadi pelayan pribadiku sampai waktu yang aku inginkan." Dia langsung mengatakan apa yang diinginkannya.
Perkataan itu membuat Eisha menggeleng tidak mengerti. "Aku tidak mau menjadi pelayan pribadimu," tolak Eisha mentah-mentah.
"Berani sekali kau menolak permintaanku!" Pangeran Kenzie berkata dalam kemarahan. Wajahnya mengeras seperti balok es membuat Eisha sedikit terkejut dengan sikap Pangeran Kenzie yang otoriter. Memang benar ya, kebanyakan keluarga kerajaan itu sikapnya suka mengatur orang lain.
Dasar tak punya hati! Otaknya pasti sudah hilang dimakan ikan piranha, batin Eisha yang sangat kesal dan tak suka dengan sikap Pangeran Kenzie.