Eisha menetralkan keterkejutannya. Dia mengambil napas dan mengembuskannya berusaha meredam emosinya karena sikap Pangeran Kenzie.
"Pangeran Kenzie, sesuai dengan perjanjian kemaren aku hanya satu hari menjadi pelayan pribadimu. Kenapa malah menambah hari seperti ini?" jawab Eisha dengan berani menatap wajah laki-laki yang berada tak jauh darinya itu, mengabaikan ekspresi sang Pangeran Kenzie yang sama sekali tidak bersahabat.
"Terserah padaku, aku ingin menghukummu sampai kapan? Kau tak ada hak untuk mengaturku!" Pangeran Kenzie masih berekspresi sama saat mengatakannya. Perintahnya adalah kewajiban yang harus dilaksanakan.
Astaga dia ini sangat menyebalkan, iya aku tahu kalau kedudukanku hanya sebagai pelayan, tapi dia tak menepati janjinya, batin Eisha yang menggelengkan kepalanya. Seharusnya dia tak mudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain.
Pangeran Kenzie bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan menghampiri Eisha yang sedang berada di dalam pikirannya. Pangeran Kedua memukul bahu Eisha, dalam hitungan detik gadis itu jatuh pingsan di dalam pelukannya.
"Dasar gadis yang merepotkan!" rutuk Pangeran Kenzie sambil tatapan matanya melihat gadis yang kini ada di gendongannya. Tanpa sadar Kenzie Zayyan menutup mata saat mencium aroma harum yang berasal dari rambut Eisha.
"Aroma bunga. Sudah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa mencium sebuah aroma," ujar Pangeran Kedua sambil membawa Eisha ke dalam salah satu ruangan yang ada di paviliun teratai emas. Di paviliun teratai emas ada banyak kamar yang kosong.
***
Di dalam kamar penginapan nomor sepuluh,
Ayu menunggu dengan ekspresi cemas di dalam kamarnya. Dia sudah dua jam yang lalu bergerak mondar-mandir seperti seekor katak yang melompat ke sana dan kemari.
"Aneh kenapa Vaiva belum kembali juga?" ujar Ayu dengan nada yang khawatir, dia melihat ke arah luar jendela yang sengaja belum dia tutup hordengnya, cahaya matahari di langit sudah hilang seluruhnya.
"Apa aku susul ke paviliun teratai emas saja, ya?" Bosan mondar-mandir, dia mengambil posisi duduk di pinggir ranjangnya.
"Tapi pasti aku tidak boleh masuk oleh prajurit yang berjaga di sana," ucap Ayu yang serba salah.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Tapi Vaiva 'kan adalah gadis pintar, dia pasti dalam keadaan baik-baik saja," pikir Ayu berusaha untuk berpikir positif.
***
Eisha beberapa saat yang lalu sudah bangun dari tidurnya, namun karena merasa nyaman dengan kasur yang sedang ditidurinya membuatnya menjadi betah dan ingin tidur lagi. Ah, sebelumnya kasurnya tak selembut ini. Apakah Selir Linda baru saja meminta Ayu untuk mengganti kasur yang baru? Namun Eisha baru ingat kalau Selir Linda bilang, dia akan meminta pelayan luar membeli kasur dua hari lagi. Tunggu! Sepertinya ada yang tak beres di sini, batin Eisha.
Eisha perlahan-lahan membuka kelopak matanya, dia mengernyitkan dahi saat melihat sebuah kelambu abu-abu di atasnya. Sejak kapan kasurku ada kelambunya? Dengan perlahan dia mengubah posisi telentang menjadi posisi duduk. Eisha meringis kesakitan saat dirasakannya bahunya agak sedikit sakit. Oke, baiklah abaikan itu untuk sekarang, batin Vaiva.
Eisha mengedarkan pandangan ke sekitar, ruangan yang luas dan tak ada orang lain selain dirinya.
"Ini 'kan bukan kamarku!" ucap Eisha yang baru tersadar.
"Ah, wajar saja rasa kasurnya beda banget. Seperti kasur kelas tinggi saja," komentar Eisha sambil tangannya menyentuh ranjang kasur ukuran untuk dua orang.
Tiba-tiba Eisha teringat dengan kejadian kemaren. Dia terkejut dan mengerjapkan mata. "Apa aku masih berada di paviliun teratai emas?" tebaknya yang sialnya adalah benar.
"Dia tak berbuat macam-macam 'kan denganku?" Eisha segera bergerak memeriksa semua pakaian dan tubuhnya. Dia bernapas lega, pakaian yang dikenakannya masih sama dan tubuhnya tak ada yang berbeda. Oke, semuanya aman.
"Aku harus pergi dari sini! Ayu pasti khawatir banget sama aku," ujar Eisha bergegas berjalan membuka pintu. Ketika pintu ganda terbuka tampak empat orang gadis yang memakai pakaian yang sama berada di sana, empat orang itu berjalan masuk ke dalam dan otomatis Eisha mundur ke dalam.
"Selamat pagi! Sesuai dengan perintah Pangeran Kenzie kami membawakan pakaian beserta barang-barang yang lain," ucap gadis yang berada paling depan, rambutnya dikepang dua. Warnanya hitam. Gadis itu tampak ramah dan baik hati.
Tiga orang pelayan yang lain sedang membawa sebuah nampan yang berisi pakaian, perhiasan, dan alat make up wanita sederhana.
"Apa maksudnya?" ujar Eisha yang tampak kebingungan.
"Kami di sini akan membantu Nona untuk membersihkan diri sampai berdandan," sahut gadis yang sama.
Eisha segera menggeleng menolak. "Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri. Kalian berempat keluar saja," ujarnya sambil memberikan tanda.
Ayolah, kalian harus pergi! Jika tidak, bagaimana aku bisa kabur, batin Eisha berharap.
"Nona, tak perlu merasa sungkan. Nona diam saja dan nikmati saja, kami yang akan melakukannya," ungkap gadis bermata sipit, bergaun hijau muda. Mereka berempat tak memakai tusuk rambut lonceng seperti pelayan di kediaman paviliun bunga anggrek.
Eisha ingin melarikan diri dari empat orang pelayan, namun sialnya empat orang itu menghalanginya dan tak membiarkannya untuk pergi meninggalkan ruangan. Hingga akhirnya Eisha lelah juga, dan terpaksa menurut saja dengan empat pelayan wanita. Sesuai dengan perkataan mereka, Eisha diurusin mulai dari membersihkan diri, berpakaian, sampai dengan berdandan.
Oke, baiklah, aku akan pikirkan cara yang lain, pikir Eisha.
Eisha setelah membersihkan diri, berganti pakaian baru, dan berdandan dia dibawa oleh empat orang pelayan yang sama ke sebuah taman. Di sana sudah ada Pangeran Kenzie yang berdiri di dekat sebuah pohon berdaun oranye, laki-laki itu seolah sedang menunggu kedatangan seseorang. Sebuah meja beserta kursi terletak tak jauh dari mereka.
"Pangeran Kenzie, Nona sudah siap!" lapor pelayan bermata sipit, berkulit putih, dan rambut hitamnya dikepang menjadi dua.
"Baiklah, kalian berempat bisa pergi!" sahutnya, yang dijawab anggukan empat orang pelayan dan mereka pamit sebelum pergi dari pandangan Pangeran Kenzie.
Eisha menatap sosok pria berwajah tampan yang sayangnya memiliki ekspresi yang datar dan terkesan dingin. Sekilas menampilkan kesan yang horror. Meskipun begitu ada banyak gadis yang suka dengannya. Rambut hitam panjangnya sebagian diikat ke atas dihiasi sejenis perhiasan perak dan sebagiannya lagi dibiarkan jadi ke bawah.
Dia ingin melakukan apa lagi? Apa dia akan memukul bahuku lagi? batin Eisha yang sedikit merinding saat Pangeran Kenzie berjalan mendekatinya.
Pangeran Kenzie berdiri dengan jarak setengah meter dari tempat Eisha berdiri, kemudian dia mengeluarkan kekuatan sihirnya. Cahaya perak berpendar di atas telapak tangannya. Tak lama kemudian di tangannya ada sebuah buku bersampul cokelat tua yang bertuliskan teknik sihir.
Pandangan Eisha tak lepas dari kegiatan yang dilakukan Pangeran Kenzie. Pangeran Kedua membuka lembaran buku yang berada di bagian halaman pertengahan. Di sana tertera judul teknik untuk mengembalikan sebagian ingatan yang menghilang atau seluruhnya.
"Itu 'kan buku yang sudah lama aku cari? Kenapa bisa ada di tanganmu?" tanya Eisha yang penasaran dan ingin tahu, tatapan matanya fokus pada buku tebal yang ada di tangan Pangeran Kenzie.
"Kau tak perlu tahu aku mendapatkan buku ini darimana, tapi satu hal yang pasti jika kau ingin buku ini maka harus penuhi apa yang aku minta," ucap Pangeran Kenzie memberikan sebuah penawaran. Dia yakin Eisha tak akan menolak persyaratannya, karena dia tahu gadis itu tak punya pilihan lain.
"Berikan aku bukunya!" pinta Eisha.
Tangan Eisha bergerak ingin mengambil buku tersebut, tetapi tak semudah itu untuk mengambil buku yang ada di tangan Pangeran Kenzie. Pangeran Kedua menjauhkan buku tersebut dari jangkauan tangan Eisha membuat gadis itu berdecak sebal.
Eisha mendongak menatap Pangeran Kenzie yang lebih tinggi darinya. "Apa yang kau pinta?" tanyanya pada akhirnya.
"Mudah saja, jadilah pelayanku selama sembilan puluh hari."
"Apa?"
Permintaan Pangeran Kenzie membuat Eisha jadi bingung sendiri. Di satu sisi dia membutuhkan buku tersebut dan di sisi yang lain, dia tak suka berada di dekat Pangeran Kenzie yang pemaksa dan egois.