Untuk beberapa saat berada di dalam keheningan hanya ada suara angin yang berhembus dan dedaunan yang mengisi kekosongan suara.
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Pangeran Kenzie karena Eisha tak kunjung menjawab pertanyaannya. Padahal menurutnya jawabannya sangatlah mudah, cukup katakan iya dan semuanya akan beres.
Eisha menatap wajah Pangeran Kenzie yang sedang menunggu jawabannya. "Tidak," ujarnya sembari menggeleng.
Buku itu pasti ada di perpustakaan kerajaan, tak harus menyetujui syarat Pangeran Kenzie, pikir Eisha.
Dia kemudian berjalan meninggalkan Pangeran Kenzie yang melihat kepergian Eisha dengan tenang. "Pikirkanlah sekali lagi penawaranku yang sangat baik ini!" ucapnya yang kali ini berusaha lebih tenang tak emosian seperti kemaren.
"Aku sudah memikirkannya, tak perlu mengajakku berdiskusi lagi!" tolak Eisha sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, menuju ke arah gerbang yang sama sekali tak dijaga oleh prajurit. Pangeran Kenzie memang sengaja membubarkan para prajurit.
Akhirnya aku sudah bebas dari cengkraman Pangeran Kenzie, batin Eisha bersorak senang di dalam hati. Mengira dia sudah menang dari Pangeran Kedua.
"Pangeran Kedua, Nona dia pergi meninggalkan paviliun teratai emas," ujar Asha Adolf, tatapan matanya terarah pada gadis berambut hitam panjang yang kini sudah tak terlihat lagi di pandangan mata.
"Sudah, biarkan saja, dia melakukannya. Eisha akan mengetahui kebenaran yang ingin dia dapatkan," balas Pangeran Kenzie dengan nada tenang dan santai. Pria itu berjalan dengan gerakan yang tertata, tangannya diletakkan di kedua sisi pahanya. Dia kembali menuju ke ruang belajarnya.
***
Ketika Eisha pulang ke kamar penginapannya. Ayu langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Setelah beberapa saat baru Ayu melepaskan pelukannya itu.
Eisha duduk di kursi yang kosong yang ada di sisi paling pojok ruangan kamar mereka, dan Ayu duduk tepat di hadapannya dengan meja sebagai pembatas. Di atas terdapat pot bunga dan seteko teh keramik kelas biasa serta beberapa cangkir bersih.
"Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Ayu pertama kali sambil menatap Eisha.
"Aku merasa mengantuk dan tak sengaja tertidur di sana." Eisha sengaja tak mengatakan yang sebenarnya pada Ayu, takut membuat temannya itu merasa khawatir.
Ayu mengangguk mengerti, dan sepertinya dia percaya dengan alasan yang diberikan Eisha.
"Apa yang Pangeran Kedua katakan padamu sampai pulang sepagi ini?" Ayu bertanya dengan wajah yang penasaran.
"Dia memintaku menjadi pelayan pribadinya selama sembilan puluh hari," jawab Eisha dengan jujur.
"Lalu apa yang kau katakan?" tanya Ayu lagi. Dia awalnya terkejut pangeran kedua meminta Vaiva menjadi pelayannya. Apa tidak ada gadis yang lain?
"Aku menolaknya. Dan untungnya dia tak menahanku untuk pergi meninggalkan paviliun teratai emas," ujar Eisha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.
"Apa Pangeran Kedua tidak marah padamu?" tanya Ayu, wajahnya sedikit khawatir.
"Iya, awalnya dia marah karena aku menolaknya, tapi dia membiarkan aku pergi," jawab Eisha.
"Vaiva, aku bukan ingin menakut-nakutimu, tapi sebaiknya kau berhati-hati ke depannya," nasihat Ayu Diana.
Iya, juga ya, harusnya aku heran kenapa Pangeran Kenzie membiarkanku saja? Tapi apa? pikir Eisha yang kebingungan. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terima kasih nasihatnya, Ayu. Oh, ya, kau tak pergi bekerja?" tanya Eisha pada Ayu. Karena Ayu masih di dalam kamar menunggunya pulang.
Ayu mengerjapkan matanya tersadar akan sesuatu, dia langsung melihat ke arah jam yang ada di salah satu dinding kamar mereka. Astaga dia bahkan sampai tak sadar kalau sudah terlambat pergi bekerja! Karena hanya fokus pada Vaiva saja.
Dengan cepat Ayu dan Eisha berjalan menuju ke paviliun bunga anggrek. Untungnya saja Selir Linda bisa memaklumi dan menerima alasan mereka. Setelah selesai bekerja Eisha pergi ke perpustakaan tanpa mengganti pakaiannya lagi. Eisha bahkan tak sempat istirahat lagi setelah melayani sang majikan Selir Linda.
Eisha segera berjalan masuk ke dalam perpustakaan. Seperti biasa perpustakaan sepi tak ada orang yang datang. Hanya ada petugas perpustakaan itu sendiri dan dua orang prajurit kerajaan yang berjaga di depan perpustakaan.
"Pasti buku itu ada 'kan?" ujar Eisha bermonolog sendiri, tangannya terus mencari buku yang dia inginkan. Sampai tangannya kelelahan sendiri.
Eisha mengambil seteko air dan menuangkannya sendiri ke dalam cawan. Dengan tergesa-gesa dia minum air sampai beberapa menetes ke pakaian yang dipakainya.
"Aku memang tak beruntung banget, sudah beberapa kali dicari tetap saja tak ada," keluh Eisha sambil meletakkan cawan yang sudah kosong ke atas meja berbentuk segi empat berbahan kayu yang sudah dipelitur.
"Nona, apa kau sedang mencari buku teknik mengembalikan ingatan yang hilang?" tanya oleh seseorang membuat Eisha menoleh ke sumber suara. Itu adalah petugas perpustakaan.
Eisha mengangguk sebagai jawaban. "Kakak tahu di mana letak buku itu, kalau tahu tolong kasih tahu aku. Karena aku sangat membutuhkannya," mohonnya dengan wajah memelas. Dia sangat berharap buku itu ada, jadi dia tak perlu menemui Pangeran Kenzie lagi.
"Maaf Nona, buku itu hanya ada satu di perpustakaan ini. Dan bukunya sudah diambil oleh Pangeran Kedua," ungkap Ryan. Terlihat dari wajahnya dia masih muda, mungkin awal dua puluhan tahun jika di dunia manusia. Di dunia elf umurnya dua ratus enam belas tahun.
Rasanya Eisha ingin mendadak pingsan di tempat mendengar pernyataan dari Kak Ryan. Apa dia memang tak ada pilihan lagi? Mungkin saja ada perpustakaan yang lain atau mungkin Kak Ryan hanya menakutinya saja. "Kak Ryan, tidak lucu lho bermain seperti ini," ujarnya pada Ryan.
Wajah Ryan serius dan tidak tertawa sedikitpun. "Aku benar-benar serius mengatakannya. Untuk apa berkata bohong? Tak ada untungnya juga," balasnya.
Eisha mencoba untuk mengambil napas dan menenangkan dirinya. Tampaknya Kak Ryan memang tidak berbohong. "Lalu apakah buku itu masih ada di tempat lain?"
Kak Ryan tampak sedang berpikir sebelum menjawab. "Iya, memang ada. Hanya saja, buku itu tak bisa dibaca oleh kita yang hanya seorang pelayan."
"Lah kenapa begitu?" tanya Eisha yang tak paham dengan perkataan dari Ryan.
"Buku itu ada di perpustakaan kerajaan utama. Dan perpustakaan tersebut hanya boleh dimasuki oleh keturunan Kaisar Carney yaitu para pangeran dan putri," jelas Kak Ryan.
"Bahkan istri Kaisar pun tak boleh masuk?" tanya Eisha lagi lebih dalam.
Kak Ryan lagi-lagi menggeleng. "Iya, kau benar, para istri Kaisar Carney tak boleh masuk ke sana."
"Tapi pasti ada jalan 'kan untuk masuk misalnya saat malam hari ketika penjagaan longgar?" Eisha berbicara pada Kak Ryan dengan suara yang pelan, yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua saja.
"Sayangnya tak semudah itu, Nona. Pintu perpustakaan kerajaan utama hanya akan terbuka saat dia mendeteksi orang yang masuk adalah keturunan Kaisar. Bahkan Yang Mulia Permaisuri pun tak bisa masuk ke sana," jelas Kak Ryan. Penjelasannya membuat kepala Eisha menjadi pusing dan pening, tak tahu harus bagaimana lagi? Haruskah dia merelakan ingatannya yang hilang yang ada kemungkinan untuk menemukan jalan untuk pulang?